Posts Tagged ‘Al-Khulafa Al-Rasyidun : Ide dan Realitas Khilafah’

Al-Khulafa Al-Rasyidun : Ide dan Realitas Khilafah

1. Pendahuluan
Nabi Muhammad saw. Tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliu wafat. Beliau tampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama setelah nabi wafat, sejumlah tokoh muhajirin dan anshar berkumpul untuk menentukan pengganti kepemimpinan nabi setelah wafatnya.

Secara umum Umat Islam menjadikan generasi awal muslim sebagai rujukan ideal dalam bentuk kepimpinan dalam suatu negara islam. Untuk mengetahui secara jelas tentang Islam dan peranan umat Islam, pembahasan topik ini diarahkan kepada usaha para khalifah –sebagai avant garde– dalam menjabarkan nilai-nilai Islam dalam menghubungkannya antara Islam normatif dan Islam sejarah, serta dampaknya bagi perkembangan Islam dan peradaban muslim (islamicate civilization) pada masa selanjutnya.

2. Konsep Khalifah
Khalifah adalah gelar yang diberikan untuk pemimpin umat islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (570–632). Kata “Khalifah” (خليفة Khalīfah) sendiri dapat diterjemahkan sebagai “pengganti” atau “perwakilan”. Pada awal keberadaannya, para pemimpin islam ini menyebut diri mereka sebagai “Khalifat Allah”, yang berarti perwakilan Allah (Tuhan). Akan tetapi pada perkembangannya sebutan ini diganti menjadi “Khalifat rasul Allah” (yang berarti “pengganti Nabi Allah”) yang kemudian menjadi sebutan standar untuk menggantikan “Khalifat Allah”. Meskipun begitu, beberapa akademis memilih untuk menyebut “Khalīfah” sebagai pemimpin umat islam tersebut.

Khalifah juga sering disebut sebagai Amīr al-Mu’minīn (أمير المؤمنين) atau “pemimpin orang yang beriman”, atau “pemimpin umat muslim”, yang terkadang disingkat menjadi “emir” atau “amir”.

Khalifah berperan sebagai kepala ummat baik urusan negara maupun urusan agama. Mekanisme pengangkatan dilakukan baik dengan penunjukkan ataupun majelis Syura’ yang merupakan majelis Ahlul Ilmi wal Aqdi yakni ahli Ilmu (khususnya keagamaan) dan mengerti permasalahan ummat. Sedangkan Khilafah adalah nama sebuah system pemerintahan yang begitu khas, dengan menggunakan Islam sebagai Ideologi serta undang-undangnya mengacu kepada Al-Quran & Hadist.

Ada beberapa bukti yang menunjukan bahwa khalifah mempercayai bahwa mereka mempunyau otoritas untuk memutuskan beberapa hal yang tidak tercantum dalam al-Quran. Mereka juga mempercayai bahwa mereka adalah pempimpin spiritual umat islam, dan mengharapkan “kepatuhan kepada khalifah” sebagai ciri seorang muslim sejati. Sarjana modern Patricia Crone dan Martin Hinds, dalam bukunya God’s Caliph, menggarisbawahi bahwa fakta tersebut membuat khalifah menjadi begitu penting dalam pandangan dunia Islam ketika itu.

Mereka berpendapat bahwa pandangan tersebut kemudian hilang secara perlahan-lahan seiring dengan bertambah kuatnya pengaruh ulama di kalangan umat Islam. Para ulama beranggapan bahwa mereka juga berhak menentukan apa yang dianggap legal dan baik di kalangan umat islam. Pemimpin umat Islam yang paling tepat, menurut pendapat para ulama, adalah pemimpin yang menjalankan saran-saran spiritual dari para ulama, sementara para khilafah hanya mengurusi hal-hal yang bersifat duniawi sehingga mengakibatkan konflik di antara keduanya. Perselisihan antara Khalifah dan para ulama tersebut menjadi konflik yang berlarut-larut dalam sejarah Islam. Namun akhirnya, konflik ini berakhir dengan kemenangan para ulama. Kekuasaan Khalifah selanjutnya menjadi terbatas pada hal yang bersifat keduniawian. Khalifah hanya dapat dianggap menjadi “Khalifah yang benar” apabila ia menjalankan saran spiritual para ulama.

