Perang Salib DINASTI ILKHANIYYAH & DINASTI TIMURIYYAH

Posted: Januari 11, 2010 in Sejarah Peradabn Islam
Tag:, , , , ,

Perang Salib
DINASTI ILKHANIYYAH
& DINASTI TIMURIYYAH

Perang Salib, Dinasti Ilkhaniyyah dan Dinasti Timuriyyah adalah tiga periode peradaban Islam yang lahir pada masa-masa runtuhnya Kejayaan Peradaban Islam. Meski demikian, sebagai sebuah fakta sejarah, Ketiganya merupakan benang merah dari fase sebelumnya.

Perang Salib, meski terasa menyakitkan membaca sejarahnya membersitkan semangat keberagamaan yang tinggi yang harus diwarisi oleh setiap generasi. Tidak hanya menjadikan dirinya sebagai penikmat sejarah. Lebih dari itu, menjadi pendaur ulang sejarah untuk menampilkan bentuk sejarah yang lebih arif.

Sementara Dinasti Ilkhaniyyah dan Timuriyyah menyimbolkan akulturasi Islam-Mongol. Kedua dinasti memberikan torehan sejarah peradaban Islam yang penuh dengan merah darah.

Dalam ketiganya pula tetap lahir spirit untuk terus mengembangkan peradaban sebagai suatu keharusan sejarah.

Dalam makalah ini, penulis mencoba membahas ketiga fase peradaban ini dengan menitikberatkan pada perkembangan peradaban Islam itu sendiri. Tentunya di sana-sini perkembangan peradaban itu akan sedikit banyak bersentuhan dengan aspek dan pihak lain sebagai unsur pembentuk peradaban itu sendiri, dalam arti seluas-luasnya.

A. PERANG SALIB
Perang salib (The Crusades, al-Hurub al-Salibiyyah), merupakan peperangan yang dilakukan oleh orang Kristen dari bagian Eropa Barat atas ummat Islam di wilayah Asia Barat (Timur Tengah) antara tahun 488-690 H / 1095-1291. Disebut perang Salib karena tentara Kristiani memakai lambang salib di leher mereka (atau melukis salib di dada atau memakai selendang merah di bahu dengan gambar salib) selama berperang.

Perang Salib adalah satu istilah dari angkatan-angkatan perang Eropa Masehi, yang telah berlangsung kurang lebih dua abad, dengan tujuan merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum muslimin di satu sisi dan menghentikan langkah Islam yang telah menguasai dunia di sisi lain.

1. Sebab-sebab terjadinya Perang Salib
Menurut Philip K. Hitti, sebab-sebab terjadinya perang salib adalah :
1. Reaksi orang Kristen di Eropa terhadap muslim di Asia yang telah menyerang dan menguasai wilayah Kristen sejak 632, tidak hanya di Suriah dan Asia Kecil, tetapi juga di Spanyol dan Sisilia.
2. Kecenderungan gaya hidup nomaden suku Teutonik-Jerman yang telah mengubah peta Eropa sejak mereka memasuki babak sejarah.
3. Perusakan makam suci milik gereja, tempat ziarah ribuan orang Eropa yang kunci-kuncinya telah diserahkan pada 800 M kepada Charlemagne dengan berkah dari uskup Yerussalem oleh al-Hakim.
4. Sebab utama adalah permohonan kaisar Alexius Comnesus kepada Paus Urban II pada 1095 untuk membantunya, karena kekuasaannya di Asia telah diserang oleh Bani Saljuk, di sepanjang pesisir Marmora. Paus memandang permohonan itu sebagai kesempatan untuk menyatukan kembali gereja Yunani dan gereja Roma yang sejak 1009 hingga 1054 mengalami perpecahan.
5.
Bandingkan sebab-sebab di atas dengan yang diungkapkan oleh Mahyudin Hj. Yahaya, bahwa perang salib terjadi karena :
1. Penaklukkan atas Baitul Maqdis yang dianggap sebagai tanah suci oleh orang Kristen telah membangkitkan kemarahan mereka, karena dengan penaklukkan itu mereka terhalang melakukan ibadah haji.
2. Kemarahan orang Kristen timbul karena kerajaan Fatimiyyah telah membinasakan gereja suci pada tahun 1009 M dan gereja ini dikatakan dibangun di atas kuburuan Nabi Isa as. dan dijadikan tempat suci berkunjung umat Kristen setiap tahun.

2. Perkembangan Perang Salib
Klasifikasi dan pembagian perang Salib ke dalam jumlah yang pasti, seperti tujuh sampai sembilan merupakan klasifikasi yang tidak begitu memuaskan. Hal itu karena peperangan terus berlanjut, dan tidak ada batas yang jelas antara perang yang satu dengan perang berikutnya. Perang Salib berjalan kurang lebih selama 200 tahun. Masa yang panjang ini melibatkan banyak penguasa yang tersebar di berbagai wilayah negara Islam. Maka dalam tulisan ini—mengacu pada batasan pembahasan perkuliahan—penulis membatasi jalannya perang Salib hingga meninggalnya Salahuddin al-Ayyubi.

a. Perang Salib Pertama dan Kedua
Perang Salib untuk pertama kalinya dilancarkan pada 1095 oleh Paus Urban II untuk mengambil kuasa kota suci Yerussalem dan Tanah Suci Kristen dari Muslim yang dimulai sebagai panggilan kecil untuk meminta bantuan dengan cepat berubah menjadi migrasi dan penaklukkan keseluruhan wilayah di luar Eropa.

Pada tahun 1096 di ibukota Constantinopel berkumpul 25.000 orang pasukan Salib. Tentara ini di bawah pimpinan Godfrey of Bouilon dan beberapa orang pemimpin bangsa Norman dan Prancis. Termasuk di dalamnya Baldwin I, Count Raymond, Bohemont, Graaf, Toulouse, Tancred, Robert Hertog dan lain-lain.

Awal Agustus 1096 tentara Salib menyerang selat Borporus terus ke Asia Kecil menghadapi tentara Islam di bawah kekuasaan Dinasti Saljuk. Serangan pertama mereka gagal tapi berhasil pada serangan kedua. Hal ini karena Saljuk tidak mendapat bantuan dari Baghdad. Wilayah seperti Armenia, Roha, Nicia, Antakiyah (Antioch), Alippo (Halab) jatuh ke tangan tentara Salib. Mereka melakukan pembantaian terhadap warga Muslim. Pada 15 Juni 1099, Godfrey dengan bantuan 12 kapal perang dari Venice dan Genoa masuk Baitul Maqdis dengan mudah dan melakukan pembantaian terhadap warga Muslim.

Godfrey diangkat menjadi penguasa Baitul Maqdis yang kemudian pada tahun 1100 diganti Baldwin I. Sementara Count Raymond dilantik menjadi penguasa Antakiyah. Keduanya pada 1101 menaklukkan Tripoli. Delapan tahun kemudian, hampir seluruh wilayah Syiria, Palestina dan sekitarnya jatuh ke tangan tentara Salib dan Islam di Baitul Maqdis semakin terjajah.

Hampir setengah abad (492 – 542 / 1099 – 1147) Baitul Maqdis berada di bawah kekuasaan Kristen. Dalam masa itu pula muslimin menderita. Namun demikian semangat Jihad senantiasa berkobar dalam jiwa umat Islam.

Pada tahun 1144 M, Zanki, seorang atabeg (gubernur) Mosul-Irak, dari Dinasti Saljuk, berhasil merebut Edessa dan beberapa wilayah di Syiria dari tangan Kristen. Inilah awal meletusnya perang salib kedua.

