Hidup Narsis !

Posted: Oktober 8, 2010 in Uncategorized

Narsis, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan siapa aku. Setiap ada kesempatan berfoto, inginnya selalu tampil dan terlihat. Jangan marah kalau yang ada hanya aku, soalnya ini kan tentang aku, blogku. hehehe…

Sebenarnya, waktu ngambil foto ini ngggak ada keinginan untuk foto senarsis ini. Udah lama banget nggak dapat moment sunset. Pas ketemu, aku bela-belain nyari tempat yang cocok buat ngambil suasana sunsetnya, ternyata, setelah beberapa kali ngambil gambar, tiba-tiba terbesit buat foto siluet. Akhirnya, aku ndiri yang harus lompat-lompat untuk mendapatkan foto ini. Seperti biasa, aku paling suka menggunakan timer dalam setiap potoku.

Dan inilah hasil narsisku yang nggak ketulungan itu. hehehe….

Hidup Narsis!
















TUGAS RESEARCH PAPER

Posted: Mei 3, 2010 in Uncategorized

TUGAS RESEARCH PAPER

  1. Research paper ditulis dalam bentuk pengembangan dari berbagai tema yang didiskusikan di kelas selama proses perkuliahan.
  2. Paper ditulis dengan memperhatikan teknik penulisan akademik yang standar.
  3. Panjang tulisan bisa bervariasi antara 15 – 20 halaman, sesuai kebuthan.
  4. Gunakan buku-buku rujukan yang memadai, tidak boleh kurang dari 10 (sepuluh) judul buku atau artikel.
  5. Tema dapat dikembangkan dari salah satu, namun tidak hanya terbatas pada, contoh-contoh berikut:
    1. Peran perbankan syari’ah dalam pengembangan ekonomi rakyat (studi kasus)
    2. Penerapan sistim ekonomi Islam untuk mewujudkan kesejahteraan umat yang berkeadilan.
    3. Kontrak mudharabah dalam praktik perbankan syari’ah (studi kasus).
    4. Implementasi partnership and profit-sharing principles dalam sistim perbankan Islam (sudi kasus).
    5. Doktrin tentang hisbah sebagai landasan untuk mewujudkan perekonomian yang amanah dan berkeadilan.
    6. Peran lembaga hisbah dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dalam Islam.
    7. Doktrin Islam tentang kepemilikan harta dan peluang bagi open competition dalam praktik ekonomi.
    8. Keharusan menegakkan pemerintahan dalam Islam dan tanggungjawab negara untuk menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan.
    9. Tanggungjawab negara dalam pemenuhan basic needs rakyatnya dan upaya mendorong pertumbuhan dalam sistim eknomi Islam.
    10. Berbisnis sebagai upaya yang sah dan halal untuk memperoleh rizqi.
    11. Kebijakan pemerintah Indonesia dalam pengelolaan zakat dan upaya meningkatkan kemakmuran umat.
    12. Pengelolaan Baitul Mal: Doktrin, sejarah dan implementasinya dalam upaya mengembangkan perekonomian rakyat.
    13. Perkembangan perbankan syari’ah di Tanah Air: prospek, peluang dan tantangan yang harus dihadapi.
    14. Perdagangan dan penyebaran Islam: Peran ekonomi dalam sejarah perkembangan Islam di berbagai belahan dunia.
    15. Open market economy dan peluang perkembangan sistim ekonomi Islam pada abad ke-21.

Tahun 2009 Rose Heart Writer menyapa untuk pertama kalinya dengan buku GOOD LAWYER, tahun ini Rose Heart Writer kembali menyapa dengan menyuguhkan berbagai macam cerita hukum dalam GOOD LAWYER Season 2.

Setelah beberapa hari ini muncul beberapa teaser dari GL 2 yang berseliweran di Facebook, saya pun tak ingin ketinggalan untuk ikut-ikutan meramaikan FB dengan teaser cerkum saya. Dalam buku GOOD LAWYER 2 ini, “From Nganjuk With Love” cerita hukum (cerkum) pertama saya. Ada dua cerkum yang masuk dalam buku ini. Sebagai pemanasan, baca cuplikannya ya…..

Check the teaser out!

***********************

“Apa ini ?” tanya Pudja tak mengerti. Di hadapan dia sekarang duduk dua laki-laki dengan seragam mirip sales yang biasa keliling desa-desa menawarkan barang dagangannya. Pudja yang tidak tahu maksud kedatangan laki-laki itu, makin penasaran dengan diserahkan kepadanya selembar kertas yang tak lain dan tidak bukan adalah cheque.

“Itu cek,” kata salah satu dari dua laki-laki tersebut. “Nominal yang tertera di atasnya akan menjadi milik anda jika anda bersedia untuk tidak menjadi pengacara mereka.” Tambahnya. Sikap tamunya itu membuatnya menjadi muak. Dirinya merasa terhina. Dalam kamusnya, tidak ada kata-kata suap apalagi menerimanya. Pengalaman suaminya yang telah menendangnya keluar dari rumah karena pengacaranya menerima suap telah menutup matanya berbuat serupa kepada kliennya.

“Maaf, anda salah orang.” Jawab Pudja tegas.

“Huh, blagu. Baru jadi pengacara kacangan saja sudah blagu gayamu !” ejek laki-laki itu. Tak ayal, sikap mereka yang sedari awal membuat Pudja muak membuatnya makin muntab. Seperti petasan yang disulut ujungnya, Pudja benar-benar meledak.

“Anda berani membayar saya berapa, hah?” tantang Pudja dengan sedikit menahan rasa muaknya. “Hanya segitu?! Anda hanya mampu membayarku segitu?! Apa nggak salah tuh !” ejeknya ganti.

“Sikap kalian yang ita-itu ternyata hanya mampu membayarku segitu ! Jangan mimpi kali ya!” tambahnya dengan judes. Bangkit dari duduknya kemudian bergegas meninggalkan mereka. Pudja benar-benar tidak ingin lagi berurusan dengan mereka.

Laki-laki itu tiba-tiba memegangi tangannya, menghentikan langkah kaki dan mengembalikan dia di kursi duduknya. “Urusan kita belum selesai. Kamu itu sebenarnya pengacara atau bukan sih ? kalau kamu memang ditunjuk mereka untuk menyelesaikan masalah ini, mari kita ngomong secara terbuka, jangan menghindar seperti ini,” dumel orang itu.

Pudja diam saja. Dia mengatur irama detak jantungnya yang tak beraturan karena menahan marah. Menghela nafas dalam-dalam. Setelah merasa yakin, dia pun mulai menyerang.

……………….

*************

Ops! Sorry….. Penasaran dengan kelanjutan kisahnya ya…. anda dapat membaca kisah lengkapnya dalam buku Good Lawyer season 2 yang akan terbit pertengahan Mei ini.

Don’t miss it!

BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan ini, kita selalu dikelilingi oleh hal-hal yang sering kali kita klaim sebagai milik kita (Owner). Keluarga, rumah, pekerjaan, panca indera, harta, ilmu pengetahuan, keahlian dan lain sebagainya, semua itu kita sebut sebagai milik kita. Tapi benarkah itu semua milik kita? Memang terdapat berbagai perangkat keduniaan, semisal surat-surat resmi yang bisa menjadi bukti bahwa keluarga, pekerjaan, tanah itu adalah milik kita. Sehingga, kita memperlakukannya sesuai dengan selera dan nafsu duniawi kita, bukan disesuaikan dengan keinginan sang pemilik mutlak, yaitu Allah SWT. Kita adalah pemilik nisbi. Pemilik mutlak dari segala sesuatu hanyalah Allah SWT. Harta bukanlah satu-satunya jalan guna mewujudkan kebahagiaan dalam kehidupan. Memang tidak salah jika dikatakan bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan harta. Tetapi jelaslah salah jika seorang manusia enggan bahkan tidak mau berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena hal ini erat kaitannya dengan kelangsungan hidupnya di dunia ini. Manusia diutus di dunia ini untuk mengemban amanah suci, sebagai khalifah. Tentunya hal ini memerlukan bekal yang cukup guna kelangsungan hidup. Baik kebutuhan yang bersifat materi dan non-materi. Bila kebutuhan tercukupi, tentunya akan ada rasa tenang dalam beribadah kepada Sang Pencipta dalam menjalankan visi dan misinya sebagai khalifah di muka bumi. Berangkat dari itu, makalah singkat ini berjudul “Harta dan kepemilikan dalam Islam”. BAB II PEMBAHASAN 1. Harta A. Pengertian Harta Istilah Harta, atau al-Mâl dalam al-Qurân maupun Sunnah tidak dibatasi dalam ruang lingkup makna tertentu, sehingga pengertian al-Mâl sangat luas dan selalu berkembang. Dalam al-Munjid kata al-Mâl (bentuk jamaknya, al-amwâl), diartikan sebagai “Segala sesuatu yang kamu miliki (mâ malaktahu min jamî’ al-syyâ`).” Bentuk mudzakar atau mua`annats dari kata ini sama saja, yakni al-mâl. Dalam al-Mu’jam al-Wasîth, ia dimaknai, “Segala yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok berupa kekayaan, atau barang perdagangan, rumah, uang atau hewan atau lainnya.” Harta dalam kamus besar Indonesia cetakan balai pustaka disebutkan bahwa harta adalah barang atau uang yang menjadi kekayaan ; barang milik seseorang atau kekayaan berwujud dan tak berwujud yang bernilai dan menurut hukum dimiliki perusahaan. Sedangkan para Ahli Fiqh mendefinisikan harta adalah segala sesuatu yang bisa dimiliki dan dimanfaatkan oleh manusia dalam bentuk tertentu sebagaimana yang telah berjalan pada masyarakat. Imam Syafi’e menambahkan bahwa tidaklah termasuk harta kecuali memiliki nilai jual. Jelaslah bahwa syarat yang harus ada dalam harta adalah adanya manfaat dan memiliki nilai jual. Selain itu, para Ulama Fiqih juga menerangkan unsur-unsur yang harus ada dalam harta, yaitu : Pertama, memiliki unsur nilai ekonomis. Kedua, unsur manfaat atau jasa yang diperoleh dari barang tersebut. Nilai ekonomis dan manfaat yang menjadi kriteria harta ditentukan berdasarkan ‘urf (kebiasaan/ adat) yang berlaku di tengah masyarakat. As-Suyuti berpendapat bahwa istilah al-Mâl hanya untuk barang yang memiliki nilai ekonomis, dapat diperjualbelikan, dan dikenakan ganti rugi bagi yang merusak atau melenyapkannya. Dengan demikian, tempat bergantungnya status al-Mâl terletak pada nilai ekonomis (al-qimah) suatu barang berdasarkan ‘urf. Besar kecilnya al-qimah dalam harta tergantung pada besar kecilnya manfaat suatu barang. Serta faktor manfaat menjadi patokan dalam menetapkan nilai ekonomis barang. Maka manfaat barang menjadi tujuan dari semua jenis harta. B. Pembagian Harta Dalam pengertian umum harta dibagi menjadi dua bagian, yaitu materi dan non materi. Yang termasuk materi di antaranya adalah uang, perhiasan, tanah, dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk non materi adalah deposito, HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), saham, dan sebagainya. Harta menurut Fiqh Islam terbagi dalam banyak bagian, yang ditinjau dari berbagai segi, yang masing-masing bagian itu mempunyai ciri-ciri dan hukum sendiri. Maka harta itu dapat kita bagi menjadi 10 bagian yang mendasar, yaitu: 1. al-Mâl Mutaqawwim (benda bernilai) dan ghairu mutaqawwim (benda tak bernilai). 2. al-Mâl Mitsli (benda bercontoh) dan qimy (benda tak bercontoh). 3. al-Mâl Istihlaki (benda yang habis pakai) dan ghairu istihlaki (benda tak habis pakai). 4. al-Mâl manqul (benda bergerak) dan ghairu manqul (benda tak bergerak). 5. al-Mâl khass (milik pribadi) dan al-Mâl ‘amm (milik umum). 6. al-Mâl ‘usul (pokok) dan al-Mâl simar (hasil). 7. al-Mâl Mamluk (benda yang ada pemiliknya) dan al-Mâl mubah (benda tak bertuan). 8. al-Mâl qabilul lil qismah (harta yang dapat dibagi) dan al-Mâl ghairu qabilil lil qismah (harta yang tidak dapat dibagi). Menurut Hanafiyah, yang termasuk harta diam hanya tanah saja. Sedangkan Malikiyah menganggap harta diam meluas kepada segala yang melekat dengan tanah secara permanen, seperti tanaman dan bangunan. Sebab keduanya tak mungkin dipindahkan, kecuali harus dipindahkan bangunannya menjadi hancur, dan tanaman berubah menjadi kayu bakar. C. Cara Mendapatkan Harta Dalam Islam Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa, Allah adalah pemilik segala yang ada. Tidaklah harta kekayaan yang ada di tangan manusia melainkan hanya titipan Allah swt. Dialah pemilik kerajaan langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya yang disebutkan dalam Al-Qur’an : تؤتى الملك من تشاء و تنزع الملك ممن تشاء Artinya: Engkau memberi kerajaan kepada siapa yang engkau kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang engkau kehendaki. Mencermati makna ayat di atas, jelaslah bahwa walau manusia memiliki harta yang melimpah, dan berbagai macam perhiasan dari emas dan perak, tidaklah semuanya melainkan hanya milik Allah swt yang dianugerahkan kepada hambanya. Banyak ayat lain yang menjelaskan tentang hal ini. واتو هم من مال الله الذى اتا كم Artinya: Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian. Di ayat lain allah berfirman: كلوا من طيبات ما رزقنا كم ولا تطغوا فيه فيحل عليكم غضبى ومن يحلل عليه غضبى فقد هوى Artinya: makanlah di antara rizki yang baik yang telah kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya yang menyebabkan kemurkaanku menimpamu, sesungguhnya barang siapa ditimpa oleh kemurkaanku maka binasalah ia. Islam telah menggambarkan jalan yang suci dan lurus bagi umatnya guna memperoleh harta yang halal dan baik. Di bawah ini disebutkan beberapa cara meraih harta dalam Islam : 1. Meraih harta secara langsung dari hasil keringatnya sendiri Inilah yang sering di puji oleh Islam. Yaitu meraih harta dari jerih payah keringatnya sendiri selama hal itu berada pada koridor yang telah ditentukan oleh Allah swt. Ini adalah cara meraih harta yang paling mulia dalam Islam. Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah ketika ditanya oleh seseorang tentang kedudukan harta yang paling mulia: اي الكسب اطيب؟قال:عمل الرجل بيده,وكل بيع مبرور. Artinya: harta apakah yang paling mulia?Rasul berkata : harta seseorang yang dihasilkan dari jerih payah kedua tangannya, dan segala jual beli yang barokah. Islam adalah satu-satunya agama samawi yang memuliakan pekerjaan bahkan memposisikan pekerjaan sebagai ibadah di sisi-Nya. menjadikannya asas dari kebaikan didunia dan akhirat. Banyak ayat dalam al-Qur’an dan Hadist yang menjelaskan tentang kemuliaan pekerjaan : a. Pada surat Al-Mulk ayat:15 Allah memerintahkan kita untuk berjalan di muka bumi guna meraih kehidupan: هو الذى جعل لكم الارض ذلولا فامشوا فى مناكبها وكلو من رزقه,واليه النشور Artinya: Dialah yang menjadikan bumi itu mudah buat kamu,maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Mu. Dan hanya kepadaNya kamu kembali (setelah) dibangkitkan. b. Dalam surat Al-Muzammil ayat:20 Allah menjelaskan bahwa mencari kehidupan dengan cara bekerja setara kedudukannya dengan berjihad di jalan Allah: واخرون يضربون فى الارض يبتغون من فضل الله,واخرون يقاتلون فى سبيل الله Artinya: dan orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah;dan orang yang lain lagi berperang di jalan Allah. c. Begitu juga dalam hadist Rasulullah bersabda: ما اكل احد طعاما قط خيرا من ان ياكل من عمل يده,و ان نبي الله داود كان ياكل من عمل يده Artinya: tidaklah ada yang lebih baik dari apa yang di makan oleh seseorang dari hasil jerih payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud.AS makan dari hasil kedua tangannya. 2. Harta warisan Dalam Islam harta warisan adalah salah satu jalan yang diperbolehkan guna meraih harta kekayaan. Ini disebut meraih harta secara tidak langsung. Dalam artian, si penerima harta tidaklah bersusah payah untuk mendapatkannya. Karena itu adalah peninggalan si mayit (Ayah atau keluarga dekatnya). Merupakan suatu peraturan yang sangat luar biasa, dalam Islam, apa yang ditinggalkan oleh si mayyit dari harta dan benda adalah menjadi hak milik anak-anak dan keluarga dekatnya. Dibagikan secara adil kepada mereka sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Islam. Antara manusia dan harta yang ia miliki mempunyai hubungan yang dengannya si pemilik harta bisa bertindak sesuai dengan kehendaknya selama tidak melanggar hak orang lain. Inilah yang disebut dengan kepemilikan. Yaitu memiliki wewenang untuk bertindak dari apa yang ia miliki. Tetapi ketika hubungan yang mengikat antara si pemilik harta dengan harta yang ia miliki terputus disebabkan wafatnya si pemilik, maka harus ada pemilik baru yang menggantikan wewenang kepemilikan harta yang ia miliki. Dan Islam menjadikan orang yang paling dekat hubungannya dengan si mayyit yang menerima wewenang dalam kepemilikan harta ini. Ini sesuai dengan fitrah manusia. Dalam hal ini yang paling dekat adalah anak dan keluarga terdekat. Begitu pula halnya dalam pembagian harta warisan. Islam membagi sesuai dengan fitrah kebutuhan manusia. Ada tiga ideologi yang dijadikan landasan pembagian harta waris dalam Islam: a. Islam memberikan harta waris kepada orang terdekat yang memiliki hubungan dengan si mayyit tanpa membedakan orang tersebut kecil dan besar atau lemah dan kuat. Maka dari itu, orang terdekat dengan mayyit adalah mereka yang mendapatkan bagian terbanyak dalam warisan. b. Pembagian harta waris sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Jika kebutuhan terhadap sesuatu itu besar, maka besar pula bagian yang ia dapatkan. Barangkali inilah rahasia di balik bahwa anak mendapatkan bagian yang paling besar. Bahkan lebih besar dari bagian orang tuanya. c. Dalam warisan Islam menggunakan istilah pembagian (at-tauzi’) bukan pengumpulan (at-tajmi). Yaitu pembagian warisan. Sehingga harta warisan tidak hanya terfokus kepada satu orang saja, tetapi dibagikan kepada anak, saudara, saudara paman dan seterusnya. Sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah swt. 2. Kepemilikan A. Pengertia Kepemilikan “Kepemilikan” sebenarnya berasal dari bahasa Arab dari akar kata “malaka” yang artinya memiliki. Dalam bahasa Arab “milk” berarti kepenguasaan orang terhadap sesuatu (barang atau harta) dan barang tersebut dalam genggamannya, baik secara riil maupun secara hukum. Dimensi kepenguasaan ini direfleksikan dalam bentuk bahwa orang yang memiliki sesuatu barang berarti mempunyai kekuasaan terhadap barang tersebut sehingga ia dapat mempergunakannya menurut kehendaknya dan tidak ada orang lain, baik itu secara individual maupun kelembagaan, yang dapat menghalang-halanginya dari memanfaatkan barang yang dimilikinya itu. Para fukoha memberikan batasan-batasan syar’i “kepemilikan” dengan berbagai ungkapan yang memiliki inti pengertian yang sama. Di antara yang paling terkenal adalah definisi kepemilikan yang mengatakan bahwa “milik” adalah hubungan khusus seseorang dengan sesuatu (barang) di mana orang lain terhalang untuk memasuki hubungan ini dan si empunya berkuasa untuk memanfaatkannya selama tidak ada hambatan legal yang menghalanginya. Batasan teknis ini dapat digambarkan sebagai berikut. Ketika ada orang yang mendapatkan suatu barang atau harta melalui cara-cara yang dibenarkan oleh syara’, maka terjadilah suatu hubungan khusus antara barang tersebut dengan orang yang memperolehnya. Hubungan khusus yang dimiliki oleh orang yang memperoleh barang (harta) ini memungkinkannya untuk menikmati manfaatnya dan mempergunakannya sesuai dengan keinginannya selama ia tidak terhalang hambatan-hambatan syar’i seperti gila, sakit ingatan, hilang akal, atau masih terlalu kecil sehingga belum paham memanfaatkan barang. Dimensi lain dari hubungan khusus ini adalah bahwa orang lain, selain si empunya, tidak berhak untuk memanfaatkan atau mempergunakannya untuk tujuan apapun kecuali si empunya telah memberikan izin, surat kuasa atau apa saja yang serupa dengan itu kepadanya. Dalam hukum Islam, si empunya atau si pemilik boleh saja seorang yang masih kecil, belum balig atau orang yang kurang waras atau gila. Tetapi dalam hal memanfaatkan dan menggunakan barang-barang “miliknya” mereka terhalang oleh hambatan syara’ yang timbul karena sifat-sifat kedewasaan tidak dimiliki. Meskipun demikian hal ini dapat diwakilkan kepada orang lain seperti wali, washi (yang diberi wasiat) dan wakil (yang diberi kuasa untuk mewakili). B. Jenis-jenis Kepemilikan Sebelumnya perlu diterangkan di sini bahwa konsep Islam tentang kepemilikan memiliki karakteristik unik yang tidak ada pada sistem ekonomi yang lain. Kepemilikan dalam Islam bersifat nisbi atau terikat dan bukan mutlak atau absolut. Pengertian nisbi di sini mengacu kepada kenyataan bahwa apa yang dimiliki manusia pada hakekatnya bukanlah kepemilikan yang sebenarnya (genuine, real). Sebab, dalam konsep Islam, yang memiliki segala sesuatu di dunia ini hanyalah Allah SWT, Dialah Pemilik Tunggal jagat raya dengan segala isinya yang sebenarnya. Apa yang kini dimiliki oleh manusia pada hakekatnya adalah milik Allah yang untuk sementara waktu “diberikan” atau “dititipkan” kepada mereka, sedangkan pemilik riil tetap Allah SWT. Karena itulah dalam konsep Islam, harta dan kekayaan yang dimiliki oleh setiap Muslim mengandung konotasi amanah. Dalam konteks ini hubungan khusus yang terjalin antara barang dan pemiliknya tetap melahirkan dimensi kepenguasaan, kontrol dan kebebasan untuk memanfaatkan dan mempergunakannya sesuai dengan kehendaknya namun pemanfaatan dan penggunaan itu tunduk kepada aturan main yang ditentukan oleh Pemilik riil. Kesan ini dapat kita tangkap umpamanya dalam kewajiban mengeluarkan zakat (yang bersifat wajib) dan imbauan untuk berinfak, sedekah dan menyantuni orang-orang yang membutuhkan. Para fukoha membagi jenis-jenis kepemilikan menjadi dua yaitu a. Kepemilikan sempurna (tamm). Kepemilikan sempurna adalah kepemilikan seseorang terhadap barang dan juga manfaatnya sekaligus. b. Kepemilikan kurang (naaqis). kepemilikan kurang adalah yang hanya memiliki substansinya saja atau manfaatnya saja. Dua jenis kepemilikan ini mengacu kepada kenyataan bahwa manusia dalam kapasitasnya sebagai pemilik suatu barang dapat mempergunakan dan memanfaatkan susbstansinya saja, atau nilai gunanya saja atau kedua-duanya. Sedangkan Kedua jenis kepemilikan ini akan memiliki konsekuensi syara’ yang berbeda-beda ketika memasuki kontrak muamalah seperti jual beli, sewa, pinjam-meminjam dan lain-lain. C. Sebab-sebab Timbulnya Kepemilikan Sempurna. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kepemilikan dalam syariah ada empat macam yaitu: 1. Kepemilikan terhadap barang-barang yang diperbolehkan, Kepemilikan terhadap barang-barang yang diperbolehkan. Yang dimaksud dengan barang-barang yang diperbolehkan di sini adalah barang (dapat juga berupa harta atau kekayaan) yang belum dimiliki oleh seseorang dan tidak ada larangan syara’ untuk dimiliki seperti air dari sumbernya, rumput di padangnya, kayu dan pohon-pohon di belantara atau ikan di sungai dan di laut. Kepemilikan jenis ini memiliki karakteristik sebagai berikut : a. Kepemilikan ini merupakan sebab yang menimbulkan kepemilikan terhadap suatu barang yang sebelumnya tidak ada yang memilikinya. b. Proses kepemilikan ini adalah karena aksi praktis dan bukan karena ucapan seperti dalam akad. Karena kepemilikan ini terjadi oleh sebab aksi praktis, maka dua persyaratan di bawah ini mesti dipenuhi terlebih dahulu agar kepemilikan tersebut sah secara syar’i yaitu : a. Belum ada orang lain yang mendahului ke tempat barang tersebut untuk memperolehnya. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang lebih dahulu mendapatkan (suatu barang mubah) sebelum saudara Muslim lainnya, maka barang itu miliknya.” b. Orang yang lebih dahulu mendapatkan barang tersebut harus berniat untuk memilikinya, kalau tidak, maka barang itu tidak menjadi miliknya. Hal ini mengacu kepada sabda Rasulullah SAW bahwa segala perkara itu tergantung pada niat yang dikandungnya. Bentuk-bentuk kepemilikan terhadap barang yang diperbolehkan ini ada empat macam yaitu : a. Kepemilikan karena menghidupkan tanah mati. b. Kepemilikan karena berburu atau memancing c. Rumput atau kayu yang diambil dari padang penggembalaan atau hutan belantara yang tidak ada pemiliknya. d. Kepemilikan atas barang tambang. Khusus bentuk yang keempat, banyak perbedaan di kalangan para fukoha terutama antara madzhab Hanafi dan madzhab Maliki. Bagi Hanafiyah, hak kepemilikan barang tambang ada pada pemilik tanah. Sedangkan bagi Malikiyah, kepemilikan barang tambang ada pada negara karena semua barang tambang tidak dapat dimiliki oleh seseorang dengan cara kepemilikan atas tanah atau tidak dapat dimiliki secara derivatif dari kepemilikan atas tanah. 2. Akad, 3. Penggantian dan, 4. Turunan dari sesuatu yang dimiliki. III PENUTUP Harta dalam pandangan Al-Qur’a>n (Islam) adalah milik Allah. Pandangan ini dengan sendirinya menuntut sikap-sikap tertentu dari orang yang “dititipi” Allah kekayaan-Nya. Di antara tuntutan itu adalah kesadaran bahwa hidup ini tidak sendiri, hidup ini layaknya sebuah jaringan yang satu sama lain saling terkait; saling membutuhkan, dan karenanya harus saling berbagi dan bahu-membahu, bantu-membantu. Bila kesadaran ini tertanam, maka salah satu pesan moral Al-Qur’a>n ketika ia membicarakan harta, yaitu terciptanya sebuah tatanan masyarakat yang berkeadilan sosial-ekonomi, tak akan terlalu sulit untuk diwujudkan. Pembahasan di atas telah membawa kita kepada beberapa kesimpulan di bawah ini: 1. Tidak ada yang salah dalam harta kekayaan. 2. Allah menciptakan harta kekayaan untuk dicari, dimiliki dan kemudian dipergunakan dan diperoleh oleh manusia. 3. Kekayaan adalah alat pendukung hidup manusia , oleh sebab itulah setiap manusia memiliki bagian dan hak untuk memilikinya. 4. Kepemilikan dalam pembelajaran Al-Qur’a>n secara mendalam terbagi menjadi dua yaitu ; a. Kepemilikan mutlak dan absolute (bagi Allah). b. Kepemilikan terbatas (bagi manusia) . Louis Ma’lûf, Al-Munjid fî al-Lughah wa al-A’lâm cet. XXXIV (Beirut : Dâr al-Masyriq, 1994 Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah cet. III, vol. II, (Kairo : Al-Mu’ja>m al-Wasîth, tt), 927. Ash Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Teungku, Pengantar Fiqh Mu’amalah, Semarang. 1999, PT. Pustaka Rizki Putra. Maulana Muhammad Ali, the religion of islam, http://www.aaiil.org, the ahmadiyya anjuman isha’at islam Lahore, 1990. Rafiq yunus al-misri, usul al-iqtisad al-islami (Damaskus-Bairut : Dara l-qalam al-dar al-shamiyyah, 1999), 35. Hussein abdullah, dirasah fi al-fikr al-islamy (lebanon : Dara l-bayariq, 1990), 54. Faruq an-nabahan, sistem ekonomi Islam : pilihlah setelah kegagalan sistem kapitalis dan sosialis, terj. Muhadi zainuddin (Yogyakarta : UII Press, 2000) mustaq ahad, etika bisnis dalam Islam terj. Samson rahman (Jakarta : pustaka al-kautsar, 2001), 56-57. Nabilah Akrom, “Kedudukan Harta Dalam Islam”, dalam http://nabela.blogdetik.com/Islamic-economic/kedudukan-harta-dalam-Islam/ (2 Januari 2010) Dayat, Konsep Kepemilikan Dalam Islam. http://Dayat.blogspot.com/konsep-kepemilikan-dalam-Islam.html (9 Maret 2010) http://www.enjoylecture.co.cc/2010/02/definisi-harta-dalam-fiqih-muamalat.html (2 Januari 2010) Hidayatullah Ahmad Jazri http://istiqomahkapu.multiply.com/journal/item/1 (2 Januari 2010)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

