:: ISLAM DI AFRIKA UTARA DAN SPANYOL ::

Posted: Januari 27, 2010 in Sejarah Peradabn Islam
Tag:, ,

AFRIKA UTARA DAN SPANYOL

MASA MULUK AL TAWAIF  MURABBITUN , MUWAHHIDUN,

BANI AHMAR DAN KEMUNDURAN ISLAM DI SPANYOL

A. Pendahuluan

Afrika Utara merupakan pintu gerbang penyebaran Islam ke Eropa. Dari Afrika Utara lalu ke Spanyol yang termasuk benua Eropa. Penyebaran Islam ke Afrika Utara sudah dimulai sejak khulafaurrasyidin, yaitu pada masa Umar bin Khattab. Pada tahun 640 M Panglima Amr bin Ash berhasil memasuki Mesir. Kemudian pada khalifah Uthman bin Affan penyebaran Islam meluas ke Barqah dan Tripoli. Tapi penaklukan atas kedua kota tersebut tidak berlangsung lama karena Gubernur Romawi berhasil merebut ke dua itu kembali. Karena Gubernur Romawi ini kejam  dan memeras rakyat sehingga rakyat ( penduduk ) meminta bantuan kepada orang – orang Islam. Permintaan itu disanggupi oleh khlalifah Uthman bin Affan. Namun bantuan itu baru bisa terealisasi pada pemerintahan Bani Umayyah yaitu pada masa Muawiyah bin Abi Sufyan[1].Muawiyah bin Abi Sufyan mempercayakan tugas itu pada panglimanya yang bernama Uqbah ibn Nafi al Fihri [2]. Dan Uqbah ibn Nafi al Fihri berhasil menekan suku barbar dan menghalau pasukan Romawi dari daerah tersebut. Mulai sejak itu Afrika Utara dikuasia oleh Bani Umayyah lalu Bani Abbas, Rustamiyah, Idrisiyah, Aglabiyah, Ziridiyah, Hammadiyah kemudian Murabithun dan Muwahhidun[3].

Pada pembahasan kali ini kami akan membahas  dinasti Murabithun dan Muwahhidun  serta Bani Ahmar. Dinasti tersebut mempunyai wilayah yang luas dan memberikan sumbangan yang tak sedikit bagi pengetahuan dan perkembangan Islam dan kelak mampu menguasai Spanyol dimana saat itu Spanyol sedang dalam perpecahan dan dikuasai oleh raja – raja kecil  ( Muluk Al Tawaif ) yang beragama Islam tapi membayar upeti kepada kerajaan Kristen yang didukung oleh Romawi. Meskipun nanti pada akhirnya Spanyol lepas dari kekuasaan pemerintahan Islam dan diporak porandakan oleh pasukan Kristen

B. Muluk Al Tawaif ( Raja – Raja Kecil )

Setelah kekhalifahan Umayyah berkhir di Spanyol, muncullah negara-negera kecil yang terus – menerus betikai dalam perang saudara, kemudian mereka dikalahkan  oleh dua dinasti Barbar dari Maroko, dan sebagian lagi negara-negara kecil menyerah pada kekuasaan Kristen yang tengah bangkit di utara.

Sebelum riwayat dinasti Umayyah hilang dari Spanyol muncullah penguasa-penguasa baru diantaranya :

1. Bani Hamudiyyah yang memproklamirkan sebagai penguasa yang berkuasa di Malaga dan Algeciras antara tahun 1010 – 1057. Pendirinya adalah ‘Ali ibn Hammid tahun 1016 – 1018[4], yang dari namanya ia menghubungkan garis keturunannya kepada menantu Rasulullah   ( ‘Ali bin Abi Tholib ), tetapi ia sendiri sebenarnya keturunan Barbar. Sebelumnya ‘Ali ibn Hamid menjabat sebagai gubernur Ceuta dan Tangier sampai akhirnya ia memproklamirkan sebagai khlaifah di Kordoba. Ia juga menaklukan Malaga dan Algeciras. Dinasti ini bertahan sampai delapan keturunan sampai tahun 1057. Sebelum akhirnya direbut kembali oleh Hisyam III alias al-Mu’tamad dari dinasti Umayyah. Tapi dinasti ini tidak bertahan lama dalam situasi yang kacau, pada akhirnya dibentuklah dewan yang diketuai oleh Abu Hazm ibn Jahwar yang menghapus kekhalifahan Umayyah di Spanyol.