Perang Salib kedua ini merupakan tanggapan atas jatuhnya kekuasaan Kerajaan Edessa. Edessa adalah salah satu dari negara-negara tentara Salib yang didirikan pertama kali sejak Perang Salib Pertama (1095 – 1099), dan yang pertama jatuh. Perang Salib kedua ini diumumkan oleh Paus Eugenius III (disebut juga Pope Eugene III), dan perang Salib kedua dipimpin oleh raja-raja Eropa, seperti Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman, dengan bantuan bangsawan Eropa lainnya. Pasukan dari dua raja itu maju secara terpisah melewati Eropa dan agak dihalangi oleh kaisar Byzantium, Manuel I Comnenus. Setelah melewati teritori Byzantium menuju Anatolia, dan dikalahkan oleh tentara Bani Saljuk. Louis dan Conrad serta sisa pasukannya mencapai Yerussalem dan berpartisipasi dalam serangan Damaskus. Perang Salib di Timur gagal dan kemenangan yang hebat untuk kaum muslimin.

Selain karena serangan Muslimin, kekalahan ini juga diakibatkan adanya perselisihan diantara tentara Salib sendiri. Seperti halnya Count Raymond yang diancam oleh Count Bertrand of Toulouse penguasa Arimah. Count Raymond meminta bantuan Nur al-Din (penguasa Syiria) dan Mun’im al-Din (dari Dinasti Mamluk Damaskus). Kesempatan ini digunakan oleh dua penguasa Islam tersebut untuk menyerang tentara Salib. Arimah berhasil dikuasai dan Raymond dibawa ke Aleppo.

b. Periode Salahuddin al-Ayyubi : Perang Salib terbesar
Salahuddin al-Ayyubi adalah nama pahlawan Islam yang sangat terkenal. Sosoknya telah menjadi simbol kegagahan pasukan muslimin dalam kancah Perang Salib. Ia juga yang ditasbihkan sebagai pembuka jalan kemenangan menuju Baitul Maqdis.

Keterlibatan Salahuddin dalam Perang Salib diawali dengan kedatangannya bersama Syirkuh, pamannya, ke Mesir untuk membantu Nur al-Din, penguasa Suriah yang waktu itu tengah berperang melawan Raja Amaury I, raja Baitul Maqdis yang datang atas permintaan Dirgham di Mesir dan dalam peperangan itu Salahuddin berhasil membunuh Amaury I. Setelah itu Shawar, yang menjanjikan akan memberikan sepertiga hasil Mesir jika Shirkuh dan pasukannya menang, mencoba mengingkari janjinya kepada Nur al-din dan membelot serta mencoba membunuh Shirkuh. Akhirnya ia terbunuh ditangan Salahuddin.

Shirkuh pun diangkat menjadi wazir oleh Khalifah al-Adid pada 17 Rabiulakhir / 18 Januari 1169. Setelah meninggal posisinya digantikan oleh Salahuddin. Pada saat yang sama, Nur Al-din mengangkat Salahuddin sebagai panglima angkatan perang tentara Syiria. Sejak itulah nama Salahuddin menjadi terkenal.

Wafatnya Nur al-Din pada 1174 menjadi tahun penting bagi kiprah Salahuddin menuju Perang Salib. Pada tahun itu ia memerdekakan diri dari Mesir kemudian merebut Suriah dari Ismail putra Nur al-Din yang baru berumur tujuh tahun. Pada 1175, ia meminta khalifah Abbasiyah mengangkatnya sebagai khalifah di Mesir. Di tahun 1185 ia taklukkan Mesopotamia. Tahun 1187 ia merebut Tiberias setelah peperangan selama enam hari. Pada 3-4 Juli 1187 merebut Hattin (disebut juga Hittin-pen). Hari itu merupakan hari yang menyedihkan bagi Franka. Sekitar 20.000 tentara, hampir seluruhnya ditundukkan pasukan Shalahuddin, sisanya mati kehausan atau kepanasan. Akibat kekalahan pasukan Franka di Hattin ini, Yerussalem menyerah pada 2 oktober 1187. Di masjid Aqsha, seruan adzan menggantikan lonceng gereja Kristen, dan salib emas yang berada di atas kubah batu (Qubbah al-Syahra) diturunkan oleh tentara Shalah. Berikutnya seluruh benteng Franka direbut. Sebagian besar kekuasan Franka beralih tangan ke kekuasaan Shalahuddin.

Jatuhnya kota Suci ke tangan umat Islam membangkitkan semangat orang Eropa. Mereka mulai melupakan permusuhan kecil diantara pemimpinnya. Frederick Barbarossa, kaisar Jerman, Richard I Coeur de Lion, raja Inggris dan Philip Augustus, raja Perancis mengambil alih komando tentara Salib. Dibawah kekuasaan merekalah Perang Salib ketiga (1189 – 1192 M) dimulai. Dibanding periode-periode sebelumnya, periode ini merupakan yang terbesar. Namun diantara mereka ini sendiri terjadi perselisihan yang tidak sehat, sehingga Frederick yang menabuh genderang peperangan mengambil rute darat, dan ditenggelamkan ketika menyeberangi sungai Cicilia , Richard tertawan (akhirnya dibebaskan setelah memberi tebusan yang mahal), sedang Philip bergegas kembali ke Prancis untuk merebut Inggris justru selama Richard tertawan.

Kisah-kisah heroik mewarnai Perang Salib ketiga ini baik dari pihak muslim maupun Kristen.

Kota Akka, tempat Salahuddin tinggal dikepung selama dua tahun (27 Agustus 1187 – 12 Juli 1191). Kelebihan pasukan Franka terletak pada pasukannya yang segar dan artileri perang terbaru, sedangkan kelebihan pasukan muslim adalah karena mereka di bawah satu komando. Shalah meminta bantuan kepada khalifah, meski bantuan yang diharapkan tidak pernah datang, akhirnya pasukan muslim menyerah. Di kedua belah pihak sama-sama memiliki tawanan masing-masing. Meski Richard telah membunuh 2700 tawanan muslim, Shalah tidak melakukan hal yang sama. Akhirnya kedua pihak sepakat membebaskan sisa tawanan yang ada dan mengadakan perundingan perdamaian.

Kota Akka telah menggantikan kedudukan Yerussalem dalam kepemimpinan perang, dan negosiasi perdamaian yang berlangsung tanpa gangguan antara kedua kelompok yang bertikai. Richard yang sarat dengan ide-ide romantik, mengajukan saudara perempuannya untuk menikah dengan saudara Shalah al-Malik al-Adil, dan keduanya patut menerima Yerussalem sebagai hadiah pernikahan. Peristiwa ini mengakhiri perselisihan antara Kristen dengan Muslim. Hari minggu sebelum Paskah (29 Mei 1192), Shalah membaiat al-Adil, anak al-Malik al-Kamil, sebagai bangsawan dalam sebuah upacara yang meriah. Akhirnya, perdamaian ditetapkan di atas kertas pada 2 Nopember 1192, dengan ketentuan bahwa daerah pantai menjadi milik bangsa latin sedangkan daerah pedalaman menjadi milik umat Islam, dan peziarah yang datang ke kota Suci tidak boleh diganggu. Tahun berikutnya 19 Pebruari 1193 Shalah sakit demam di Damaskus dan pada tanggal 2 Maret 1193 Shalah meninggal dalam usia 55 tahun. Pusaranya yang berdekatan dengan masjid Umayyah, hingga kini masih menjadi daya tarik bagi ibukota Suriah.

c. Akhir perang Salib
Jika Baitul Maqdis menjadi tujuan Perang Salib, maka dengan perjanjian itu berarti kemenangan berpihak pada umat Islam. Namun demikian akibat dari perang berkepanjangan ini sangat menyedihkan. Hilangnya harta benda, rusaknya bangunan, tewasnya wanita dan anak-anak tak berdosa. Di samping sekian banyak mujahid yang mempertahankan kehormatan agama dan negara. Ekonomi Islam juga ikut terpuruk akibat perang ini.

