Posts Tagged ‘DISTRIBUSI HARTA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’A>N’

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’a>n bagi kaum Muslimin diyakini bukan hanya kitab suci ‘ansich’ yang bersifat pasif, tapi merupakan wahyu Allah kepada umat manusia melalui perantaraan Nabi Muhammad dan utusan ‘ruh suci’ Jibril yang berisi kebenaran-kebenaran absolut dari Rabb al-A>lami>n A>zza wa Jalla.[1] Al-Qur’a>n adalah sumber ajaran Islam. Kitab Suci ini menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad sejarah umat ini.[2]

Jika demikian halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’a>n melalui penafsirannya, mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju tidaknya umat. Sekaligus, penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran para mufasir.[3]

Istanthiq al-Qur`ân (ajaklah Al-Qur’a>n) berbicara atau biarkan ia menguraikan maksudnya Pesan dari ‘Ali bib Abî Thâlib ini antara lain mengharuskan penafsir untuk merujuk kepada Al-Qur’a>n dalam rangka memahami kandungannya.[4]

Manusia adalah khalifah di muka bumi. Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah Allah kepada sang khalifah agar dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama. Untuk mencapai tujuan suci ini, Allah memberikan petunjuk melalui para rasul-Nya. Petunjuk tersebut meliputi segala sesuatu yang dibutuhkan manusia baik akidah, akhlak, maupun syariah.

Dua komponen pertama, akidah dan akhlak, bersifat konstan. Keduanya tidak mengalami perubahan apapun dengan berbedanya waktu dan tempat. Adapun syariah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf peradaban umat, yang berbeda-beda sesuai dengan masa rasul masing-masing. Hal ini diungkapkan dalam Al-Qur’a>n Surah Al-Ma>’idah ayat 48 yang artinya :“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.“

Juga dalam suatu hadits, HR Bukhari, Abu Dawud, dan Ahmad yang artinya :

“Para rasul tak ubahnya bagaikan saudara sebapak, ibunya (syariahnya) berbeda-beda sedangkan dinnya (tauhidnya) satu“.

Oleh karena itu, syariah Islam sebagai suatu syariah yang dibawa oleh rasul terakhir, mempunyai keunikan tersendiri. Syariah ini bukan saja menyeluruh atau komprehensif,  tetapi juga universal. Karakter istimewa ini diperlukan sebab tidak akan ada syariah lain yang datang untuk menyempurnakannya.

Komprehensif berarti syariah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah). Ibadah diperlukan untuk menjaga ketaatan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Khaliq-nya. Ibadah juga merupakan sarana untuk mengingatkan secara kontinu tugas manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini. Adapun muamalah diturunkan untuk menjadi rules of the game atau aturan main manusia dalam kehidupan sosial. Kelengkapan system muamalah yang disampaikan Rasulullah saw.

Universal bermakna syariah Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai Hari Akhir nanti. Universalitas ini tampak jelas terutama pada bidang muamalah. Selain mempunyai cakupan luas dan fleksibel, muamalah tidak membeda-bedakan antara muslim dan non muslim. Kenyataan ini tersirat dalam suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Ali bin abi thalib, “Dalam bidang muamalah kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita.“[5]

Aspek yang menarik untuk dikaji lebih mendalam ialah bagaimana nilai-nilai Islami (syari’ah) dilaksanakan dalam berbagai sendi kehidupan, salah satunya ialah mengenai pembelanjaan harta.

Harta sebagai salah satu amanah yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia harus disyukuri dalam parameter nilai-nilai Islami. Pertanyaan yang segera muncul ialah jika berkaitan dengan masalah pembagian harta, bagaimana mekanismenya? Kalau sasarannya ialah ‘optimalisasi pembelanjaan harta’ sementara secara realitas timbul kesenjangan sosial; salah satunya di Indonesia dengan kondisi masyarakat mayoritas Islam.

Fenomena distribusi harta merupakan suatu makna yang sangat menarik untuk dikaji sebagai upaya untuk mengarahkan pada solusi dari permasalahan kesenjangan sosial terutama dalam struktur sosial masyarakat Indonesia.