salah satu  di antara sederetan musibah atau fitnah besar yang pernah menimpa umat Islam sejak abad pertama hijriah adalah ter­sebarnya h}adi>th-h}adi>th d}a>’if dan mawd}u’ di kalangan umat. Hal itu juga menimpa para ‘ulama kecuali sederetan pakar h}adi>th  dan kriti­kus yang dikehendaki Allah seperti Imam Ahmad, Bukhary, Ibn Mu’in, Abi Hatim al-Razi, dan lain-lain. Tersebarnva h}adi>th -h}adi>th  semacam itu di seluruh wilayah Islam telah meninggalkan dampak negatif yang luar biasa. Di antaranya adalah terjadinya pcrusakan segi akidah terhadap hal-hal gaib, segi syariat, dan sebagainya.

Di antara bukti nyata betapa sangat buruk pengaruh h}adi>th d}a>’if dan mawd}u’ pada umat islam adalah tumbuhnya sikap meremehkan  terhadap h}adi>th Rasu>l Alla>h SAW. Kalangan ‘ulama, mubaligh, dan pengajar yang kurang cermat dalam menukil periwayatan h}adi>th juga semakin mempercepat penyebaran dampak buruk tersebut. Belum lagi bilangan h}adi>th yang dipalsukan ternyata memang amat banyak.[1]

Usaha belajar bagi generasi sekarang untuk mengetahui dan mengenali derajat tingkatan h}adi>th-h}adi>th Rasu>l Alla>h SAW. sudah harus menjadi kebutuhan yang mendesak dan amat penting. Salah satu manfaatnya agar kita tidak terjebak karena “ketidaktahuan” sehingga dalam forum-forum ilmiah, ceramah, menulis artikel, kita banyak mengutarakan h}adi>th-h}adi>th d}a>’if.

B. Rumusan Masalah

Selanjutnya penulis menyampaikan makalah dengan thema  “H}adi>th D}a>if dan Problematikanya”. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana definisi dan kriteria h}adi>th d}a>if ?
  2. Apa saja macam dan kategori h}adi>th d}a>if ?
  3. Bagaimana kehujjahan h}adi>th d}a>if ?
  4. Apa saja kitab-kitab yang memuat h}adi>th d}a>if ?

C. Sistematika Pembah}asan

Adapun sistematika pembah}asan “H}adi>th D}a>if dan Problematikanya” adalah sebagai berikut;

  1. Bab I ; pendahuluan dan rumusan masalah.
  2. Bab II ; isi makalah yang meliputi definisi dan kriteria h}adi>th d}a>if, macam-macam dan kategori h}adi>th d}a>if, kehujjahan h}adi>th d}a>if, dan kitab-kitab yang memuat h}adi>th d}a>if.
  3. Bab III ; penutup berupa kesimpulan dari makalah.

BAB II

H}ADI>TH D}A>’IF DAN PROBLEMATIKANYA

A. Pcngertian H}adi>th D}a>’if

1. Definisi secara bahasa dan istilah

Kata d}a>’if menurut bahasa , berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawiy yang kuat. Sebagai lawan kata dari s}ahih, kata d}a>’if , juga berarti saqim (yang sakit).[2] Maka sebutan hadi>th d}a>’if , secara bahasa berarti h}adi>th yang lemah, yang sakit, atau yang tidak kuat.

Secara istilah, para ‘ulama mendefinisikannya dengan redaksi yang berbeda-beda. Akan tetapi pada dasarnya mengandung maksud yang sama. Beberapa definisi, diantaranya dapat dilihat di bawah ini.

al-Nawawi mendefinisikannya dengan:

ما لم يو جد فيه شر و ط ا لصحة و لا شر و ط ا لحسن

“H}adi>th yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadi>th s}ahih dan syarat-syarat hadi>th h}asan.”[3]

Sedang menurut Ajjaj al-Khathib  menyebutkan, bahwa h}adi>th d}a>’if ialah :

كل حد يث لم يجتمع فيه صفة ا لقبو ل

“Segala hadi>th yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat maqbul.”[4]

Sifat-sifat yang maqbul dalam definisi di atas, maksudnya ialah sifat-sifat yang terdapat dalam h}adi>th-h}adi>th yang s}ahih dan yang h}asan. Karena yang s}ahih dan yang h}asan keduanya memenuhi sifat-sifat maqbul. Dengan demikian, definisi yang disebut kedua ini sama dengan definisi yang menyebutkan, sebagai berikut:

ا لحد يث ا لذ ي لم يجتمع فيه صفا ت الصحيح و لا صفا ت الحسن

“H}adi>th yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat s}ahih dan h}asan”[5]

Menurut Nur al-Din ‘Itr, bahwa definisi yang paling baik, ialah :

ما فقد شرطا من شرو ط الحد يث المقبول

“H}adi>th yang hilang salah satu syarat dari syarat-syarat h}adi>th maqbul.”[6]

Pada definisi yang disebut terakhir ini disebutkan secara tegas, bahwa jika satu syarat saja dari syarat h}adi>th maqbul (h}adi>th s}ahih atau h}adi>th h}asan) tidak terpenuhi atau hilang, berarti h}adi>th itu tidal maqbul, yang berarti mardu>d. Dengan kata lain, h}adi>th itu adalah d}a>’if. Lebih banyak syarat yang hilang, berarti h}adi>th itu lebih tinggi nilai ked}a>’if annya.

2. Kriteria H}adi>th D}a>’if

Dari pemaparan definisi h}adi>th d}a>’if , bahwa h}adi>th d}a>’if adalah h}adi>th yang tidak memenuhi syarat-syarat h}adi>th maqbul, maka bisa disimpulkan bahwa kriteria h}adi>th d}a>’if adalah:

  1. Sanadnya terputus.
  2. Perawinya tidak ‘adil
  3. Perawinya tidak d}a>bit.
  4. Mengandung shadh.
  5. Mengandung Illat.

B. Macam-macam dan Kategori H}adi>th D}a>’if

Dari segi diterima atau tidaknya suatu h}adi>th untuk dijadikan hujjah, maka h}adi>th Ah}ad dibagi menjadi dua yaitu h}adi>th maqbul dan h}adi>th mardu>d. Yang termasuk h}adi>th maqbul adalah h}adi>th s}ahih dan h}asan, yang termasuk h}adi>th mardu>d adalah h}adi>th d}a>’if dengan segala macamnya. Selanjutnya , penulis akan menguraikan secara singkat kategori h}adi>th d}a>’if menurut kriteria h}adi>th d}a>’if yakni; 1) d}a>’if dari segi keterputusan sanad, 2) keadilan periwayat, 3) ked}a>bitan periwayat, 4) mengandung shadh, dan 5) mengandung Illat.

1. D}a>’if dari segi keterputusan sanad.

Yang dimaksud adalah terputusnya silsilah sanad sebab gugurnya scorang perawi atau banyak, baik yang dilakukan secara sengaja atau tidak oleh sebagian perawi. Mulai dari awal sanad, akhirnya atau dari tengahnya baik secara jelas atau tidak.

Di antara h}adi>th d}a>’if karena terputus sanadnya adalah:

a. H}adi>th Mu’allaq

Adalah h}adi>th yang gugur perawinya, baik seorang, atau lebih pada awal sanad. Dan h}adi>th  itu tersebut dinisbatkan kepada perawi di atas yang digugurkan.[7]

Contoh:

قال النبى صلىالله عليه واسلم: الله احق ان يستحيىمن الناس [8]

جده

ابيه

بحزبن حكيم

ابى                 يحيى                                    معاذ بن معاذ     يزيد بن هارون

عبدالله بن مسلمة         ابن بشار                                          احمد بن منيع

التر مذى                        البخارى                       ابو داود

1. Jika kita mengambil h}adi>th Bukhary, maka h}adi>th  itu bersanad; Bahz bin Hakim,  ayah Bahz, yakni Hakim bin Mu’a>wi>yah dan kakeknya, yakni Mu’a>wi>yah bin Haidah al-Qusyairy, salah seorang s}ahaby yang terkenal.

2.  Jika kita mengambil h}adi>th Abu> Dau>d, maka h}adi>th  itu bersanad; ‘Abd Alla>h bin Maslamah , ‘Ubay, Bahz bin Hakim, ayah Bahz, dan kakek Bahz, atau sanad yang lain yang terdiri dari; Ibn Bashar, Yahya, Bahz bin Hakim, ayah Bahz, dan Kakek Bahz.

3. Jika memperhatikan h}adi>th al-Turmudhy, maka sanad h}adi>th tersebut terdiri dari; Ahmad bin Mani’, Mu’a>dh bersama Yazid bin Harun, Bahz bin Hakim, ayah bahz dan kakek Bahz.

Dari perbandingan sanad-sanad dari tiga imam pentahrij h}adi>th tersebut, bahwa Imam Bukhary menggugurkan sanad, sekurang-kurangnya seorang, sebelum Bahz bin Hakim, sebab Imam Bukhary dengan Bahz bin Hakim tidak hidup dalam satu generasi. Dengan demikian h}adi>th Bukhary ini adalah h}adi>th mu’allaq. Sedang h}adi>th Abu> Dau>d dan al-Turmudhy adalah h}adi>th muttashil (bersambung sanadnya).[9]

Hukum h}adi>th mu’allaq ditolak karena sanad yang digugurkan tidak dapat diketahui sifat dan keadaan secara meyakinkan. Namun h}adi>th mu’`allaq bisa dianggap maqbul, bila sanad yang digugurkan itu discbutkan oleh h}adi>th yang bersanad lain. Seperti h}adi>th mu’allaq yang terdapat dalam s}ahih Buhkary (sebanyak 1341 buah) dan s}ahih  Muslim (sebanyak 3 buah). Meski demikian , h}adi>th  itu tidak dapat dikatakan s}ahih secara mutlak, tetapi perlu diadakan penelitian bagi orang yang mampu menjelaskan perawi-perawinya. Yaitu dengan 4 macam kemungkinan:

1. Dapat bertemu dengan syarat-syarat (Bukhary). Hanya tidak di-ittishal-kan karena sudah dipandang cukup dengan sanad yang ada ditempat lain. Atau dengan maksud untuk meringkasnya.

2. Tidak bertemu dengan syarat-syaratnya tetapi s}ahih menurut syarat-syarat muh}adi>thin yang lain.

3. Merupakan h}adi>th  h}asan yang patut untuk berhujjah.

4. Merupakan h}adi>th  d}a>if yang bukan karena cacatnya perawi, tetapi hanya karena terputusnya sanad, yang tidak seberapa ked}a>ifannya. [10]

b. H}adi>th Munqat}i’

Adalah h}adi>th yang gugur pada sanadnya seorang perawi, atau pada sanad tersebut disebutkan seseorang yang tidak dikenal namanya.[11] Ada juga yang mendefinisikan dengan h}adi>th yang gugur seorang perawinya sebelum s}ahabat pada satu tempat, atau gugur dua orang perawinya pada dua tempat, yang tidak berturut-turut.[12]

Dengan dua definisi di atas, diketahui bahwa gugurnya perawi pada h}adi>th munqat}i’, tidak terjadi pada t}abaqah’ pertama (t}abaqah’ s}ahabat) tetapi pada t}abaqah’ berikutnya, mungkin t}abaqah’ kedua, ketiga atau keempat. Kemudian, bahwa yang digugurkan itu terkadang dua orang dengan tidak berturut-turut.[13]

Contoh h}adi>th munqat}i’’ yang gugur perawinya (sanadnya) seorang sebelum s}ahabat, seperti h}adi>th yang ditahrijkan oleh Ibn Majah dan al-Turmudhy dengan matan dan sanad sebagai berikut:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم ا ذا دخل المسخد قا ل : بسم الله وا الصلا ة والسلا م على رسول الله ,اللهم اغفر لي ذ نوبى وافتح لى  ابوا ب رحمتك[14]

فا طمة الزهرا

?

فا طمة بنت الحسين

عبد الله بن الحسن

الليث   (ابن ابى سليم)

اسما عيل بن ابرا هيم

على بن حجر               ابو بكر بن ابى شيبة

التر مذ ى                        ابن ما جه

H}adi>th yang ditakhrijkan oleh Ibn Majah dengan sanad-sanad: Abu>> Bakar Abi> Shaibah, Isma>il bin Ibra>hi>m, al-Laith, ‘Abd Alla>h bin H}asan, Fat}imah binti H}usain, dan Fat}imah al-Zahra>. Putri Rasu>l Alla>h SAW., ini terdapat inqit}a’(keguguran) seorang perawi (sanad) sebelum Fat}imah al-Zahra>. Sebab Fat}imah binti H}usain tidak pernah bertemu dengan Fat}imah al-Zahra> yang wafat sebulan setelah Rasu>l Alla>h SAW., meninggal dunia.[15]

Secara umum ‘ulama’ sepakat tentang d}a>’if dan ditolaknya h}adi>th munqat}i’‘ sebagai hujjah, karena disebabkan oleh perawi-perawi yang dibuang.

c. H}adi>th Mursal

Adalah h}adi>th yang gugur sanadnya setelah tabi’in. Yang dimaksud gugur di sini, ialah nama sanad terakhir, yakni s}ahabat tidak disebutkan. Padahal s}ahabat adalah orang pertama menerima h}adi>th dari Rasu>l Alla>h SAW. Al-Hakim merumuskan definisi h}adi>th mursal dengan:

H}adi>th yang disandarkan (langsung) oleh tabi’in kepada Rasu>l SAW., baik perkataan, perbuatan, maupun taqrir-nya. Tabi’in tersebut, baik termasuk tabi’in kecil maupun tabi’in besar.”[16]

Perwujudan dari ta’rif tersebut, ialah perkataan tabi’in kecil maupun besar , yang menegaskan tentang apa yang telah dikatakan atau diperintahkan oleh Rasu>l Alla>h SAW.  tanpa menerangkan dari s}ahabat mana berita itu diperolahnya. Misalnya tabi’in kecil berkata:

قال رسول الله صلىالله عليه واسلم كذا …….