Ibnu Khaldun kemudian menegaskan hal ini dan menjelaskan lebih jauh tentang kepemimpinan kekhahalifah secara lebih singkat:
“Kekhalifahan harus mampu menggerakan umat untuk bertindak sesuai dengan ajaran Islam dan menyeimbangkan kewajiban di dunia dan akhirat. (Kewajiban di dunia) harus seimbang (dengan kewajiban untuk akhirat), seperti yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad, semua kepentingan dunia harus mempertimbangkan keuntungan untuk kepentingan akhirat. Singkatnya, (Kekhalifahan) pada kenyataannya menggantikan Nabi Muhammad, beserta sebagian tugasnya, untuk melindungi agama dan menjalankan kekuasaan politik di dunia.”

3. Majelis syura
Dalam sejarah politik Islam, telah terwujud suatu sistem yang dinamakan al-syura (musyawarah). Sistem ini sudah ditemukan sejak zaman Nabi SAW. yang kemudian diikuti oleh Khalifah al-Rasyidin, Abu Bakar al-Siddiq (11-13 H/632-634), Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M), Uthman bin Affan (23-35 H/644-656 M) dan Ali bin Abi Talib (35-40 H/656-661 M). Merekalah yang telah dipilih untuk memimpin negara Islam berdasarkan undang-undang syari’ah.

Pada zaman khalifah Umar bin al-Khattab, majelis syura telah dibentuk guna menentukan pemilihan khalifah sesudahnya. Hal ini sesuai dengan firma-nya, surat al-Imran : 159.

……..     ………… 
“…….. dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu ………..”

Meskipun begitu pada masa itu belum ditunjuk secara khusus, sedangkan pada masa Umar, semua yang bertugas dalam mengangkat dan yang melantik sudah ditentukan atau sudah dilembagakan, yang kemudian disebut sebagai ahl al-syura atau ahl al-hall wa al-‘aqd. Mereka terdiri dari para ulama dan sahabat nabi (golongan eksklusif) yang mewakili masyarakat Islam.

Tidak semua orang Islam bisa mejadi ahl al-syura. Diperlukan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar bisa menjadi ahl al-syura, yaitu : beragama Islam, lelaki, aqil balig, merdeka, adil dan tahu hukum. Sedangkan syarat seorang khalifah yaitu adil, berilmu, sehat jasmani, mempunyai pemikiran yang tajam, berani dan wara’. Syarat-syarat keseluruhan itu dibuat setelah kewafatan nabi. Sementara nabi sendiri tidak menyebutkan syarat-syarat tersebut secara terperinci.

3. Bai’at
Ketika syara’ mewajibkan umat Islam untuk mengangkat seorang Khalifah, syara’ juga telah menentukan metode yang harus dilaksanakan untuk mengangkat Khalifah. Metode ini ditetapkan dengan al-Kitab, as-Sunah dan Ijmak Sahabat. Metode itu adalah bai’at. Maka pengangkatan Khalifah itu dilakukan dengan bai’at kaum muslim kepadanya untuk (memerintah) berdasarkan Kitabullah dan Sunah Rasulullah.

Kedudukan bai’at sebagai metode pengangkatan Khalifah telah ditetapkan dari bai’at kaum muslim kepada Rasulullah SAW dan dari perintah beliau kepada kita untuk membai’at seorang imam. Bai’at kaum muslim kepada Rasul SAW, sesungguhnya bukanlah bait atas kenabian, melainkan bai’at atas pemerintahan. Karena bai’at itu adalah bai’at atas amal dan bukan bai’at untuk mempercayai kenabian. Beliau dibai’at tidak lain dalam kapasitas sebagai penguasa, bukan dalam kapasitas sebagai nabi dan rasul. Sebab pengakuan atas kenabian dan kerasulan adalah masalah iman, bukan bai’at. Maka bai’at kepada Beliau itu tidak lain adalah bai’at dalam kapasitas beliau sebagai kepala negara.

Dengan meneliti tata cara pembai’atan mereka jelaslah bahwa orang-orang yang dicalonkan itu diumumkan kapada masyarakat. Dan jelas pula bahwa syarat in’iqad terpenuhi dalam diri masing-masing dari mereka. Kemudian diambil pendapat dari ahl al-halli wa al-’aqdi diantara kaum muslim, yaitu mereka yang merepresentasikan umat. Mereka yang dicalonkan itu dikenal luas pada masa Khulafa’ur Rasyidin, karena mereka adalah para sahabat atau penduduk Madinah. Siapa yang dikehendaki oleh para sahabat atau mayoritas para sahabat, maka orang itu dibai’at dengan bai’at in’iqad dan dengan itu ia menjadi Khalifah dan kaum muslim menjadi wajib untuk mentaatinya. Lalu kaum muslim secara umum membai’atnya dengan bai’at taat. Demikianlah terwujud Khalifah dan ia menjadi wakil umat dalam menjalankan pemerintahan dan kekuasaan. Inilah yang dapat dipahami dari apa yang terjadi pada bai’at Khulafa’ur Rasyidin.