  1. B. Identifikasi Dan Batasan Masalah

Distribusi harta menurut al-Qur’a>n yang dibatasi pada arti harta secara umum, dan bermakna bahwa itu merupakan pemberian Allah kepada umat manusia, serta dia (manusia) hanya mempunyai ‘hak pakai’ bukan ‘hak milik’, sehingga penggunaan harta seyogyannya mengikuti aturan-aturan yang digariskan dan diperuntukkan untuk beribadah global dan sesuai dengan pedoman yang terdapat dalam al-Qur’a>n, serta bukan pada penggunaan harta  dalam arti infaq (secara khusus) menurut al-Qur’a>n, karena hal ini ada pembahasan lain.

Makalah ini mencoba untuk sedapat mungkin “membiarkan” Al-Qur’a>n menguraikan pandangannya tentang distribusi harta (al-mâl). Dalam arti, mencoba melihat aturan, norma, prinsip dan nilai moral apa saja yang harus mendasari segenap aktivitas manusia yang berkaitan—langsung atau tidak—dengan penggunaan harta kekayaan. Diharapkan pula nantinya pembahasan ini dapat menjawab pertanyaan, ke manakah harta yang kita miliki didistribusikan?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Harta

Istilah Harta, atau al-ma>l dalam al-Qur’a>n maupun Sunnah tidak dibatasi dalam ruang lingkup makna tertentu, sehingga pengertian al-Ma>l sangat luas dan selalu berkembang.

Harta atau kekayaan yang dimaksud dalam makalah ini adalah terjemahan dari kata al-mâl. Dengan demikian, salah satu bagian dari makalah ini akan menelusuri kata al-mâl dalam lembaran-lembaran mushhaf Al-Qur’a>n. Namun sebelum itu, terlebih dahulu akan dibahas makna kata ini dalam kamus-kamus bahasa.

Dalam al-Munjid kata al-Mâl (bentuk jamaknya, al-amwâl), diartikan sebagai “Segala sesuatu yang kamu miliki (mâ malaktahu min jamî’ al-syyâ`).” Orang Arab perkampungan biasa memakai kata ini untuk menunjukan binatang ternak atau binatang untuk kendaraan, seperti unta dan kambing. Bentuk mudzakar atau mua`annats dari kata ini sama saja, yakni al-mâl.[6] Dalam al-Mu’jam al-Wasîth, ia dimaknai, “Segala yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok berupa kekayaan, atau barang perdagangan, rumah, uang atau hewan atau lainnya.”[7] Sementara itu, Elias A. Elias mengartikannya dengan rizq (property; esatate), badlâ`i’ (goods; wares; commodities) dan nuqûd (money).[8]

Dari beberapa arti yang diberikan oleh kamus bahasa di atas, tidak keliru sekiranya kita sepakat untuk mengartikan kata “al-mâl” dengan “harta benda atau kekayaan.”

Kata al-mâl dalam Al-Qur’a>n disebut tidak kurang dari 86 kali.[9] Kata ini disebutkan Al-Qur’a>n dalam dua bentuk. Pertama, dalam bentuk tidak disandarkan kepada kata ganti (ghair mudhâf ilâ dlâmir), seperti al-mâl, mâlan, al-amwâl dan amwâlan (32 kali). Kedua, disandarkan kepada kataganti, seperti mâluhu, mâliyah, amwâlukum dan amwâluhum (54 kali).[10]

Kata mâl dalam bentuknya yang tidak di-idlâfat-kan kepada dlamîr disampaikan dalam dua bentuk kata. Pertama, bentuk nakirah (indefinite noun), seperti mâlan dan amwâlan (17 kali), dan kedua, bentuk ma’rifat (definite noun) sebanyak 15 kali. Tujuh di antaranya ma’rifat dengan alif-lâm, seperti al-mâl dan al-amwâl, dan delapan kali ma’rifat dengan di-idlâfat-kan bukan kepada kepada dlamîr, seperti mâl Allâh (sekali), mâl al-yatîm (dua kali), amwâl al-yatâmâ (sekali) dan amwâl al-nâs (empat kali). Kata al-mâl yang tidak di-idlâfat-kan disampaikan dalam dua bentuk: pertama, mufrad (singular) seperti al-mâl dan mâlan (18 kali). Kedua, jama’ (plural) seperti al-amwâl dan amwâlan (14 kali).[11]