فعل رسول الله صلىالله عليه واسلم كذا …….

فعل الصحا بى بحضرة رسول الله صلىالله عليه واسلم كذا …….

Berdasar definisi yang dikemukakan al-Hakim di atas, diketahui adanya dua macam h}adi>th mursal, yaitu mursal al-Jali dan mursal al-Khafi. Mursal al-Jali ialah h}adi>th mursal yang pengguguran nama s}ahabat dilakukan oleh tabi’in besar, sedang mursal al-Khafi, ialah pengguguran nama s}ahabat dilakukan oleh tabi’in kecil.

Disamping kedua macam h}adi>th mursal di atas, ada juga yang disebut dengan mursal al-S}ahabi, yaitu h}adi>th yang diriwayatkan oleh seorang s}ahabat, akan tetapi ia sendiri tidak langsung menerima dari Rasu>l Alla>h SAW., karena mungkin ia masih kecil atau tidak hadir pada majelis rasu>l pada saat h}adi>th itu diwurudkan.[17]

Contoh :

ان ر سول الله صلى الله عليه و سلم خرج الى مكة يوم عام الفتح في رمضا ن فصام حتى بلغ الكد يد ثم افطر فا فطر الناس [18]

H}adi>th di atas diriwayatkan oleh Malik dari Ibn Syibah dari ‘Ubayd Alla>h bin ‘Abd Alla>h bin Atabah dari ‘Abd Alla>h bin Abbas ra. Menurut al-Qabisy, h}adi>th termasuk h}adi>th mursal S}ahabi, karena saat itu Ibn Abbas tidak ikut pergi bersama Rasu>l Alla>h SAW., beliau di rumah bersama orang tuanya. Jadi tidak menyaksikan perjalanan tersebut.[19]

Terhadap h}adi>th mursal al-S}ahabi ini, di antara para ‘ulama ada yang memandang sebagai h}adi>th yang muttasil (bersambung). Mereka beralasan, bahwa para s}ahabat biasa melakukan periwayatan di antara sesamanya, dan mereka adalah orang-orang yang dinilai ‘adil.[20] Kata a-Suyuti, dalam kitab S}ahih karya al-Bukhary dan Muslim banyak di dapat h}adi>th – h}adi>th mursal semacam ini.

Sedangkan h}adi>th mursal al-Jali dan mursal al-Khafi dari segi dapat tidaknya dijadikan hujjah penulis sepakat membagi hukum kehujjahan h}adi>th mursal kategori ini menjadi tiga:

Pertama, dapat dijadikan hujjah secara mutlak, seperti yang dipegang oleh Abu> Hanifah, Malik, Ahmad (menurut satu pendapat), dan pendapat sebagian ahli ilmu.

Kedua, tidak boleh dijadikan hujjah secara mutlak. Sebagaimana dikatakan al-Nawawi dari jumhur ‘ulama ahli h}adi>th, al-Shafi’i, kebanyakan ‘ulama ahli fiqih dan ahli ushu>l.

Ketiga, boleh menggunakan h}adi>th mursal apabila ada riwayat lain, yang musnad, atau yang mursal lagi, atau yang sudah menjadi amalan sebagian s}ahabat.[21]

d. H}adi>th Mu’dlal

Artinya h}adi>th yang gugur perawi-perawinya, dua orang atau lebih secara berturut-turut. Baik s}ahabat bersama tabi’in, tabi’in bersama tabit al-tabi’in, maupun dua orang sebelumnya.[22] Ibn al-Madini dan para ‘ulama sesudahnya mengatakan, bahwa gugurnya h}adi>th mu’dlal itu lebih dari satu orang.[23] Ini artinya, batas jumlah yang gugur itu tidak ditentukan,berapa pun banyaknya, asal saja lebih dari satu.

Contoh h}adi>th mu‘dlal yang gugur perawinya dua orang sebelum s}ahabi, seperti h}adi>th Imam Malik yang termuat dalam Kitab Muwat}t}a’:

للمملو ك طعا مه و كسو ته  [24]

ابو هر يرة

ابيه

محمد بن عجلا ن

بكيربن الا شبح                                           ما لك

عمرو بن الحا رث

ابن وهب

مسلم

Imam Malik dalam Muwat}t}a’ nya langsung meriwayatkan dari Abu>> Hurayrah. Padahal ia seorang tabi’ al-tabi’in, sudah tentu tidak mungkin bertemu apalagi mendengar h}adi>th itu langsung dari Abu>> Hurayrah. Dengan demikian, ada dua orang perawi yang digugurkan.

Dari hasil penyelidikan bahwa Imam Muslim meriwayatkan h}adi>th tersebut melalui sanad-sanad Ibn Wahbin, ‘Amr bin al-­Harith, Bukhair bin al-Asyaj, Muhammad bin ‘Ajlan, ayah ‘Ajlan dan Abu>> Hurayrah ra. Dengan demikian dua perawi yang digugurkan Imam Malik adalah Muhammad bin ‘Ajlan dan ayahnya.[25]

H}adi>th mu’dlal ini tidak dapat dijadikan hujjah, karena banyak sanad yang dibuang. Ia lebih buruk daripada h}adi>th munqat}i’, sedangkan h}adi>th munqat}i’ lebih buruk daripada h}adi>th mursal. Padahal h}adi>th mursal tidak dapat dijadikan hujjah. Mu’dlal lebih buruk keadaannya dari pada munqat}i’ terjadi apabila keterputusannya jadi satu tempat dari sanad. Kalau keterputusan tadi ada di dua tempat atau lebih, maka keadaan h}adi>th  munqat}i’ sama buruknya dengan h}adi>th  mu’dlal.[26]

e. H}adi>th Mudallas

Artinya h}adi>th yang tiada disebut di dalam sanad atau sengaja digugurkan oleh seseorang perawi nama gurunya dengan cara memberi faham, bahwa ia mendengar sendiri h}adi>th itu dari orang yang disebut namanya itu. Perbuatan itu dinamai : tad-lis.

Mudallas dibagi dua, tadlis isnad dan tadlis suyukh.

Tadlis isnad yaitu; h}adi>th yang disampaikan oleh seorang perawi dari dari orang yang semasa depannya dan ia bertemu sendiri dengan orang itu, meskipun ia tidak bisa mendengar langsung darinya. Atau dari orang yang sama dengannya, tetapi tidak pernah bertemu, dan ia menciptakan gambaran bahwa ia mendengar langsung dari orang tersebut.

Misalnya perkataan Ali bin Khashram: “Kami sedang berada dekat Sufyan bin ‘Unaiyah. Ia berkata : ‘al-Zuhri berkata demikian.’ Lalu ia ditanya: “Adakah engkau mendengar ini dari dari al-Zuhri?” Sufyan menjawab:”Yang menceritakan kepadaku adalah ‘Abd al-Razaq yang menerima dari Ma’mar dari al-Zuhri. Jadi Sufyan hidup semasa dengan al-Zuhri dan pernah bertemu, tetapi ia tidak mengambil h}adi>th  dari al-Zuhri secara langsung, melainkan ia mengutipnya dari ‘Abd al-Razaq. Sedangkan ‘Abd al-Razaq menerimanya dari Ma’mar. Dan Ma’mar meriwayatkan dari al-Zuhri. Tadlis (manipulasi) di sini  ialah tindakan Sufyan menggugurkan dua orang gurunya dan menyampaikan h}adi>th dengan bentuk yang menggambarkan seolah-olah ia mendengar langsung dari al-Zuhri.[27]

Tadlis Syuyukh, yaitu h}adi>th diriwayatkan dengan memberi sifat kepada perawinya dengan sifat yang lebih agung daripada kenyataan, atau memberinya nama dengan kunyah (julukan) dengan maksud menyamarkan masalahnya. Di antara salah satu contohnya: bila seseorang mengatakan:”orang yang sangat alim lagi teguh pendiriannya menceritakan kepadaku,” atau “penghapal yang sangat kuat hapalannya menceritakan kepadaku.”

Contoh tadlis syuyukh:

حد ثنا عبد الله  بن ابي عبيد ا لله

Yang dimaksudkan dengan ‘Abd Alla>h ini adalah Abu>> Bakar bin Abi> Dau>d  al-Sijistaniy. Perawi hanya menyebut gurunya atau memberikan nisbat.[28]

Menurut Ibn S}alah, al-Khatib al-Baghdadi menggemari jenis ini dalam karya-karyanya. Di antaranya bahwa al-Khatib meriwayatkan dalam kitabnya bersumber dari Abu>> Qasim al-Azhari, dari Ubayd Alla>h bin Abi al-Fath al-Fasi dan Ubayd Alla>h bin Ahmad bin ‘Uthman al-S}airafi, sedangkan semuanya adalah orang yang sama. Al-Khatib juga meriwayatkan dari al-H}asan bin Muhammad al-Khilal, dari al-H}asan bin Abi> T}alib dan dari Abu> Muhammad al-Khilal, yang semua nama itu orangnya satu.[29]

Disamping kedua macam tadlis di atas, sebagian ‘ulama membagi tadlis dalam beberapa jenis, diantaranya apa yang dinamakan tadlis  at}af (merangkai dengan kata “dan”). Seperti kalau seorang perawi berkata:”Fulan dan Fulan menceritakan kepadaku”, padahal sebenarnya ia mendengar dari orang yang kedua. ada juga tadlis sukut, misanya perawi mengatakan:”Aku mendengar” atau “Telah bercerita kepadaku”, kemudian dia diam, baru setelah beberapa saat ia melanjutkan: “al-A’masi……”umpamanya. Hal tersebut mengesankan seolah-olah ia mendengar dari al-A’masi, padahal sebenarnya ia tidak mungkin mendengar langsung dari al-A’masi. Jenis yang lain ialah tadlis taswiyah. Yaitu periwayatan oleh seseorang dengan menggugurkan perawi yang bukan gurunya, karena dianggap lemah atau muda usianya, sehingga h}adi>th tersebut hanya diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya saja, agar dapat diterima dan ditetapkan sebagai h}adi>th s}ahih . Ini jenis tadlis yang paling buruk, karena mengandung penipuan yang keterlaluan.[30]

2. D}a>’if dari segi keadilan periwayat.

a. H}adi>th Mawd}u’

Dari segi bahasa, h}adi>th mawd}u’ berarti palsu atau h}adi>th yang dibuat-buat.  Ajjaj al-Khatib, mendefinisikan h}adi>th mawd}u’ adalah:  H}adi>th yang disandarkan kepada  Rasu>l Alla>h SAW., secara dibuat-buat dan dusta , padahal beliau tidak mengatakan, melakukan atau menetapkannya.[31]

Contoh h}adi>th mawd}u’ , misalnya h}adi>th  yang dibuat-buat oleh ‘Abd al- Rahman bin Zayd bin Aslam, ia katakan bahwa h}adi>th itu diterima dari ayahnya, dari kakeknya, dan selanjutnya dari Rasu>l Alla>h SAW., bunyinya demikian:

ان سفينة نوح طا فت بالبيت سبعا و صلت عند المقا م ركعتين[32]

Makna h}adi>th itu tersebut di atas tidak masuk akal.

H}adi>th mawd}u’ merupakan seburuk-buruk h}adi>th d}a>’if. Siapa yang mengetahui kepalsuannya, maka ia tidak boleh meriwayatkannya dengan menyandarkan kepada Rasu>l Alla>h SAW., kecuali dengan maksud untuk menjelaskan kepalsuannya. Rasu>l Alla>h SAW. memberikan peringatan sebagai berikut:

من كذب على متعمد فليتبوا مقعده من النا ر ) رواه البخا رى ومسلم و غيرهما[33] (

b. H}adi>th Matruk

Adalah h}adi>th yang diriwayatkan oleh orang yang tertuduh dusta dalam per h}adi>than.[34] Yang dimaksud dengan-perawi yang tertuduh dusta adalah orang yang terkenal dalam pembicaraannya sebagai pendusta, tetapi belum terbuktikan. Adapun perawi yang tertuduh dusta disebut dengan matruk al- h}adi>th (orang yang ditinggalkan h}adi>thnya).

Contoh:

حد ثنا يعقوب بن سفيا ن بن عا صم , حد ثنا محمد بن عمرا ن, حدثن عيسى بن ز يا د , حد ثنا عبد الر حيم بن زيد  عن ابيه عن سعيد بن ا لمسيب عن عمر بن الخطاب قال: قال ر سول الله صلى الله  عليه و سلم : لو لا النساء    لعبد الله حقا[35]

Menurut Ibn ‘Addy, dua orang perawi yaitu ‘Abd al-Rahim dan ayahnya (Zayd) adalah orang yang matruk.[36]

c. H}adi>th Munkar

H}adi>th munkar secara bahasa berarti, h}adi>th yang  diingkari atau h}adi>th  yang tidak dikenal. Sedangkan batasan secara istilah yang tepat adalah h}adi>th  yang diriwayatkan oleh perawi yang d}a>’if yang menyalahi atau berlawanan dengan perawi yang thiqah.[37] Lawan h}adi>th munkar adalah h}adi>th ma’ruf. Adapun contoh h}adi>th munkar adalah sebagai berikut:

من اقا م الصلا ة و اتى الز كاة و حخ البيت و صام و قر ى الضيف د خل الجنه[38]

ابن عبا س                             محمد  رسول الله

ابن عبا س

معروف                                       منكر       العيزاربن حر يث

ابو اسحا ق                                  ابو اسحا ق

حبيب بن حبيب

الثقا ت                                     ابن ابى حا تم

Menurut Abu> Hatim, h}adi>th di atas munkar. Sebab Hubayib bin Habib termasuk perawi yang waham dan matruk. Tambahan ia meriwayatkan h}adi>th  tersebut secara marfu’, padahal perawi-perawi yang thiqah meriwayatkannya secara mawqu>f.

3. D}a>i’f dari segi ked}a>bitan periwayat

a. H}adi>th Maqlub

H}adi>th maqlub adalah ha}di>th yang terbalik lafaznya pada matan, nama seseorang atau nasabnya dalam sanad. Dengan demikian perawi mendahulukan apa yang seharusnya diakhirkan, mengakhirkan apa yang sebenarnya didahulukan. Dan pembalikan itu bisa terjadi pada matan ataupun pada sanad.[39]

Contoh tukar menukar pada matan, ialah h}adi>th Muslim dari Abu>> Hurayrah r.a :

…..ور جل تصد ق بصد قة ا خفا ها حتى لا تعلم يمينه ما تنفق شما له [40]

H}adi>th ini terjadi pemutar-balikan dengan h}adi>th  riwayat Bukhary atau riwayat Muslim sendiri, pada tempat lain, yang berbunyi :

…..حتى لا تعلم شما له ما تنفق يمينه

Contoh tukar menukar pada sanad terjadi, misalnya perawi Ka’ab bin Murah tcrtukar dengan Murrah bin Ka’ab dan Muslim bin Wahid tertukar dengan Wahid bin Muslim.

b. H}adi>th Mudraj

H}adi>th mudraj, dari segi bahasa berarti h}adi>th yang dimasuki sisipan. Sedang dari segi istilah  berarti h}adi>th  yang di masuki sisipan yang sebenarnya bukan bagian h}adi>th  itu. Sisipan itu bisa pada sanad, bisa pada matan, dan bisa pada keduanya.[41]

Contoh idraj pada matan, seperti h}adi>th Ibn Mas’ud r.a yang mewartakan bahwa Rasu>l Alla>h bersabda:

من مات لا يشرك با لله شيئا دخل الجنة . و من مات يشرك به شيئا دخل النار[42]

Ternyata setelah diselidiki dengan jalan membandingkannya dengan riwayat lain, kalimat yang terakhir adalah kalimat Ibn Mas’ud sendiri.[43]

c. H}adi>th Mushahhaf

H}adi>th yang terjadi karena perubahan kalimat  baik secara lafzi atau maknawi.

Contoh:

ا ن النبي صلى الله عليه و سلم قا ل: من صام رمضان و اتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر [44]

Perkataan sittan yang artinya enam, oleh Abu>> Bakar al-Sawly diubah dengan syaian yang berarti sedikit. Dengan demikian rusak maknanya.[45]

d. H}adi>th Muharraf

Adalah h}adi>th yang menyalahi h}adi>th riwayat orang lain. Terjadi karena pcrubahan shakal kata dengan masih tetap bentuk tulisannya.[46]

Yang dimaksud dengan shakal adalah tanda hidup (harakat) dan tanda mati (sukun).

Contoh:

ر مي ابي يوم اللا حزاب على الكحله فكواه رسول الله صلى الله عليه و سلم

Ghandar mentahrifkan h}adi>th tersebut dengan Abi (ayahku) padahal sebenarnya ‘Ubay bin Ka’ab. Berarti orang yang dihujani panah itu adalah ayah Jabir.  Padahal ayah Jabir telah meninggal saat perang Uhud, yang mana terjadi sebelum perang Ahzab.[47]

e. H}adi>th Mukhtalit

Ialah h}adi>th yang perawinya buruk hafalannya, disebabkan sudah lanjut usia, tertimpa bahaya, terbakar dan hilang kitabnya. Yang dimaksud dengan buruk hafalannya ialah jika salahnya lebih banyak daripada benarnya dan hafalannya tidak lebih banyak dari lupanya. H}adi>th ini juga termasuk shadh dan tidak dapat dipakai hujjah. Kalau buruk hafalannya terjadi setelah lanjut usia maka h}adi>thnya disebut h}adi>th mukhtalit.

f. H}adi>th Mud}t}arrab

Adalah h}adi>th yang diriwayatkan dengan jalan yang berbeda-beda, yang sama kuatnya.[48]

Dengan demikian, berarti bahwa h}adi>th mud}t}arrab adalah sebuah h}adi>th yang diriwayatkan oleh seorang perawi dengan beberapa jalan yang berbeda, yang tidak mungkin dikumpulkan atau ditarjihkan. Id}t}arrab adakalanya terjadi pada sanad dan adakalanya terjadi pada matan.

Contoh h}adi>th mud}t}arrab pada matan, seperti h}adi>th :

عن انس رضى الله عنه قال :ان النبى صلى الله عليه وسلم و ابا بكروعمر فكانوا يفتتحون القراءة با لحمدلله ربالعا لمين .[49]

Menurut al-Hafidz Ibn Abd al-Barr, bahwa h}adi>th basmalah tersebut banyak, dengan lafadz yang berbeda-beda dan saling dapat bertahan , yakni tidak dapat ditarjihkan maupun dikompromikan. Antara lain h}adi>th yang diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Nasa’iy, Ibn Khuzaimah yang juga bersumber kepada Anas r.a., dengan rangkaian kalimat :

فكانوالايجهرون ببسم الله الرحمن الرحيم

Di samping itu ada juga beberapa perawi yang meriwayatkan, bahwa para s}ahabat sama membaca basmalah dengan keras, ujarnya:

فكانوا يجهرون ببسم الله الرحمن الرحيم

Dengan demikian, h}adi>th tersebut adalah h}adi>th mud}t}arrab .

g. H}adi>th Mubham, Majhul dan Mastur

H}adi>th mubham artinya, h}adi>th yang di dalam matan atau sanad terdapat seorang perawi yang tidak dijelaskan apakah ia laki-laki atau perempuan. Keibhaman perawi h}adi>th tersebut dapat terjadi, karena tidak disebutkan namanya atau disebutkan namanya, tetapi tidak dijelaskan siapa sebenarnya yang dimaksud dengan nama itu, sebab tidak mustahil bahwa nama itu dimiliki beberapa orang.[50]

H}adi>th mubham itu ada yang terdapat pada matan, dan ada yang terdapat pada sanad. Contoh h}adi>th mubham yang terdapat pada matan ialah h}adi>th ‘Abd Alla>h bin ‘Amr bin ‘Ash r.a, yang mewartakan:

ان رجلا سئا ل النبى صلى الله عليه و سلم : اى الاء سلام خير قا ل : تطعم الطعام وتقرا السلام على من عر فت و من لم تعرف[51]

Menurut penyelidikan Al-Suyuti bahwa orang laki-laki yang bertanya kepada Rasu>l Alla>h SAW. ialah Abu>> Dzarr r.a.[52]

Sedangkan  contoh h}adi>th mubham yang terdapat pada sanad, seperti h}adi>th  Abu> Dau>d yang diterimanya dari:

حجاج عن رجل عن ابي هر يرة رضي الله عنه عن البى صلى الله  عليه و سلم قا ل: المؤ من غر كريم

Dalam h}adi>th tersebut Hajjaj tidak menerangkan nama perawi yang memberikan h}adi>th kepadanya. Oleh karena itu sulit sekali untuk menyelidiki identitasnya.[53]

H}adi>th Majhul adalah h}adi>th yang diriwayatkan seorang perawi yang jelas identitasnya, namun belum teruji keahliannya, dan tidak ada perawi thiqah yang meriwayatkannya.

