ARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA DEPAN

Posted: Januari 27, 2010 in Filsafat
Tag:, , , , , ,

ARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA DEPAN

 

 

Pendidikan Islam kini sedang menghadapi tantangan yang semakin hari semakin berat dan nyata, terutama sejak berhadapan dengan berbagai fenomena yang muncul di kehidupan masyarakat, baik makro, mezzo maupun mikro. Dunia ini menyaksikan perubahan global yang hampir terjadi setiap detik. Pola-pola interaksi manusia telah dipengaruhi berbagai faktor yang secara tiba-tiba menghampiri dam  mempengaruhi kehidupan masyarakat dan melakukan perubahan di dalam struktur kehidupan mereka. Terlebih lagi, ketika peran teknologi komunikasi dan media masa menjadi semakin vital, maka perubahan itu semakin terlihat nyata di depan mata dan tidak bisa dihindarkan lagi dampaknya.

 

Berbagai peristiwa dengan mudah memasuki melalui media komunikasi, sadar atau tidak, kesemuanya telah membawa nilai tertentu pada suatu sistem yang berlaku yang sudah dianggap mapan, yang akibatnya kita akan menyaksikan akan terjadi benturan dan gesekan di antara sistem-sistem tersebut. Sebagai contoh, sebutlah ilmu pengetahuan, budaya, politik, agama, keluarga, anak, profesi dan sistem nilai yang berlaku.

 

Kebutuhan untuk memahami perubahan sosial tersebut kini benar-benar dirasakan oleh sebagian orang, termasuk di dalamnya tokoh-tokoh di bidang pendidikan. Saat ini sudah tampak gambaran paling menonjol dari kehidupan kontemporer atau lebih sering disebut (riu_aj@yahoo.com.sg) sebagai revolusioner perubahan sosial. Segala aspek kehidupan manusia dipengaruhinya, dan tidak ada satu pun yang luput olehnya.

 

Di tengah-tengah perubahan sosial yang revolusioner ini, pendidikan Islam harus mengambil posisi yang tepat dan efektif, terutama untuk mempertegas identitas dan karakter pendidikan Islam yang mampu mengantarkan transformasi sosial masyarakat muslim seiring dengan gelombang transformasi global tanpa meninggalkan sistem nilai normatif ajaran Islam. Sistem nilai tersebut sedemikian rupa diformulasikan kembali oleh sistem pendidikan Islam dengan mengutamakan semangat perubahan sosial kaum muslimin yang berpadu dengan geliat transformasi sosial-global yang tengah berlangsung. Hal ini membutuhkan orientasi baru pendidikan Islam. Orientasi tersebut harus berakar pada cita-cita ideal masyarakat sebagai umatan wasathan.  (riu_aj@yahoo.com.sg)

 

 

Munculnya perguruan tinggi Islam saat ini dinilai menjawab tantangan semua itu. Perguruan tinggi Islam didirikan untuk memberikan jawaban konkret terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus mengantarkan mereka memasuki dan (riu_aj@yahoo.com.sg) memahami perkembangan kehidupan zaman modern. Sebab sebuah masyarakat modern tidak ada artinya jika tanpa perguruan tinggi.

 

Adanya perguruan tinggi ini juga tidak bisa lepas dari tantangan yang menghadang keberlangsungannya. Di antara tantangan yang sedang menghadang di hadapan kita adalah masalah peningkatan kualitas pendidikan,  pengangguran yang semakin membengkak, kerusuhan sosial dan tingkat kriminal dalam masyarakat yang memperhatinkan. Semua itu menjadi fenomena sehari-hari yang dapat disaksikan melalui tayangan tv, sebut saja Patroli di Indosiar, Sidik di TPI, Sergap di RCTI, Buser di SCTV, Investigasi di trans7 dan masih banyak tv-tv lokal lainnya.

 

Melihat tayangan tv tersebut memunculkan keprihatinan dan pertanyaan tentang apa yang salah di negeri ini. Padahal setiap upacara di sekolah, para siswa selalu membacakan ‘wiridan’ Pancasila. Pengajian pun tidak kurang banyaknya. Hampir semua statiun tv menayangkan mimbar agama setiap pagi. Di sekolah, pendidikan agama termasuk mata pelajaran wajib yang harus diterima. Apakah ada yang salah dalam pendidikan kita? Bagaimana kualitas  pendidikan agama saat ini, dan bagaimana seharusnya bentuk pendidikan agama di masa depan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang berusaha dijawab dalam tulisan ini.