Di antara kekalahan kaum salibis adalah adanya persengketaan antara istana-istana dengan gereja atau antara raja dengan pihak Paus. Masing-masing berlomba mencari kuasa diantara sesama mereka. Sebab kedua, wujud kelas-kelas dalam masyarakat Eropa. Masing-masing mencoba meluaskan pengaruhnya. Dengan adanya sifat iri hati dan saling membenci ini menyebabkan semangat perjuangan di kalangan tentara Salib luntur. Sebab ketiga, munculnya tokoh-tokoh pejuang Islam yang tidak kenal menyerah seperti Imamuddin Zanki, Salahudin al-Ayyubi yang telah berhasil menyatukan ummat Islam. Sebab keempat, munculnya tentara Mongol yang dianggap oleh tentara Salib sebagai pemusnah tentara Islam. Padahal pada masa-masa berikutnya tentara Mongol masuk Islam dan melahirkan kekecewaan kaum salibis.

3. Peradaban Islam Era Perang Salib
Akibat dari perang berkepanjangan ini tidak hanya menyebabkan perubahan wajah peradaban di wilayah-wilayah Islam, juga demikian halnya dengan yang dialami pihak Kristen. Meski demikian, masih terdapat beberapa fakta yang bisa dikategorikan perkembangan peradaban.

a. Pengetahuan tentang negara Islam
Selama Perang Salib, ribuan orang Kristen tinggal di Syiria. Mereka bebas melakukan pelayaran dan tetap menjalin hubungan dengan negara asal mereka di Eropa. Seluruh pengetahuan ini mereka sampaikan ke negara mereka. Pengetahuan ini pula yang pada akhirnya membuka jalan penjajahan negara Eropa atas wilayah-wilayah Islam. Berawal dari Spanyol, setelah itu Asia Barat, hingga ke timur sampai Nusantara.

Salahuddin al-Ayyubi juga dikenal pelindung para cendekiawan dan telah membangun kembali Baitul Maqdis. Sebagai pelindung kaum cendekiawan, Salahuddin al-Ayyubi mendapat tempat istimewa di kalangan ahli geografi dan sarjana-sarjana modern. Diantara cendekiawan yang lahir masa Salahuddin al-Ayyubi adalah Muhammad al-Katib al-Isfahani, pendamping setia Salahuddin al-Ayyubi. Juga terdapat nama Baha al-Din bin Shaddad, yaitu hakim tentara Salahuddin al-Ayyubi di Baitul Maqdis. Ia juga sebagai sekretaris pribadi Sahalahuddin yang kemudian menjadi penulis biografi Shalahuddin. Ia banyak menulis tentang perkembangan-perkembangan pada jaman Salahuddin al-Ayyubi tapi sayang tulisan ini hilang.

Shalahudin juga mendukung pengembangan kajian teologi, membangun bendungan, menggali kanal, juga membangun sekolah dan masjid. Diantara bangunan dan monumennya yang masih bertahan hingga hari ini adalah Citadel di Kairo, yang dibangun bersamaan dengan benteng kota pada tahun 1183. Untuk pembangunan benteng itu, ia menggunakan batu-batu kecil dari komplek piramida.

Salahuddin al-Ayyubi juga dikenal penguasa sunni. Meski demikian, sama sekali ia tidak melakukan kekerasan pada kalangan Syiah. Tercatat hanya sekali Salahuddin al-Ayyubi menghukum mati seorang dari Persia yang tertangkap menyebarkan ajaran Gnosticisme. Konsep Gnosticisme ini membawa ajaran batiniyah yang dipengaruhi oleh ajaran Neo-Platonisme dan Neo-Pythagoreanisme dan juga ajaran Kristen.

b. Perdagangan
Perang Salib juga telah melahirkan jalur perdagangan baru. Para pedagang Eropa telah melakukan aktifitas perdagangan mereka. Mereka mendirikan pusat-pusat perdagangan seperti Akka, Sidon, Ladhikiyyah dan lain sebagainya. Dari pusat-pusat ini mereka mengeskpor barang dari timur menuju Eropa. Oleh karena itu perdagangan abad ke-12 di pantai Syiria dikuasai orang Eropa.

Pada awalnya perdagangan berpusat di kawasan Syiria sebagai pusat kekuasaan tentara salib. Setibanya pasukan Mongol di wilayah itu, aktifitas perdagangan pindah ke wilayah laut merah. Yaitu di Dimyat dan Iskandariyah (Mesir). Pemerintahan Mamluk sangat memuji keterlibatan pedagang luar karena telah memberikan keuntungan yang besar bagi kerajaan Mesir. Akibat dari hubungan perdagangan ini kerajaan Mamluk menjadi kaya raya. Sepanjang pemerintahannya selama abad 13-15 M banyak pembangunan telah dilakukan seperti di Kairo dan Iskandariyah.

c. Politik
Akibat nyata dari Perang Salib dalam bidang politik adalah timbulnya kesadaran pada mayoritas muslimin untuk bersatu mempertahankan kehormatan agama Islam dan Daulah Islam. Meski persatuan ini sebenarnya karena keberadaan beberapa tokoh utama seperti Imam al-Din Zanki, Nuruddin Mahmud dan Salahuddin al-Ayyubi. Juga bisa dimasukkan disini kekuatan kerajaan Mamluk di Mesir yang berhasil menghalau Mongol di Ain Jalut yang juga berarti mempertahankan politik dan peradaban Muslim.

Efek politik yang juga positif dari Perang Salib adalah melemahnya kekuatan Byzantin sebagai benteng utama Kristen. Kelemahan ini karena perebutan kekuasaan Kristen.

Kesan positif dari Perang Salib dapat dilihat dari sudut melemahkan kerajaan Byzantine. Kerajaan Byzantine merupakan benteng pertahanan yang kukuh bagi tentara Kristen selama berabad-abad lamanya. Walaupun pada akhirnya kerajaan Byzantine telah dapat dihidupkan kembali pada tahun 1261 M, tetapi keadaannya terlalu lemah untuk menandingi kekuatan baru Islam di bawah pimpinan kerajaan Turki Uthmaniyyah. Kerajaan Byzantine berakhir pada abad ke-15 M.

Adapun bagi Barat sendiri, dampak dari perang salib ini adalah :
Sejarah telah membuktikan bahwa Eropa Barat pada jaman pertengahan hingga abad ke-11 M masih dalam abad kegelapan. Sementara kaum muslimin sudah berperadaban maju. Dengan tercetusnya Perang Salib menyebabkan keadaan di Eropa Barat berubah menjadi lebih makmur dan maju. Dalam tempo Perang Salib selama 200 tahun itu orang Eropa telah mendapat kesempatan menimba ilmu pengetahuan dari orang-orang Islam. Seperti ketika Syiria dan Mesir diserang oleh tentara Salib, di Spanyol dan Sisilia berlaku kegiatan ilmiah seperti penulisan dan penterjemahan

Bidang sosial politik, di Eropa yang paling mencolok adalah lahirnya golongan feodal dan pedagang. Golongan feodal berusaha meluaskan kawasan tanah dan wilayah kekuasaan mereka. Golongan saudagar juga berlomba-lomba mencari barang-barang perdagangan dan pasar serta membuat berbagai urusan dan perjanjian perdagangan termasuk dengan negara-negara Islam.