H}adi>th Mastur adalah h}adi>th yang diriwayatkan seorang perawi yang terkenal keadilan dan d}a>bitnya, tetapi belum mendapat dukungan atau pengakuan mayoritas masyarakat.[54]

4. D}a’>if dari segi Shadh.

H}adi>th d}a’>if karena mengandung shadh adalah h}adi>th shadh. Dari segi bahasa shadh berarti h}adi>th yang ganjil. Sedangkan batasan h}adi>th shadh adalah h}adi>th yang diriwayatkan oleh perawi yang dipercaya, tetapi h}adi>thnya itu berlainan dengan sejumlah perawi yang juga  dipercaya. H}adi>th tersebut  mengandung keganjilan dibandingkan dengan h}adi>th-h}adi>th lain yang lebih kuat. Keganjilan itu bisa pada matan atau sanad atau pada keduanya.

Selain h}adi>th shadh ada juga yang dikenal dengan h}adi>th mahfuz} , yaitu h}adi>th yang diriwayatkan orang yang lebih thiqah yang menyalahi riwayat orang yang thiqah. Contoh h}adi>th shadh pada sanad, ialah h}adi>th:

ان رجلا تو فى على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يدع وارثا ءالا مولى اعتقه. فقال النى صلعم : هل له فقا لوا : لا,ءالا غلام اعتقه. فجعل النبى صلعم ميرا ثه[55]

الشاذ فى سند         ابن عباس                         المحفوظ             ابن عباس

عوسجه                                                   عوسجه

عمروبن دينا ر                                          عمروبن دينا ر

حمادبن زيد                                              ابن عيينه          ابن جريج

اصحابالسنن                                                 الترمذى

H}adi>th al-Turmudhy, yang bersanad Ibn ‘Uyainah, ‘Amr bin Di>na>r, ‘Ausajah dan Ibn ‘Abbas r.a adalah h}adi>th mahfuz}. Sebab h}adi>th tersebut, di samping mempunyai perawi-perawi yang terdiri dari orang-orang thiqah, juga mempunyai mutabi’ yaitu Ibn Juraij dan lainnya.

h}adi>th al-As}hab al-Sunan, yang bersandar Hammad bin Zayd, ‘Amr bin Di>na>r dan ‘Ausajah, adalah h}adi>th mursal; sebab ‘Ausajah meriwayatkan h}adi>th tersebut tanpa melalui s}ahabat Ibn ‘Abbas r.a. padahal dia adalah seorang tabi’iy. Hammad bin Zayd itu termasuk perawi yang thiqah, karenanya ia tergolong perawi yang diterima (maqbul) periwayatannya. Akan tetapi karena periwayatan Hammad bin Zayd itu berlawanan dengan periwayatan Ibn ‘Uyainah yang lebih rajih, karena sanadnya muttashil dan ada mutabi’nya. Maka h}adi>th al-Turmudhy yang melalui sanad Ibn ‘Uyainah-lah yang rajih dan disebut dengan h}adi>th mahfuz}, sedang h}adi>th al-Ashab al-Sunan yang bersanad Hammad bin Zayd, adalah marjuh dan disebut dengan h}adi>th shadh.[56]

Contoh h}adi>th shadh pada matan, seperti h}adi>th:

كان النبى صلعم اذا صلى ركعتى الفجر اضطجع على

شقة الا يمن

“Konon Rasu>l Alla>h SAW. bila telah selesai sholat sunnat dua raka’at fajar, beliau berbaring miring di atas pinggang kanan”.

قال رسول الله صلعم : اذ صلى ا حد كم ركعتى الفجر فليضطجع على يمينه

“Rasu>l Alla>h SAW. Bersabda:”Bila salah seorang dari kamu telah selesai sholat sunnat dua rakaat fajar, hendaklah ia berbaring miring di atas pinggang kanannya”.

المحفو ظ فى المتن            عاء ىشة                            الشا ذ فى المتن                 ابو هر يرة

عروة ابن الزبير                                                      ابو صا لح

ابو الا سود                                                            الاعمش

سعيد بن ابى ايوب                                                   ابو الوا حد

عبد الله بن يزيد

البخارى                                                              ابو داود

H}adi>th Abu> Dau>d, yang bersanad Abu> al-Wahid bin Ziyad, al-A’masy, Abu> S}alih dan Abu>> Hurayrah r.a., yang diriwayatkan secara marfu’ itu, adalah h}adi>th shadh pada matan. Hal itu dapat diketahui setelah meninjau h}adi>th Bukhary yang bersanad ‘Abd Alla>h bin Yazid, Sa’i>d bin Abi> Ayyub, Abu> al Aswad, ‘Urwah bin Zubair dan ‘A>ishah r.a. , dan riwayat perawi-perawi lain yang lebih thiqah.[57]

Dengan memperhatikan ta’rif h}adi>th munkar dan ma’ruf di satu pihak, dan h}adi>th shadh dan mahfuz} di pihak lain, maka dapat ditarik perbedaan-perbedaan sebagai berikut:

1. Bahwa h}adi>th shadh diriwayatkan oleh perawi yang maqbul, tetapi menyalahi perawi lain yang lebih maqbul. Sedang h}adi>th munkar diriwayatkan oleh perawi yang ghairu-maqbul, menyalahi perawi yang maqbul.

2. H}adi>th shadh dan munkar sama-sama h}adi>th marjuh, sedang h}adi>th ma’ruf dan mahfuz}, kedua-duanya adalah h}adi>th yang rajih.

3. Hukum h}adi>th shadh adalah mardu>d. Hukum h}adi>th mahfuz} adalah maqbul.[58]

5. D}a>’if dari segi Illat.

H}adi>th d}a’>if karena mengandung illat adalah h}adi>th mu’allal. Yaitu h}adi>th yang terungkap mengandung cacat yang menodai kes}ahihannya, meskipun sepintas tampak bebas dari cacat. Illat tersebut kadang ada pada sanad, kadang ada pada matan saja dan kadang ada pada sanad dan matan sekaligus.[59]

Contoh:

عن سفيا ن الثو ري عن عمر بن د ينا ر عن ا بن عمر عن النبي صلعم قا ل : البيعا ن  با لخيا ر ما لم  يتفر قا[60]

‘Illat h}adi>th ini terletak pada `Amr bin Di>na>r, semestinya bukan dia yang meriwayatkan, melainkan ‘Abd Alla>h bin Di>na>r. Hal ini hanya ber’illat pada sanadnya, tetapi matannya tetap s}ahih.[61]

C. Kehujjahan h}adi>th d}a>’if

1. Dari segi sanad h}adi>th.

Dari segi sanad h}adi>th,  kehujjahan h}adi>th d}a>’if ada dua macam:

a. Bisa dijadikan hujjah apabila tingkat ketidak-d}abi>tan perawi  hanya sedikit.

Hal ini jika merujuk pendapat Ibn Rajab dalam Syarh ‘Illal al-Turmudzy (ditahkikkan oleh Nur al-Di>n ‘Itr). Beliau mengatakan: ”Dalam hal tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab, boleh saja menerima periwayatan dari orang-orang yang kurang kuat hafalannya, tetapi bukan dari mereka yang yang biasa dituduh sebagai pembohong. Sedangkan periwayatan dari orang-orang yang dicurigai atau diragukan kebenaran ucapannya, seharusnya dibuang saja. Begitulah yang dikatakan oleh Ibn Abi> Ha>tim dan selainnya”.[62]

Kemudian Imam al-Thauri menambahkan, bahwa yang dibolehkan oleh mereka hanyalah periwayatan dari sebagian perawi yang hafalannya agak lemah atau kurang cermat, meski mereka tidak termasuk sebagai imam yang ahli ilmu, dan mengetahui segala yang dkurangkan ataupun yang ditambahkan. Dan mereka ini orang-orang yang tak diragukan kejujuran dan kebenaran ucapannya. Keraguan yang ada hanya sekitar kuatnya hafalan mereka, kecermatan dan ketelitian mereka.[63] Demikian juga pendapat Imam al-Nawawi dalam muqadimah h}adi>th Arba’in al-Nawawiyahnya.

Kemudian al-Ha>fiz Ibn Hajar Asqalani termasuk ulama ahli h}adi>th lainnya menetapkan tiga syarat untuk dapat diterimanya periwayatan yang lemah dalam h}adi>th tarhib dan targhib . Pertama, kelemahan itu tidak keterlaluan. karenanya harus ditolak periwayatan tunggal dari orang yang memang dikenal pembohong atau hafalannya tidak akurat. Kedua, makna h}adi>th itu masih dapat dalam tema dasar umum yang diakui. Ketiga, dalam penerapannya, hendaknya tidak dipercayai sebagai h}adi>th yang tak diragukan asalnya dari Nabi SAW (bersikap ihtiya>t}).

b. Tidak bisa dijadikan hujjah apabila tingkat ketidak-d}abitan perawi banyak.

Hal ini sebagaimana keberadaan h}adi>th mawd}u’, matruk, munkar, maqlub, mudraj, mushahhaf dan yang lainnya, yang dikategorikan d}a>’if dari segi keadilan dan ked}abi>tan perawi.

2. Dari segi matan h}adi>th.

Dari segi matan h}adi>th, kehujjahan h}adi>th d}a>’if ada dua macam:

  1. Bisa dijadikan hujjah apabila matan h}adi>th berupa tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab.    Sedang masalah hukum-hukum shari>’ah, tidak boleh. Hal ini  pendapat para imam-imam seperti Ahmad ibn Hambal, ‘Abd al-Rahman ibn Mahdi>, ‘Abd Alla>h ibn al-Mubaraq yang mengatakan: “Jika kami meriwayatkan h}adi>th tentang halah, haram dan hukum-hukum, kami perkeras sanad-sanadnya dan kami kritik rawi-rawinya. Tetapi bila kami meriwayatkan tentang keutamaan, pahala dan siksa, kami permudah sanadnya dan kami perlunak rawi-rawinya”.[64]

b.  Tidak bisa dijadikan hujjah, meski matan h}adi>th berupa tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab.

Hal ini jika merujuk pendapat Imam Muslim dalam muqadimmah kitab al-S}ahih-nya, bahwa h}adi>th-h}adi>th  tarhib wa targhib sekalipun,  hendaknya  tidak   diriwayatkan  kecuali  yang diterima  dari  mereka  riwayatnya dalam  hadith-hadith  hukum.  Demikian  juga  pendapat mahzab Bukhary, Yahya> ibn Ma’in, kemudian para ulama yang datang kemudian seperti Ibn Hazm dari mazhab Za>hiri, al-Qa>dhi ibn al-‘Arabi> dari mazhab Mali>ki dan Abu> Sha>mah dari mazhab Shafi>’i.[65] Kemudian tokoh-tokoh masa kini, seperti al-Shaih Ahmad Muhammad Sha>kir dan Muhammad Nashir al-Di>n al-Albani.

D. Kitab-kitab yang memuat H}adi>th D}a>’if

1. Kitab-kitab yang memuat h}adi>th d}a>’if

a. Al-mawd}u>at, karya al-Imam al-Hafiz Abu> al-Faraj ‘Abd al-Rahman bin al-Jawzi (W. 597 H). Kitab ini merupakan kitab yang pertama dan paling luas bah}asannya di bidang ini. Akan tetapi, kekurangan kitab ini adalah banyak sekali memuat h}adi>th yang tidak dapat dibuktikan kepalsuannya, melainkan, hanya berstatus d}a>’if, bahkan ada di antaranya yang berstatus h}asan dan s}ahih . Hal ini melebihi batas dan hanya dikira-kira saja.[66]

b. Al-La>li a1-Masnu>ah fi al-Ah}adi>th al-Mawd}u>’ah, karya al-Hafizh Jalal al-Din al-Suyuti (w. 911 H). Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Ibn al-Jawzi disertai penjelasan tentang kedudukan h}adi>th-h}adi>th yang bukan mawd}u’ ‘ dan ditambah dengan h}adi>th-h}adi>th mawd}u’ ‘ yang belum disebutkan oleh Ibn al-Jawzi.

c. Tanzih al-Shariah al-Marfuah an al-Ah}adi>th al-Shani>ah al-Mawd}u’ah, karya al-Hafizh Abu> al-H}asan Ali bin Muhamad bin Iraq aI-Kannani (w. 963 H). Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Ibn al-Jawzi dan tambahan al-Suyuti serta tambahan ‘ulama lainnya dalam kitab mereka.

d.  Al-Manar al-Munif fi> al-S}ahih  wa al-D}a>’if, karya lbn al-Qayyim al-Jawziyah (w. 751 H).

e.  Al-Masnu fi> al-H}adi>th al-Mawd}u’ , karya Ali al-Qari (w. 1014 H)[67]

f.  Al-D}u>’afak, karya Ibnu Hibban

g.  Mizan al- I’tidal, karya al-Dzahaby

h.  Al-Mursal, karya Abi> Dau>d

i.  Al-Illat karya al-Daruqut}ny

j.  Silsilatu al-Ah}adi>th al- D}a>’ifah wa al-Mawd}u’ ah wa al-Atsaruha al-Sayyi’ fil-Ummah, karya Muhammad Nashir al-Di>n al-Albani.

2. Kitab Biografi Perawi-Perawi D}a>’if dan yang diperdebatkan kualitasnya.

Kitab-kitab model ini hanya membahas biografi perawi­ perawi d}a>’if , yang berjumlah lebih besar dibandingkan dengan jumlah kitab-kitab khusus biografi para perawi thiqah.

Di antara kitab-kitab model ini adalah:

a. Al-Dhu’afa’ al-Kabir karya al-Bukhary.

b. Al- Dhu’afa’ al-Shagiir, karya beliau juga.

c. Al- Dhu’afa’ wa al-Matrukun, karya al-Nasa`iy yang disusun berdasarkan urutan huruf mu’jam dengan hanya memperhatikan huruf pertama dari setiap nama perawi.

d. Al- Dhu’afa’, karya Abu> Ja’far Muhammad bin ‘Amr al-‘Uqayliy (-323 H). Kitab ini memuat biografi, aneka sebab para perawi d}a>’if , yang digolongkan dusta dan yang dituduh sebagai pemalsu h}adi>th .

e. Ma’rifat al-Majruhin Minal Muh}adi>thin. Karya Abu> Hatim Muhammad bin Ahmad bin Hibban al-Busti (354 H).

f.  Al-Kamil fi Dhu’afa’ al-Rijal, karya Abu> Ahmad ‘Abd Alla>h bin ‘Adiy al-Jurjaniy (-365 H).

g.  Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal, karya adz­-Dzahabiy.

h.  Lisan al-Mizan, karya Ibn Hajar al-Asqalaniy[68]

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Dari Pembahasan-pembahasan makalah ini maka akhirnya dapat penulis simpulkan sebagai berikut:

  1. H}adi>th d}a>’if adalah  h}adi>th yang tidak memenuhi syarat-syarat h}adi>th maqbul, ( yang di dalamnya tidak terdapat sifat-sifat s}ahih dan h}asan).
  2. Kriteria h}adi>th d}a>’if yaitu: a) sanad terputus; b) perawi tidak ‘adil; c) perawi tidak d}a>bit; d) mengandung shadh; dan e) mengandung Illat.
  3. Katogeri dan macam-macam h}adi>th d}a>’if meliputi;
    1. Sanad yang terputus; h}adi>th mu’allaq, munqat}i’, mursal, mu’dlal, dan mudallas.
    2. b. Perawi yang tidak ‘adil;  h}adi>th mawd}u’, matruk,dan  munkar,
    3. c. Perawi yang tidak d}a>bit;   mudraj, maqlub, mud}t}arrab, muharraf, mushahhaf, mubham, majhul, mastur, mahfuz}, dan mukhtalit.
    4. Mengandung  shadh; h}adi>th shadh.
    5. Mengandung Illat; h}adi>th mu’allal.
  4. Kehujjahan h}adi>th d}a>’if bisa dilihat dari segi sanad h}adi>th, yaitu bolehnya dijadikan hujjah dari perawi yang kurang d}abi>t dalam h}adi>th berisi tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab. Sedangkan h}adi>th mawd}u’, matruk, munkar, maqlub,mudraj,mushahaf yang tingkat ketidakd}a>bitannya banyak tidak boleh dijadikan hujjah. Adapun dari segi matan h}adi>th ada dua pendapat; pertama ,boleh dijadikan hujjah untuk h}adi>th berisi tarhib dan targhib, zuhud dan adab. Kedua, tidak boleh dijadikan hujjah sekalipun  h}adi>thnya berisi tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab.
  5. Kitab-kitab h}adi>th d}a>’if, meliputi:
    1. Kitab-kitab yang memuat h}adi>th d}a>’if; Al-mawd}u>at, karya al-Jawzi, Al-La>li

a1-Masnu>ah fi al-Ah}adi>th al-Mawd}u>’ah, karya al-Suyuti , Al-Manar al-Munif fi> al-S}ahih  wa al-D}a>’if, karya lbn al-Qayyim al-Jawziyah, Al-D}u>’afak, karya Ibnu Hibban, Mizan al- I’tidal, karya al-Dzahaby, Silsilatu al-Ah}adi>th al- D}a>’ifah wa al-Mawd}u’ ah wa al-Atsaruha al-Sayyi’ fil-Ummah, karya Muhammad Nashir al-Di>n al-Albani, dan lain-lain.

  1. b. Kitab-kitab biografi perawi-perawi  yang d}a>’if; Al-Dhu’afa’ al-Kabir dan Al- Dhu’afa’ al-Shagiir, karya al-Bukhary, Al- Dhu’afa’ wa al-Matrukun, karya al-Nasa`iy,  Al- Dhu’afa’, karya Abu> Ja’far Muhammad bin ‘Amr al-‘Uqayliy, Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal, karya adz­-Dzahabiy, Lisan al-Mizan, karya Ibn Hajar al-Asqalaniy dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad. Ulumul H}adi>th. Bandung:Pustaka Setia, 2004.

Ajjaj, Muhammad al-Khathib. Ushu>l al-H}adi>th;’Ulu>muh wa Musthalahuh .Beirut:

Dar al-Fikr, 1981.

Al-Albani, Muhammad Nashir al- Di>n. Silsilatul-Ah}adi>ts al-D}haifah wa al-Maudhu>’ah,

terj.A.M. Basalamah . Gema Insani Press: Jakarta, Cet.IV, 2005.

Al-Hakim, Abu ‘Abd Alla>h Muhammad bin ‘Abd Alla>h al-Naysaburi. Kita>b Ma’rifah

‘Ulu>m al-H}adi>th. Kairo: Maktabah al-Matnabi, tt.

Al-Sabbag, Muhammad. Al-H}adi>th al-Nabawi> ; Mushthalahuh Balagatuh,’Ulu>muh,

Kutubuh. Mansyurat al-Maktab al-Islami, 1392H/1972M.

Al-S}alih, Subhi. ‘Ulu>m al- H}adi>th wa Musthalahuhu. terj.Tim Pustaka Firdaus. Jakarta:

Pustaka Firdaus, 2002.

Al-Suyuti, Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman bin Abi Bakar. Tadri>b al-Ra>wi> fi Syarh Taqri>b

al-Nawawi, juz I. Beirut: Dar al-Fikr, 1409H/1988M.

Al-Tahhan, Mahmud. Tasyir Mustalah al-H}adi>th. Riyadl: Maktabah, al-Ma’arif, 1987.

‘Itr, Nur al-Di>n. Manha>j an-Naqd fi> ‘Ulu>m al-H}adi>th . Beirut: Dar al-Fikr, 1979.

Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawwir Arab Indonesia terlengkap.

Yogyakarta:Unit Pbik PP.al-Munawwir, 1984.

Rahman, Fathur. Ikhtishar Mushthalah al-H}adi>th. Bandung: Al-Ma’arif, 1991.

Ranuwijaya, Utang. Ilmu Hadis. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996.

Said, Imam Ghazali. Metodologi Kitab Kuning : Melacak Sumber, Menelusuri Sanad

dan Menilai H}adi>th. Surabaya: Diantama, 2007.

Qardhawi, Yusuf. Kaifa Nafa’amalu Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah. terj. Ali Baghir Bandung:

Karisma,1994.


[1] Muhammad Nashir al- Di>n al-Albani, Silsilatul-Ah}adi>ts al- D}haifah wa al-Maudhu>’ah terj.A.M. Basalamah (Gema Insani Press: Jakarta, Cet.IV, 2005), 29.

[2] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab Indonesia terlengkap (Yogyakarta:Unit Pbik PP.al-Munawwir, 1984), 865, 685.

[3] Utang Ranuwijaya,Ilmu Hadis ( Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996), 176.

[4] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th;’Ulu>muh wa Musthalahuh (Beirut: Dar al-Fikr, 1981),

337.

[5] Muhammad al-Sabbag, Al-H}adi>th al-Nabawi> ; Mushthalahuh Balagatuh,’Ulu>muh, Kutubuh

(Mansyurat al-Maktab al-Islami, 1392H/1972M), 171.