2. Dinasti ‘Abbadiyyah, dinasti ini didirikan oleh Muhammad ibn Abbad 1023 – 1042, yang berkuasa di Seville, kemudian kekuasaannya meluas sampai ke Toledo. Pada masa raja Mu’tamid  dinasti ‘Abbadiyyah meminta bantuan kepada penguasa Murabithun di Maroko untuk menghadapi pasukan Kristen ( pasukan Al Fonso VI ) di Spanyol. Tapi sayang setelah pasukan Murabithun berhasil mengalahkan pasukan AlFonso VI, tak lama kemudian malah menyerang dan menguasai dinasti ‘Abbadiyyah, maka berakhirlah dinasti ‘Abadiyyah di tangan sekutunya sendiri pada tahun 1091.

3. Afthasiyyah atau Banu Maslama, dinasti ini didirikan oleh Abdullah Al-Mansyur tahun 1022 – 1045 yang berkuasa di Badajos. Pada pemerintahan yang ke 3 yaitu masa Umar Al-Mutawakkil 1068 – 1094 bersedia bekerja sama dengan orang Kristen ( pasukan Al Fonso IV ) dengan menyerahkan daerahnya yaitu Leon dan Castile  untuk menyerang dan menaklukan kerajaan Islam lainnya yaitu Al-Murawiyyah. Sungguh menyedihkan sesama dinasti Islam tidak bersatu malah bekerja sama dengan Kristen untuk menguasai dinasti Islam lainnya.

4. Jahwariyyah, dinasti ini didirikan oleh Jahwar tahun 1031 – 1041 yang berkuasa di Cordoba, dinasti ini bertahan sampai 1069 dengan penguasanya yang terakhir  Abdul Malik.

5. Dzun Nuniyyah, didirikan oleh Abdur Rahman ibn Dzin Nun dengan wilayah kekuasaan di Toledo tahun 1028 , dinasti ini bertahan sampai tahun 1085 dengan raja terakhir Yahya Al-Qadir 1085  setelah ditalukkan oleh pasukan AlFonso VI.

6. ‘Amiriyyah di Valencia 1021 – 1096, didirikan oleh Abdul Aziz Al-Mansyur 1021- 1061. Dinasti dipimpin sampai enam generasi sampai akhirnya ditaklukan pada masa Al Qadhi’ Ja’far tahun 1096 oleh Al Murawiyyah.

Itulah sebagian di antara kerajaan – kerajaan kecil di Spanyol yang saling berperang sesama kerajaan Islam yang akhirnya mereka ditumpas oleh pasukan Kristen atau oleh pasukan lain dari luar Spanyol, seperti Murabithun yang datang ke Spanyol atas undangan raja ‘Abadiyyah, yang akhirnya menguasai sebagian besar wilayah Spanyol.

C. Al Murabithun 1056 – 1147

Dinasti Murabithun pada awalnya adalah sebuah kegiatan militer keagamaan yang didirikan pada abad 11. Murabithun ( ribath ) sejenis benteng pertahanan Islam yang berada di sekitar masjid. Masjid  mempunyai doble fungsi sebagai tempat ibadah, penyebaran da’wah sekaligus sebagai benteng pertahanan. Anggota pertamnya berasal Lumtunah bagian dari suku Sanhaji yang suka mengembara di padang Sahara[5]. Salah satu kebiasaan mereka menggunakan cadar yang menutupi wajah di bawah mata, kebiasaan ini dinamakan Mulatstsamun ( para pemakai cadar ) yang kadang – kadang menjadi sebutan lain bagi kaum Murabithun.