Dari segi i’râb,[12] kata al-mâl yang tidak di-idlâfat-kan disampaikan dalam tiga keadaan i’râb, pertama, rafa’ (dua kali), kedua, manshûb (17 kali) dan ketiga, majrûr (13 kali). Ini berarti kata al-mâl jarang sekali disampaikan dengan i’râb rafa’ (cuma dua kali). Dalam dua kali ini, semuanya mengonotasikan makna negatif (lihat Qs. Al-Kahfi, 18: 46 dan al-Syu’arâ`, 26: 88).  Dari 13 kali kata al-mâl yang majrûr, 11 di antaranya majrûr dengan harf al-jâr (min, fî, dan lainnya). Ini menunjukkan bahwa ia selalu berputar dan bergerak; dari dan kepadanya (minhu wa ilaih). Ketika al-mâl di-manshûb-kan (paling sering, 17 kali), menunjukkan bahwa ia merupakan objek aktivitas dan berada pada tangan manusia. Dalam bentuk dan kedudukan i’râb ini kita dapat mengambil, paling tidak, tiga konotasi makna. Pertama, celaan kepada manusia yang mencintai dan mengikat diri dengan harta, seperti dalam Qs. Al-Fajr, 89: 20, al-Humazah, 104: 2, al-Balad, 90: 6, Maryam, 19: 71, al-Mudatstsir, 74: 12, al-Kahfi, 18: 34, 39, al-Tawbah, 9: 69, Yûnus, 10: 88, Sabâ, 34: 35. Kedua, larangan mendekati, apalagi mengambil, harta orang lain yaitu kaum yang membutuhkan, anak-anak yatim dan manusia umumnya (tidak termasuk di dalamnya orang-orang kaya), seperti dalam Qs. Al-An’âm, 6: 34, al-Nisâ, 4: 10, 161, al-Tawbah, 9: 34. Dan ketiga, memberikan harta kepada pihak-pihak yang lebih membutuhkan, seperti Qs. Al-Baqarah, 2: 177, atau bekerja dalam rangka menegakkan risalah, bukan untuk menunggu bayaran harta, seperti Qs. Hûd, 11: 29.[13]

Adapun kata al-mâl yang di-idlâfat-kan kepada dlamîr, disampaikan dalam dua bentuk: Pertama di-idlâfat-kan kepada dlamîr mufrad seperti mâluhu dan mâliyah. Dalam bentuk ini disampaikan tujuh kali. Satu di antaranya idlâfat kepada dlamîr mutakallim, seperti mâliyah (Qs. Al-Hâqqah, 19: 28), dan enam kali lainnya idlâfat kepada dlamîr ghâib, seperti mâluhu (Qs. Al-Baqarah, 2: 264, Nûh, 71: 21, al-Lail, 92: 11, 18, al-Humazah, 104: 3, al-Masad, 111: 2). Kedua, di-dlâfat-kan kepada dlamîr jama’ dengan bentuk kata yang jama’ pula seperti amwâlukum, amwâlunâ dan amwâluhum. Bentuk ini disampaikan sebanyak 47 kali. Dua di antaranya idlâfat kepada dlamîr mutakallim ma’a al-ghair seperti amwâlunâ (Qs. Hûd, 11: 87, al-Fath, 48: 11), 14 kali kepada dlamîr al-mukhâthab seperti amwâlukum (di antaranya Qs. Al-Baqarah, 2: 188, 279, Âli ‘Imrân, 3: 186, al-Nisâ, 4: 2, 5, 24, 29), dan 31 kali kepada dlamîr al-ghâib seperti amwâluhum (antara lain dalam Qs. Al-Baqarah, 2: 261, 262, 265, 274, Âli ‘Imrân, 3: 10, 116, al-Nisâ, 4: 2, 6, 34, 38, 95).[14]

Sedangkan kriteria harta menurut para ahli fiqh terdiri atas : Pertama, memiliki unsur nilai ekonomis. Kedua, unsur manfaat atau jasa yang diperoleh dari suatu barang.

Nilai ekonomis dan manfaat yang menjadi kriteria harta ditentukan berdasarkan ‘urf (kebiasaan/ adat) yang berlaku di tengah masyarakat. As-Suyuti berpendapat bahwa istilah Ma>l hanya untuk barang yang memiliki nilai ekonomis, dapat diperjualbelikan, dan dikenakan ganti rugi bagi yang merusak atau melenyapkannya.