 

 

Fungsionalisasi Agama

 

Supaya agama bisa dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sosial, maka agama perlu difungsikan. Untuk itu, kurikulum pendidikan agama perlu direview dengan lebih menekankan pada proses pendidikannya. Lembaga pendidikan agama selama ini lebih merupakan proses pengajaran ketimbang dari proses pendidikan. Penelitian terbaru membuktikan, bahwa proses teaching yang saat ini masih dipraktekkan hanya mengisi aspek kognitif atau intelektual saja tanpa memperhatikan aspek pembentukan pribadi yang berkesinambungan. Pdhal yang diperlukan dalam teaching adalah bukan hanya sekedar pengisian (riu_aj@yahoo.com.sg) intelektual semata, tetapi juga pembentukan kepribadian dan watak dari anak didik.

 

Karena itulah, kurikulum pendidikan harus dirancang sedemikian rupa gr mampu menjawab tantangan kebudayaan yang timbul di masyarakat. Budaya bangsa kita, Indonesia, sampai saat ini masih dipengaruhi budaya verbalitas; merasa seolah-olah telah melakukan sesuatu, karena sudah mengatakan sesuatu. Agama diajarkan hanya untuk dihafal, bukan diamalkan. Setiap tahun dilaksanakan Musabaqah Tilawatil Qur’an, tapi tidak pernah terpikirkan untuk membuat perlombaan Musabaqoh Ta’milul Qur’an (Pengamalan al-Qur’an).  (riu_aj@yahoo.com.sg) Setiap tahun, ratusan muslim Indonesia melaksanakan ibadah haji ke tanah suci, Makkah,  tapi kasus penyelewengan dan korupsi seakan-akan tidak pernah berhenti di negeri ini, bahkan makin menjadi. Lalu gelar haji yang mereka dapatkan apakah tidak membekas di dalam kehidupan sehari-hari?

 

Pengamalan Pancasila begitu juga, sebagai dasar negara yang mengandung nilai-nilai luhur, setiap upacara dibacakan rami-ramai di sekolahan. Tapi sekali lagi, Pancasila hanya diajarkan untuk dihafalkan tidak untuk diamalkan. Tidak heran, jika negara yang tidak menganut Pancasila saja, mereka akan terlihat lebih Pancasilais dibanding dengan kita. Artinya, nilai-nilai kemanusiaannya bahkan (sering) lebih baik dari kita yang mempunyai dasar negara Pancasila. Satu penyebab yang diketahui adalah, kita masih berkutat pada budaya verbal.

 

Kedua pendidikan tersebut, baik Agama atau pun Pancasila, bisa dikatakan belum memberikan pengaruh yang berarti dalam pembentukan budi luhur anak didik kita. Semuanya masih bersifat lahiriyah belaka, belum merasuk pada tatanan batiniah, yaitu pembentukan budi pekerti bangsa. Padahal, Muhammad, sebagai tokoh panutan kita sering mengatakan, bahwa tujuan Agama adalah untuk membentuk (riu_aj@yahoo.com.sg) budi pekerti yang luhur.  انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق (Sesungguhnya, Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak atau budi pekerti.)

 

Melihat fenomena seperti itu, tentunya kita (memang) butuh sebuah terobosan dan mulai beraksi dengan terobosan tersebut. Bila ditinjau dari bahasa Arab, Terbosan dikenal dengan sebutan ibrah, yaitu melakukan penyeberangan sebagai solusi untuk keluar dari hal-hal yang hanya bersifat simbolis, tetapi hendaknya melanjutkan pada aspek batiniah atau kesalehan sosial yang bersifat maknawi. Sebagai contoh, seorang guru atau dosen dalam mengajarkan tentang bahaya narkoba tidak sekedar menyampaikan teks agama saja bahwa narkoba itu diharamkan oleh agama seperti diharamkannya khamar, tetapi harus jauh dari itu. Seorang guru atau dosen harus mampu mengembangkannya (riu_aj@yahoo.com.sg) dengan melihat dampaknya dari segi sosial budaya. Karena itu, seorang guru agama atau dosen harus memiliki wawasan yang luas mengenai suatu ilmu.

 

Selain itu, penekanan kurikulum pendidikan agama yang selama ini lebih ditengarai lebih fokus pada masalah ibadah madah (ritual) dibandingkan dengan gair madah (ibadah sosial). Padahal, dalam Islam juga diajarkan bahwa lebih banyak ayat yang berbicara tentang gair madah (ibadah sosial) dibandingkan ajaran ritual. Menurut (riu_aj@yahoo.com.sg) Ayatullah khumaini, perbandingan antara ayat-ayat ibadah sosial dengan ibadah ritual sama dengan seratus berbanding satu.[1]

 

 

Ajaran sosial Islam yang perlu diperkenalkan adalah ajaran agama tentang masyarakat pluralis, yakni dengan pembentukan pribadi yang inklusif dan menghargai perbedaan. Pendidikan agama seperti itulah yang perlu dikembangkan pada masa depan dalam rangka menciptakan masyarakat yang harmonis dan saling menghargai perbedaan. Untuk itu, ajaran sosial tersebut perlu dikembangkan lebih jauh dengan menekankan dalam pembelajaran.

