Abu Mughits al-Husain ibn Manshur ibn Muhammad al-Baidhawi

Posted: Februari 28, 2010 in Sejarah Pemikiran Islam
Tag:, , , , ,

BAB I

LATAR BELAKANG

A. Pendahuluan

Tasawuf secara tekstual dalam al-Qur’an tidak ditemukan, akan tetapi secara tersirat dalam tasawuf ada ajaran tawakal (QS.3;159), zuhd (QS.12;20), sabar (QS. 16-42) dll.  Yang kemudian diamalkan dalam dalam kehidupan sehari-hari oleh umat islam sebagaimana dicontohkan Rasul SAW. Orang kemudian menyebutnya tasawuf amali (akhlaki/syari’at/sunni), artinya amalan lahiriyah yang berkaitan dengan anggota jasmaniah manusia. Oleh karena itu seorang salik yang ingin mencapai wilayah esoteris (batin) harus melewati amalan lahiriyah[1]. Sayyid Haidar Amuli menyatakan bahwa hamba yang sampai kehadirat Tuhan yang utuh dan menyeluruh adalah melalui syari’ah, thariqah dan hakikat[2]. Adapun tokoh-tokoh tasawuf amali diantaranya Hasan Bisri Junaidi al-Baghdadi, Al-Ghazali, Rabi’ah Adawiyah, Dzun al-Nun al-Misri. Ciri utama tasawuf amali adalah berupa perjumpaan atau penyaksian “syuhud visison” yang didapatkan melalui al-Maqomat-maqomat. Aliran ini berketetapan bahwa jagad raya dan isinya adalah ciptaaan Tuhan sehingga yang dicipta dan Pencipta terdapat jurang pemisah (Tuhan transenden) yang tidak dapat disatukan[3].

Seiring dengan perkembangan zaman, tasawuf islam mengalami persentuhan dengan peradaban Yunani, islam menularkan akidah dan ibadah kepada orang-orang yang mewarisi peradaban Yunani sebaliknya orang-orang yang berbau Yunani mewariskan peradabanya kepada orang-orang islam. Kemudian munculah pola fikir filsafat untuk memahami tasawuf. Plato berpendapat bahwa “yang ada” kekal dan tunggal ada di alam “idea”, sedang yang ada beraneka adalah bayangan dari “yang ada” sesungguhnya. Jadi Plato berusaha mencari yang transenden, non empiris[4]. Salah satu yang ‘dikategorikan’ sebagai tokoh tasawuf falsafi adalah seperti Al-Hallaj. Pada umumnya penganut tasawuf falsafi bermazab syi’ah, pola fikirnya mu’tazilah sehingga orang menyebutnya tasawuf syi’i[5]. Ciri utama tasawuf ini adalah terjadinya penyatuan (ittihad, union, jumbuh) dengan “yang ada” itu[6] dalam mistik Jawa dikenal dengan istilah “Manunggaling Kawulo Gusti” (wihdatul wujud).

Ana al-Haq (akulah Tuhan) perkataan al-Hallaj yang terkenal pada abad 9 – 10 H sampai mengantarkanya kepada kematianya yang tragis. Bagi ulama’ ortodoks (islam eksoteris) menolak pandangan penyatuan manusia dengan Tuhan. Ulama’ sufi sendiri yang sezaman dengan dirinya al-Hallaj, kaget. Seharusnya al-Hallaj dapat menyembunyikan pengalaman batiniyahnya untuk dirinya sendiri dan eksekusi atas dirinya merupakan murka Allah lantaran ia mengungkapkan segenap kerahasiaan ilahi. Tetapi al-Hallaj dengan kitab Tawasimnya menjawab jalan pikiranya sebenarnya, tanpa bermaksud mengaku dirinya sebagai Tuhan.

B. Riwayat Hidup al-Hallaj.

Nama lengkap beliau adalah Abu Mughits al-Husain ibn Manshur ibn Muhammad al-Baidhawi (244-309 H/857-922 M). Al-Hallaj adalah cucu Abu Ayyub sahabat Nabi SAW[7], Lahir di desa Thour, Persia. Pada usia 8 tahun ia pindah ke kota Wasith dengan orang tuanya untuk bekerja di pemintalan benang (al-Hallaj). Di kota inilah ia mulai belajar al-Qur’an hingga usia 12 tahun ia sudah hafal al-Qur’an (hafizd). Ia banyak merenungi dan sholat untuk menyelam kedalam makna al-Qur’an. Untuk itu ia berguru tasawuf kepada Sahl at-Tustari setelah berumur 20 tahun ia pergi ke kota Basrah berguru kepada Amr al-Makki. Terus melanjutkan ke Baghdad untuk berguru kepada al-Junaid dan menjalin hubungan dengan pengikut al-Qusyairi dan bertemu dengan sahabat karibnya asy-Syibli[8].