Kaum Murabithun  berasal dari sebuah pulau di Senegal, sebagai mana kebiasaan orang Barbar yang hidupnya nomaden, mereka memperluaskan kekuasaannya dengan menaklukan suku satu persatu dan memaksanya untuk mengikuti atau memeluk agama Islam. Pada awalnya gerakan Murabithun adalah untuk da’wah Islam yaitu meningkatkan pengetahuan mereka tentang agama Islam yang dipimpin Abdullah bin Yasin ulama besar yang diminta oleh Yahya ibn Ibrahim seorang tokoh suku Sanhaji untuk berda’wah di suku mereka. Setelah Abdullah bin Yasin meninggal da’wahnya dilanjutkan oleh Abu Bakar, kemudian Yusuf ibn Tasfin. Dibawah pimpinan  Yusuf ibn Tasfin gerakan Murbithun menjadi besar dan menjadi sebuah dinasti. Pada  1061 Yusuf ibn Tasfin menguasai Maroko, pada tahun 1062 Yusuf ibn Tasfin mendirikan Marakesh sebagai ibu kota kerajaan. Meskipun Murabithun telah menjadi sebuah dinasti yang memakai gelar amirul muslimin, tetapi dalam urusan spiritual mereka tetap mengakui otoritas Khalifah Abasiyah di Bagdad[6]. Koin dinar yang dipakai didepan mencantumkan gelar amirul muslimin dan di belakang mencantumkan amirul mu’minin.

Dinasti Murabithun yang  berkuasa di Afrika Utara ( Maroko, Aljazair sampai Senegal ) mendapat undangan dari raja al Mu’tamid dari Bani Abbad yang berada di Spanyol untuk membantunya  menghadapi pasukan AlFonso VI. Sebenarnya tindakam al Mu’tamid mengundang Yusuf ibn Tasfin banyak mengundang kritikan dari pembesar lainnya. Tapi al Mu’tamid menjawab bahwa lebih bik ia menjadi seorang penunggang onta di Afrika daripada menjadi seekor babi di Castile.

Yusuf ibn Tasfin menyambut baik undangan raja al Mu’tamid. Ia bergerak melalui Spanyol Selatan berhadapan dengan pasukan Alfonso VI di Zallakh dekat Badajos dan dengan kekuatan pasukan yang berjumlah 20.000 orang, ia berhasil mengalahkan pasukan Alfonso VI, tapi raja Alfonso VI dapat melarikan diri dan selamat dari pasukan  Yusuf ibn Tasfin.Dengan kemenangannya ini ia mendapat sambutan yang hangat / antusias dari rakyat muslim Spanyol dan mendapat pujian dari para penyair Seville, tapi sayang ia tak dapat memahami sair – sair tersebut, dan kembali ke Afrika.

Yusuf ibn Tasfin merasakan  bahwa daerah Spanyol lebih subur , nyaman dan beradap ketimbang di Afrika  yang tandus dengan gurun sahara yang tidak menarik, maka timbul di hatinya untuk kembali ke Spanyol, tapi bukan sebagai sekutu melainkan sebagai penakluk. Ia ingin merebutnya dari kekuasaan al Mu’tamid yang dulu dibantunya ketika menghadapi pasukan Alfonso VI. Pada bulan November 1090, ia memasuki kota Granada, kemudian Seville, dan kota – kota utama lainnya.[7] Seluruh wilayah Spanyol muslim direbutnya kecuali kota Toledo dan Saragosa yang diizin untuk ditempati orang Kristen dan Banu Hud. Raja Al Mu’tamid ditangkap dan dibuang ke Maroko.Berakhirlah kekuasaan Bani Abbadiyah di tangan yang semula sekutu kemudian berubah menjadi lawan. Madzhab yang dianut oleh dinasti Murabithun adalah Maliki. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Arab dan bahasa Spanyol. Kemudian memilih kota Seville menjadi ibu kota kedua setelah Maroko di Afrika Utara. Pada tahun 1106 Yusuf ibn Tasfin meninggal dunia dalam usia 100 tahun dengan mewarisi wilayah yang luas meliputi Afrika Utara (Maroko, Aljazair sampai Senegal) , Spanyol , Leberia Selatan dan kepulauan Atlantik. Kekuasaan Dinasti Murabithun kemudian diganti oleh anaknya yaitu Ali ibn Yusuf  wafat tahun 1143 dan penguasa yang terakhir yaitu Ishaq ibn Tasyfin sampai 1147. Yang akhirnya dinasti ini takluk pada dinasti Muwahhidin setelah ibu kota Marrakesh direbut oleh rivalnya dari suku Barbar yang lain.