4. Pemilihan khalifah
Dalam al-Qur’an tidak dijelaskan bagaimana sistem pemilihan secara syura secara terperinci. Karena tidak ada, akhirnya terdapat berbagai bentuk syura yang dilaksanakan sepanjang pemerintahan khulafaurrasyidin. Pada umumnya terdapat tiga cara atau bentuk pemilihan, yaitu :
1. Cara perundingan atau persetujuan tanpa calon. Misalnya pemilihan khalifah Abu Bakar al-Siddiq.
2. Cara penunjukkan seorang khalifah terdahulu kepada calon khalifah. Contohnya khalifah Umar bin al-Khattab.
3. Menunjuk beberapa calon oleh khalifah terdahulu atau masyarakat kemudian dipilih salah seorang diantara mereka yang lebih layak.

5. Al-Khulafa Al-Rasyidun
1. Khalifah Abu Bakar al-Siddiq (11-13 H/632-634 M)
Abu Bakar ayah dari Aisyah istri Nabi Muhammad SAW. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Ka’bah (artinya ‘hamba Ka’bah’), yang kemudian diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah (artinya ‘hamba Allah’. Nabi Muhammad SAW juga memberinya gelar Ash-Shiddiq (artinya ‘yang berkata benar’), sehingga ia lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq.

Abu bakar dilahirkan di makkah kira-kira dua tahun setengah selepas kelahiran nabi. Abu Bakar dilahirkan di Mekkah dari keturunan Bani Tamim (Attamimi), suku bangsa Quraish. Berdasarkan beberapa sejarawan Islam, ia adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar serta dipercayai sebagai orang yang bisa menafsirkan mimpi.

Selain itu, dia juga seorang pakar ilmu keturunan (genealogi). Masyarakat arab banyak belajar tentang ilmu ini kepada beliau. Disamping itu, dia juga dikenal sebagai orang yang jujur, pemurah dan baik hati. Berdasarkan fifat-sifat itulah dia mendapat gelar ‘Abu Bakar’ dan kemudian ‘al-Sidiq’ karena dialah salah satu orang yang pertama masuk Islam dan membenarkan semua ajaran yang dibawa oleh nabi. Selain itu, masih ada satu gelar lagi yang dialamtkan kepadanya karena besarnya pengorbanan dia dalam harta yang diperunntukkan kepada islam, yaitu atiq.

Selama masa sakit Rasulullah SAW saat menjelang ajalnya, dikatakan bahwa Abu Bakar ditunjuk untuk menjadi imam shalat menggantikannya, banyak yang menganggap ini sebagai indikasi bahwa Abu Bakar akan menggantikan posisinya. Segera setelah kematiannya (632), dilakukan musyawarah di kalangan para pemuka kaum Anshar dan Muhajirin di Madinah, yang akhirnya menghasilkan penunjukan Abu Bakar sebagai pemimpin baru umat Islam atau khalifah Islam.

Apa yang terjadi saat musyawarah tersebut menjadi sumber perdebatan. Penunjukan Abu Bakar sebagai khalifah adalah subyek yang sangat kontroversial dan menjadi sumber perpecahan pertama dalam Islam, dimana umat Islam terpecah menjadi kaum sunni dan syi’ah. Di satu sisi kaum syi’ah percaya bahwa seharusnya Ali bin Abi Thalib (menantu nabi Muhammad) yang menjadi pemimpin dan dipercayai ini adalah keputusan Rasulullah SAW sendiri sementara kaum sunni berpendapat bahwa Rasulullah SAW menolak untuk menunjuk penggantinya.

Kaum sunni berargumen bahwa Rasulullah mengedepankan musyawarah untuk penunjukan pemimpin.sementara muslim syi’ah berpendapat kalau Rosulullah SAW dalam hal-hal terkecil seperti sebelum dan sesudah makan, minum, tidur, dll. tidak pernah meninggal umatnya tanpa hidayah dan bimbingan apalagi masalah kepemimpinan umat terahir.
Terlepas dari kontroversi dan kebenaran pendapat masing-masing kaum atas khalifah terpilih, Ali sendiri secara formal menyatakan kesetiaannya (berbai’at) kepada Abu Bakar dan dua khalifah setelahnya (Umar bin Khattab dan Usman bin Affan).

Kaum sunni menggambarkan pernyataan ini sebagai pernyataan yang antusias dan Ali menjadi pendukung setia Abu Bakar dan Umar. Sementara kaum syi’ah menggambarkan bahwa Ali melakukan bai’at tersebut secara pro forma, mengingat beliau berbai’at setelah sepeninggal Fatimah.