Di Makkah bersama dengan Amr al-Makki melaksanakan ibadah haji yang pertama dan berumrah selama satu tahun di Masjidil Haram sambil berpuasa dan berdzikir. Dengan ini ia berusaha menyatu dengan Allah dan menyerukan penyatuan itu

Mulailah ia mendapat pengikut-pengikut yang menurut Ibnu Katsir[9] tak kurang dari 400 yang selalu setia kepadanya. Pengaruhnya tidak hanya di kalangan rakyat jelata dikalangan tentara dan pemimpinya, amir dan pejabat pemerintah. Hal ini tentu membuat berbagai kalangan tidak senang dan mencurigainya, terutama kalangan istana. Bagi al-Hallaj tasawuf adalah semacam revolusi untuk memperbaiki ruhani manusia dalam beribadah kepada Allah dan memperbaiki kebejatan dan merombak ketidak adilan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memperteguh imanya ia menjalankan ibadah haji yang kedua di Makkah bersama dengan para pengikutnya yang berjumlah 400 orang itu, akan tetapi beberapa kawan sufinya menuduh dia menggunakan magic dan ilmu sihir. Setelah berhaji ia pergi ke India dan Turkistan[10] untuk menyebarkan islam dan pengaruhnya di sana.

Sekitar tahun 290 H/902 M al-Hallaj menunaikan haji yang ketiga sekaligus yang terakhir. Pada waktu wukuf di Arrafah al-Hallaj berdoa agar Allah menguranginya menjadi tiada, menjadikan dirinya direndahkan dan ditolak sehingga hanya Allah yang ada dalam jiwa dan bibirnya. Setelah berhaji pulang ke baghdad dan disambut oleh pengikutnya yang semakin banyak. Hal ini membuat pihak istana semakin curiga, bahkan para ahli fuqoha membencinya dan meniupkan fitnah. Sehingga al-Hallaj masuk penjara selama 9 tahun akibat kebencian seorang pengikut sunni yang bernama Hamid[11] dan Abu Umar bin Yusuf seorang hakim Maliki yang selalu mendukung mereka yang berkuasa pada masa itu merekayasa proses peradilan untuk menghukum al-Hallaj. Pada periode ini muncul dua karya al-Hallaj yaitu Thasin al-Azl, yakni perenungan tentang iblis, sang monoteis yang tdak patuh dan karya pendek beliau yang berjudul Mi’raj Nabi Muhammad, yang berhenti di sidratul muntaha.

Setelah menajalani hukuman, berbagai fitnah dimunculkan kembali diantaranya jika ia adalah pengikut kaum Qaramithah yang suka membuat kacau dan onar[12] dan akan menghancurkan Ka’bah di Makkah dan beroposisi terhadap pemerintah yang sedang berkuasa. Dalam pengadilan ini pengikut Syafi’I tidak ada yang hadir. Seorang hakim Hanafi menolak memberi keputusan tatapi menterinya setuju untuk mendukung Abu Umar., dan sejumlah saksi bayaran berhasil mengumpulkan tanda tangan sebanyak 84. Duduk dalam persidangan Abu Umar dengan dukungan Hamid menetapkan keputusan “Hukum mengharuskan untuk membunuhmu”.

Selama dua hari terjadi intrik-intrik dari kalangan pejabat negara yang mengalahkan kebimbangan khalifah al-Muqtadir dan akhirnya menandatangani surat perintah eksekusi al-Hallaj[13]. Kemudian eksekusi al-Hallaj dilakukan pada tahun 308 H. Kepala al-Hallaj dipotong, tubuhnya disiram minyak dan dibakar dan abunya dibuang di sungai tigris dari atas menara. Versi lain mengatakan hukuman yang diterima al-Hallaj sangat sadis (di Bagdad terkenal dengan Tragedi al-Hallaj : ma’sat al-Hallaj) yaitu kedua kakinya, dua tanganya, hidungnya, telinganya, lidahnya dipotong, matanya dicongkel, akhirnya lehernya dipenggal. Tapi ia tidak mengeluh kesakitan[14].

Dari kisah ini terlihat bahwa al-Hallaj mati tidak semata-mata karena faham keagamaanya tentang menyatunya dirinya dengan Tuhan tetapi ia korban dari pertentangan politik antara pemerintah yang berkuasa dengan penentangnya yang kebetulan mendukung al-Hallaj.

C. Ajaran al-Hallaj.

Husain al-Mansur terkenal dengan ucapanya yang kontroversial, “ana al-Haq” yang berarti “akulah Tuhan” Akulah Kebenaran”.

Abdul Kadir al-Kilani mengomentari bahwa ucapan “Ana al-Haq” yang menyamakan manusia dengan Allah tidak ia teruskan pada saat al-Hallaj disiksa. Sebagaimana para teolog islam yang mengatakan bahwa kata “Ana al-Haq”  adalah frase yang menimbulkan kebingungan karena menimbulkan ketumpang tindihan sifat ilahi dan insani dalam diri manusia.