D. Al Muwahhidun  1147 – 1269

Sama halnya dengan dinasti Murabithun yang memulai propagandanya dibidang keagamaan. Atau setidak – tidaknya menjadikan agama sebagai dasar gerakan tersebut. Pelopor dan sekaligus sebagai pendiri adalah Muhammad ibn Tumart yang lahir di Atlas tahun 1082 M[8]. Dia berasal dari suku Masmudah pegunungan Atlas Maroko. Dia merupakan seorang pengelana yang haus ilmu pengetahuan. Dia belajar dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari Cordoba, Alexandaria, Mekkah dan akhirnya di Bagdad.

Setelah kembali dari perantauannya di Maroko, Ibn Tumart mulai mengadakan propaganda pembaruan terhadap tradisi Islam yang dogmatis kepada Pentauhidan yang murni dan tegas. Sebutan yang diberikan kepada pengikutnya adalah al Muwahhidin yang berarti Penegak Keesaan Tuhan. Dalam bidang teologi ia berpaham al Asy‘ariyah sedangkan  bidang tasauf ia memilih paham yang dikembangkan oleh imam al Ghazali dan bidang Fiqh dia menganut madzhab Maliki . Ibn Tumart sangat keras dan terkadang kasar dalam menanamkan moral dan kepercayaan agama, ia pernah memukul saudara perempuan dari gubernur dinasti Murabithun di kota Fez karena tidak mengenakan kerudung.

Gerakan Muwahhidin semakin lama semakin banyak pengikutnya di Aghmat Ibn Tumart berhasil memikat suku Berbers Atlas.Suku itu sebelumya sudah memeluk agama Islam tapi sangat minim pengetahuan mereka terhadap Islam. Dari gerakan keagamaan kemudian berubah menjadi gerakan politik, dan para pengikutnya menyebutnya sebagai Imam Mahdi. Gerakan ini semakin sukses karena dibantu oleh Abdul Muin, orang yang ahli dalam hal strategi dan militer. Di kota Tin Malal (Tinmal ) mendirikan masjid sebagai pusat pengajaran dan propagannya, dan di kota ini pada tahun 1121 M dijadikan sebagai ibu kota pertama al Muwahhidin[9].

Setelah Ibn Tumart meninggal dunia tahun 1130 gerakan ini dipimpin oleh Abdul Mu’min yang kemudian menggunakan gelar khalifah bagi dirinya. Dia berhasil menaklukan , mengusai kerajaan Hammiyah di Bejaya, Ziridiyah di Ifriqiyah, Teluk Sidra , dinasti Murabihtun dan ibu kotanya Marrakesh ( Maroko ) Afrika Utara 1145 , Padang Pasir Libya 1149. Pada tahun 1170 dia melakukan ekspansi ke Spanyol dan berhasil menguasainya, maka berakhirlah dinasti Murabithun di Afrika Utara dan Spanyol. Kemudian dia menjadikan Sevillle sebagai ibu kota Dinasti Muwahhidin, tapi sang penguasa ini sering mondar mandir antara Marrakesh ( Maroko ) dan Seville di Spanyol.

Dinasti Muwahhidun mencapai kemenangan gemilang atas Spanyol dalam pertempuran di Alarcos tahun 1195 yang menandai puncak kekuatan politik. Tapi tak lama kemudian ummat Islam mendapat serangan dari pasukan Kristen dalam peperangan di Las Navas de Tolosa tahun 1212. Ini merupakan satu kekalahan dalam sejarah ummat Islam di Spanyol dan sekaligus mengawali terjadinya gerakan pemusnahan terhadap orang Islam.

Pada Dinasti Muwahhidun lahir sejumlah tokoh – tokoh filsafat dan ilmu pengetahuan  Muslim yang sangat dihargai dikalangan Barat diantaranya : Ibn Tufayl  wafat tahun 1185 karyanya antara lain Hayy ibn Yaqzhan , Ibn Rusyd ( Averoes ) wafat tahun 1198, karyanya antra lain :al Kulliyat fi al Thibb, Tahafut al Tahafut, Jami’, Matan Zubad , Ibn Zuhr ( Avenzoer ) wafat tahun 1162 karyanya at Taisir fi     al Mudawah wal al Tadbir , Ibn Arabi wafat tahun 1240 karyanya antara lain Fushush al Hikam, Kimiyya al Sa’adah,Wahdah al wujud.