Bidang ekonomi, akibat Perang Salib juga menyebabkan munculnya sistem pajak dalam bentuk baru yang menggantikan sistem lama yang dilakukan oleh golongan feodal. Louis VII adalah yang pertama kali memperkenalkan sistem pajak baru ini. Tujuannya untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk mengganti biaya perang selama Perang Salib kedua. Dengan nama Perang Salib juga Richard the Lion Heart mengenakan pajak satu persepuluh kepada tokoh-tokoh agama. Pajak ini dikenal dengan istilah Salahuddin Tithe. Jelaslah bahwa perang salib membawa implikasi ke arah perubahan sistem ekonomi di Eropa. Dan ini merupakan awal lahirnya perpajakan modern.

Dalam bidang agama, golongan Paus adalah penggagas dilaksanakannya perang salib. Oleh karenanya, Perang Salib tidak hanya mengalahkan umat Islam dan merebut Baitul Maqdis tapi juga dalam rangka untuk menyebarkan agama Kristen di wilayah-wilayah Islam. Pada awal abad 13 penyebaran agama Kristen berubah arah dari cara kekerasan menjadi cara diplomasi dengan mengirim para penginjil ke negara-negara Islam. Para penginjil ini untuk melancarkan aksinya mempelajari bahasa Arab dan bahasa-bahasa Persi. Maka pada tahun 1311 M mereka telah mendirikan enam buah institut bahasa untuk belajar bahasa-bahasa Timur Tengah. Cara diplomasi ini digunakan karena mereka menyadari kekalahannya dalam Perang Salib. Meskipun gerakan ini gagal mempengaruhi orang Islam dan Mongol yang pada akhirnya memeluk Islam, tetapi mereka berhasil mendapatkan banyak penganut dari agama Budha dan yang lainnya.

Dalam bidang pengetahuan geografi, walaupun tentara salib gagal dalam Perang Salib tapi mereka mendapatkan pengetahuan geografi tentang negeri-negeri Islam. Pengetahuan geografi itu pula yang telah menunjukkan mereka peta-peta negara-negara Islam selama berlangsungnya Perang Salib. Pengetahuan geografis ini tidak hanya menunjukkan rute-rute yang bisa dilalui tapi juga bentuk bumi, gunung-gunung, sungai, cuaca dan lain sebagainya. Pada waktu berikutnya, pengetahuan geografis digunakan untuk misi penginjil.

B. DINASTI ILKHANIYYAH
“Kemana kalian akan melarikan diri tak ada tempat tuk lari
Sebab darat dan laut semuanya ada di telapak kami
Singa-singa bertekuk lutut di hadapan kekuatan dan kekuasaan kami
Sedangkan raja-raja dan khalifah kini merunduk rendah di kaki kami”
Hulagu Khan

1. Lahir dan Perkembangan Dinasti Ilkhaniyyah
Sebelum menyerang Baghdad, Dinasti Mongol terlebih dahulu berhasil menguasai beberapa daerah Muslim. Masa penaklukan dimulai tahun 1215 M. Dengan menguasai Peking (Beijing China). Tahun 1220 M, menyerang Dinasti Khawarizm di Bukhara. Penaklukan berlanjut ke Qinji, Nisabur, Mazindaran, Ray, Hamadan, Zinjan, Qazwin, Azerbaijan, Tibriz dan Herat.

Tidak kurang dari 1.747.000 orang tewas di Nisabur. Di Herat lebih dari 1.600.000 orang tewas.

Penyerangan Hulagu Khan atas Baghdad adalah salah satu bukti betapa bahayanya sifat munafik dalam diri seorang muslim. Kemunafikan akan membahayakan tidak hanya dirinya sendiri, bahkan, jika perlu agama mereka jadikan topeng untuk meraih apa yang mereka ambisikan. Kisah hancurnya Baghdad sebagai pusat peradaban Islam seperti kisah bunuh diri yang dilakukan tanpa sadar oleh pelakunya. Runtuhnya Dinasti Abbasiyah di Baghdad, bukti kongkrit uraian tersebut.

Pada masa Khalifah Al-Mu’tashim, khalifah terakhir Abbasiyah Baghdad terus digoncang dengan pemberontakan-pemberontakan.

Diantara pihak yang memberontak dan terus merongrong keberadaan Dinasti Abbasiyah adalah kelompok Alawiyyin yang merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua. Disamping itu kelompok ini merasa lebih berhak menjadi khalifah karena merekalah keturunan keluarga Nabi saw.

Al-‘Alqami, wazir Khalifah Al-Mu’tashim dari kelompok Alawiyyin Syi’ah terus menerus mencari peluang untuk menjungkalkan dinasti Abbasiyah dan berusaha sekuat mungkin agar tampuk khilafah berpindah ke tangan Alawiyyin. Utusan rahasia berlangsung antara dirinya dan orang-orang Tartar (Mongol). Sedangkan Khalifah Al-Mu’tashim tenggelam dalam kelezatan hidupnya tanpa mampu membaca kondisi yang sedang berkembang. Sehingga dia pun tidak berusaha memperbaiki kehidupan negeri yang mulai carut marut.

Menterinya yang jahat tersebut selalu memberi nasihat kepadanya agar jumlah tentara yang ada segera diperkecil. Dia juga menasehati khalifah agar selalu bersikap baik kepada orang Tartar, sebab dengan begitu semua yang diinginkan akan mudah tercapai. Khalifah pun menuruti apa yang dinasehatkan menterinya tersebut.

Setelah itu sang menteri menulis surat kepada orang-orang Tartar dan dia mendorong mereka untuk segera melakukan penyerbuan ke pusat kekuasaan Islam itu. Dia memudahkan semua jalan penyerbuan dan meminta untuk menjadi “wakil” mereka di sana. Akhirnya orang Tartar itu menjanjikan kepadanya untuk segera datang menyerbu Baghdad.

Pada tahun 656 H / 1258 M, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. Khalifah Al-Mu’tashim, penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 – 1258), betul-betul tidak mampu membendung “topan” tentara Hulagu Khan. Pada saat kritis tersebut, wazir khalifah, al-‘Aqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. Ia mengatakan kepada khalifah, “Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. Hulagu Khan ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr, putra khalifah. Dengan demikian, Hulagu Khan akan menjamin posisimu. Ia tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan, sebagaimana kakek-kakekmu terhadap sultan Saljuk.

Khalfah menerima usul itu. Ia keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara, permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagi Hulagu Khan kepada para panglimanya. Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli Fiqh dan orang-orang terpandang. Tetapi sambutan Hulagu Khan sungguh diluar dugaan khalifah. Apa yang dikatakan wazirnya ternyata tidak benar. Mereka semua, termasuk wazir sendiri, dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran.

Sumber lain menyebutkan, adapun menteri dari Alawiyyin itu tidak diberikan jabatan oleh Hulagu Khan bahkan dihinakan seperti layaknya seorang pelayan.