Dengan demikian tempat bergantungnya status al-ma>l terletak pada nilai ekonomis (al-qimah) suatu barang berdasarkan ‘urf. Besar kecilnya al-qimah dalam harta tergantung pada besar kecilnya manfaat suatu barang. Faktor manfaat menjadi patokan dalam menetapkan nilai ekonomis suatu barang. Maka manfaat suatu barang menjadi tujuan dari semua jenis harta.[15]

  1. B. Klasifikasi Ayat

Cukup banyak ayat al-Qur’a>n yang menyinggung tentang harta benda maupun penginfakkannya. Dari hasil pendataan yang berhasil diperoleh, ada sekitar 83 bentuk kata perihal al-amwa>l (harta benda) dengan berbagai variannya yang tersebar ke dalam 56 surah, [16] dan beberapa ayat lain yang menerangkan tentang penggunaan harta (infaq) yang terdapat dalam 29 surah.[17] Untuk lebih jelasnya berikut ini tabel tentang ayat-ayat tersebut:

Tabel I

Tentang Ayat-Ayat Yang Membicarakan Harta Benda

No Bentuk kata Nama & Nomor Surah Makiyah / Madaniyah Ayat
1. Al-ma>lu Al-baqarah (2) Madaniyyah 177, 247
2. Al-an’a>m (6) 152
3. Al-Isra>’ (17) Makkiyyah 34
4. Al-Kahfi (18) 46
5. Al-Mu’minu>n (63) 55
6. Al-Nu>r (24) Madaniyyah 33
7. Al-shu’ara>’ (26) Makkiyyah 88
8. Al-naml (27) 36
9. Al-qalam (68) 14
10. Al-fajr (89) 20
11. Al-ma>l Hu>d (11) Makkiyyah 29
12 Al-kahfi (18) 34, 39
13 Maryam (19) 77
14 Almudaththir (74) 12
15 Al-balad (90) 6
16 Al-humazah (104) 2
17 Ma>l Al-baqarah (2) Madaniyyah 264
18 Nu>h (71) Makkiyyah 21
19 Al-lail (92) 11, 18
20 Al-humazah (104) 3
21 Al-masad (111) 2
22 Ma>liyah Al-haqqah (69) Makkiyah 28
23 Al-amwa>l Al-baqarah (2) Madaniyyah 155, 188
24 Al-nisa>’ (4) 10, 161
25 Al-tawbah (9) 24, 34
26 Al-isra>’ (17) Makkiyyah 6, 64
27 Al-ru>m (30) 39
28 Al-hadid (57) Madaniyyah 20
29 Nu>h (71) Makkkiyyah 12
30 Amwa>l Al-tawbah (9) Madaniyyah 69
31 Yu>nus (10) Makkiyyah 88
32 Saba>’ (34) 35
33 Amwa>lakum Al-baqarah (2) Madaniyyah 188, 179
34 Ali imra>n (3) 189
35 Al-nisa>’ (4) 2, 5, 24, 29
36 Al-anfa>l (8) 28
37 Al-tawbah (9) 21
38 Saba>’ (24) Makkiyyah 37
39 Muhammad (47) Madaniyyah 36
40 Al-saff (61) 11
41 Al-muna>fiqu>n (63) 9
42 Al-tagha>bu>n (64) 15
43 Amwa>luna Hu>d (11) Makkiyyah 87
44 Al-fath (48) Madaniyyah 11
45 Amwa>laghum Al-baqarah (2) Madaniyyah 261, 262, 265, 274
46 Ali imra>n (3) 10, 116
47 Al-nisa>’ (4) 2, 6, 34, 38, 95
48 Al-anfa>l (8) 36, 72
49 Al-tawbah (9) 21, 44, 55, 81, 85, 88, 103, 111
50 Yu>nus (10) Makkiyyah 88
51 Al-ahza>b (32) Madaniyyah 27
52 Al-hujura>t (49) 15
53 Al-dha>riya>t (51) Makkiyyah 19
54 Al-muja>dalah (58) Madaniyyah 17
55 Al-hashr (59) 8
56 Al-ma’a>rij (70) Makkiyyah 24