[6] Nur al-Din ‘Itr, Manha>j an-Naqd fi> ‘Ulu>m al-H}adi>th (Beirut: Dar al-Fikr, 1979), 286.

[7] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th wa Musthalahuhu. terj.Tim Pustaka Firdaus(Jakarta: Pustaka Firdaus,2002), 208.

[8] Artinya:“Nabi Muhammad SAW bersabda: Allah itu lebih berhak untuk dijadikan tempat mengadu malu daripada manusia”.

[9] Fathurrahman, Ikhtishar Mushthalah ,177.

[10] Ibid.,178.

[11] Muhammad al-Sabbag, Al-H}adi>th al-Nabawi>, 175.

[12] Mahmud al-Tahhan, Tasyir Mustalah al-H}adi>th (Riyadl: Maktabah, al-Ma’arif, 1987), 78.

[13] al-Suyuti, Tadri>b al-Ra>wi> , 340.

[14] Artinya:“Konon Rasululah SAW. Apabila masuk masjid memanjatkan do’a: “Dengan nama Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah. Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosaku dan bukalah pintu rahmat untukku”.

[15] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 190.

[16] al-Hakim, Abu ‘Abd Alla>h Muhammad bin ‘Abd Alla>h al-Naysaburi, Kita>b Ma’rifah ‘Ulu>m al-H}adi>th

(Kairo: Maktabah al-Matnabi, tt), 25.

[17] al-Hakim, Kita>b Ma’rifah ‘Ulu>m , 26.

[18] Artinya:“Bahwa Rasulullah SAW. Keluar menuju ke Mekkah , pada tahun kemenangan dalam bulan Ramadhan. Karena itu beliau berpuasa sampai ke Kadid. Lalu setelah beliau berbuka, kemudian orang-orangpun berbuka”.

[19] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah, 182.

[20] al-Suyuti, Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman bin Abi Bakar, Tadri>b al-Ra>wi> fi Syarh Taqri>b al-Nawawi

juz I (Beirut: Dar al-Fikr, 1409H/1988M), 190.

[21] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th , 338-339.

[22] Mahmud al-Tahhan, Tasyir Mustalah al-H}adi>th , 75.

[23] al-Hakim, Kita>b Ma’rifah ‘Ulu>m , 36.

[24] Artinya:“Bagi sibudak mempunyai hak makan dan pakaian”.

[25] Mahmud al-Tahhan, Tasyir Mustalah al-H}adi>th , 75. Lihat pula al-Hakim, Kita>b Ma’rifah ‘Ulu>m , 47.

[26] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th , 162.

[27] Ibid., 163.

[28] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th , 308.

[29] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th , 164.

[30] Ibid., 165.

[31] Utang Ranuwijaya, Ilmu H}adi>th, 188.

[32] Artinya:“Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali dan sholat di makam Ibrahim dua rakaat.”

[33] Artinya:“Barang siapa yang sengaja berdusta terhadap diriku, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka”.

[34] Lihat al-Taysir, 94.

[35] Artinya:“Telah bercerita kepadaku Ya’kub bin Sufyan bin Ashim, katanya:”telah bercerita kepadaku Muhammad bin Imran, ujarnya:”telah bercerita kepadaku ‘Isa bin Ziyad, katanya: “telah bercerita kepadaku ‘Abdurrahim bin Zaid dari ayahnya, dari Sa’id ibnu al-Musayyab, dari Umar Ibnu al-Khattab r.a katanya:”Rasulullah SAW. Bersabda:”Andaikata (di dunia ini) tak ada wanita, tentu Allah itu disembah dengan sungguh-sungguh”.

[36] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 158.

[37] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th , 190.

[38] Artinya:“Siapa yang mengerjakan sholat, membayar zakat, menunaikan haji, berpuasa dan menghormati tamu, masuk surga”.

[39] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th , 180.

[40] Artinya:“….dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah yang disembunyikan, hingga tangan kanannya tak mengetahui apa-apa yang yang telah dibelanjakan tangan kirinya.”(Lihat al-Bukhary, bab Jama’ah. Muslim bab Zakat, bab Keutamaan Menyamarkan Sadaqah, juz 7, 120.)

[41] Muhammad Ahmad, Ulumul H}adi>th , 157.

[42] “Siapa yang mati tidak mensyarikatkan Allah dengan sesuatu, masuk surga; dan siapa yang mati dengan mensyarikatkan Allah dengan sesuatu, masuk neraka”.

[43] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 162.

[44] “Nabi SAW. Bersabda:”Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan 6 hari pada bulan Syawal, maka ia seperti puasa sepanjang masa”.

[45] Mahmud al-Tahhan, Tasyir , 114.

[46] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th , 373.

[47] Lihat Manhaj Zawin an-Nadar, 204.

[48] Mahmud al-Tahhan, Tasyir , 112.

[49] Artinya:“Dari Anas r.a. mengabarkan bahwa Rasulullah SAW, Abu Bakar dan ‘Umar r.a. konon sama memulai bacaan sholat dengan bacaan al-hamdulillahirabbil’alamin”.

[50] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 169.

[51] Artinya:“Bahwasanya seorang laki-laki telah bertanya kepada Rasulullah SAW, katanya: “perbuatan Islam manakah yang paling baik? Jawab Nabi: “Ialah kamu merangsum makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal”.(Bukhari-Muslim)

[52] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 170.

[53] Ibid., 196.

[54] Ibid., 197.

[55] Artinya:“Seorang laki-laki telah meninggal dunia, di waktu Rasulullah SAW, masih hidup, dengan tidak meninggalkan seorang warisnya, selain seorang budak yang telah dimerdekakannya. Nabi SAW. Bertanya:”Apakah ia mempunyai seorang waris? “tidak” jawab para shahabat,”kecuali seorang budak yang telah ia merdekakannya”. Akhirnya Rasulullah SAW. Menyerahkan harta warisan kepadanya”.

[56] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah, 174.

[57] Ibid., 175.

[58] Mahmud al-Tahhan, Tasyir , 117-119.

[59] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th , 309.

[60] Artiya:“Dari Sufyan al-Tsaury dari Amr bin Dinar dari Ibnu ‘Umar dari Nabi SAW.ujarnya: “Si penjual dan si pembeli boleh memilih, selama belum berpisah”.

[61] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 188.

[62] Yusuf Qardhawi, Kaifa Nafa’amalu Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah, terj. Ali Baghir (Bandung: Karisma,1994), 70.

[63] Ibid., 71.

[64] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 200.

[65] Yusuf Qardhawi, Kaifa Nafa’amalu Ma’a al-Sunnah, 72.

[66] Muhammad Ahmad, Ulum al-H}adi>th, 162.

[67] Nur al-Din ‘Itr, ‘Ulu>m al-H}adi>th, 162-163.

[68] Imam Ghazali Said, Metodologi Kitab Kuning : Melacak Sumber, Menelusuri Sanad dan Menilai H}adi>th , (Surabaya:Diantama, 2007), 55.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’a>n bagi kaum Muslimin diyakini bukan hanya kitab suci ‘ansich’ yang bersifat pasif, tapi merupakan wahyu Allah kepada umat manusia melalui perantaraan Nabi Muhammad dan utusan ‘ruh suci’ Jibril yang berisi kebenaran-kebenaran absolut dari Rabb al-A>lami>n A>zza wa Jalla.[1] Al-Qur’a>n adalah sumber ajaran Islam. Kitab Suci ini menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad sejarah umat ini.[2]

Jika demikian halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’a>n melalui penafsirannya, mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju tidaknya umat. Sekaligus, penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran para mufasir.[3]

Istanthiq al-Qur`ân (ajaklah Al-Qur’a>n) berbicara atau biarkan ia menguraikan maksudnya Pesan dari ‘Ali bib Abî Thâlib ini antara lain mengharuskan penafsir untuk merujuk kepada Al-Qur’a>n dalam rangka memahami kandungannya.[4]

Manusia adalah khalifah di muka bumi. Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah Allah kepada sang khalifah agar dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama. Untuk mencapai tujuan suci ini, Allah memberikan petunjuk melalui para rasul-Nya. Petunjuk tersebut meliputi segala sesuatu yang dibutuhkan manusia baik akidah, akhlak, maupun syariah.

Dua komponen pertama, akidah dan akhlak, bersifat konstan. Keduanya tidak mengalami perubahan apapun dengan berbedanya waktu dan tempat. Adapun syariah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf peradaban umat, yang berbeda-beda sesuai dengan masa rasul masing-masing. Hal ini diungkapkan dalam Al-Qur’a>n Surah Al-Ma>’idah ayat 48 yang artinya :“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.“

Juga dalam suatu hadits, HR Bukhari, Abu Dawud, dan Ahmad yang artinya :

“Para rasul tak ubahnya bagaikan saudara sebapak, ibunya (syariahnya) berbeda-beda sedangkan dinnya (tauhidnya) satu“.

Oleh karena itu, syariah Islam sebagai suatu syariah yang dibawa oleh rasul terakhir, mempunyai keunikan tersendiri. Syariah ini bukan saja menyeluruh atau komprehensif,  tetapi juga universal. Karakter istimewa ini diperlukan sebab tidak akan ada syariah lain yang datang untuk menyempurnakannya.

Komprehensif berarti syariah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah). Ibadah diperlukan untuk menjaga ketaatan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Khaliq-nya. Ibadah juga merupakan sarana untuk mengingatkan secara kontinu tugas manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini. Adapun muamalah diturunkan untuk menjadi rules of the game atau aturan main manusia dalam kehidupan sosial. Kelengkapan system muamalah yang disampaikan Rasulullah saw.

Universal bermakna syariah Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai Hari Akhir nanti. Universalitas ini tampak jelas terutama pada bidang muamalah. Selain mempunyai cakupan luas dan fleksibel, muamalah tidak membeda-bedakan antara muslim dan non muslim. Kenyataan ini tersirat dalam suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Ali bin abi thalib, “Dalam bidang muamalah kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita.“[5]

Aspek yang menarik untuk dikaji lebih mendalam ialah bagaimana nilai-nilai Islami (syari’ah) dilaksanakan dalam berbagai sendi kehidupan, salah satunya ialah mengenai pembelanjaan harta.

Harta sebagai salah satu amanah yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia harus disyukuri dalam parameter nilai-nilai Islami. Pertanyaan yang segera muncul ialah jika berkaitan dengan masalah pembagian harta, bagaimana mekanismenya? Kalau sasarannya ialah ‘optimalisasi pembelanjaan harta’ sementara secara realitas timbul kesenjangan sosial; salah satunya di Indonesia dengan kondisi masyarakat mayoritas Islam.

Fenomena distribusi harta merupakan suatu makna yang sangat menarik untuk dikaji sebagai upaya untuk mengarahkan pada solusi dari permasalahan kesenjangan sosial terutama dalam struktur sosial masyarakat Indonesia.

  1. B. Identifikasi Dan Batasan Masalah

Distribusi harta menurut al-Qur’a>n yang dibatasi pada arti harta secara umum, dan bermakna bahwa itu merupakan pemberian Allah kepada umat manusia, serta dia (manusia) hanya mempunyai ‘hak pakai’ bukan ‘hak milik’, sehingga penggunaan harta seyogyannya mengikuti aturan-aturan yang digariskan dan diperuntukkan untuk beribadah global dan sesuai dengan pedoman yang terdapat dalam al-Qur’a>n, serta bukan pada penggunaan harta  dalam arti infaq (secara khusus) menurut al-Qur’a>n, karena hal ini ada pembahasan lain.

Makalah ini mencoba untuk sedapat mungkin “membiarkan” Al-Qur’a>n menguraikan pandangannya tentang distribusi harta (al-mâl). Dalam arti, mencoba melihat aturan, norma, prinsip dan nilai moral apa saja yang harus mendasari segenap aktivitas manusia yang berkaitan—langsung atau tidak—dengan penggunaan harta kekayaan. Diharapkan pula nantinya pembahasan ini dapat menjawab pertanyaan, ke manakah harta yang kita miliki didistribusikan?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Harta

Istilah Harta, atau al-ma>l dalam al-Qur’a>n maupun Sunnah tidak dibatasi dalam ruang lingkup makna tertentu, sehingga pengertian al-Ma>l sangat luas dan selalu berkembang.

Harta atau kekayaan yang dimaksud dalam makalah ini adalah terjemahan dari kata al-mâl. Dengan demikian, salah satu bagian dari makalah ini akan menelusuri kata al-mâl dalam lembaran-lembaran mushhaf Al-Qur’a>n. Namun sebelum itu, terlebih dahulu akan dibahas makna kata ini dalam kamus-kamus bahasa.

Dalam al-Munjid kata al-Mâl (bentuk jamaknya, al-amwâl), diartikan sebagai “Segala sesuatu yang kamu miliki (mâ malaktahu min jamî’ al-syyâ`).” Orang Arab perkampungan biasa memakai kata ini untuk menunjukan binatang ternak atau binatang untuk kendaraan, seperti unta dan kambing. Bentuk mudzakar atau mua`annats dari kata ini sama saja, yakni al-mâl.[6] Dalam al-Mu’jam al-Wasîth, ia dimaknai, “Segala yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok berupa kekayaan, atau barang perdagangan, rumah, uang atau hewan atau lainnya.”[7] Sementara itu, Elias A. Elias mengartikannya dengan rizq (property; esatate), badlâ`i’ (goods; wares; commodities) dan nuqûd (money).[8]

Dari beberapa arti yang diberikan oleh kamus bahasa di atas, tidak keliru sekiranya kita sepakat untuk mengartikan kata “al-mâl” dengan “harta benda atau kekayaan.”

Kata al-mâl dalam Al-Qur’a>n disebut tidak kurang dari 86 kali.[9] Kata ini disebutkan Al-Qur’a>n dalam dua bentuk. Pertama, dalam bentuk tidak disandarkan kepada kata ganti (ghair mudhâf ilâ dlâmir), seperti al-mâl, mâlan, al-amwâl dan amwâlan (32 kali). Kedua, disandarkan kepada kataganti, seperti mâluhu, mâliyah, amwâlukum dan amwâluhum (54 kali).[10]

Kata mâl dalam bentuknya yang tidak di-idlâfat-kan kepada dlamîr disampaikan dalam dua bentuk kata. Pertama, bentuk nakirah (indefinite noun), seperti mâlan dan amwâlan (17 kali), dan kedua, bentuk ma’rifat (definite noun) sebanyak 15 kali. Tujuh di antaranya ma’rifat dengan alif-lâm, seperti al-mâl dan al-amwâl, dan delapan kali ma’rifat dengan di-idlâfat-kan bukan kepada kepada dlamîr, seperti mâl Allâh (sekali), mâl al-yatîm (dua kali), amwâl al-yatâmâ (sekali) dan amwâl al-nâs (empat kali). Kata al-mâl yang tidak di-idlâfat-kan disampaikan dalam dua bentuk: pertama, mufrad (singular) seperti al-mâl dan mâlan (18 kali). Kedua, jama’ (plural) seperti al-amwâl dan amwâlan (14 kali).[11]

Dari segi i’râb,[12] kata al-mâl yang tidak di-idlâfat-kan disampaikan dalam tiga keadaan i’râb, pertama, rafa’ (dua kali), kedua, manshûb (17 kali) dan ketiga, majrûr (13 kali). Ini berarti kata al-mâl jarang sekali disampaikan dengan i’râb rafa’ (cuma dua kali). Dalam dua kali ini, semuanya mengonotasikan makna negatif (lihat Qs. Al-Kahfi, 18: 46 dan al-Syu’arâ`, 26: 88).  Dari 13 kali kata al-mâl yang majrûr, 11 di antaranya majrûr dengan harf al-jâr (min, fî, dan lainnya). Ini menunjukkan bahwa ia selalu berputar dan bergerak; dari dan kepadanya (minhu wa ilaih). Ketika al-mâl di-manshûb-kan (paling sering, 17 kali), menunjukkan bahwa ia merupakan objek aktivitas dan berada pada tangan manusia. Dalam bentuk dan kedudukan i’râb ini kita dapat mengambil, paling tidak, tiga konotasi makna. Pertama, celaan kepada manusia yang mencintai dan mengikat diri dengan harta, seperti dalam Qs. Al-Fajr, 89: 20, al-Humazah, 104: 2, al-Balad, 90: 6, Maryam, 19: 71, al-Mudatstsir, 74: 12, al-Kahfi, 18: 34, 39, al-Tawbah, 9: 69, Yûnus, 10: 88, Sabâ, 34: 35. Kedua, larangan mendekati, apalagi mengambil, harta orang lain yaitu kaum yang membutuhkan, anak-anak yatim dan manusia umumnya (tidak termasuk di dalamnya orang-orang kaya), seperti dalam Qs. Al-An’âm, 6: 34, al-Nisâ, 4: 10, 161, al-Tawbah, 9: 34. Dan ketiga, memberikan harta kepada pihak-pihak yang lebih membutuhkan, seperti Qs. Al-Baqarah, 2: 177, atau bekerja dalam rangka menegakkan risalah, bukan untuk menunggu bayaran harta, seperti Qs. Hûd, 11: 29.[13]

Adapun kata al-mâl yang di-idlâfat-kan kepada dlamîr, disampaikan dalam dua bentuk: Pertama di-idlâfat-kan kepada dlamîr mufrad seperti mâluhu dan mâliyah. Dalam bentuk ini disampaikan tujuh kali. Satu di antaranya idlâfat kepada dlamîr mutakallim, seperti mâliyah (Qs. Al-Hâqqah, 19: 28), dan enam kali lainnya idlâfat kepada dlamîr ghâib, seperti mâluhu (Qs. Al-Baqarah, 2: 264, Nûh, 71: 21, al-Lail, 92: 11, 18, al-Humazah, 104: 3, al-Masad, 111: 2). Kedua, di-dlâfat-kan kepada dlamîr jama’ dengan bentuk kata yang jama’ pula seperti amwâlukum, amwâlunâ dan amwâluhum. Bentuk ini disampaikan sebanyak 47 kali. Dua di antaranya idlâfat kepada dlamîr mutakallim ma’a al-ghair seperti amwâlunâ (Qs. Hûd, 11: 87, al-Fath, 48: 11), 14 kali kepada dlamîr al-mukhâthab seperti amwâlukum (di antaranya Qs. Al-Baqarah, 2: 188, 279, Âli ‘Imrân, 3: 186, al-Nisâ, 4: 2, 5, 24, 29), dan 31 kali kepada dlamîr al-ghâib seperti amwâluhum (antara lain dalam Qs. Al-Baqarah, 2: 261, 262, 265, 274, Âli ‘Imrân, 3: 10, 116, al-Nisâ, 4: 2, 6, 34, 38, 95).[14]

Sedangkan kriteria harta menurut para ahli fiqh terdiri atas : Pertama, memiliki unsur nilai ekonomis. Kedua, unsur manfaat atau jasa yang diperoleh dari suatu barang.

Nilai ekonomis dan manfaat yang menjadi kriteria harta ditentukan berdasarkan ‘urf (kebiasaan/ adat) yang berlaku di tengah masyarakat. As-Suyuti berpendapat bahwa istilah Ma>l hanya untuk barang yang memiliki nilai ekonomis, dapat diperjualbelikan, dan dikenakan ganti rugi bagi yang merusak atau melenyapkannya.