 

 

Untuk lebih memudahkan dalam pengajaran agama tentang ajaran pluralis, berikut ini ada tiga aspek pengajaran (riu_aj@yahoo.com.sg) yang diajarkan dalam ajaran sosial islam:

 

Pertama, Ajaran Toleransi.

Bangsa Indonesia, seperti yang diketahui dari sejarah awal pembentukannya negara kesatuan Indonesia, merupakan bangsa yang pluralis, baik dari segi etnis, bahasa, suku dan agama. (riu_aj@yahoo.com.sg) Melihat betapa bermacam-macamnya bangsa ini, maka  ajaran toleransi perlu diperkenalkan pada anak didik. Pemahaman masyarakat plularis seperti ini merupakan hal penting bagi masa depan mereka. Apalagi saat ini, ketika perdagangan bebas sudah dimulai, antara negara satu dengan negara lainnya, antara benua satu dengan benua lain sudah tidak ada lagi jarak sebagai kemajuan teknologi. Ketika jarak sudah tidak lagi menjadi masalah, maka yang harus diperkuat adalah ketahanan dari masing-masing negara untuk menerima masuknya gempuran negara asing.

 

 

Masyarakat pluralis berbeda degan masyarakat sinkretis. Masyarakat pluralis adalah masyarakat  (riu_aj@yahoo.com.sg) yang saling menghormati pelaksanaan ritual keagamaan masing-masing agama, tapi untuk kemajuan bersama, masyarakat pluralis sangat mampu bekerja sama dalam memikirkan pembangunan dan pembinaan masyarakat ke arah yang lebih baik, positif, damai dan sejahtera. Masyarakat inilah yang disebut dengan masyarakat Madani. Al-Qur’an mengajarkan, tidak ada halangan untuk membangun hubungan sosial antara umat yang berbeda agama. Hal ini sesuai dengan QS. Al-Mumtahanah (60) : 8-9 :

w â/ä38yg÷Ytƒ ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNs9 öNä.qè=ÏG»s)ム’Îû ÈûïÏd‰9$# óOs9ur /ä.qã_̍øƒä† `ÏiB öNä.̍»tƒÏŠ br& óOèdr•Žy9s? (#þqäÜÅ¡ø)è?ur öNÍköŽs9Î) 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tûüÏÜÅ¡ø)ßJø9$# ÇÑÈ $yJ¯RÎ) ãNä39pk÷]tƒ ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNä.qè=tG»s% ’Îû ÈûïÏd‰9$# Oà2qã_t÷zr&ur `ÏiB öNä.̍»tƒÏŠ (#rãyg»sßur #’n?tã öNä3Å_#t÷zÎ) br& öNèdöq©9uqs? 4 `tBur öNçl°;uqtFtƒ šÍ´¯»s9′ré’sù ãNèd tbqßJÎ=»©à9$# ÇÒÈ

8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu (riu_aj@yahoo.com.sg) Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

9. Sesungguhnya Allah Hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu Karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

 

 

 

Kedua, Sifat Inklusif.

Islam merupakan kepercayaan yang open-minded, inklusif, bukan ideologi politik yang intoleran, juga bukan agama yang memaksa manusia untuk memeluknya. Dengan jelas, Alquran (riu_aj@yahoo.com.sg) menyebutkan, “Tidak ada paksaan dalam agama” (Albaqarah:256). Di sisi lain, Islam menampakkan diri sebagai gerakan yang menekankan pentingnya kehidupan sosial, lebih dari pada kehidupan kolektif. Artinya, titik berat pada kehidupan pribadi yang bertanggung jawab dan bukan perorangan yang terikat semata pada primordialitas.