Perang berkecamuk selama 40 hari. Korban yang jatuh saat itu lebih dari sejuta penduduk. Tidak ada yang selamat dari pembantaian itu kecuali orang yang bersembunyi di dalam sumur ataupun di kolong jembatan. Khalifah pun dibunuh dengan cara yang mengenaskan.

Kaitannya dengan perang Salib, disebutkan bahwa Hulagu Khan, panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. Tentara Mongol, setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam, ikut mmperbaiki Yerussalem.

Jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri Khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam. Karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan. Hulagu Khan inilah yang disebut sebagai pendiri dinasti Ilkhaniyyah.

Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun, sebelum melanjutkan ke Syiria, kemudian melintasi Sinai, Mesir. Pada tahun 1260 M mereka berhasil menduduki Nablus dan Gaza. Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir, meminta Sultan Qutuz yang menjadi raja Mamalik di sana menyerah. Permintaan itu ditolak oleh Qutuz, bahkan, utusan Kitbugha dibunuhnya.

Tindakan Qutuz ini menimbulkan kemarahan di kalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintasi Yordania menuju Galilie. Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamalik yang dipimpin langsung oleh Qutuz dan Baybars di ‘Ain Jalut. Pertempuran dahsyat terjadi, pasukan Mamalik berhasil menghancurkan Mongol, 3 September 1260 M.

Dari segi wilayah, kekaisaran Mongol pada masa Hulagu Khan menguasai wilayah Persia, Irak, Caucasus dan Anatolia dan menyandang gelar Il-Khan, yaitu warga atau bawahan Khan Agung.

Perjalanan kerajaan Ilkhaniyyah sarat dengan permusuhan dengan pihak luar kerajaan termasuk Mamluk yang berhasil mematahkan keyakinan umum tentang tak terkalahkannya Mongol. Penguasa-penguasa lain Mongol, seperti Horde Keemasan (Golden Horde) dan Chagatayiyyah, juga bermusuhan karena wilayah-wilayah yang diperselisihkan di Caucasus dan Iran timur-laut. Banyaknya pihak yang memusuhi Ilkhaniyyah telah melahirkan persekutuan komersial dan politis Mamluk dan Horde Keemasan, sedangkan Ilkhaniyyah mencoba bersekutu dengan penguasa-penguasa Kristen Eropa, dengan tentara Salib dari kota-kota pantai Levant dan dengan Armenia Cicilia. Istri Hulagu, Doquz Khatun, adalah seorang Kristen Nestorian, dan para penguasa Ilkhaniyyah awal sangat mendukung agama Kristen dan Buddhisme.
Secara kronologis, penguasa Dinasti Ilkhaniyyah adalah sebagai berikut :
654/1256 Hulegu (Hulagu)
663/1265 Abaqa
680/1282 Ahmad Tegunder (Takudar)
683/1284 Arghun
690/1291 Gaykhatu
694/1295 Baydu
6941295 Mahmud Ghazan
703/1304 Muhammad Khudabanda Oljeytu (Uljaytu)
717/1317 Abu Sa’id
736/1335 Arpa
736/1336 Musa

2. Peradaban Islam Era IlKhaniyyah
Meski demikian superior, negara Ilkhan tidak mengembangkan sebuah identitas kebahasaan atau identitas keagamaan yang baru di Timur Tengah. Berbeda dengan bangsa Arab, yang berhasil mengubah identitas kebahasaan dan keagamaan wilayah Timur Tengah, Bangsa Mongol justru terserap ke dalam Islam dan ke dalam kultur Persia. Sekalipun demikian mereka membawakan fase baru bagi kultur tersebut. Pada masa pemerintahan Ghazan, elite militer Mongol dan Turki telah berpindah ke agama Islam dan mengambil legitimasi kulturalnya dari tradisi Mongolian dan juga dari sumber-sumber kesastraan Iran. Berkat dukungan Mongol, penulisan sejarah berkembang subur, yang mencerminkan kepedulian Mongol terhadap nasib dunia ini. Karya Al-Juwaini (1226-1283) History of the World Conquerors memaparkan kisah Jengis Khan dan penaklukkan Iran. Seorang yang sezaman dengannya, Rasyid al-Din (1247-1318), seorang imuwan fisika dan seorang menteri, menulis karya Compendium of Histories, yang mengintegrasikan sejarah Bangsa Cina, India, Bangsa Eropa, Muslim dan sejarah Mongol ke dalam sebuah perspektif kosmopolitan mengenai nasib umat manusia. Rezim Ilkhan, sebagaimana pasukan penakluk Turki lainnya, telah bekerja keras membangun sejumlah bangunan makam yang monumental, dan melestarikan bentuk-bentuk arsitektural bangsa Iran terdahulu pada beberapa monumen di Tabriz, Sultaniyyah, dan Varamin. Yang paling terkenal di antara konstruksi rezim Ilkhan adalah bangunan makam Oljeytu (1304-1317) di Sultaniyah, dilengkapi dengan kubah besar di tengahnya yang melambangkan kemajuan teknik arsitektural tinggi di mana permukaan eksteriornya dihiasi dengan berbagai plester ubin, keramik dan batu-batuan warna-warni.

Pada masa Gazan (1295 – 1304), Ilkhaniyyah membangun kembali kota-kota, mengembangkan kembali irigasi, pertanian dan perdagangan. Khususnya, mereka membuka rute perdagangan Asia Tengah ke Cina.

Gazan Ilkhaniyyah benar-benar berusaha mengembangkan hubungan yang lebih seimbang antara kegiatan pertanian, penggembalaan dan semua sistem organisasi properti yang menjaga posisi penduduk petani dan penggembala. Ilkaniyyah mulai menetapkan pembagian Iran ke dalam dua dunia ekonomi dan kebudayaan, yakni desa yang menetap dan kemah yang berpindah-pindah.

Ibukota Ilkhaniyyah pada masa Gazan (1295 – 1304), Tabriz dan Maragha menjadi pusat-pusat ilmu pengetahuan, khususnya penulisan sejarah dan ilmu-ilmu kealaman. Setelah tahun 707 / 1307 Oljeytu merencanakan sebuah ibukota baru di Sulthaniyyah, dekat Qazwin ; seniman dan arsitek mendapatkan dorongan, dan tampillah gaya khas arsitektur Ilkhaniyyah. Sikap internasionalis Mongol, hubungan mereka dengan kultur-kultur yang berbeda seperti kultur Eropa Kristen dan Cina, membawa pengaruh segar intelektual, komersial dan seni ke dunia Persia, misalnya, koloni-koloni para pedagang Italia pun terlihat di Ibukota Tabriz, dan kekaisaran Ilkhaniyyah memainkan peranan penting sebagai penghubung dalam perdagangan dengan Timur Jauh dan India.

Kontribusi Mongol dalam menegakkan kembali kejayaan kerajaan Iran yang paling brilian terbukti dengan berkembangnya seni lukis dan seni ilustrasi manuskrip. Tabriz menjadi pusat bagi sebuah sekolahan yang tengah berkembang pesat saat itu. Beberapa tulisan sejarah karya Rashid al-Din terus-menerus di salin dan diilustrasikan. Demikian juga syair-syair epik dari karya Syah Name dan Life of Alexander, dan beberapa fabel dari karya Kalila wa Dimmah . Beberapa pengaruh Cina diperkenalkan oleh kaum pelancong dari kalangan administrator, tentara dan pedagang Mongol yang melintasi Asia Tengah dan oleh importasi sutra dan rempah-rempah Cina. Beberapa pengaruh Cina sangat menonjol pada penggambaran artistik panorama alam, burung, bunga-bungaan dan awan ; pada komposisi bidang lukis yang terikat pada bidang yang menyusut, dan pada cara-cara baru dalam mengelompokkan gambar-gambar manusia. Salah satu tipe dari gambaran manusia adalah bersifat aristokratik, yang digambarkan dengan wajah memanjang, tanpa bergerak, agaknya secara sepintas ia diibaratkan dengan sebuah gerakan kepala atau jari ; tipe kedua adalah gambaran yang bersifat karikatur dengan ungkapan yang sangat berlebihan perihal komedi dan kesengsaraan. Dengan demikian rezim Ilkhan melanjutkan aspek kosmopolitan kerajaan Iran yang dikukuhkan melalui konsep-konsep Mongol tentang otoritas dan keberuntungan politis.