Dengan demikian tempat bergantungnya status al-ma>l terletak pada nilai ekonomis (al-qimah) suatu barang berdasarkan ‘urf. Besar kecilnya al-qimah dalam harta tergantung pada besar kecilnya manfaat suatu barang. Faktor manfaat menjadi patokan dalam menetapkan nilai ekonomis suatu barang. Maka manfaat suatu barang menjadi tujuan dari semua jenis harta.[15]

  1. B. Klasifikasi Ayat

Cukup banyak ayat al-Qur’a>n yang menyinggung tentang harta benda maupun penginfakkannya. Dari hasil pendataan yang berhasil diperoleh, ada sekitar 83 bentuk kata perihal al-amwa>l (harta benda) dengan berbagai variannya yang tersebar ke dalam 56 surah, [16] dan beberapa ayat lain yang menerangkan tentang penggunaan harta (infaq) yang terdapat dalam 29 surah.[17] Untuk lebih jelasnya berikut ini tabel tentang ayat-ayat tersebut:

Tabel I

Tentang Ayat-Ayat Yang Membicarakan Harta Benda

No Bentuk kata Nama & Nomor Surah Makiyah / Madaniyah Ayat
1. Al-ma>lu Al-baqarah (2) Madaniyyah 177, 247
2. Al-an’a>m (6) 152
3. Al-Isra>’ (17) Makkiyyah 34
4. Al-Kahfi (18) 46
5. Al-Mu’minu>n (63) 55
6. Al-Nu>r (24) Madaniyyah 33
7. Al-shu’ara>’ (26) Makkiyyah 88
8. Al-naml (27) 36
9. Al-qalam (68) 14
10. Al-fajr (89) 20
11. Al-ma>l Hu>d (11) Makkiyyah 29
12 Al-kahfi (18) 34, 39
13 Maryam (19) 77
14 Almudaththir (74) 12
15 Al-balad (90) 6
16 Al-humazah (104) 2
17 Ma>l Al-baqarah (2) Madaniyyah 264
18 Nu>h (71) Makkiyyah 21
19 Al-lail (92) 11, 18
20 Al-humazah (104) 3
21 Al-masad (111) 2
22 Ma>liyah Al-haqqah (69) Makkiyah 28
23 Al-amwa>l Al-baqarah (2) Madaniyyah 155, 188
24 Al-nisa>’ (4) 10, 161
25 Al-tawbah (9) 24, 34
26 Al-isra>’ (17) Makkiyyah 6, 64
27 Al-ru>m (30) 39
28 Al-hadid (57) Madaniyyah 20
29 Nu>h (71) Makkkiyyah 12
30 Amwa>l Al-tawbah (9) Madaniyyah 69
31 Yu>nus (10) Makkiyyah 88
32 Saba>’ (34) 35
33 Amwa>lakum Al-baqarah (2) Madaniyyah 188, 179
34 Ali imra>n (3) 189
35 Al-nisa>’ (4) 2, 5, 24, 29
36 Al-anfa>l (8) 28
37 Al-tawbah (9) 21
38 Saba>’ (24) Makkiyyah 37
39 Muhammad (47) Madaniyyah 36
40 Al-saff (61) 11
41 Al-muna>fiqu>n (63) 9
42 Al-tagha>bu>n (64) 15
43 Amwa>luna Hu>d (11) Makkiyyah 87
44 Al-fath (48) Madaniyyah 11
45 Amwa>laghum Al-baqarah (2) Madaniyyah 261, 262, 265, 274
46 Ali imra>n (3) 10, 116
47 Al-nisa>’ (4) 2, 6, 34, 38, 95
48 Al-anfa>l (8) 36, 72
49 Al-tawbah (9) 21, 44, 55, 81, 85, 88, 103, 111
50 Yu>nus (10) Makkiyyah 88
51 Al-ahza>b (32) Madaniyyah 27
52 Al-hujura>t (49) 15
53 Al-dha>riya>t (51) Makkiyyah 19
54 Al-muja>dalah (58) Madaniyyah 17
55 Al-hashr (59) 8
56 Al-ma’a>rij (70) Makkiyyah 24

Tabel II

Tentang Ayat-Ayat Yang Menerangkan Penggunaan (Infaq) Harta

No

Nama & Nomor Surah Makkiyyah / Madaniyyah Ayat
1 Al-Baqarah (2) Madaniyyah 3, 177, 195, 215, 219, 254, 261, 267, 270-274
2 Ali ‘Imra>n (3) 92, 117, 134
3 Al-Nisa>’ (4) 34, 38, 39, 95
4 Al-Ma>idah (5) 64
5 Al-Anfa>l (8) 3, 36, 60, 72
6 Al-Tawbah (9) 20, 34, 44, 53, 54, 88, 91, 92, 98, 99
7 Al-Ra’d (13) 22
8 Ibra>hi>m (14) Makkiyyah 31
9 Al-Nahl (16) 75
10 Al-Hajj (22) Madaniyyah 35
11 (al-nu>r (24) 33
12 Al-Furqa>n (25) Makkiyyah 67
13 Al-Shu’ara>’ (26) 88, 89
14 Al-Qasas (28) 54
15 Al-‘Ankabu>t (29) 15
16 Al-Sajdah (32) 16
17 Saba>’ (34) 39
18 Fa>tir (35) 29
19 Ya>sin (36) 47
20 Al-Shu>ra> (42) 38
21 Muhammad (47) Madaniyyah 38
22 Al-Dha>riya>t (51) Makkiyyah 19
23 Al-Hadi>d (57) Madaniyyah 7, 10
24 Al-Hashr (59) 8
25 Al-Mumtahanah (60) 10, 11
26 Al-Muna>fiqu>n (63) 7, 10
27 Al-Tagha>bu>n (64) 16
28 Al-Tala>q (65) 7
29 Al-Ma’a>rij (70) Makkiyyah 24

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa cukup banyak ayat-ayat al-Qur’a>n yang menyinggung tentang hal yang berkaitan dengan harta benda maupun cara pendistribusiannya. Namun sebagaimana yang telah dirumuskan pada pokok kajian ini, maka berikutnya akan diambil beberapa ayat yang dianggap representatif dalam pembahasan tersebut. Ayat-ayat yang dimaksud adalah surah al-Baqarah ayat 195, 215, dan 174, surat al-Anfa>l ayat 36, surat al-Nisa>’ ayat 34 dan 95, surat al-Nu>r ayat 33 dan surah al-Tawbah ayat 53.[18]

  1. 1. Surat al-Baqarah ayat 195, 215 dan 274.

q)ÏÿRr&ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# Ÿwur (#qà)ù=è? ö/ä3ƒÏ‰÷ƒr’Î/ ’n<Î) Ïps3è=ök­J9$# ¡ (#þqãZÅ¡ômr&ur ¡ ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÒÎÈ

195.  Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

štRqè=t«ó¡o„ #sŒ$tB tbqà)ÏÿZム( ö@è% !$tB OçFø)xÿRr& ô`ÏiB 9Žöyz Èûøïy‰Ï9ºuqù=Î=sù tûüÎ/tø%F{$#ur 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡pRùQ$#ur Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# 3 $tBur (#qè=yèøÿs? ô`ÏB 9Žöyz ¨bÎ*sù ©!$# ¾ÏmÎ/ ÒOŠÎ=tæ ÇËÊÎÈ

215.  Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.

šúïÏ%©!$# šcqà)ÏÿYムOßgs9ºuqøBr& È@øŠ©9$$Î/ ͑$yg¨Z9$#ur #vÅ™ ZpuŠÏRŸxtãur óOßgn=sù öNèdãô_r& y‰YÏã öNÎgÎn/u‘ Ÿwur ê’öqyz óOÎgø‹n=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“óstƒ ÇËÐÍÈ

274.  Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

  1. 2. Surah al-Anfa>l ayat 36

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. tbqà)ÏÿZムóOßgs9ºuqøBr& (#r‘‰ÝÁu‹Ï9 `tã È@‹Î6y™ «!$# 4 $ygtRqà)ÏÿZãŠ|¡sù §NèO Ücqä3s? óOÎgø‹n=tæ Zotó¡ym §NèO šcqç7n=øóム3 z`ƒÏ%©!$#ur (#ÿrãxÿx. 4’n<Î) zO¨Yygy_ šcrçŽ|³øtä† ÇÌÏÈ

36.  Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, Kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,

  1. 3. Surah al-Nisa>’ ayat 34 dan 95

ãA%y`Ìh9$# šcqãBº§qs% ’n?tã Ïä!$|¡ÏiY9$# $yJÎ/ Ÿ@žÒsù ª!$# óOßgŸÒ÷èt/ 4’n?tã <Ù÷èt/ !$yJÎ/ur (#qà)xÿRr& ô`ÏB öNÎgÏ9ºuqøBr& 4 àM»ysÎ=»¢Á9$$sù ìM»tGÏZ»s% ×M»sàÏÿ»ym É=ø‹tóù=Ïj9 $yJÎ/ xáÏÿym ª!$# 4 ÓÉL»©9$#ur tbqèù$sƒrB  Æèdy—qà±èS  ÆèdqÝàÏèsù £`èdrãàf÷d$#ur ’Îû ÆìÅ_$ŸÒyJø9$# £`èdqç/ΎôÑ$#ur ( ÷bÎ*sù öNà6uZ÷èsÛr& Ÿxsù (#qäóö7s? £`ÍköŽn=tã ¸x‹Î6y™ 3 ¨bÎ) ©!$# šc%x. $wŠÎ=tã #ZŽÎ6Ÿ2 ÇÌÍÈ

34.  Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[19] ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka).[20] wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[21], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[22]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

žw “ÈqtGó¡o„ tbr߉Ïè»s)ø9$# z`ÏB tûüÏZÏB÷sßJø9$# çŽöxî ’Í<‘ré& ͑uŽœØ9$# tbr߉Îg»yfçRùQ$#ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# óOÎgÏ9ºuqøBr’Î/ öNÍkŦàÿRr&ur 4 Ÿ@žÒsù ª!$# tûïωÎg»yfçRùQ$# óOÎgÏ9ºuqøBr’Î/ öNÍkŦàÿRr&ur ’n?tã tûïωÏè»s)ø9$# Zpy_u‘yŠ 4 yxä.ur y‰tãur ª!$# 4Óo_ó¡çtø:$# 4 Ÿ@žÒsùur ª!$# tûïωÎg»yfßJø9$# ’n?tã tûïωÏè»s)ø9$# #·ô_r& $VJŠÏàtã ÇÒÎÈ

95.  Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk[23] satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk[24] dengan pahala yang besar,

  1. 4. Surah al-Nu>r ayat 33

É#Ïÿ÷ètGó¡uŠø9ur tûïÏ%©!$# Ÿw tbr߉Ågs† %·n%s3ÏR 4Ó®Lym ãNåkuŽÏZøóムª!$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù 3 tûïÏ%©!$#ur tbqäótGö6tƒ |=»tGÅ3ø9$# $£JÏB ôMs3n=tB öNä3ãZ»yJ÷ƒr& öNèdqç7Ï?%s3sù ÷bÎ) öNçGôJÎ=tæ öNÍkŽÏù #ZŽöyz ( Nèdqè?#uäur `ÏiB ÉA$¨B «!$# ü“Ï%©!$# öNä38s?#uä 4 Ÿwur (#qèd̍õ3è? öNä3ÏG»uŠtGsù ’n?tã Ïä!$tóÎ7ø9$# ÷bÎ) tb÷Šu‘r& $YYÁptrB (#qäótGö;tGÏj9 uÚttã Ío4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# 4 `tBur £`‘gd̍õ3ム¨bÎ*sù ©!$# .`ÏB ω÷èt/ £`ÎgÏdºtø.Î) ֑qàÿxî ÒO‹Ïm§‘ ÇÌÌÈ

33.  Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka,[25] jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu[26]. dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, Karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. dan barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu[27].

  1. 5. Surah al-Tawbah ayat 53

ö@è% (#qà)ÏÿRr& %·æöqsÛ ÷rr& $\döx. `©9 Ÿ@¬6s)tGムöNä3ZÏB ( öNä3¯RÎ) óOçFZà2 $YBöqs% tûüÉ)Å¡»sù ÇÎÌÈ

53.  Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik.

  1. Pandangan Islam Terhadap Harta

Secara umum, tugas kekhalifahan manusia adalah tugas mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan dalam hidup dan kehidupan (Al-An’a>m : 165) serta tugas pengabdian atau ibadah dalam arti luas (adz-Dza>riya>t : 56). Untuk menunaikan tugas tersebut, Allah memberi manusia dua anugerah nikmat utama, yaitu manhaj al-haya>t “sistem kehidupan“ dan wasilah al-haya>t “sarana kehidupan“.

Manhaj al-haya>t adalah seluruh aturan kehidupan manusia yang bersumber kepada Al-Qur’a>n dan Sunnah Rasul. Aturan tersebut berbentuk keharusan melakukan atau sebaiknya melakukan sesuatu, juga dalam bentuk larangan melakukan atau sebaliknya meninggalkan sesuatu. Aturan tersebut dikenal sebagai hukum lima, yakni wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram.

Aturan-aturan tersebut dimaksudkan untuk menjamin keselamatan manusia sepanjang hidupnya, baik yang menyangkut keselamatan agama, keselamatan diri (jiwa dan raga), keselamatan akal, keselamatan harta benda, maupun keselamatan nasab keturunan. Hal-hal tersebut merupakan kebutuhan pokok atau primer.

Pelaksanaan Islam sebagai way of life secara konsisten dalam semua kegiatan kehidupan, akan melahirkan sebuah tatanan kehidupan yang baik, sebuah tatanan yang disebut sebagai hayatan thayyibah (An-Nahl : 97).

Sebaliknya, menolak aturan itu atau sama sekali tidak memiliki keinginan mengaplikasikannya dalam kehidupan, akan melahirkan kekacauan dalam kehdupan sekarang, ma’isyatan dhanka atau kehidupan yang sempit, serta kecelakaan diakhirat nanti (Thaahaa : 124 – 126).

Aturan-aturan itu juga diperlukan untuk mengelola wasilah al-hayah atau segala sarana dan prasarana kehidupan yang diciptakan Allah SWT untuk kepentingan hidup manusia secara keseluruhan. Wasilah al-hayah ini dalam bentuk udara, air, tumbuh-tumbuhan, hewan ternak, dan harta benda lainnya yang berguna dalam kehidupan. Sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah ayat 29 yang artinya :

“Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan, dia Maha Mengetahui segala sesuatu “

Dari sekian ayat yang secara tersurat menyatakan kata al-mâl, kiranya kita dapat menarik beberapa benang merah yang dapat kita nilai sebagai pandangan Al-Qur’a>n yang harus mendasari segenap aktivitas pendistribusian harta. Pandangan itu antara lain:

  1. 1. Harta adalah Milik Allah (al-mâl mâl Allâh)

Dalam Al-Qur’a>n hanya sekali kata al-mâl yang secara tegas dinisbahkan kepada Allah (mâl Allâh), yaitu dalam Qs. al-Nûr, 24: 33 yang artinya :

“Dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kamu).”

Ayat ini berkenaan dengan salah satu cara yang ditempuh Islam dalam menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta kepada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi pembayaran dengan harta yang halal. Untuk mempercepat lunasnya perjanjian, hendaklah budak-budak itu ditolong dengan harta-harta yang diambil dari mâl Allâh (harta Allah).

Al-Thabathabâ`î, dalam tafsir al-Mîzân-nya mengartikan mâl Allâh dalam ayat tersebut dengan harta zakat.[28] Wahbah Zuhailî dalam tafsir Al-Munîr-nya juga mengartikan demikian.[29] Al-Zamakhsyarî mengartikannya dengan harta yang diambil dari bayt al-mâl.[30]

Tentu saja, bukan hanya mâl yang disebut dalam ayat itu saja yang merupakan milik Allah. Sebab semua harta, bahkan alam raya beserta isinya, adalah milik-Nya. Dengan demikian, tidak keliru kalau kita menegaskan bahwa harta dalam pandangan Al-Qur’a>n pada hakikatnya hanya milik Allah. Penegasan ini sebenarnya tidak hanya didasarkan kepada ayat di atas. Bahkan ia lebih didasarkan kepada keseluruhan pesan Al-Qur’a>n berkenaan dengan harta.

Pandangan bahwa harta adalah milik Allah akan melahirkan sejumlah prinsip yang secara langsung ada kaitannya dengan pemanfaatan kekayaan dan semangat sosialisme. Prinsip-prinsip itu di antaranya:

  1. Benda-benda ekonomi adalah milik Tuhan (dengan sendirinya), yang kemudian dititipkan kepada manusia; kekayaan sebagai amanat (Qs. Al-Anfâl, 8: 28, al-Taghâbun, 64: 15, al-Nisâ, 4: 6).
  2. Penerima amanat harus memperlakukan benda-benda itu sesuai dengan “kemauan” Sang Pemberi amanat (Tuhan), yaitu hendaknya diinfakkan menurut jalan Allah (Qs. Al-Nisâ, 4: 95, al-Anfâl, 8: 72, al-Tawbah, 9: 88, 11, 20, 44).
  3. Harta yang halal itu setiap tahun harus dibersihkan dengan zakat (Qs. Al-Tawbah, 9: 103, al-Lail, 92: 18).
  4. Penerima amanat harta tidak berhak menggunakan (untuk diri sendiri) harta itu semaunya, melainkan harus dengan timbang rasa begitu rupa sehingga tidak menyinggung rasa keadilan umum, tidak kikir dan juga tidak boros, melainkan berada di antara keduanya (Qs. Al-Furqân, 25: 67, al-Isrâ, 17: 28, al-Lail, 92: 18).
  5. Orang miskin mempunyai hak yang pasti dalam harta orang-orang kaya (Qs. Al-Ma’ârij, 70: 24, al-Dzâriyât, 51: 19).
  6. Kejahatan tertinggi terhadap kemanusiaan ialah menumpukkan kekayaan pribadi tanpa memberinya fungsi sosial (Qs. Al-Humazah, 104: 2-3, al-Hasyr, 59: 7, al-Tawbah, 9: 34).
  7. Manusia tidak akan memperoleh kebajikan sebelum mendistribusikan harta yang dicintainya (Qs. Âli ‘Imrân, 3: 92).[31]

Dalam hukum fikih, cita-cita keadilan sosial/ekonomi[32] ini dijabarkan menjadi ketentuan tentang halal dan haram dalam perolehan ekonomi (tidak boleh ada penindasan oleh manusia atas manusia, Qs. Al-Baqarah, 2: 279; dan tidak boleh ada pembenaran pada “struktur atas”, khususnya sistem pemerintahan dan perundangan, terhadap praktek-praktek penindasan, Qs. Al-Baqarah, 2: 188). Kemudian dilembagakan ketentutan kewajiban zakat, yang harus ditambah dengan anjuran kuat sekali untuk berderma. Penggunaan harta secara demikian selalu dilukiskan sebagai penggunaan “di jalan Tuhan”, karena memang mendukung cita-cita kenabian seperti terdapat dalam Kitab Suci. Karena zakat dan derma itu hanya sah bila harta kita halal, maka zakat dan derma itu boleh dikata sebagai finishing touch usaha pemerataan.[33]

  1. 2. Perintah dan Anjuran Menyangkut Distribusi Kekayaan

a.    Perintah:

Perintah Al-Qur’a>n menyangkut distribusi harta di antaranya adalah mengeluarkan zakat. Firman-Nya dalam Qs. al-Tawbah, 9: 103:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka…”

Ayat ini berkaitan erat dengan ayat sebelumnya (102). Ia berbicara tentang seorang sahabat yang bernama Abû Lubâbah dan beberapa rekannya yang tidak ikut dalam perang Tabûk, dan memilih tinggal bersama keluarga mereka, namun mereka sadar sehingga mengikat diri mereka masing-masing di tiang masjid dan enggan dilepas oleh siapa pun selain Rasul Saw.[34]

Mereka yang mengakui dosanya sewajarnya dibersihkan dari nodanya, dan karena sebab utama ketidakikutan mereka ke medan juang adalah ingin bersenang-senang dengan harta yang mereka miliki, atau disebabkan karena hartalah yang menghalangi mereka berangkat, maka ayat ini (103) memberi tuntunan tentang cara membersihkan diri, dan untuk itu Allah memerintahkan Nabi mengambil harta mereka untuk disedekahkan kepada yang berhak.[35]

Dalam tafsir al-Manâr dikatakan bahwa tiga ayat dari surat al-Tawbah (102,103 dan 104)) sedang menjelaskan faidah dan manfaat menyedekahkan harta seraya mendorong untuk melakukannya, juga sedang mendorong mereka yang tidak ikut berjuang di jalan Allah dengan harta atau jiwanya untuk segera bertobat.[36]

Dapat juga dikatakan, bahwa ayat sebelumnya berbicara tentang sekelompok orang yang imannya masih lemah, yang memcampurbaurkan amal baik dan buruk dalam kegiatannya. Mereka diharapkan dapat diampuni Allah. Salah satu cara pengampunan-Nya adalah melalui sedekah dan pembayaran zakat. Karena itu, di sini Nabi Saw. diperintah: Ambillah atas nama Allah sedekah, yakni harta berupa zakat dan sedekah yang hendaknya mereka serahkan dengan penuh kesunguhan dan ketulusan hati.