Abu Bakar juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al Qur’an. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah dalam perang Ridda, banyak penghafal Al Qur’an yang ikut tewas dalam pertempuran. Abu Bakar lantas meminta Umar bin Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur’an. Setelah lengkap koleksi ini, yang dikumpulkan dari para penghafal Al-Quran dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, oleh sebuah tim yang diketuai oleh shahabat Zaid bin Tsabit, kemudian disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar dan juga istri dari Nabi Muhammad SAW. Kemudian pada masa pemerintahan Usman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al Qur’an hingga yang dikenal hingga saat ini.

Abu bakar menjabat sebagai khalifah selam adua tahun lebih sedikit. Dalam kepimpinannya tersebut dihabiskan hanya utuk menumpas para pemberontak yang berkaiatan dengan politik dan keamanan. Ada dua masalah besar yang dihadapi oleh beliau : yaitu tentang peberontakan golongan al-riddah (nabi-nabi palsu dan murtad), tentang ancaman tentara persi dan byzantium.

Riddah artinya murtad, beralih agama dari Islam kepercayaan semula, secara politis merupakan pembnagan terhadap lembaga khalifah. Sikap mereka adalah perbuatan makar yang melawan agama daan pemerintahan sekaligus. Disamping itu, pada zaman kepempinanannya terdapat banyak orang yang mengaku sebagai nabi seperti Musailamah al-Kadzab.

Oleh karena itu, khalifah dengan tegas melancarkan operasi pembersihan terhadap mereka. Tindakan pembersihan juga dilakukan untuk menumpas nabi-nabi palsu dan orang yang enggan membayar zakat.

Masalah lain yang dihadapi adalah masalah selisih paham antara Abu Bakar dan Fatimah al-Zahra mengenai harta peninggalan Nabi dan kematian para hafidz al-Qur’an. Semua masalah dapat diatasi oleh Abu Bakar sekaligus masalah tentang gugurnya banyak hafidz, sehingga para pencatat sejarah menyebutkan bahwa pengumpulan al-Qur’an ini termasuk salah satu jasa terbesar dari khalifah Abu Bakar.

Pada masa Abu Bakar dibentuk juga bayt al-mal untuk kepentingan umat islam serta ada tiga gelar kepimpinan yang didasarkan pada cakupan wilayah. Pimpinan politik umat islam tertinggi disebut khalifah. Pemimpin wilayah disebut wali dan amir.

Abu bakar meninggal pada Senin, 23 Agustus 624 M setelah terbaring sakit selama 15 hari. Usianya 63 tahun dan kekhalifahannya berlangsung 2 tahun 3 bulan 11 hari.

2. Umar bin al-Khattab (13-23 H/634-644 M)
Nama lengkapnya Umar bin al-Khattab bin Nawfal. Dilahirkan di kota Makkah dan masuk Islam pada tahun ke-5 kerasulan nabi. Pada saat itu beliau berusia 33 tahun. Ia memiliki nama lengkap Umar bin Khattab bin Nafiel bin abdul Uzza, terlahir di Mekkah, dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy. Orangtuanya bernama Khaththab bin Nufail Al Mahzumi Al Quraisyi dan Hantamah binti Hasyim. Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara yang haq dan bathil.

Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran Sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium).

Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.

Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk shalat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk shalat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia shalat.

Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administratif untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah.

Ia juga membuat lembaga perbendaharaan negara; menganjurkan sholat jamaah pada bulan ramadhan; menghukum orang yang meminum minuman keras dengan 80 dera; mengharamkan nikah mut’ah; melarang penjualan hamba umm al-walad; mengumpulkan umat islam untuk melaksanakan sholat jenazah; tidak membagikan shadaqah; membagikan warisan dengan cara ‘awl.

Selain itu, ia juga mengatur dan menertipkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Untuk menjaga keamanan dibentuk dinas kepolisian. Ia juga membentuk dinas pekerjaan umum, dan menciptakan mata uang sendiri. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.

Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sebagaimana saat para pemeluk Islam masih miskin dan dianiaya.

Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.

Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), seorang budak pada saat ia akan memimpin shalat Subuh. Fairuz adalah salah seorang warga Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara digdaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. ia berkuasa selama 10 tahun, 6 bulan, 4 hari. Setelah kematiannya jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan.

3. Usman bin Affan.(644-656 M)

Utsman bin Affan (عثمان بن عفان) adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk Khulafaur Rasyidin yang ke-3. Usman adalah seorang yang saudagar yang kaya tetapi sangatlah dermawan. Dialah yang berjasa membeli sumur dari orang Yahudi yang memonopoli air di Madinah. Ia juga berjasa dalam hal membukukan Al-Qur’an.