 

 

Ajaran tentang nilai-nilai universal dalam Islam tidak akan mengendurkan hubungan yang suci dalam tubuh umat Islam. Sebaliknya, ada dua ketentuan yang memerintahkan supaya umat Islam senantiasa memelihara kolektivitas organik yang menonjol. Orang Islam (riu_aj@yahoo.com.sg) berkewajiban untuk hidup sebagai umat yang bersatu dan tidak terpecah, berpegang kepada cita-cita luhur di bawah petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Doktrin tentang kesatuan eksistensial yang timbul dari tauhid menempatkan tiap hal dalam tingkatannya dan perspektif susunan universal yang menyeluruh. Keseluruhan umat manusia merupakan bagian dari keharmonisan global.[2]

 

 

Semakin maju suatu masyarakat maka akan semakin tidak mungkin untuk menutup diri negara lain. Dalam ajaran (riu_aj@yahoo.com.sg) Islam, memang terdapat ajaran sabat (tetap) yang bersifat eksklusif, seperti masalah ibadah madah dan akidah. Tetapi, Islam juga mengenal ajaran tatawwur (berkembang) yang bersifat inklusif, seperti dalam masalah sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan. Islam tidak mempersoalkan pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan kepada siapa pun. Nabi sendiri menyuruh belajar sampai ke negeri China yang ketika itu sudah mengalami kemajuan dalam bidang kebudayaan. Kemajuan Islam pada masa klasik, terutama pada masa pemerintahan Abbaisiyah, justru karena keberaniannya untuk membuka diri kepada peradaban Yunani yang telah maju masa itu. Hal itu hanya bisa dilakukan, jika kita bersikap inklusif.

 

 

Ketiga, Menghargai Perbedaan. Anak didik sejak awal sudah harus memahami bahwa perbedaan merupakan Sunatullah manusia tidak mungkin sama, baik dalam fisik, pemikiran, atau pun tabiat. Orang yang menginginkan agar semua Manusia sama dalam pemikiran dan agama berarti ia telah menginginkan sesuatu yang impossible. Perbedaan-perbedaan yang terdapat pada manusia hendaknya diterima sebagai karunia Allah untuk saling kenal dan sharing pengalaman, sebagai firmannya QS al-Hujurat (49):13.

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ

13.  Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan (riu_aj@yahoo.com.sg) menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

 

 

 

Sikap menghargai perbedaan itu, haruslah lebih dahulu ditanamkan kepada intern umat bergama. Sebab dalam masalah intern umat justru juga terjadi kelompok-kelompok yang satu sama lainnya berbeda. Mahasiswa perlu memahami bahwa Islam adalah agama yang multi tafsir. Seandainya Allah menghendaki hanya satu pendapat (riu_aj@yahoo.com.sg) yang benar, niscaya dia menurunkan al-Qur’an dalam bentuk nas yang semuanya muhkamat, sehingga tidak menimbulkan perbedaan penafsiran. Tetapi, Allah menurunkan nas al-Qur’an ada yang secara muhkamat dan ada yang mutasyabihat; qath’iy (pasti), dan zanniy (belumpasti); sarih (jelas) dan mu’awwal (interpretable). Bagian-bagian interpretable memungkinkan manusia untuk menggunakan segala daya ruhaninya dalam melakukan ijtihad. Sebagai contoh, akan kemukakan satu ayat interpletable dalam al-maidah (5): 6,

tPöqu‹ø9$# ¨@Ïmé& ãNä3s9 àM»t6Íh‹©Ü9$# ( ãP$yèsÛur tûïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# @@Ïm ö/ä3©9 öNä3ãB$yèsÛur @@Ïm öNçl°; ( àM»oY|ÁósçRùQ$#ur z`ÏB ÏM»oYÏB÷sßJø9$# àM»oY|ÁósçRùQ$#ur z`ÏB tûïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# `ÏB öNä3Î=ö6s% !#sŒÎ) £`èdqßJçF÷s?#uä £`èdu‘qã_é& tûüÏYÅÁøtèC uŽöxî tûüÅsÏÿ»|¡ãB Ÿwur ü“É‹Ï‚­GãB 5b#y‰÷{r& 3 `tBur öàÿõ3tƒ Ç`»uKƒM}$$Î/ ô‰s)sù xÝÎ6ym ¼ã&é#yJtã uqèdur ’Îû ÍotÅzFy$# z`ÏB z`ƒÎŽÅ£»sƒø:$# ÇÎÈ $pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% ’n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr öNä3tƒÏ‰÷ƒr&ur ’n<Î) È,Ïù#tyJø9$# (#qßs|¡øB$#ur öNä3řrâäãÎ/ öNà6n=ã_ö‘r&ur ’n<Î) Èû÷üt6÷ès3ø9$# 4 bÎ)ur öNçGZä. $Y6ãZã_ (#r㍣g©Û$$sù 4 bÎ)ur NçGYä. #ÓyÌó£D ÷rr& 4’n?tã @xÿy™ ÷rr& uä!%y` Ӊtnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãMçGó¡yJ»s9 uä!$|¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y6ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNà6Ïdqã_âqÎ/ Nä3ƒÏ‰÷ƒr&ur çm÷YÏiB 4 $tB ߉ƒÌãƒ ª!$# Ÿ@yèôfuŠÏ9 Nà6ø‹n=tæ ô`ÏiB 8ltym `Å3»s9ur ߉ƒÌãƒ öNä.tÎdgsÜãŠÏ9 §NÏGãŠÏ9ur ¼çmtGyJ÷èÏR öNä3ø‹n=tæ öNà6¯=yès9 šcrãä3ô±n@ ÇÏÈ