Tabel II

Tentang Ayat-Ayat Yang Menerangkan Penggunaan (Infaq) Harta

No

Nama & Nomor Surah Makkiyyah / Madaniyyah Ayat
1 Al-Baqarah (2) Madaniyyah 3, 177, 195, 215, 219, 254, 261, 267, 270-274
2 Ali ‘Imra>n (3) 92, 117, 134
3 Al-Nisa>’ (4) 34, 38, 39, 95
4 Al-Ma>idah (5) 64
5 Al-Anfa>l (8) 3, 36, 60, 72
6 Al-Tawbah (9) 20, 34, 44, 53, 54, 88, 91, 92, 98, 99
7 Al-Ra’d (13) 22
8 Ibra>hi>m (14) Makkiyyah 31
9 Al-Nahl (16) 75
10 Al-Hajj (22) Madaniyyah 35
11 (al-nu>r (24) 33
12 Al-Furqa>n (25) Makkiyyah 67
13 Al-Shu’ara>’ (26) 88, 89
14 Al-Qasas (28) 54
15 Al-‘Ankabu>t (29) 15
16 Al-Sajdah (32) 16
17 Saba>’ (34) 39
18 Fa>tir (35) 29
19 Ya>sin (36) 47
20 Al-Shu>ra> (42) 38
21 Muhammad (47) Madaniyyah 38
22 Al-Dha>riya>t (51) Makkiyyah 19
23 Al-Hadi>d (57) Madaniyyah 7, 10
24 Al-Hashr (59) 8
25 Al-Mumtahanah (60) 10, 11
26 Al-Muna>fiqu>n (63) 7, 10
27 Al-Tagha>bu>n (64) 16
28 Al-Tala>q (65) 7
29 Al-Ma’a>rij (70) Makkiyyah 24

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa cukup banyak ayat-ayat al-Qur’a>n yang menyinggung tentang hal yang berkaitan dengan harta benda maupun cara pendistribusiannya. Namun sebagaimana yang telah dirumuskan pada pokok kajian ini, maka berikutnya akan diambil beberapa ayat yang dianggap representatif dalam pembahasan tersebut. Ayat-ayat yang dimaksud adalah surah al-Baqarah ayat 195, 215, dan 174, surat al-Anfa>l ayat 36, surat al-Nisa>’ ayat 34 dan 95, surat al-Nu>r ayat 33 dan surah al-Tawbah ayat 53.[18]

  1. 1. Surat al-Baqarah ayat 195, 215 dan 274.

q)ÏÿRr&ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# Ÿwur (#qà)ù=è? ö/ä3ƒÏ‰÷ƒr’Î/ ’n<Î) Ïps3è=ök­J9$# ¡ (#þqãZÅ¡ômr&ur ¡ ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÒÎÈ

195.  Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

štRqè=t«ó¡o„ #sŒ$tB tbqà)ÏÿZム( ö@è% !$tB OçFø)xÿRr& ô`ÏiB 9Žöyz Èûøïy‰Ï9ºuqù=Î=sù tûüÎ/tø%F{$#ur 4’yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡pRùQ$#ur Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# 3 $tBur (#qè=yèøÿs? ô`ÏB 9Žöyz ¨bÎ*sù ©!$# ¾ÏmÎ/ ÒOŠÎ=tæ ÇËÊÎÈ

215.  Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.

šúïÏ%©!$# šcqà)ÏÿYムOßgs9ºuqøBr& È@øŠ©9$$Î/ ͑$yg¨Z9$#ur #vÅ™ ZpuŠÏRŸxtãur óOßgn=sù öNèdãô_r& y‰YÏã öNÎgÎn/u‘ Ÿwur ê’öqyz óOÎgø‹n=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“óstƒ ÇËÐÍÈ

274.  Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

  1. 2. Surah al-Anfa>l ayat 36

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. tbqà)ÏÿZムóOßgs9ºuqøBr& (#r‘‰ÝÁu‹Ï9 `tã È@‹Î6y™ «!$# 4 $ygtRqà)ÏÿZãŠ|¡sù §NèO Ücqä3s? óOÎgø‹n=tæ Zotó¡ym §NèO šcqç7n=øóム3 z`ƒÏ%©!$#ur (#ÿrãxÿx. 4’n<Î) zO¨Yygy_ šcrçŽ|³øtä† ÇÌÏÈ

36.  Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, Kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,