Pada masa ini juga tumbuh ilmu arsitektur  yang bercorak Musllim Spanyol.Sejumlah peninggalan seni arsitektur antara lain Masjid Giralda yang sekarang menjadi Kathedral Agung di Seville, Masjid Kutubiyyah di Marakesh, Masjid Hasan di Rabat dan di Maroko dia membangun rumah sakit yang merupakan bangunan yang tiada tandingannya  pada zamannya.

E. Daulat Bani Ahmar 1232-1492 M

Kita pasti mengenal salah satu bangunan monumental dengan histori yang cukup panjang, yakni Istana Alhambra. Alhambra dalam bahasa Arabnya hamra’ bentuk jamak dari kata ahmar yang berarti “merah”. Karena bangunannya banyak dihiasi dengan ubin-ubin, bata-bata berwarna merah, serta penghias dinding yang agak kemerah-merahan dengan keramik yang bernuansa seni Islami, disamping marmer-marmer yang putih dan indah. Ada pula yang berpendapat bahwa Alhambra dinamakan demikian karena diambil dari seorang pendirinya yakni Al- Ahmar. Hingga saat ini bangunan bernilai tinggi akan seni arsitektur ini memperlihatkan peradaban tinggi orang-orang Islam tempo dulu. Istana ini berada di bukit La Sabica, masih tetap berdiri sebagai bukti kejayaan Islam di Granada Spanyol.

Istana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor (Moria) (bangsa yang berasal dari daerah Afrika Utara), satu kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia sekarang Spanyol.

Kerajaan Daulat Bani Ahmar berkuasa antara 1232-1492 M, didirikan oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar atau Bani Nasr yang masih keturunan Sa’id bin Ubaidah, seorang sahabat Rasulullah saw. yang berasal dari suku Khazraj di Madinah. Bangunan Istana Alhambra dibangun kurang lebih tahun 1238 dan 1358 M oleh Sultan tersebut yang diteruskan oleh keturunan raja-raja Bani Ahmar. Istana Alhambra tidak langsung didirikan, namun secara bertahap.

Istana ini dilengkapi dengan taman mirta semacam pohon myrtuscommunis dan juga bunga-bunga yang indah harum semerbak, serta suasana yang nyaman. Kemudian, ada juga Hausyus Sibb (Taman Singa),

taman yang dikelilingi oleh 128 tiang yang terbuat dari marmer. Di taman ini pula terdapat kolam air mancur yang dihiasi dengan dua belas patung singa yang berbaris melingkar, yakni dari mulut patung singa-singa tersebut keluar air yang memancar. Di dalamnya terdapat berbagai ruangan yang indah, yaitu, Ruangan Al-Hukmi (Baitul Hukmi), yakni ruangan pengadilan dengan luas   15 m x 15 m, yang dibangun oleh Sultan Yusuf I (1334-1354); Ruangan Bani Siraj (Baitul Bani Siraj), ruangan berbentuk bujur sangkar dengan luas bangunan 6,25 m x 6,25 m yang dipenuhi dengan hiasan-hisan kaligrafi Arab; Ruangan Bersiram (Hausy ar-Raihan), ruangan yang berukuran 36,6 m x 6,25 m yang terdapat pula al-birkah atau kolam pada posisi tengah yang lantainya terbuat dari marmer putih. Luas kolam ini 33,50 m x 4,40 m dengan kedalaman 1,5 m, yang di ujungnya terdapat teras serta deretan tiang dari marmer; Ruangan Dua Perempuan Bersaudra (Baitul al-Ukhtain), yaitu ruang yang khusus untuk dua orang bersaudara perempuan Sultan Al-Ahmar; Ruangan Sultan (Baitul al-Mulk); dan masih banyak ruangan-ruangan lainnya seperti ruangan Duta, ruangan As-Safa’, ruangan Barkah, Ruangan Peristirahatan sultan dan permaisuri di sebelah utara ruangan ini ada sebuah masjid yakni Masjid Al-Mulk.