C. DINASTI TIMURIYYAH
“Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam ini,
Maka di bumi seharusnya hanya ada seorang raja”
Timur Lenk

1. Berdirinya Dinasti Timuriyyah
Melihat “prestasi” pembantaian yang dilakukan Timur Lenk, tidak berlebihan jika Barat memandang Islam disebarkan melalui perang dan pertumpahan darah. Dalam sejarah Islam, Timurid menunjuk pada suatu dinasti yang berkuasa di seluruh daratan Persia dan Asia Tengah pada akhir abad ke-14 sampai abad ke-15. Dinasti ini dibangun dan diperintah oleh Timur Lenk dan keturunannya yang mengaku masih keturunan Jengis Khan, penguasa tertinggi Kerajaan Mongol Raya. Makamnya menunjukkan klaimnya sebagai keturunan atau cucu Jengis Khan (padahal sesungguhnya tidak).
Timur, Timuriyyah, Timurid adalah sebutan bagi Dinasti dari Asia Tengah pimpinan oleh Timur Lenk (Timur Lame), Timur-i-Leng, Timurlane (737-807 / 1336-1405) yang melakukan penaklukkan ke jantung dunia Islam. Dinasti ini berkembang seiring dengan melemahnya kekuatan pusat dinasti Mongol Raya di China.

Timur Lenk lahir pada tanggal 8 April tahun 1336 M / 25 Sya’ban 736 H , di kota Kish (Kesh, sekarang Khakhrisyabz “kota hijau” Uzbekistan), sebelah Selatan kota Samarkand, propinsi Transoksania. Julukan “Lenk” (Lame) dibelakang namanya yang berarti “pincang”, diberikan karena cacat pada salah satu kakinya akibat luka yang diderita ketika mencuri kambing.

Kehebatan Timur Lenk sudah terlihat sejak masih remaja yang sudah terlibat dalam barisan militer. Pada masa remaja ia masuk barisan militer Amir Husein dan menduduki tampuk pimpinan. Ia berhasil mengalahkan dan membunuh Tuglaq Timur Khan dan Ilyas yang telah menangkatnya menjadi wazir Dinasti Chaghatayi. Kemenangan ini membakar ambisinya untuk berkuasa lebih luas. Ia khianati Amir Husein dengan membunuhnya. Akhirnya pada 10 April 1370, di Balkan, Timur memproklamirkan diri sebagai pemimpin dan penguasa tunggal atas daerah kekuasaan Dinasti Chaghatayi sekaligus menandai berdirinya Dinasti Timurid, dengan Samarkand sebagai ibu kotanya.

Secara kronologis, perjalanan penaklukkan daerah-daerah oleh Timur Lenk adalah sebagai berikut :
Sepuluh tahun pertama kekuasaannya ditandai dengan menyerang Jata dan Khawarizm dengan sembilan ekspedisi. 1381, menaklukkan Khurasan-Iran. Kemudian menuju Herat, dilajutkan dengan menduduki negeri-negeri di Afghanistan, Persia, Fars dan Kurdistan. Seluruh wilayah ini ditandai dengan pembantaian penduduk. Di Sabwazar, Afghanistan Timur Lenk membuat menara dari 2000 mayat yang dibalut dengan tanah liat. Di Isfahan-Iran, Timur membantai 70.000 penduduk dan kepala-kepalanya dibuat menara.

Dari sana ekspansi berlanjut ke Irak, Syiria dan Anatolia (Turki). Tahun 1393, Timur menaklukkan dinasti Mudzaffari di Fars. Di tahun yang sama, Baghdad ditaklukkan. Kemudian invasi diarahkan ke Asia Kecil dengan menjarah kota Edessa, Takrit, Mardin dan Amid. Di Takrit ia bangun menara dari tengkorak manusia.

Tahun 1395 menyerbu Qipchak dan menduduki Moskow selama setahun. Berlanjut ke India dengan membantai lebih dari 80.000 penduduk. Tahun 1399 memerangi Sultan Bayazid I. dalam perjalanannya, ia menaklukkan Georgia dan mengubur hidup-hidup 4000 tentara Armenia.
Tahun 1401 masuk ke Syiria Utara. Selama tiga hari Aleppo dihancurkan dan 20.000 kepala penduduk dibuat piramida setinggi 10 hasta. Di sini, banyak bangunan peninggalan dinasti Ayyubiyah dihancurkan. Kemudian pasukan Mamalik kalah melawan Timur Lenk pada tahun 1401. Akibatnya masjid Umayyah yang bersejarah rusak berat. Penyerangan berlanjut kembali ke Baghdad. Terjadilah pembantaian 20.000 penduduk. Dan dibuatlah 120 piramida dari kepala mayat sebagai tanda kemenangan.

Penyerangan paling berarti menurut Timur Lenk adalah kalahnya Kerajaan Usmani dibawah Erthugrul di Sivas. Invasi berlanjut ke Broessa, ibukota lama Turki dan Smyrna. Setelah itu ia kembali ke Samarkand dan merencanakan serangan ke China, namun tidak kesampaian. Ia meninggal di tengah perjalanan tepatnya di Otrar. Ia meninggal pada 1404 M dalam usia 71 tahun. Jenazahnya dibawa ke Samarkand untuk dimakamkan dengan upacara kebesaran.

Memasuki abad ke-15, setelah berbagai penaklukkan dilaksanakan, wilayah kekuasaan Timurid terbentang luas mulai dari daratan anak benua India sampai daratan Anatolia, dan dari Transoksania sampai Irak dan Suriah. Kekuasaannya begitu besar dan diakui oleh beberapa kerajaan lain. Sultan Mamluk dari Mesir mengirimkan duta besarnya ke Samarkand sebagai tanda pengakuan atas kekuasaannya. Kaisar Byzantium, John VII, bahkan memberikan Georgia untuk daerah teritorial Timuriyyah. Duta besar lain yang datang ke Samarkand antara lain Ruy Gonzales de Clavijo yang dikirim oleh Raja Henry III, penguasa kerajaan Castile Spanyol, untuk maksud yang sama.