Dengan harta yang engkau ambil itu engkau membersihkan harta dan jiwa mereka, dan mensucikan jiwa lagi mengembangkan harta mereka.[37]

Walau ayat ini dalam konteks uraian tentang Abû Lubâbah dan kawan-kawan, namun ia berlaku umum. Demikian juga walau redaksi ayat ini tertuju kepada Rasul Saw. namun ia pun bersifat umum, yakni perintah itu ditujukan kepada siapa pun yang menjadi penguasa. Karena itu, ketika sekelompok orang pada masa Khalîfah Abû Bakar enggan membayar zakat dengan dalih bahwa perintah ini hanya ditujukan kepada Rasul, dan bukan kepada selain beliau, Khalîfah Abû Bakar menolak dalih tersebut, dan ketika mereka berkeras enggan membayar zakat beliau memerangi kelompok pembangkang itu.[38]

Kewajiban penunaian zakat kepada segmen masyarakat tertentu, bukanlah berupa perilaku kemurahan hati (charity) dari pihak penunai tapi merupakan keharusan yang setaraf dengan hutang yang harus dipenuhi.[39]

Dalam memahami ayat 103 surat al-Tawbah di atas, Hassan Hanafi sampai berpendapat bahwa pemerintahan yang sah berkewajiban untuk turun tangan secara langsung mengambil harta yang berada di tangan kaum kaya yang merupakan hak kaum yang membutuhkan, jika pihak yang pertama ingkar dan tidak mau mendistribusikan kekayaannya kepada pihak yang kedua. Itu karena, kata Hanafî, harta kekayaan harus mengalir di tengah-tengah anggota masyarakat seperti mengalirnya air, di mana siapa pun yang membutuhkan dapat mengambil dan mempergunakannya. Harta kekayaan, lanjut Hanafî, harus didistribusikan, jangan ditimbun.[40]

Zakat merupakan salah satu kiat Islam dalam rangka meraih cita-cita sosialnya. Ia juga merupakan penegasan bahwa dalam harta milik pribadi terdapat hak-hak mereka yang membutuhkan yang harus disalurkan kepada mereka. Kiat ini ditempuh Islam sambil melarang beberapa praktek transaksi yang dapat mengganggu keserasian hubungan antara anggota masyarakat.[41]

Adapun signifikansi zakat yang paling menonjol, didasarkan atas nilai-nilai dan prinsip-prinsip ideal sebagai berikut:

  1. Zakat merupakan cerminan falsafah Islam tentang harta, dan bahwasanya harta dalam pandangan Islam adalah milik Allah, manusia hanya mempunyai hak pendayagunaan dan pemanfaatan (QS. Al-Nûr, 24: 33).
  2. Zakat merupakan institusi Islam tentang keharusan terwujudnya keadilan sosial, yaitu dengan cara distribusi harta dari kaum kaya kepada fakir miskin dan pihak-pihak lain yang membutuhkan. Saking pentingnya zakat dilihat dari segi ini, tidak aneh kalau ia dijadikan salah satu pilar agama yang keislaman seseorang tidak dianggap sah tanpa terpenuhi rukun ini. Ayat-ayat Al-Qur’a>n tentang zakat pun senantiasa diiringi nada penegasan, peringatan dan ancaman baik di dunia maupun akhirat. Tak kurang dari empat puluh ayat menunjukkan makna ini dengan sangat jelas.
  3. Ia juga merupakan sarana pendidikan hati bagi kaum Muslim untuk ikut menanggung beban dan derita sesamanya. Sebab dengan mengeluarkan zakat berarti seorang Muslim telah mengenyahkan kepentingan priomordial, individual dan egoisnya.[42]

b. Anjuran:

Adapun anjuran Al-Qur’a>n menyangkut distribusi kekayaan, barangkali Qs. al-Baqarah, 2: 261-262 dapat kita jadikan sampel yang mewakili ayat-ayat lain yang mempunyai kandungan makna yang serupa dengannya. Ayat termaksud adalah:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tipa butir seratus biji, Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui (261). Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (262).

Dalam tafsir al-Munîr, Wahbah Zuhailî mengutip al-Kalabî yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sayyidinâ ‘Utsmân bin ‘Affân dan ‘Abd al-Rahmân bin ‘Auf yang membelanjakan sebagian harta mereka di jalan Allah, tepatnya untuk mendanai perang Tabûk.[43]

Ayat di atas mengandung perumpamaan tentang pelipatgandaan pahala bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah dan demi rida-Nya. Ia juga menjelaskan bahwa setiap kebaikan yang diberikan akan dilipatkan pahalanya sepuluh hingga 700 kali lipat.[44]

Ayat-ayat ini terkait dengan ayat 259 yang menjelaskan tentang pertanyaan bagaimana Allah menghidupkan negeri yang telah hancur berantakan. Dalam ayat itu dikemukakan bahwa membangun dunia dan memakmurkannya mengharuskan adanya manusia yang hidup, tinggal, bergerak, giat dan berusaha. Tanpa kehadiran manusia dan kehidupannya, maka satu negeri tidak akan makmur. Hidup bukan hanya menarik nafas dan menghembuskannya. Hidup adalah gerak, rasa, tahu, kehendak dan pilihan. Manusia tidak dapat memenuhi semua kebutuhannya. Ia harus saling membantu, saling melengkapi, dan karena itu pula mereka harus beragam dan berbeda-beda agar mereka saling membutuhkan. Yang tidak mampu dalam satu bidang dibantu oleh yang lain yang mumpuni, atau berlebih di bidang itu. Yang kuat membantu yang lemah. Inilah yang dijelaskan kelompok ayat 261-262.[45] Ayat 261 berpesan kepada yang berpunya agar tidak merasa berat membantu, karena apa yang dinafkahkan akan tambah berkembang dengan berlipat ganda.[46]

Pendangan bahwa membantu yang lemah itu sebenarnya memperkuat yang kuat, kita sebut sebagai solidaritas. Bantaun yang kita berikan sebetulnya bukan anugerah, tetapi harga yang harus kita bayar untuk kerja sama yang saling menguntungkan. Pada kehidupan sosial yang makro, uluran tangan pihak yang beruntung dalam menolong yang tidak beruntung akan memperkukuh integritas sosial. Sebaliknya, acuh tak acuh atas penderitaan orang lain akan berbalik menjadi bumerang.[47]

Menurut Hassan Hanafî, infak harta yang disebut ayat bukanlah zakat, melainkan investasi produktif yang menghasilkan sumber produksi.[48] Hal ini berarti bahwa al-mâl harus diupayakan untuk tidak idle (diam), agar fungsinya untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat dapat terpenuhi. Menurut syariat, investasi harus mengutamakan hal-hal yang menyentuh kebutuhan pokok masyarakat yakni sandang, pangan, dan papan, di samping pendidikan, pelayanan kesehatan, dan hal-hal lain yang dinilai vital dalam peningkatan kesejahteraan orang banyak.[49]

Infak tersebut bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan (dengan tidak bermaksud mencari perhatian orang, tapi untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar), dan harus dilakukan murni untuk mencari rida Allah dan membela kepentingan umum (Qs. Al-Baqarah, 2: 265, 274). Tidak jarang infak yang dikeluarkan hanya untuk mencari perhatian dan pujian orang (riyâ), atau untuk menyakiti perasaan orang yang menerima (Qs. Al-Baqarah, 2: 264). Para penginfak yang akan mendapat ganjaran Tuhan adalah mereka yang berinfak di “jalan Allah”, tulus karena-Nya, dan tidak mengiringi infaknya dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima (Qs. Al-Baqarah, 2: 262).

Dengan infak, akan terlihat keunggulan seseorang atas orang lain, kelebihan seorang mukmin atas mukmin lainnya. Kelebihan seseorang atas orang lain bukan terletak pada jumlah harta yang dimiliki, tapi pada kadar infak yang diberikan.[50]

Sedang infak yang bertolak belakang dengan kemaslahatan umum dan dimaksudkan untuk membendung laju agama Allah, maka hal seperti itu merupakan tindakan kekufuran (Qs. Al-Anfâl, 8: 36). Kufur dalam arti membelanjakan harta dalam rangka merusak tatanan nilai sosial serta mencederai hati nurani dan keadilan, dan dalam rangka menanamkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Ilahiyah.[51]

  1. 3. Larangan-larangan Menyangkut Pemanfaatan Harta

Secara umum, larangan-larangan menyangkut penggunaan harta mencakup empat aspek:

  1. Pemilik harta tidak diperkenankan untuk mempergunakan atau menginvestasikannya yang akan mengakibatkan kesulitan, gangguan, dan penganiayaan serta ketidakadilan pihak lain. Misalnya, investasi yang akan membawa pencemaran lingkungan atau meningkatkan peluang kriminalitas (8: 36).
  2. Dalam pemanfataan al-mâl, segala bentuk transaksi dengan pendekatan riba, monopoli, dan penipuan dikecam keras (4: 161; 30: 39; 2: 278-279; 59: 7-8).
  3. Kebijaksanaan pemilik al-mâl harus jauh dari penimbunan atau kekikiran atau pemborosan (9: 34; 25: 67). Kedua cara ini menimbulkan dampak negatif terhadap roda ekonomi. Penimbunan harta mengantar kepada stagnasi yang menghambat lajunya perkembangan ekonomi, sebaliknya pembelanjaan secara semena-mena berarti penghamburan sumber kekayaan yang dapat dinikmati oleh masyarakat.
  4. Larangan penggunaan al-mâl untuk mempengaruhi penguasa guna mencapai keuntungan material (2: 188). Larangan ini mencakup sogok menyogok, kolusi antara pemegang harta dan penguasa yang merugikan masyarakat banyak.[52]

Dari kelima butir di atas, penulis akan mengambil tiga di antaranya yaitu surah al-Baqarah, 2: 278-279, al-Tawbah, 9: 34-35, dan al-Hasyr, 59: 7-8 sebagai sampel. Berikut secara ringkas akan kami kutip penafsiran beberapa mufasir tentang masing-masing ayat tersebut:

Qs. Al-Baqarah:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan riba jika kamu orang-orang yang beriman (278). Maka jika kamu tidak mengerjakan (perintah itu) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (279).”

Diriwayatkan bahwa ayat ini (278) turun berkenaan dengan Banî ‘Amru bin ‘Umair dari Tsaqîf. Mereka mempunyai piutang yang menjadi tanggungan Banî al-Mughîrah dari Banî Makhzûm. Dikatakan juga bahwa ia turun berkenaan dengan ‘Abbâs. Ada pula yang bilang ia berkenaan dengan ‘Utsmân. Kata Al-Sadî, ia turun berkenaan dengan ‘Abbâs dan Khâlid bin al-Walîd. Keduanya, pada zaman jahiliah, merupakan mitra yang biasa bertansaksi dengan riba. Terlepas dari itu, yang jelas ketika mereka hendak melakukan transaksi ribawi, ayat ini turun.[53]

Ayat ini memerintahkan orang-orang yang beriman untuk meninggalkan sisa riba (yang belum dipungut) yang masih berada dalam transaksi yang telah mereka buat sebelum ayat ini turun. Penyebutan kata iman (âmanû) dan perintah bertakwa kepada Allah (ittaqû Allâha) di awal ayat dimaksudkan untuk mendorong mereka agar mau menerima perintah meninggalkan sisa riba itu.[54] Perintah untuk meninggalkan sisa riba dengan sendirinya merupakan larangan untuk mengadakan traksaksi ribawi baru.[55]

“Jika kalian tidak mengerjakan perintah itu (ayat 279),” sasaran khitâb dari penggalan ini adalah kaum mukminin. Tapi ada juga yang mengatakan, ia seruan untuk kaum kafir yang menghalalkan riba.[56]

“Maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu,” artinya, menurut al-Marâghî, ketahuilah bahwa kalian diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya. Perang yang dilakukan Allah adalah kemarahan dan pembalasan-Nya atas orang yang memakan riba.[57]

“Dan jika kamu bertaubat maka bagimu pokok harta…” Sebagian mufasir ada yang mengatakan bahwa jika mereka tidak bertaubat, maka mereka menjadi kafir, karena menolak hukum Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan-Nya. Dari ayat ini kita memahami bahwa jika mereka tidak bertaubat, maka mereka tidak berhak memperoleh ra’s al-mâl (pokok harta).

“Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” Penggalan ini merupakan pemberitahuan (ikhbâr) dari Allah bahwa jika mereka hanya mengambil pokok harta, maka mereka telah berlaku adil.[58]

Ayat lain yang kami angkat dalam konteks larangan menyangkut harta ini adalah surat al-Tabwah, 9: 34:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan peras dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak..,”

Bisa jadi penggalan ini merujuk kepada banyak dari para pendeta Yahudi dan rahib Nasrani (yang disebutkan sifat-sifatnya dalam penggalan sebelumnya dari ayat ini) untuk menunjukkan bahwa mereka melakukan dua hal yang tercela, yaitu mengambil suap dan menyimpan (menimbun) harta serta tidak menginfakannya di jalan kebaikan. Termasuk di dalamnya, kaum muslimin yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan sifat tercela yang dimiliki oleh para pendeta dan rahib itu. Bisa juga yang dimaksud oleh ayat adalah para penimbun harta dari kalangan kaum muslimin. Penyertaan penyebutan mereka dengan para pengambil suap dari kalangan Ahli Kitab merupakan bentuk ancaman yang keras (taghlîzhan).[59]

Ayat terakhir yang kami masukkan dalam kategori larangan Al-Qur’a>n menyangkut harta benda adalah surah al-Hasyr, 59: 7-8:

“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk negeri-negeri maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya kamu mengerjakannya maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya (7). Juga bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halamannya dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (8).”

Semua harta benda dan harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran adalah untuk Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Pendistribusian ini dilakukan agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja, sedang orang-orang miskin tidak mendapat apa-apa. Kata Ibnu Katsîr, sebagaimana dikutip Sa’îd Hawâ, pembagian ini ditempuh agar harta kekayaan itu tidak hanya menjadi milik beberapa gelintir orang kaya yang dapat mereka pergunakan sesuka mereka tanpa ada sedikit pun bagian yang diberikan kepada kaum fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan lainnya.[60] Ini menunjukkan bahwa tujuan yang hendak dicapai oleh aturan Islam mengenai harta adalah tidak adanya terkonsentrasi harta kekayaan di tangan orang-orang kaya saja. Oleh sebab itu Allah mengharamkan riba, monopoli (al-ihtikâr), penimbunan (iktinâz) dan menetepakan aturan waris. Demikian Sa’îd Hawâ.[61]

Solusi yang ditawarkan Islam lewat ayat-ayat di atas—dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya—dimaksudkan, di antaranya, untuk membebaskan masyarakat dari rasa lapar dan ketakutan akan kekurangan sumber pangan, dengan cara distribusi kekayaan yang adil antarmasyarakat, sehingga tercipta keadilan sosial.[62]

Akhirnya, dapatlah dikatakan bahwa ayat-ayat yang nilainya berisi perintah, anjuran dan larangan menyangkut harta, sejatinya mengajarkan kita tentang makna kepedulian dan kesejahteraan sosial. Kepedulian sosial yang ditunjukan oleh kalangan yang berkuasa dan kaya setidaknya dapat menjadikan—seperti kata Jalaluddin Rakhmat dalam Catatan Kang Jalal-nya—orang-orang miskin melihat orang-orang kaya sebagai manusia juga. Kecemburuan sosial karena deprivasi kekayaan sedikitnya dapat meminimalkan mobil mengkilat tidak lagi dan tidak hanya mengingatkan mereka pada jalan-jalan yang menggusur ‘tanah air’ mereka. Rumah besar tidak lagi dan tidak hanya menjadi raksasa rakus yang meluluh-lantahkan kampung mereka. Perut-perut  besar tidak lagi dan tidak hanya berisi keringat, air mata, dan darah mereka.

Kesenjangan sosial tidak serta merta diakhiri, tetapi keresahan karena kesenjangan itu sedikitnya terobati. Bila zakat, infak shadaqah dikeluarkan, orang-orang yang terpuruk itu mungkin akan melupakan derita mereka sejenak. Tampaknya Tuhan memang membagikan nasib berlainan, supaya saling menolong. Orang kaya memerlukan orang miskin sebagai pembantunya, dan orang miskin menghajatkan orang kaya sebagai pembelanya. Dengan begitu, keresahan dan kerusuhan dapat diredam. Orang-orang yang radikal bisa kecewa, karena revolusi terhambat.[63]

BAB III

PENUTUP

Al-mâl dalam pandangan Islam tidak sebatas sebagai harta milik yang dapat dimiliki oleh siapa pun, tanpa ada hak dan kewajiban berkaitan dengannya. Melihat jumlah penyebutan kata ini dalam Al-Qur’a>n (86 kali), dapat kiranya dikatakan bahwa al-mâl dalam pandangan Al-Qur’a>n menduduki posisi yang cukup signifikan. Signifikansi itu bukan hanya diukur dari kenyataan bahwa untuk dapat bertahan hidup manusia memerlukan al-mâl, tetapi, yang lebih penting, diukur dari banyak hal menyangkut harta kekayaan. Hal-hal itu antara lain, perintah dan anjuran serta larangan menyangkut kekayaan.

Hal lain yang penting dicatat adalah bahwa harta dalam pandangan Al-Qur’a>n (Islam) adalah milik Allah. Pandangan ini dengan sendirinya menuntut sikap-sikap tertentu dari orang yang “dititipi” Allah kekayaan-Nya. Di antara tuntutan itu adalah kesadaran bahwa hidup ini tidak sendiri, hidup ini layaknya sebuah jaringan yang satu sama lain saling terkait; saling membutuhkan, dan karenanya harus saling berbagi dan bahu-membahu, bantu-membantu. Bila kesadaran ini tertanam, maka salah satu pesan moral Al-Qur’a>n ketika ia membicarakan harta, yaitu terciptanya sebuah tatanan masyarakat yang berkeadilan sosial-ekonomi, tak akan terlalu sulit untuk diwujudkan.

Pembahasan di atas telah membawa kita kepada beberapa kesimpulan di bawah ini:

  1. Tidak ada yang salah dalam harta kekayaan.
  2. Allah menciptakan harta kekayaan untuk dicari, dimiliki dan kemudian dipergunakan dan diperoleh oleh manusia.
  3. Kekayaan adalah alat pendukung hidup manusia , oleh sebab itulah setiap manusia memiliki bagian dan hak untuk memilikinya.
  4. Kepemilikan dalam pembelajaran Al-Qur’a>n secara mendalam terbagi menjadi dua yaitu ;

a. Kepemilikan mutlak dan absolute (bagi Allah).

b. Kepemilikan terbatas (bagi manusia) .

  1. Dalam Al-Qur’a>n manusia diperintahkan untuk mencari kekayaan yang halal baik dari segi cara, tujuan maupun sarana untuk mencapai tujuan tersebut.
  2. Dalam hal distribusi kekayaan tersebut manusia di anjurkan untuk selalu memanfaatkannya kejalan yang benar. Misalnya selalu menginfakkan hartanya dijalan Allah, menjauhi dari manipulasi atau praktek riba dan juga menghindari dari sifat kikir (tamak) dan pemborosan.
  3. Timbulnya barakah dari suatu pekerjaan, bisnis atau kekayaan kita menandakan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan tersebut dirhidoi oleh Allah swt.

DAFTAR PUSTAKA

al-Bâqî, Muhammad Fuâd. ‘Abd Al-Mu’jam al-Mufahras lî Alfâzh al-Qur`ân. Beirut : Muassasah Jamâl lî al-Nasyr, tt.

_________, Muhammad fua>d ‘abd. almu’jam al-mufahras li alfaz al-Qur’a>n al-karim. Beirut : Da>r al-Fikr, 1998.

al-Darwîsy, Muhy al-Dîn. I’râb al-Qur`ân al-Karîm wa Bayânuh cet. IV. Beirut : Dâr Ibn Katsîr,1994.

Darwazah, Muhammad ‘Izzah. al-Tafsir al-Hadith, juz 12. Bairut : Da>r Ihya>’ al-Kutub al-‘Arabiyah, 1962.

Elias, Elias A. Elias & Ed. E. Elias’ Modern Dictionary (Arabic-English). Beirut : Dâr al-Jayl, 1979.

Hamsi>, Muhammad Hasan. Tafsir wa Baya>n Mufrada>t al-Qur’a>n, faha>ris al-Qur’a>n al-kari>m. Bairut : Muassasah li al-Ima>n, 1999.

Hanafî, Hassan. Al-Dîn wa al-Tsawrah fî Mishr (1952-1981), vol. VII (Al-Yamîn al-Yasâr fî al-Fikr al-Dînî). Kairo : Maktabah Madbûlî, tt.

_____________, Dirâsât Falsafiyah. Kairo : Maktabah Anglo al-Mishriyah, 1987.

Huwaidî, Fahmî. Al-Tadayyun al-Manqûsh, cet. I. Kairo: Dâr al-Syurûq, 1994.

Hawâ, Sa’îd. al-Asâs fî al-Tafsîr, cet. II vol. IV. Kairo : Dâr al-Salâm, 1989.

Ma’lûf, Louis. Al-Munjid fî al-Lughah wa al-A’lâm cet. XXXIV. Beirut : Dâr al-Masyriq, 1994.

al-Marâghî, Ahmad Mushtafâ. Tafsîr al-Marâghî. Kairo : Dâr al-Fikr, tt.

Madjid, Nurcholish. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, cet. XI. Bandung  : Mizan, 1998.

Prasetyo, Eko. Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal, Dari Wacana Menuju Gerakan cet. I. Yogyakarta : Insist Press & Pustaka Pelajar, 2002.

Quthb, Sayyid. Fî Zhilâl al-Qur`ân, cet. V, vol. X. Beirut : Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabî, tt.

____________, Al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyah fî al-Islâm, cet. VII. Kairo : Dâr al-Syurûq, 1980.

al-Qadlâwî, Yûsuf. Al-Hall al-Islâmî Farîdlah wa Dlarûrah, cet. IV. Kairo Maktabah Wahbah, 1987.

Ridlâ, Muhammad Rasyîd. Tafsîr al-Qurân al-Hakîm (Tafsîr al-Manâr), cet. II, vol. XI. Beirut : Dâr al-Ma’rifah li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr, tt.

Rakhmat, Jalaluddin. Islam Alternatif, cet. II. Bandung : Mizan, 1991.

_________________, Islam Aktual, cet. X . Bandung Mizan.

_________________, Catatan Kang Jalal. Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 1997.

Rafsanjani, Hujjatul Islam Ali Akbar Hashemi. Keadilan Sosial (Social Justice & Problem of Racial Discrimination). Bandung :Yayasan Nuansa Cendekia, 2001.

Shihab, Quraish. Tafsîr al-Mishbâh, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’a>n, cet. I, vol. V. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

_____________, Wawasan Al-Qur’a>n, Tafsir Maudlui atas Pelbagai Persoalan Umat, cet. VIII. Bandung : Mizan, 1998.

____________, Membumikan Al-Qur’a>n, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, cet. XII. Bandung : Mizan, 1996.

_____________, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, cet. IV. Bandung : Mizan, 1998.

Thanthawî, Muhammad Sayyid. Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah cet. III, vol. II. Kairo : Al-Mu’jam al-Wasîth,  tt.