Beliau adalah kalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 hingga 656. Selain itu sahabat nabi yang satu ini memiliki sifat yang sangat pemalu. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia mendapat julukan Dzunnurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah SAW yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum.

Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibu beliau adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan Assabiqunal Awwalun. Rasulullah SAW sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati diantara kaum muslimin.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”

Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah Saw ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habbasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad Saw untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah.

Utsman diperintahkan Nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka’bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah. Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah Saw memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat walikota Madinah.

Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan dua setengah kg emas pada waktu itu. Sumur itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Setelah wafatnya Umar bin Khatab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilik khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdurrahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal.

Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.

Beliau adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat.

Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf. Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Ia mengangkat dan menghentikan pegawai lama dan menggantikannya dengan para kerabat untuk menjamin kesetiaan mereka kepada usthman. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah. Khalifah Utsman kemudian dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam.

Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada hari Jumat tanggal 17 Dzulhijah 35 H dalam usia 82 tahun ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah Saw perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. Beliau dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

4. Alī bin Abī Thālib.
‘Alī bin Abī Thālib (Bahasa Arab: علي بن أﺑﻲ طالب) (Bahasa Persia: علی پسر ابو طالب)‎ (599 – 661) adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi’ah berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Uniknya meskipun Sunni tidak mengakui konsep Imamah mereka setuju memanggil Ali dengan sebutan Imam, sehingga Ali menjadi satu-satunya Khalifah yang sekaligus juga Imam. Ali adalah sepupu dari Muhammad, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Muhammad.

Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.

Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.

Pada akhirnya, terjadilah tahkim pada akhir perang shiffin yang mengakibatkan kalahnya tentara ali dan munculnya kelompok yang memusuhi ali, yaitu khawarij.

Ali bin Abi Thalib, seseorang yang terkenal memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Ia meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang dimiliki oleh para khalifah, mereka meninggalkan sistem hidup masyarakat yang sangat berharga dan maju dari sudut pandang zamnnya.

Umar telah berhasil menyusun organisasi negara menjadi suborganisasi negara : organisasi politik (al-Nizham al-Siyasi), organisasi tata usaha atau administrasi negara (al-Nizham al-Idari), organisasi keuangan negara (al-Nizham al-Mali) organisasi ketentaraan (al-Nizham al-Harbi), organisasi kehakiman (al-Nizham al-Qadha’i).

Selain itu, muncul ilmu qira’at, ilmu tentang cara membaca dan memahami al-quran serta Ilmu fiqih.

Secara garis besar, pada zaman al-Khulafa al-Rasyidun terdapat sejumlah peninggalan berharga yang sangat penting bagi umat islam, diantaranya :
1. Muncul metode pengangkatan pemimpin, musyawarah tebatas, penunjukkan, dan team formatur.
2. Terdapat sejumlah mushhaf al-Qur’an yang dijadikan rujukan dalam penyalinan dan kodifikasi al-Qur’an sehingga melahirkan musfhhaf ustmani.
3. Muncul sikap saling curiga diatara umat islam sehingga muncul peperangan internal.
4. Muncul aliran khawarij. Aliran yang memunculkan konsep iman, dosa besar dan murtad.
5. Setiap wilayah memiliki gubenur, pasukan militer serta meletakkna prinsip peradilan yang masih relevan hingga sekarang.

Khalifah, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Khalifah diakses pada 20 oktober 2009
Al-mawardi, al-ahkam al-sulthaniyyah. Kaherah, 1298 H.
Imam Taqiyyuddin An Nabhani, Nizhamul Hukmi fil Islam,
Mahayudin hj yahaya, ahad jelani halimi, sejarah Islam. Malaysia : fajar bakti sdn. bhd, 1995.
Muhammad diyauddin al-rayes, al-nazariyat al-siyasiyyah al-islamiyyah. Kaherah : dara l-ma’arif, 1969.
Jalaludin as-suyuti, tarikh al-khulafa. Barut : darul fikr, 1979, 67-72. lihat juga, ali mufrodi, Islam di kawasan arab. Jakarta : logos, 1997.
Jaih mubarok, sejarah peradaban islam. Bandung : pustaka islamika, 2008.
Muhammad husain haekal, umar bin khatab. Diterjemahkan oleh ali audah dari judul al-faruq ‘umar. Bogor : pustaka litera antar Nusa, 2007.
badri yatim, sejarah peradaban islam : dirasah islamiyah II, jakarta : raja grafindo persada, 1997.