  1. 3. Surah al-Nisa>’ ayat 34 dan 95

ãA%y`Ìh9$# šcqãBº§qs% ’n?tã Ïä!$|¡ÏiY9$# $yJÎ/ Ÿ@žÒsù ª!$# óOßgŸÒ÷èt/ 4’n?tã <Ù÷èt/ !$yJÎ/ur (#qà)xÿRr& ô`ÏB öNÎgÏ9ºuqøBr& 4 àM»ysÎ=»¢Á9$$sù ìM»tGÏZ»s% ×M»sàÏÿ»ym É=ø‹tóù=Ïj9 $yJÎ/ xáÏÿym ª!$# 4 ÓÉL»©9$#ur tbqèù$sƒrB  Æèdy—qà±èS  ÆèdqÝàÏèsù £`èdrãàf÷d$#ur ’Îû ÆìÅ_$ŸÒyJø9$# £`èdqç/ΎôÑ$#ur ( ÷bÎ*sù öNà6uZ÷èsÛr& Ÿxsù (#qäóö7s? £`ÍköŽn=tã ¸x‹Î6y™ 3 ¨bÎ) ©!$# šc%x. $wŠÎ=tã #ZŽÎ6Ÿ2 ÇÌÍÈ

34.  Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[19] ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka).[20] wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[21], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[22]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

žw “ÈqtGó¡o„ tbr߉Ïè»s)ø9$# z`ÏB tûüÏZÏB÷sßJø9$# çŽöxî ’Í<‘ré& ͑uŽœØ9$# tbr߉Îg»yfçRùQ$#ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# óOÎgÏ9ºuqøBr’Î/ öNÍkŦàÿRr&ur 4 Ÿ@žÒsù ª!$# tûïωÎg»yfçRùQ$# óOÎgÏ9ºuqøBr’Î/ öNÍkŦàÿRr&ur ’n?tã tûïωÏè»s)ø9$# Zpy_u‘yŠ 4 yxä.ur y‰tãur ª!$# 4Óo_ó¡çtø:$# 4 Ÿ@žÒsùur ª!$# tûïωÎg»yfßJø9$# ’n?tã tûïωÏè»s)ø9$# #·ô_r& $VJŠÏàtã ÇÒÎÈ

95.  Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk[23] satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk[24] dengan pahala yang besar,

  1. 4. Surah al-Nu>r ayat 33

É#Ïÿ÷ètGó¡uŠø9ur tûïÏ%©!$# Ÿw tbr߉Ågs† %·n%s3ÏR 4Ó®Lym ãNåkuŽÏZøóムª!$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù 3 tûïÏ%©!$#ur tbqäótGö6tƒ |=»tGÅ3ø9$# $£JÏB ôMs3n=tB öNä3ãZ»yJ÷ƒr& öNèdqç7Ï?%s3sù ÷bÎ) öNçGôJÎ=tæ öNÍkŽÏù #ZŽöyz ( Nèdqè?#uäur `ÏiB ÉA$¨B «!$# ü“Ï%©!$# öNä38s?#uä 4 Ÿwur (#qèd̍õ3è? öNä3ÏG»uŠtGsù ’n?tã Ïä!$tóÎ7ø9$# ÷bÎ) tb÷Šu‘r& $YYÁptrB (#qäótGö;tGÏj9 uÚttã Ío4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# 4 `tBur £`‘gd̍õ3ム¨bÎ*sù ©!$# .`ÏB ω÷èt/ £`ÎgÏdºtø.Î) ֑qàÿxî ÒO‹Ïm§‘ ÇÌÌÈ

33.  Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka,[25] jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu[26]. dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, Karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. dan barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu[27].

  1. 5. Surah al-Tawbah ayat 53

ö@è% (#qà)ÏÿRr& %·æöqsÛ ÷rr& $\döx. `©9 Ÿ@¬6s)tGムöNä3ZÏB ( öNä3¯RÎ) óOçFZà2 $YBöqs% tûüÉ)Å¡»sù ÇÎÌÈ

53.  Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik.

  1. Pandangan Islam Terhadap Harta

Secara umum, tugas kekhalifahan manusia adalah tugas mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan dalam hidup dan kehidupan (Al-An’a>m : 165) serta tugas pengabdian atau ibadah dalam arti luas (adz-Dza>riya>t : 56). Untuk menunaikan tugas tersebut, Allah memberi manusia dua anugerah nikmat utama, yaitu manhaj al-haya>t “sistem kehidupan“ dan wasilah al-haya>t “sarana kehidupan“.