Perluasan wilayah ini terhenti ketika Timur Lenk wafat di kota Otrara, dalam perjalanan penyerangan ke China. Ia wafat pada 14 Januari 1404 dalam usia 71 tahun. Kematian ini mengingatkan kita pada serangkaian invasi militer dan pembantaian. Hancurnya pusat-pusat peradaban, rusaknya sarana prasarana kehidupan sosial ekonomi rakyat.
Namun di sisi lain, setiap Timur menghancurkan suatu daerah, sebetulnya ia segera memerintahkan untuk merehabiltasi dan membangun kembali kota tersebut.

a. Dinasti Timuriyyah pasca wafatnya Timur Lenk
Menjelang kematiannya Timur telah membagi wilayah Dinasti Timurid menjadi beberapa daerah kekuasaan kepada anak cucunya. Namun, karena ketidakjelasan sistem pergantian pimpinan, maka pembagian yang telah dilakukan Timur itu justru memicu terjadinya pertentangan dan perebutan kekuasaan diantara anggota keluarga. Meskipun demikian, Dinasti Timuriyyah masih dapat dipertahankan dengan tampilnya Jalaludin Miransyah dan Syakhrukh Mirza, anak ketiga dan keempat Timur, sebagai pemegang kendali pemerintahan. Miransyah menguasai wilayah Iran Barat, Irak, Azerbaijan dan Georgia, sedangkan Syakhrukh menguasai wilayah Timur yang meliputi Khurasan dan sebagain Transoksania.

Syakhrukh berhasil melebarkan wilayah kekuasaan sekaligus menyatukan kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai ayahnya kecuali Arabistan dan Suriah. Ia juga berhasil meletakkan dasar kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Herat menjadi pusat peradaban dan pemerintahan. Kegiatan ekonomi dan ilmiah berkembang pesat.

Syakhrukh juga mampu memadamkan pemberontakan-pemberontakan di jamannya. Masanya berakhir pada 1447, ia meninggal di Fisyaward (sekarang Pesawar-Iran-pen) propinsi Rayy.

b. Melemahnya Kekuasaan Politik Timuriyyah
Sepeninggal Syakhrukh, tanda-tanda kemunduran Dinasti Timurid mulai tampak. Ulugh Beg putra Syakhrukh, sebagai pengganti tidak memiliki kemampuan dan kecakapan untuk mengendalikan pemerintahan.

Namun ketidak mampuan Ulugh Beg dalam politik pemerintahan mendorong pemberontakan pangeran-pangeran yang berambisi meraih kekuasaan. Muhammad Juki, saudara Ulugh Beg, dibantu oleh Burag Oglan mengangkat senjata dan berhasil menduduki daerah Khojand. Saudaranya yang lain, Ala al-Daulah, berhasil menduduki Herat dan memproklamirkan sebagai penguasa yang independen. Wilayah Syiraz, Kabul dan Gazna jatuh ke tangan Sultan Abdullah. Babar Mirza yang menguasai daerah Judan dan Mazandaran juga memisahkan diri dan tidak mau mengakui kekusaan Ulugh Beg. Bahkan Gauhad Syad, janda Syakhrukh, merongrong kekuasaan Ulugh Beg dari dalam dengan mempromosikan Abdul Latif, putra Ulugh Beg untuk menduduki tahta kerajaan.

Ulugh Beg sendiri lebih suka mempromosikan adik Abdul Latif, Abdul Aziz. Maka ketika Ulugh terjepit di Balkh ketika mencoba menangani pemberontakan-pemberontakan yang terjadi, Abdul Latif berkhianat dan memberontak karena tidak puas dengan keputusan Ulugh Beg. Abdul Latif berhasil menguasai kota Balkh dan menghancurkan keuatan Ulugh Beg. Ulugh Beg sendiri meninggal pada 1449 setelah dieksekusi oleh Abdul Latif. Inilah awal pertikaian keluarga dan kehancuran Dinasti Timuriyyah.
Secara kronologis Dinasti Timuriyyah tercantum dibawah ini.
1. Penguasa Timuriyyah di Samarkand
1370 Timur Lenk
1405 Khalil
1447 Ulugh Beg
1449 Abdul Latif
1450 Abdullah Mirza
1451 Abu Said
1469 Ahmad
1494-1500 Mahmud bin Abu Said

2. Penguasa Timuriyyah di Khurasan
1449 Babur
1457 Mahmud bin Babur
1459 Abu Said
1469 Yadigar Muhammad
1470 Husein Bayqara
1506 Badi az-Zaman

c. Peradaban era Timuriyyah
Terkadang sesuatu yang benar dicapai dengan cara yang salah atau setidaknya kurang benar. Demikianlah yang dilakukan oleh Timur Lenk yang telah menorehkan sejarah Islam bersimbah darah. Kesan inilah yang paling kuat terjadi. Meski sebenarnya terdapat beberapa jasa Timur Lenk atas perkembangan dunia Islam.

Seperti pada bidang perluasan wilayah Islam, bagaimanapun, Timur Lenk juga berjasa pada perluasan wilayah Islam. Dinyatakan bahwa seluruh lapisan masyarakat mendukung sepak terjang Timur Lenk. Terutama kalangan ulama dan para pemimpin tarekat. Bahkan tidak jarang mereka menjadi penasehat pada setiap penyerangan yang dilakukan oleh Timur Lenk.

Sebagai muslim, Timur Lenk tetap memperhatikan pengembangan Islam. Bahkan dikatakan ia adalah seorang yang saleh. Konon, ia adalah penganut Syiah yang taat dan menyukai tasawuf tarekat Naqsabandiyah. Dalam perjalanannya, ia selalu membawa serta ulama-ulama, sastrawan dan seniman. Ulama dan ilmuwan dihormatinya. Ketika berusaha menaklukkan Syiria Utara, ia menerima dengan hormat sejarawah terkenal Ibnu Khaldun yang diutus Sultan Faraj untuk membicarakan perdamaian.

Tidak semua penyerangan yang dilakukan Timur Lenk didasarkan atas perluasan wilayah semata. Seperti halnya penaklukkan yang dilakukannya atas dinasti-dinasti muslim di India yang oleh Timur Lenk dinilai terlalu toleran dalam menerapkan ajaran-ajaran Islam. Meski demikian, tetap saja pembantaian menjadi ciri khas Timur Lenk. Setelah berhasil merebut kekuasaan kesultanan Delhi, Timur membunuh 80 ribu penduduk dan membuat menara dari tengkorak mereka.

Wilayah Islam pada masa Timuriyyah ini membentang dari Persia hingga Asia Tengah. Kekuasaan Timuriyyah dari segi luas wilayah menempati urutan ke-21 dalam daftar imperium terbesar. Luas wilayahnya mencapai 4.4 juta Km.2.

Timur memberikan perhatian untuk memajukan perdagangan dan industri dengan menjamin keamanan perjalanan, membangun pos-pos peristirahatan dan membuka rute-rute perdagangan baru, misalnya antara India dan Iran Timur, disamping memperlancar jalur perdagangan yang sudah ada. Maka tidaklah mengherankan jika Samarkand kemudian menjadi kota perdagangan internasional. Dalam bidang kesenian dan arsitektur, Timur juga dikenal telah memberikan perlindungan bagi ratusan seniman dan arsitek. Karena itu banyak bangunan di Samarkand. Kemajuan di bidang seni lukis dan kaligrafi juga merupakan fakta sejarah yang menunjukkan betapa besar kontribusi Timur dalam bidang tersebut.

Di masa Syakhrukh, ia tidak saja menghindarkan dinasti Timuriyyah dari perpecahan dan kebangkrutan tapi juga berhasil meletakkan dasar pengembangan peri kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Herat, sebagai pusat pemerintahan, telah berkembang menjadi pusat peradaban Islam. Ulama, seniman dan pedagang berdatangan untuk mendapatkan perlindungan sehingga baik kegiatan ilmiah maupun ekonomi berkembang dengan pesat. Syakhrukh membangun perpustakaan besar untuk mendorong kegiatan keilmuan. Padepokan tarekat, khanqah (pesantren) juga didirikannya sejalan dengan perkembangan aliran tarekat yang menjamur. Syakhrukh juga memberikan dukungan penuh kepada Nidamuddin Syami, Syarafuddin, Ali Yazdi, Fasihi, Abdul Razak dan Samarkandi untuk menulis karya monumental di bidang geografi.