Tapi di pihak lain mereka yang menganut filsafat panteisme, menarik al-Hallaj ke fihak mereka ; kaum Imamiah misal bahwa ajaran al-Hallaj tidak mencerminkan ajaran Sunni, melainkan jelas bersifat syi’i, jadi dengan kadar panteisme yang tinggi[15].

Frase “Ana al-Haq” mengajukan hubungan langsung subjek-objek yang terdapat dalam dimensi penglihatan batin, dimana pada hubungan ini meluruh secara sempurna di dalam identitas di pihak subyek, dan ungkapan “Ana al-Haq” dianggap berasal dari subjek itu, meskipun mewujud dalam waktu tertentu. Dalam limpahan kasyf (mabuk ektasi) ini hubungan subyek-obyek biasa muncul sebagai kategori pengetahuan terpenting, dan tiba-tiba hubungan itu terbalik. Hanya suara “aku adalah kebenaran” sajalah yang terdengar, dan al-Hallaj berhenti mewujud[16].

Dalam sebuah kitab mistik jawa dikatakan bahwa manusia adalah “katitipan” atau mengandung Rahasia yang Agung. Artinya Tuhan itu bersemayam dalam hidup manusia. Nama manusia diakui sebagai sebutan Tuhan dan tingkah laku manusia mencerminkan perbuatan Tuhan. Jadi dalam kesatuan antara manusia dengan Tuhan, diajarkan bahwa kehidupan dan tingkah laku manusia merupakan pencerminan kehidupan dan perbuatan Tuhan. Dalam ungkapan jawa, manusia merupakan jawata, ngejawantah atau ngarcapada[17]. Bisa difahami disini bahwa Tuhan adalah manusia dan manusia adalah Tuhan, jika di dalam Kitab Hidayat Jati karya Ronggowarsito[18] muncul istilah “roroning tunggal” artinya dua tapi satu.

Menurut al-Hallaj untuk mencapai kearah tersebut manusia harus dapat melepaskan sifat-sifat kemanusiaanya (fana’ an-nafs), artinya bahwa manusia memiliki sifat dasar ganda yaitu sifat nasut (kemanusiaan) dan sifat lahut (ketuhanan). Jika sifat nasut sudah bisa dilenyapkan maka yang tinggal hanyalah sifat lahut, saat itulah nasut Tuhan mengambil tempat dalam lahut manusia[19]. Nicholson mengatakan “the passing away of the sufi from his fenomenal existence, involves baqa’, the continuence of his real existence” maknanya bahwa transformasi (fana an-nafs) hanyalah bersifat spiritual, bukan peleburan secara material jasmaniah[20].

Selanjutnya Syekh Ahmad Sirhindi (1563-1624) menyatakan “Ana al-Haq” dalam tradisi teologi, bahwa ana (aku) personal dan al-Haq sebagai kebenaran tidak mengacu pada penyatuan, tetapi pada dasarnya al-Haq sepenuhnya menyelimuti kesadaran jiwa yang menyesali diri (contemplative ego). Ana al-Haq tidaklah mengacu pada penyatuan dengan esensi Tuhan atau sifat-Nya. Tapi ana al-Haq menurut Sirhindi merupakan penyangkalan, “Ana al-Haq” tidak hendak menegaskan makna ‘akulah kebenaran’ tetapi hanya menyatakan bahwa ‘aku tiada, hanya Dia satu-satu-Nya’. Tanpa ada penyengkalan diri, maka pengukuhan akan kebenaran Tuhan masih belum terselesaikan. Di lain fihak “Ana al-Haq” dianggap terlalu melebih-lebihkan pengalaman subyektiv, dan ‘aku’ personal menunjukan kecenderungan kearah megalomania atau egotisme. ‘aku’ personal akan menutupi al-Haq dan mengundang penuh pada dirinya sendiri[21].

Sehingga makna ucapan ana al-Haq adalah bahwa bukan manusia yang berbicara melainkan Allah yang tinggal dalam sirr[22]. Bagi seorang mistikus yang rendah hati, yang akunya dalam kebersamaan dengan Allah tidak memainkan peranan lagi, akan mengerti ucapan itu dan tidak akan merasa kaget, heran atau terkejut. Hubungan ini menandakan semacam kemesraan antara manusia dan Tuhan, tapi keduanya tidak identik menjadi sama[23].

Sebagaimana dalam kitabnya al-Hallaj sendiri “Thawasin”, kumpulan dari 11 buku yang membahas pertanyaan-pertanyaan ketauhidan, memberi informasi dan membentuk biografi penulisnya.