Selain itu, istana merah ini dikelilingi oleh benteng dengan plesteran yang kemerah-merahan. Yang lebih unik lagi pada bagian luar dan dalam istana ini ditopang oleh pilar-pilar panjang sebagai penyangga juga penghias istana Alhambra. Kemudian, dinding istana itu baik di luar atau pun dalam istana banyak dihiasi dengan kaligrafi-kaligrafi Arab dengan ukiran yang khas yang sulit dicari tandingannya.

Semula kerajaan ini hanya kerajaan kecil saja namun dengan cepatnya kerajaan ini menjadi kerajaan kuat dan megah hingga dua setengah abad lebih berkuasa. Kekuatan ini bukan saja dari kematangan pola pikir para pemimpinnya, tetapi keadaan alam pun ikut mendukung kejayaannya. Wilayah Granada termasuk daerah sebuah bukit atau pegunungan yang indah dengan ketinggian kurang lebih 150 m, dengan luas kira-kira 14 ha, satu daerah yang sukar dimasuki oleh musuh namun mudah dipertahankan, sekarang Bukit La Sabica. Pada masa kejayaannya istana Alhambra ini dilengkapi dengan barang-barang berharga seperti barang yang terbuat dari logam mulia, perak, dan permadani-permadani indah yang masih alami buatan tangan manusia.

Raja-raja Bani Ahmar sangat memperhatikan akan kemakmuran rakyat sehingga pada saat itu bidang pertanian, dan roda perniagaan sangat maju. Selama 260 tahun kerajaan raja-raja Bani Ahmar berkuasa, namun timbul di antara mereka perselisihan juga sengketa. Inilah yang menyebabkan lemahnya kerajaan Bani Ahmar. Bagaimanapun gigihnya usaha Sultan Muhammad XII Abu Abdillah an Nashriyyah raja terakhir Bani Ahmar untuk menyelamatkan kerajaannya, akhirnya runtuh juga oleh dua buah kerajaan Kristen yang bersatu dari utara. Maksud dari dua buah kerajaan ini adalah karena perkawinan Karel/Ferdinand V (L. 1452-W. 1516) dari Aragon menikah dengan saudari Henry IV yaitu Ratu Isabella (L. 1451-W. 1504) dari Castille dan Leon. Keduanya menikah tahun 1469. Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella ini, keduanya yang mendukung dan membantu rencana penjelajahan Columbus di tahun 1492.

Pada pertengahan 1491 M, Raja Ferdinand V telah mengepung Granada selama tujuh bulan, Ferdinand V berkemah di Gumada di sebelah selatan kota. Sebelumnya Ferdinand V telah menguasai kota-kota lain seperti Malaga pelabuhan terkuat di Andalusia, kemudian Guadix dan Almunicar, Baranicar, dan Almeria. Yang terakhir adalah Granada yang diserahkan oleh raja terkahir Bani Ahmar Abu Abdillah. Penyerahan Granada ini diserahkan di halaman Istana Alhambra.

Demikianlah Granada takluk dan menyerah yang diduduki oleh pengikut-pengikut Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella pada tanggal 2 Januari 1492 M/ 2 Rabiul Awwal 898 H. Karena kegigihan dan perjuangan Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella, Paus Alexander VI (L. 1431-W. 1503) yang terkenal dengan perjanjian Tordesillasnya pada tahun 1494 ia memberi gelar raja dan ratu ini sebagai “Catholic Monarch” atau “Los Reyes Catolicos” atau Raja Katolik.

Dengan kemenangan umat Kristen inilah orang-orang Islam dipaksa keluar dari tanah Spanyol, untuk yang mau menetap harus berpindah agama atau dibunuh kalau tidak mau keluar dan menjadi Katolik. Selain dari itu, orang-orang Yahudi pun ikut terusir dari tanah ini. Padahal, saat kekuasaan Islam sedang berjaya mereka mendapat tempat, kehormatan, dan pekerjaan yang layak oleh orang-orang Muslim Spanyol.