Dengan kerajaan tetangga, Syakhrukh menjalin hubungan kerja sama yang baik. Pertukaran duta besar dengan kemaharajaan China. Beberapa dinasti di India juga mengirimkan duta besarnya ke Herat sebagai tanda pengakuan mereka terhadap kepemimpinan Syakhrukh.

Pengganti Syakhrukh yang juga putranya sendiri, Ulugh Beg, lebih tertarik pada keilmuan seperti astronomi dan keindahan kota. Sejak kecil sudah menguasai Qira’ah Sab’ah. Juga ahli sastra hingga banyak sastrawan yang menjadi temannya. Ia juga menulis sejarah buku penting tentang sejarah empat putra Jengis Khan.

Di masanya, Transoksania menjadi pusat arsitektur, falsafah muslim dan kemajuan ilmu pengetahuan, dan mendorong munculnya varian baru peradaban istana Iran-Islam. Monumen-monumen besar dibangun di Samarqand, Bukhara, Herat dan Balkh, termasuk kompleks makam Sah-i Zindah di Samarqand dan Mousoleum Timuri, Gur-i Mire, yang terkenal karena dekorasi tegel Turki yang berwarna biru dan kubah gorgorius-nya.

Dalam seni arsitektur ia bangun masjid Muqatta’ dengan interior dan dekorasi khas Cina serta sebuah perguruan tinggi dengan interior mosaik yang indah. Ia juga membangun sebuah observatorium yang pernah di klaim sebagai observatorium termegah dalam dunia Islam. Observatorium ini pula yang mampu dikembangkan Arab setelah pertengahan abad ke-13. Ketekunannya bersama ahli astronomi lain menghasilkan manual perhitungan perbintangan. Karya Ulugh Beg ini mendapatkan penghargaan yang luas di kalangan ilmuwan Eropa selama beberapa abad.

Observatorium ini pula yang membawa kemajuan ilmu perbintangan dalam berperan dalam penyusunan kembali sistem penanggalan, sekarang observatorium ini telah musnah.

Di masa Ahmad yang cukup lama (1469 – 1494), Samarkand relatif damai. Berbagai bangunan indah didirikan. Ulama dan seniman dari berbagai penjuru berdatangan, sehinga dinamika ilmu pengetahuan dan kesenian tumbuh subur.

Di sisi lain, Dinasti Timuriyyah Khurasan dan Persia juga mengalami perkembangan yang berarti. Di bawah kekuasaan Husein Bayqara (1470 – 1506), Herat sebagai ibu kota berkembang menjadi pusat kebudayaan Islam. Kesusastraan, terutama sastra Turki—Chaghatay, mendapat kesempatan untuk berkembang di bawah kepeloporan wazir Mir Ali Syir Nava’i dan al-Jami. Mir Ali Syir Nava’I (1441 – 1501) adalah seorang pengikut tarekat Naqsyabandiah yang sekaligus seorang pujangga besar dan ahli dalam bidang kesenian dan ilmu pengetahuan. Ia terkenal sebagai penerjemah literatur Persia ke dalam bahasa Chaghatay dan menjadikan bahasa ini bahasa utama bagi kultur Islam-Turki.

Ilmu pengetahuan dengan berbagai cabangnya juga mengalami kemajuan. Yang paling menonjol adalah kemjauan di bidang seni lukis dan kaligrafi. Berkat karya sastra antara lain Bihzad dan Syah Mudaffar, Dinasti Timuriyyah menawarkan trend baru di bidang seni lukis yang kemudian di sebut “Madzab Bihzad”, yang menawarkan harmoni lukisan pada totalitas dengan variasi bidang yang mencolok dan penggunaan warna yang tajam dan rumit.

KESIMPULAN

Dari paparan diatas dapat penulis tampilkan beberapa kesimpulan berikut ini :
1. Perang Salib, Dinasti Ilkhaniyyah dan Timuriyyah merupakan periode peperangan terbesar dalam sejarah dinasti-dinasti Islam. Hal ini melahirkan stigma aksiomatik bahwa Islam ditegakkan diatas pedang dan darah.
2. Keberhasilan Salahudin merebut kembali Al-Quds ternyata dalam perjalanan selanjutnya justru menjadi “jalur emas” bangkitnya semangat Yahudi yang dibuktikan dengan migrasi besar-besaran Yahudi dari Eropa ke Palestina.
3. Perang Salib, telah membuka jalan baru Missionaris Kristen.
4. Merujuk pada keberhasilan Salahudin al-Ayyubi merebut kembali Palestina dari Kristen perlu ditelaah lebih lanjut sikap Yahudi yang menikam Muslimin dari belakang setelah dipersilahkan kembali masuk ke Palestina oleh Salahudin al-Ayyubi.
5. Peradaban sebagai suatu yang nature akan terus berkembang dalam keadaan apapun. Sebab utamanya adalah keinginan manusia sebagai tuntutan untuk menjadikan hidup lebih bermakna dalam arti yang luas.
6. Dalam teori peradaban Ibnu Khaldun dikatakan bahwa pengulangan sejarah pasti terjadi meski dalam bentuk yang berbeda. Pertentangan peradaban Muslim-Kristen yang saat ini terjadi dalam segala versinya, khususnya perebutan wilayah Palestina merupakan contoh riil dari pandangan Ibnu Khaldun tersebut.
7. Dinasti Ilkhaniyyah dan Timuriyyah menyimbolkan akulturasi Islam-Mongol. Meski kedua dinasti memberikan torehan sejarah peradaban Islam yang penuh dengan merah darah.

Wallahu a’lam

Bibliografi
Abdulah, Taufik et, al., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta : Ichtiar Baru van Hoeve, 2002.
Bernard Lewis, Islam in History : Ideas, People, and Events in the Middle East, Chicago, Open Court, 1993.
Bosworth, C.E., Dinasti-dinasti Islam, Mizan, Bandung, 1993.
Dudung Abdurrahman et, al., Sejarah Peradaban Islam : dari Masa Klasik hingga Modern, Yogyakarta : LESFI, 2004.
Glasse, Cyrill, Ensiklopedi Islam (Ringkas), Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999.
Hitti, Philip K., History of The Arabs, terj. Jakarta, Serambi, 2006.

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_imperium_terbesar

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang¬_Salib_ketiga

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang¬_Salib_Pertama

Lapidus, Ira. M., A History of Islamic Societies, terj., Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1999.
Mahayudin Hj. Yahaya & Ahmad Jelani Halimi, Sejarah Islam, Selangor Darul Ehsan, Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd, 1995.
Morgan, David, The Mongols, Cambridge, Massachussets 02142 USA : Blackwell Publishers, 1993.
Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat : Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, Surabaya : Risalah Gusti, 1995.
Spuler, Bertold, The Mongol Period History of The Muslim World, Princeton : Markus Wiener Publishers, 1994.
Syafiq A. Mughni, Dinamika Intelektual Islam pada Abad Kegelapan, Surabaya, LPAM, 2002.
Thohir, Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004.
Ulwan, Abdullah Nasih, Shalahuddin al-Ayyubi ; Meniti Jalan Menuju Pembebasan Tanah Palestina, Studia Press, Jakarta, 2006.
Yatim, Dr. Badri, Sejarah Peradaban Islam : Dirasah Islamiyyah II, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s