Di dalam buku ke-11 yang berjudul ‘kebun ma’rifat’ al-Hallaj menyatakan bahwa essensi Tuhan berada di luar kategori-kategori pengetahuan intelektual. Dunia fana, data inderawi yang terbatas, konstruksi logis ataupun model relasional dari analogi, sulit digunakan untuk memahami Tuhan yang berada di luar semua pemahaman. Pikiran yang dikembangkan dan dilatih dalam dimensi ruang dan waktu tidak dapat keluar dari dunia kemakhlukan dan mencapai esensi Tuhan yang tidak dapat diketahui. Jurang pemisah terus ada antara yang terbatas dan yang tak terbatas. Akhirnya al-Hallaj berkata ‘yang benar tetap yang benar, pencipta sebagai khaliq, dan segala apa yang diciptakan tetaplah makhluk. Ini akan tetap demikian’.

Namun dikalangan sufi, ana al-Haq adalah syathahat, yaitu ungkapan eskatik, yang diucapkan ketika seseorang mengalami ektase sewaktu berada dalam kedaan sakr (mabuk spiritual), hilangnya kesadaran diri karena pengaruh spiritual yang kuat atau keberlimpahan cinta Allah dalam hati dan berpuncak pada peleburan diri dalam Allah[24].

KESIMPULAN

Abu Mughits al-Husain ibn Manshur ibn Muhammad al-Baidhawi atau yang lebih dikenal dengan al-Hallaj merupakan tokoh yang fenomenal. Karena statementnya ‘ana al-Haq’ telah menimbulkan penafsiran yang berbeda antara ulama sufi sunni (teolog) dan ulama’ sufi falsafi.

Ulama sufi sunni mendefinisikan ‘ana al-Haq’ sebagai penegasian diri atas al-Haq tanpa penegasian ‘Aku sebagai Kebenaran’ tidak akan muncul. Artinya Tuhan adalah merupakan entitas yang tetap transeden dari makhluknya.

Di satu fihak ulama sufi falsafi memaknai ‘ana al-Haq’ ditarik kedalam makna filsafat panteisme dimana antara dua entitas (manusia dengan Tuhan) melebur jadi satu. Yang maknanya dua entitas jadi satu melalui fana an-Nafs.

Akan tetapi al-Hallaj sediri menyatakan bahwa antara dirinya dengan Tuhan merupakan dua entitas yang tetap berbeda.

DAFTAR  PUSTAKA

Ammuli, Sayyid Haidar, Dari Syari’at Menuju Hakikat, Mizan Pustaka, Bandung, 2005.

P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti : Pantheisme dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa, pntj. Dick Hartoko, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000.

Simuh, Mistik Islam Kejawen R. Ngabehi Ronggowarsito, UI Press, Jakarta, 1988.

Siregar, H.A Rivay, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000.

Tebba, Sudirman, Syeikh Siti Jenar : Pengaruh Tasawuf al-Hallaj di Jawa, Pustaka Hidayah, Bandung, 2003.

Zaini, M. Fudoli, Sepintas Sastra Sufi; Tokoh dan Pemikiranya, Risalah Gusti, Surabaya, 2000.


[1] H.A Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000, hal. 110

[2] Sayyid Haidar Ammuli, Dari Syari’at Menuju Hakikat, Mizan Pustaka, Bandung, 2005, hal. 53

[3] H.A Rivay Siregar, ……., hal. 22

[4] Ibid. hal. 20

[5] Ibid, hal. 144

[6] Ibid, 22

[7] Sudirman Tebba, Syeikh Siti Jenar : Pengaruh Tasawuf al-Hallaj di Jawa, Pustaka Hidayah, Bandung, 2003, hal. 57.

[8] M. Fudoli Zaini, Sepintas Sastra Sufi; Tokoh dan Pemikiranya, Risalah Gusti, Surabaya, 2000, hal. 15

[9] M. Fudoli Zaini,….hal. 16

[10] Sudirman Tebba,…..hal. 59

[11] Ibid….hal. 61

[12] M. Fudoli Zaini,….hal. 17

[13] Sudirman Tebba,….hal. 63

[14] Ibid….hal. 64

[15] P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti : Pantheisme dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa, penterj. Dick Hartoko, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000, hal. 37.

[16] Sudirman Tebba,….hal. 66.

[17] Simuh, Mistik Islam Kejawen R. Ngabehi Ronggowarsito, UI Press, Jakarta, 1988, hal. 290-291.

[18] Ibid… hal. 306

[19] H.A Rivay Siregar,…hal. 28

[20] Ibid….hal. 26

[21] Sudirman Tebba,….hal. 68

[22] Sirr adalah tempat rahasia bertemunya Tuhan dan manusia, penulis. Bisa juga dilihat dalam buku karya P.J. Zotmulder hal. 40.

[23] Ibid, hal. 43

[24] Sudirman Tebba,….hal. 72.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s