5.  Pada hari Ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan[3] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga keh(riu_aj@yahoo.com.sg) ormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.

6.  Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit[4] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[5] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

 

 

 

Apakah huruf “ila” pada ayat, “ila al-marfiq dan “ila al-ka’baiyn” berarti ‘sampai dengan’, atau ‘sampai?‘ apakah huruf ‘ba’ pada ‘bi ru’usikum’ berati ‘seluruh’ atau ‘sebagian’. Apakah yang dimaksud dengan ‘auw la mastum al-nisa’’ yang dimaksud apakah se(riu_aj@yahoo.com.sg)ntuhan kulit atau hubungan seksual? Apakah yang dimaksud dengan ‘tanah’ dan benda-benda sejenis lainnya. Apa yang dimaksud ‘falam tajidu ma’an’ apakah tidak ada air sama sekali atau ada air tetapi hanya cukup untuk minum atau memasak.

 

 

Al-Qordawi memberikan komentar tentang ayat di atas, bahwa baru satu ayat saja telah menimbulkan beberapa pemahaman dan penafsiran yang berbeda-beda. Dan semua itu hanya  bersumber dari faktor bahasa.

 

 

Setiap penafsiran terhadap ayat yang dijadikan contoh di atas mengandung kebenaran, sekalipun tetap (riu_aj@yahoo.com.sg)bersifat nisbi. Dalam arti, bahwa ulama lain bisa berpendapat lain yang juga mengandung kebenaran. Karena itu, perbedaan jangan dijadikan pertentangan. Haruslah diberikan Perbedaan adalah rahmat untuk membuat kita bisa berfikir lebih dinamis.

 

 

Ketiga, Perbaikan kualitas.

Selain dari dua apek ajaran sosial di atas, harus ada perbaikan kualitas alumni. Peningkatan kualitas ini adalah dengan memperbaiki seluruh proses penyelenggaraan pendidikan; mulai dari rekrutmen input, perbaikan proses dalam pelayanan dalam p(riu_aj@yahoo.com.sg)embelajaran, kelengkapan saran dan prasarana, sampai kepada proses output.

 

 

Era abad 21 adalah era kompetisi. Sebuah perguruan yang kalah bersaing dalam kualitas akan menjadi tidak diminati oleh calon mhasiswa. Apalagi memasuki era AFTA, perguruan tinggi luar negeri akan membanjiri negeri kita dengan leluasa tanpa ada cara lagi untuk menolaknya. Jadi tidak ada cara lain yang harus ditemp(riu_aj@yahoo.com.sg)uh selain meningkatkan kualitas SDM untuk bisa bersaing dan berkompetisi. Era ini adalah era kompetitip, siapa yang tidak bisa bersiang akan mengalami gulung tikar. Maka agaknya kita harus memilih dari dua alternatif, “tingkatkan kualitas atau gulung tikar.”

 

 

Sebagai penutup, tantangan pendidikan agama di masa depan semakin kompleks sejalan dengan perkembangan masyarakat. Karena itulah, pengelolaan perguruan tinggi agama dituntut lebih well in formed dalam menjawab persoalan masyarakat yang semakin kompleks itu dengan mencintakan anak didik yan(riu_aj@yahoo.com.sg)g lebih toleran, inklusif, menghargai perbedaan, dan mampu berkompetisi. Saya ucapkan selamat atas rencana IAIN Sunan Ampel Surabaya yang tahun ini yang akan merubah institusi dari institut menjadi sebuah universitas. Semoga perubahan ini mampu menjawab dari perkembangan zaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Abudin nata, metodologi studi Islam (Jakarta : Rajawali pers, 1998) 40-41

[2] Said Aqiel Siradj, “Meneguhkan Islam Toleran” dalam http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=CAVVVwlZVQcJ diakses pada 12 januri 2010.

[3] ada yang mengatakan wanita-wanita yang merdeka.

[4] Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.

[5] artinya: menyentuh. menurut Jumhur ialah: menyentuh sedang sebagian Mufassirin ialah: menyetubuhi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s