Yang sangat menyedihkan perpustakan-perpustakaan Islam ikut dibakar dan dihancurkan. Karya tulis yang sampai kepada kita hanyalah bagian terkecil dari karya-karya pemikir Islam di zamannya hingga sekarang sulit dicari tandingannya, yang sebagian besarnya dihancurkan dan dibakar. Alhambra yang megah pun dengan benteng yang berwarna kemerah-merahan kian tak terawat, kusam, dan tak terlihat wajah aslinya, dan dijadikan Istana Kristen. Kemudian, Masjid Kordoba yang megah didirikan oleh Sultan Abu Yusuf Al-Muwahhid pada tahun 785 M yang diperbesar pada tahun 848, 961, 1187 M., dialih-fungsikan menjadi Gereja Santa Maria de la Sede.

Hampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Spanyol, dari Kordoba hingga Granada adalah bukti nyata sebagai kejayaan Islam tempo dulu serta peradaban tinggi di tanah Andalusia. Salah satu bukti adalah Istana Alhambra ini, satu bangunan yang telah berdiri hingga sekarang yang hampir delapan abad pula usianya masih tetap kokoh walaupun sebagian kecil ada yang sudah lenyap. Kemasyuran istana ini kerena daya pesona serta keindahan arsitekturnya yang sungguh luar biasa.

Berikut ini nama – nama penguasa Bani Ahmar di Spanyol: Muhammad I Al-Ghalib disebut juga Ibn Ahmar 1230 – 1272, Muhammad II Al-Faqih 1272-1302,  Muhammad III Al-Makhlu’ 1302-1308, Nashr 1308-1313, Ismail I 1313-1325, Muhammad IV 1325-1333, Yusuf I 1333-1354, Muhammad V Al-Ghani ke 1 1354-1359, Ismail II 1359-1360, Muhammad VI 1360-1362, Muhammad V Al-Ghani ke 2 1362-1391, Yusuf  II  1391-1395, Muhammad VII Al-Musta’in 1395-1407, Yusuf III  1407, Muhammad VIII Al-Mutamassik ke 1 1407-1419, Muhammad IX Al-Shagir ke 1 1419-1427,  Muhammad VIII Al-Mutamassik ke 2 1427-1430, Muhammad IX Al-Shagir ke 2 1430-1432, Yusuf IV 1432, Muhammad IX Al-Shagir ke 3  1432-1445, Muhammad X Al-Ahnaf ke 1  1445, Yusuf V ke 1 1445, Muhammad X Al-Ahnaf ke 2 1446 – 1447, Muhammad IX Al-Shagir ke 4 1447-1451, Muhammad XI 1451-1453, Sa’ad Al- Musta’in  ke 1 1453-1462, Yusuf V ke 2 1462, Sa’ad Al- Musta’in  ke 2 1462-1464, ‘Ali ke 1 1464 – 1482, Muhammad XI  ke 2 1482-1483, ‘Ali ke 2 1483-1485,  Muhammad XII 1485-1492, Muhammad  XI ke 2 1492.[10]Tapi raja Muhammad XI ini tidak terkenal dalam pemerintahannya yang ke 2 sebagai raja Bani Ahmar yang terakhir karena memerintah selama beberapa bulan saja,  sebelum akhirnya di taklukan oleh pengikut-pengikut Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella pada tanggal 2 Januari 1492. Berakhirlah  masa kekuasaan Islam di Spanyol.

F. Penutup

Dari Pembahasan di atas kita dapat mengambil suatu kesimpulan :

1. Ummat Islam pada masa itu terlalu tersobsesi oleh konsep ummatan wahidah, sehingga  pemerintah / kekuasaan hanya ada satu yang berkuasaa di bumi ini, padahal mereka tidak mampu untuk mengontrol, mengatur dan menjaga kekuaasaan yang  begitu luas.

2. Kerajaan / Pemerintahan Islam dengan Kerajaan Islam lainya tidak bersatu satu dengan yang lain, mereka saling serang dan mencaplok negara Islam yang lain, untuk memperluas wilayah, sehingga ketika  orang Kristen menyerang kerajaan Islam tersebut mereka tidak siap mengahadapinya.