______________, Mu’jam I’râb Alfâzh al-Qur`ân al-Karîm. Kairo : Al-Azhar Islamic Academy (Majma’ al-Buhûts al-Islâmiyah Al-Azhar), 1994.

al-Thabathabâ`î, Al-Sayyid Muhammad Husein. Al-Mîzân fî Tafsîr al-Qurân cet. II, vol. XV. Beirut : Muassasah al-A’lamî li al-Mathbû’ât, 1973.

Wehr, Hans. A Dictionary of Modern Written Arabic (Arabic-English) cet. V. Beirut : Libraire du Liban, 1980.

Yusuf, Muhammad. Perspektif al-Qur’a>n tentang al-Qasas. Yogyakarta: STIS, 1999.

Yûsuf, Muhammad bin (Abû Hayyân al-Andalusî al-Gharnâthî). Al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, vol. II. Beirut : Dâr al-Fikr, 1992.

Zuhailî, Wabah. Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj cet. II, vol. XVIII. Beirut : Dâr al-Fikr, 1998.

al-Zamakhsyarî, Abû al-Qâsim Jâr Allâh Mahmûd bin ‘Umar bin Muhammad. Al-Kasysyâf ‘an Haqâ`iq Ghawâmidl al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta`wîl cet. I, vol. III. Beirut : Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1995.

Balianzab, Pandangan Islam Terhadap Harta Dan Ekonomi”, dalam http://balianzahab.wordpress.com/makalah-hukum/hukum-islam/pandangan-islam-terhadap-harta-dan-ekonomi/ (2 Januari 20010)

Nabilah Akrom, “Kedudukan Harta Dalam Islam”, dalam http://nabela.blogdetik.com/islamic-economic/kedudukan-harta-dalam-islam/ (2 Januari 2010)


[1] Muhammad Yusuf, Perspektif al-Qur’a>n tentang al-Qasas (Yogyakarta: STIS, 1999), 1.

[2] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’a>n, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, cet. XII (Bandung : Mizan, 1996), 83.

[3] Ibid.

[4] Ibid., 87.

[5] Balianzab, Pandangan Islam Terhadap Harta Dan Ekonomi”, dalam http://balianzahab.wordpress.com/makalah-hukum/hukum-islam/pandangan-islam-terhadap-harta-dan-ekonomi/ (2 Januari 20010).

[6] Louis Ma’lûf, Al-Munjid fî al-Lughah wa al-A’lâm cet. XXXIV (Beirut : Dâr al-Masyriq, 1994), 780.

[7] Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah cet. III, vol. II, (Kairo : Al-Mu’ja>m al-Wasîth,  tt), 927.

[8] Property (tanah milik; milik), esatate (perkebunan; tanah; tanah milik), goods (harta benda; barang-barang), wares (barang-barang), commodities (barang-barang perdagangan; bahan-bahan keperluan), money (uang). Lihat, Elias A. Elias & Ed. E. Elias, Elias’ Modern Dictionary (Arabic-English) (Beirut : Dâr al-Jayl, 1979), 678. Lihat juga, Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic (Arabic-English) cet. V (Beirut : Libraire du Liban, 1980), 931-932.

[9] Bandingkan dengan kata al-Nabî (nabi) serta bentuk-bentuk derivasinya yang disebut sebanyak 80 kali dan kata al-Wahy (wahyu) serta segala bentuk derivasinya sebanyak 78 kali. Ini “seakan” menunjukan bahwa tema tentang al-Mâl (harta) menduduki posisi penting dalam Al-Qur’a>n (Islam), sehingga jumlah penyebutannya dalam Al-Qur’a>n sedikit melebihi jumlah penyebutan kata al-Nabî (lebih enam kali) dan al-Wahy (lebih delapan kali). Lihat, Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah fî Mishr (1952-1981), vol. VII (Al-Yamîn al-Yasâr fî al-Fikr al-Dînî), (Kairo : Maktabah Madbûlî, tt), 123. Untuk mengetahui tempat-tempat (surat dan nomor ayat) ke-86 kata al-mâl dan segala bentuk turunannya dalam Al-Qur’a>n dapat kita lihat dalam Muhammad Fuâd ‘Abd al-Bâqî, Al-Mu’jam al-Mufahras lî Alfâzh al-Qur`ân, (Beirut : Muassasah Jamâl lî al-Nasyr, tt), 682-683.

[10] Kata Hassan Hanafî, dua bentuk seperti ini menunjukkan bahwa harta, pertama sebagai wujud tersendiri yang terlepas dari kegiatan manusia; ia tidak dinisbahkan kepada seseorang atau kelompok. Kedua, berada dalam kegiatan manusia dalam bentuk usaha, investasi dan lain-lain. Al-Qur’a>n lebih sering menyebutnya dalam bentuk yang di-idlafat-kan dari pada yang tidak (54:32). Ini menunjukkan bahwa al-mâl yang berada dalam kegiatan manusia dalam bentuk usaha, investasi dan pendayagunaan lainnya merupakan tema utama (mihwar) dari pandangan Al-Qur’a>n tentang harta. Lihat, Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah________, 123.

[11] Ibid,  123-125.

[12] Untuk mengetahui kedudukan i’râb kata perkata dalam Al-Qur’a>n, kita dapat merujuk Muhammad Sayyid Thanthawî, Mu’jam I’râb Alfâzh al-Qur`ân al-Karîm (Kairo : Al-Azhar Islamic Academy (Majma’ al-Buhûts al-Islâmiyah Al-Azhar), 1994). Lihat juga, Muhy al-Dîn al-Darwîsy, I’râb al-Qur`ân al-Karîm wa Bayânuh cet. IV (Beirut : Dâr Ibn Katsîr,1994.)

[13] Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah______, 125

[14] Ibid, 129-131.

[15] Nabilah Akrom, “Kedudukan Harta Dalam Islam”, dalam http://nabela.blogdetik.com/islamic-economic/kedudukan-harta-dalam-islam/ (2 Januari 2010)

[16] Muhammad fua>d ‘abd. Ba>qi>, Al-Mu’jam al-Mufahras li> Alfaz al-Qur’a>n al-kari>m (Beirut : Da>r al-Fikr, 1998), 37.

[17] Muhammad Hasan Hamsi>, Tafsir wa Baya>n Mufrada>t al-Qur’a>n, faha>ris al-Qur’a>n al-kari>m (Bairut : Muassasah li al-Ima>n, 1999), 282.

[18] Urutan tersebut didasarkan pada kitab karangan Muhammad ‘Izzah Darwazah, Al-Tafsir al-Hadith, juz 12 (Bairut : Da>r Ihya>’ al-Kutub al-‘Arabiyah, 1962), 378-379.

[19] Maksudnya: Tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.

[20] Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

[21] Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.

[22] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama Telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

[23] Maksudnya: Yang tidak berperang karena uzur.

[24] Maksudnya: Yang tidak berperang tanpa alasan. sebagian ahli tafsir mengartikan qaa’idiin di sini sama dengan arti qaa’idiin Maksudnya: yang tidak berperang Karena uzur..

[25] Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta pada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi perjanjian itu dengan harta yang halal.

[26] Untuk mempercepat lunasnya perjanjian itu hendaklah budak- budak itu ditolong dengan harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.

[27] Maksudnya: Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu, selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.

[28] Lihat Al-Sayyid Muhammad Husein al-Thabathabâ`î, Al-Mîzân fî Tafsîr al-Qurân cet. II, vol. XV (Beirut : Muassasah al-A’lamî li al-Mathbû’ât, 1973), 113.

[29] Lihat Wahbah Zuhailî, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj cet. II 1998, vol. XVIII (Beirut : Dâr al-Fikr), 228.

[30] Lihat Abû al-Qâsim Jâr Allâh Mahmûd bin ‘Umar bin Muhammad al-Zamakhsyarî, Al-Kasysyâf ‘an Haqâ`iq Ghawâmidl al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta`wîl cet. I, vol. III (Beirut : Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1995), 232.

[31] Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, cet. XI  (Bandung  : Mizan, 1998), 110-111.

[32] Wacana tentang Keadilan Sosial, Kesenjangan Sosial, Kapitalisme, Sosialisme dan persoalan lain yang terkait dengan wacana itu, secara panjang lebar dapat kita kaji Hassan Hanafî, Al-Dîn wal al-Tsawrah fî Mishr (1952-1981), vol. VII (Al-Yamîn wa al-Yasâr fî al-Fikr al-Dînî), (Kairo : Maktabah Madbûlî, tt), 203-236. Lihat juga “Mâdzâ Ya’nî al-Yasâr al-Islâmî” dalam buku yang sama, vol. VIII (Al-Yasâr al-Islâmî wa al-Wahdah al-Wathaniyah), 51-58. Simak juga Eko Prasetyo, Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal, Dari Wacana Menuju Gerakan cet. I (Yogyakarta : Insist Press & Pustaka Pelajar, 2002)

[33] Nurkholos Madjid, __________________, 104.

[34] Quraish Shihab, Tafsîr al-Mishbâh, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’a>n, cet. I, vol. V (Jakarta : Lentera Hati, 2002), 663.

[35] Lihat Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al-Qur`ân, cet. V, vol. X  (Beirut : Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabî, tt), 300.

[36] Muhammad Rasyîd Ridlâ, Tafsîr al-Qurân al-Hakîm (Tafsîr al-Manâr), cet. II, vol. XI (Beirut : Dâr al-Ma’rifah li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr, tt.), 23-24.

[37] Ibid.

[38] Ibid, 666.  Lihat juga, Muhammad Husein al-Thabâthabâ`î, Al-Mîzan_____, 377. Wahbah Zuhailî, Al-Tafsîr al-Munîr_______, 29.

[39] Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, cet. IV (Bandung : Mizan, 1998),  266.

[40] Hassan Hanafî, al-Dîn wa al-Tsawrah_______, 135.

[41] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’a>n________, 243. Islam juga memandang bahwa kemunduran umat Islam bukan hanya terletak pada kejahilan tentang syariat Islam, tetapi juga pada ketimpangan struktur ekonomi dan sosial. Ini dilukiskan oleh Al-Qur’a>n ketika menjelaskan kemiskinan sebagai disebabkan oleh tidak adanya usaha bersama untuk membantu kelompok lemah, adanya kelompok yang memakan kekayaan alam dengan rakus dan mencintai kekayaan dengan kecintaan yang berlebihan (al-Fajr, 89:18-22). Karena itu, Islam menghendaki agar kekayaan tidak berputar pada kalangan orang kaya. Simak Qs. Al-Hasyr, 59:7. Lihat, Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif, cet. II (Bandung : Mizan, 1991), 41-42.

[42] Fahmî Huwaidî, Al-Tadayyun al-Manqûsh, cet. I (Kairo: Dâr al-Syurûq, 1994), 32-35. Menurut Quraish Shihab, ada tiga landasan filosofis bagi kewajiban zakat:

  1. Istikhlâf (Penugasan sebagai Khalifah di Bumi).

Allah adalah pemilik seluruh alam raya dan segala isinya, termasuk pemilik harta benda. Seseorang yang beruntung memperolehnya pada hakikatnya hanya menerima titipan sebagai amanat untuk disalurkan dan dibelanjakan sesuai kehendak pemiliknya (Allah).

  1. Solidaritas Sosial.

Manusia adalah makhluk sosial. Kebersamaan antara beberapa individu dalam satu wilayah membentuk masyarakat yang walaupun berbeda sifatnya dengan individu-individu tersebut, namun ia tidak dapat dipisahkan darinya. Manusia tidak dapat hidup tanpa masyarakatnya.

  1. Persaudaraan.

Manusia berasal dari satu keturunan, antara seorang dengan lainnya terdapat pertalian darah, dekat atau jauh. Kita semua bersaudara. Pertalian darah tersebut akan menjadi lebih kokoh dengan adanya persamaan-persamaan lain yaitu agama, kebangsaan, lokasi domisili dan sebagainya.

Kebersamaan dan persaudaraan inilah yang mengantarkan kepada kesadaran menyisihkan sebagian harta kekayaan khususnya kepada mereka yang butuh, baik dalam bentuk zakat, maupun shadaqah dan infak. Lihat, Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran______, 323-330. Lihat juga, Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’a>n, Tafsir Maudlui atas Pelbagai Persoalan Umat, cet. VIII (Bandung : Mizan, 1998), 456.

[43] Wahbah Zuhailî, al-Tafsîr al-Munîr_________, 42

[44] Ibid., 43.

[45] Quraish Shihab, Tafsîr al-Mishbâh__________, 529-530.

[46] Ibid., 530. Dalam Tafsir al-Mizân, al-Thabâthabâ`î mempunyai catatan khusus yang cukup menarik berkenaan dengan signifikansi infak dalam Islam. Catatan itu ia beri judul “Kalâm fî al-Infâq” (lihat, al-Thabâthabâ`î, al-Mîzân______________, 383-384).

[47] Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual, cet. X (Bandung Mizan), 234.

[48] Hassan Hanafî, al-Dîn wa al-Tsawrah______, 139.

[49] Alwi Shihab, Islam Inklusif_________________________, 268.

[50] Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah____________, 139.

[51] Ibid., Islam mengatur jalannya produksi agar dilakukan secara adil dan wajar. Al-Mâl (kekayaan) berupa kapital dan tanah, dan al-‘amal (karya) berupa tenaga, baik fisik maupun mental, diatur secara cermat oleh Islam. Untuk itu syariat mengatur kepemilikan (sementara) al-mâl serta cara memperoleh dan menginvestasikannya. Di samping itu Islam menjunjung tinggi al-‘amal (usaha/karya), sampai-sampai ia ditempatkan sebagai bagian dari iman. Proses pemilikan harta tidak dijadikan sebagai tujuan akhir, tapi justru sebagai sarana untuk berbakti kepada Allah. Oleh karena itu kesuksesan seseorang dalam proses pemilikan harta ini diukur dari kontribusinya untuk meningkatkan standar kehidupan masyarakat serta usahanya untuk memperkecil tingkat ketimpangan dan ketidakadilan antarmanusia. Lihat, Alwi Shihab, Islam Inklusif____________________, 262-264.

[52] Ibid., 268. Dapat kita tarik benang merah dari poin-poin di atas bahwa Islam sangat konsern dengan masalah-masalah yang tekait, baik langsung maupun tidak, dengan keadilan sosial dan persamaan, seperti pemberantasan ketidakberesan dalam distribusi ekonomi dan menghilangkan gap-gap yang teramat mencolok antara kelompok kaya dan kaum miskin. Umat Islam sekarang ini, kata Hassan Hanafi, diliputi berbagai kontradiksi internal; kekayaan alamnya melimpah, namun kemiskinan merebak di mana-mana, perut kosong melantunkan nyanyian keroncongan terdengar di berbagai penjuru, mulut-mulut lapar menganga di setiap pelosok, pada saat istana-istana megah berdiri dengan angkuhnya dan tak pernah peduli dengan mereka yang tak punya tempat berlindung, dengan mereka yang harus banting tulang mencari sesuap sekedar untuk bisa bertahan hidup. Lihat, Hassan Hanafî, Dirâsât Falsafiyah, (Kairo : Maktabah Anglo al-Mishriyah, 1987).

[53] Muhammad bin Yûsuf (Abû Hayyân al-Andalusî al-Gharnâthî), Al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, vol. II (Beirut : Dâr al-Fikr, 1992), 711-712.

[54] Ibid., 712. Tentang sebab-sebab mengapa riba diharamkan, lihat Ahmad Mushtafâ al-Marâghî, Tafsîr al-Marâghî, (Kairo : Dâr al-Fikr, tt), 56-63.

[55] Abû Hayyân al-Andalusî, Al-Bahr al-Muhîth________, 713.

[56] Ibid,. 714.

[57] Ahmad Mushtafâ al-Marâghî, Tafsîr al-Marâghî________________________, 67.

[58] Abû Hayyân, Al-Bahr al-Muhîth___________, 716.

[59] Sa’îd Hawâ, al-Asâs fî al-Tafsîr, cet. II vol. IV (Kairo : Dâr al-Salâm, 1989), 2277. Sa’îd Hawâ mengutip Ibn Katsîr yang mengatakan bahwa Abû Dzar berpendapat, haram hukumnya menyimpan harta yang melebihi kebutuhan nafkah keluarga. Abû Dzar, kata Ibn Katsir, berfatwa demikian, memerintahkan manusia untuk melaksanakan fatwanya, dan mengecam mereka yang menyimpang dari perintahnya. Tindakan Abû Dzar ini dicegah oleh Mu’âwiyah, tapi Abû Dzar tidak mau berhenti. Karena kuatir hal itu akan memberatkan manusia, maka Mu’âwiyah mengadukannya kepada Amîr al-Mu’minîn ‘Utsmân bin ‘Affân. ‘Utsmân lalu menyuruh Abû Dzar datang ke Madinah. Abû Dzar selanjutnya ditempatkan (dibuang?) di Rabadzah (suatu tempat sekitar tiga mil dari kota Madinah). Di sana ia meninggal pada masa khilâfah ‘Utsmân. Lihat, Sa’îd Hawâ, Al-Asâs ______________, 2281.

[60] Ibid,. 5822.

[61] Ibid,.

[62] Lebih lanjut tentang masalah keadilan sosial dalam Islam dapat kita lihat dalam Sayyid Quthb, Al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyah fî al-Islâm, cet. VII (Kairo : Dâr al-Syurûq, 1980). Yûsuf al-Qadlâwî, Al-Hall al-Islâmî Farîdlah wa Dlarûrah, cet. IV (Kairo Maktabah Wahbah, 1987), 53-59, dan lihat juga, Hujjatul Islam Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, Keadilan Sosial (Social Justice & Problem of Racial Discrimination), Bandung :Yayasan Nuansa Cendekia, 2001.

[63] Lihat Jalaluddin Rakhmat, Catatan Kang Jalal (Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 1997), 220-221. Lihat juga, Jalaluddin Rahmat, Islam Aktual____________,  225-257.

Ada contest SEO nih……
Ada yang mau ikutan? Kalo mau, berikut adalah pengumuman yang aku comot dari http://amrikasari.wordpress.com/ hadiahnya oke lho…….

Kurang jelas? bacapengumuman  selangkapnya di bawah ini.

Good Luck !

***

Setelah sukses “Kontes Berfoto Cantik Bersama ‘Jeung EfY” kembali ROSE HEART WRITERS mengadakan Kompetisi Resensi Buku ‘Especially For You’ karangan Risa Amrikasari aka Rose Heart dengan misi buku meningkatkan rasa percaya diri, kualitas, dan terutama kebebasan berpikir para perempuan di Indonesia.

Sejalan dengan Kontes SEO yang diadakan Komunitas Blogger Bekasi yang bertajuk Blogger Bersih Partisipasi Blogger. Risa Amrikasari mengadakan Kontes SEO Kompetisi Resensi buku “Especially for You – A Collection of Self Motivation Articles for Tough Women Only” kali ini terbuka untuk Blogger secara umum dan tidak dipungut biaya.

Keyword : Kompetisi Risa Amrikasari Especially For You

Ketentuan Kompetisi :

  • 1. Resensi buku harus sedikitnya 600 kata-kata (tidak lebih dari 1.500 kata) dan harus dipublikasikan di blog peserta dengan satu salinan untuk dikirim ke jeungefy@yahoo.com — menyertakan nama alamat e-mail, nomor kontak yang bisa dihubungi serta URL blognya yang berisi posting resensinya.
  • 2. Kompetisi ini akan dilakukan melalui 2 (dua) tahap penjurian — tahap pertama yaitu SEO Competion yang akan dimulai dari tanggal 26 Maret 2010 dan akan diakhiri pada tanggal 26 April 2010 pada http://www.google.com
  • 3. Dua puluh urutan SEO teratas (yang di-captured panitia) akan dilakukan penjurian tahap kedua.
  • 4. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 7 Mei 2010 dan Keputusan Juri TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT.

Hadiah Resensi :

  • Juara I : Uang tunai Rp. 2,000,000 dan resensi akan dipublikasikan pada buku baru Rose Heart
  • Juara II : Uang tunai Rp. 1,500,000 dan resensi akan dipublikasikan pada buku baru Rose Heart
  • Juara III : Uang tunai Rp. 1,000,000 dan resensi akan dipublikasikan pada buku baru Rose Heart .

Pesyaratan :

1. Kompetisi Resensi Buku ‘Especially for You‘ tentu saja peserta harus membeli atau mempunyai buku tersebut dengan bukti foto pada posting anda.

2. Memasang banner yang kodenya khusus dari panitia (tidak boleh di-edit) sebagai bukti keikutsertaan pada Kompetisi Resensi Buku ‘Especially for You‘ dan link harus diarahkan ke Risa Amrikasari Blog

3. Banner : sourcode-nya silahkan dicopy :

”The

4 . Hasil Capture dari http://www.google.com akan dipublish Risa Amrikasari Blog dan Muslimah Blog

5. Dua puluh link teratas yang berhasil masuk nominasi, akan diserahkan ke Dewan Juri untuk dilanjutkan dengan penilaian konten.

6 . Panitia berhak meninjau ulang peraturan seperti menambah, mengurangi peraturan menyesuaikan dengan perkembangan kompetisi lomba. Untuk hal yang ini tidak bisa diganggu gugat.

Selamat Berkompetisi! ;)