3. Gerakan Politik yang timbul awalnya adalah gerakan keagamaan, lalu berkembang menjadi gerakan politik.

4. Pada masa Muwahhidun terdapat tokoh – tokoh Islam yang terkenal dan memberikan sumbangan yang besar bagi majunya ilmu pengetahun seperti : Ibn Tufayl, Ibn Rusd, Ibn Arbi dll

5. Ketika Islam berkuasa di Spanyol semua di hargai dan tidak ada pemaksaan dalam beragama, tapi setelah Islam kalah dan Kristen yang berkuasa maka semua harus menganut agama yang sama atau keluar dari Spanyol.

6. Peninggalan atau bangunan yang indah mena’jubkan dihancurkan, buku – buku dibakar suatu sikap negatif yang berlebihan dan tidak ada penghargaan terhadap peradapan.

7. Kehancuran dinasti Islam disebabkan 2 faktor:

· Internal : Perebutan kekuasaan dan pengaruh dikalangan istana.

· Ekternal : Adanya serangan dari pihak luar baik dari kerajaan Islam atau dari pihak Kristen.


BIBLIOGRAFI

Abdurrahman, Dudung. Sejarah Peradapan Islam : Dari Masa Klasik Hingga Masa Modern, Yogyakarta: Lesti. 2004

Amstrong, Karen, Islam Sejarah Singkat, Terj. Fungky Kusnaedy Timur. Yogyakarta: Jendela. 2002.

Boswort, C. E. The Islamic Dynasties, Terj. Ilyas Hasan. Bandung: Mizan. 1993

Hitti, Philip, K. History of the Arabs. Terj. R. Cecep Lukman Yasin, dkk. Cet. 1. Jakarta: Serambi. 2006

Glasse, Cyril, Ensiklopedi Islam ( ringkas ). Terj. Ghufron A. Mas’adi. Ed. 1. Cet. 2. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999.

Hoeve, Van. Ensiklopedi Islam  Ed. 3. Cet. 4. Jakarta: PT. Ichtiar Baru, 2002

Disamping dinasti – dinasti tersebut di atas terdapat dinasti lain yang termasuk dalam kategori Muluk Ath Thawaif  yaitu[11]:

1. Ziriyyah di Granada 1012 – 1090

2. Banu Yahya di Niebla 1023 – 1051

3. Banu Muzayn di Silves, Algarve 1028 – 1053

4. Banu Razin di Albarracin, La Sahla 1011 – 1107

5. Banu Qasim di Alpuente 1029 – 1092

6. Jahwariyyah di Cordoba 1031 – 1069

7. Dzun Nuniyyah di Toledo 1028 – 1085

8. ‘Amiriyyah di Valencia 1021 – 1096

9. Banu Shumadiyyah di Almeria 1039 – 1087

10. Banu Mujahid dan Banu Ghaniyah di Majorca 1022 – 2105

Semua kerajaan kecil tersebut berada di wilayah Spanyol.



[1] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradapan Islam, ( Jogja, LESFI 2004 ), hal 221

[2] Ibid, hal 221

[3] Ibid, hal 236

[4] Philip K. Hitti, History of  The Arab, terj R. Cecep Lukman Yasin dkk, ( Jakarta,  PT Serambi Ilmu Semesta 2006 ), hal 680

[5] Philip K. Hitti, History of  The Arab, terj R. Cecep Lukman Yasin dkk, ( Jakarta,  PT Serambi Ilmu Semesta 2006 ), hal 688

[6] Ibid, hal 689

[7] Ibid, hal 688

[8] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradapan Islam, ( Jogja, LESFI 2004 ), hal 228

[9] Ibid

[10] Bosworth. C.E, The Islamic Dynasties, terj. Ilyas Hasan, (Bandung, Mizan 1993), hal 39-40

[11] Bosworth. C.E, The Islamic Dynasties, terj. Ilyas Hasan, (Bandung, Mizan 1993), hal 36

About these ads
Komentar
  1. Gil mengatakan:

    Izin untuk dicopy ya…..

  2. Hapz mengatakan:

    Ya ampun….. dari kemaren nyari nggak ketemu, akhirnya nemu juga. :) thanks, mas ya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s