Manhaj al-haya>t adalah seluruh aturan kehidupan manusia yang bersumber kepada Al-Qur’a>n dan Sunnah Rasul. Aturan tersebut berbentuk keharusan melakukan atau sebaiknya melakukan sesuatu, juga dalam bentuk larangan melakukan atau sebaliknya meninggalkan sesuatu. Aturan tersebut dikenal sebagai hukum lima, yakni wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram.

Aturan-aturan tersebut dimaksudkan untuk menjamin keselamatan manusia sepanjang hidupnya, baik yang menyangkut keselamatan agama, keselamatan diri (jiwa dan raga), keselamatan akal, keselamatan harta benda, maupun keselamatan nasab keturunan. Hal-hal tersebut merupakan kebutuhan pokok atau primer.

Pelaksanaan Islam sebagai way of life secara konsisten dalam semua kegiatan kehidupan, akan melahirkan sebuah tatanan kehidupan yang baik, sebuah tatanan yang disebut sebagai hayatan thayyibah (An-Nahl : 97).

Sebaliknya, menolak aturan itu atau sama sekali tidak memiliki keinginan mengaplikasikannya dalam kehidupan, akan melahirkan kekacauan dalam kehdupan sekarang, ma’isyatan dhanka atau kehidupan yang sempit, serta kecelakaan diakhirat nanti (Thaahaa : 124 – 126).

Aturan-aturan itu juga diperlukan untuk mengelola wasilah al-hayah atau segala sarana dan prasarana kehidupan yang diciptakan Allah SWT untuk kepentingan hidup manusia secara keseluruhan. Wasilah al-hayah ini dalam bentuk udara, air, tumbuh-tumbuhan, hewan ternak, dan harta benda lainnya yang berguna dalam kehidupan. Sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah ayat 29 yang artinya :

“Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan, dia Maha Mengetahui segala sesuatu “

Dari sekian ayat yang secara tersurat menyatakan kata al-mâl, kiranya kita dapat menarik beberapa benang merah yang dapat kita nilai sebagai pandangan Al-Qur’a>n yang harus mendasari segenap aktivitas pendistribusian harta. Pandangan itu antara lain:

  1. 1. Harta adalah Milik Allah (al-mâl mâl Allâh)

Dalam Al-Qur’a>n hanya sekali kata al-mâl yang secara tegas dinisbahkan kepada Allah (mâl Allâh), yaitu dalam Qs. al-Nûr, 24: 33 yang artinya :

“Dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kamu).”

Ayat ini berkenaan dengan salah satu cara yang ditempuh Islam dalam menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta kepada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi pembayaran dengan harta yang halal. Untuk mempercepat lunasnya perjanjian, hendaklah budak-budak itu ditolong dengan harta-harta yang diambil dari mâl Allâh (harta Allah).

Al-Thabathabâ`î, dalam tafsir al-Mîzân-nya mengartikan mâl Allâh dalam ayat tersebut dengan harta zakat.[28] Wahbah Zuhailî dalam tafsir Al-Munîr-nya juga mengartikan demikian.[29] Al-Zamakhsyarî mengartikannya dengan harta yang diambil dari bayt al-mâl.[30]

Tentu saja, bukan hanya mâl yang disebut dalam ayat itu saja yang merupakan milik Allah. Sebab semua harta, bahkan alam raya beserta isinya, adalah milik-Nya. Dengan demikian, tidak keliru kalau kita menegaskan bahwa harta dalam pandangan Al-Qur’a>n pada hakikatnya hanya milik Allah. Penegasan ini sebenarnya tidak hanya didasarkan kepada ayat di atas. Bahkan ia lebih didasarkan kepada keseluruhan pesan Al-Qur’a>n berkenaan dengan harta.

Pandangan bahwa harta adalah milik Allah akan melahirkan sejumlah prinsip yang secara langsung ada kaitannya dengan pemanfaatan kekayaan dan semangat sosialisme. Prinsip-prinsip itu di antaranya:

  1. Benda-benda ekonomi adalah milik Tuhan (dengan sendirinya), yang kemudian dititipkan kepada manusia; kekayaan sebagai amanat (Qs. Al-Anfâl, 8: 28, al-Taghâbun, 64: 15, al-Nisâ, 4: 6).
  2. Penerima amanat harus memperlakukan benda-benda itu sesuai dengan “kemauan” Sang Pemberi amanat (Tuhan), yaitu hendaknya diinfakkan menurut jalan Allah (Qs. Al-Nisâ, 4: 95, al-Anfâl, 8: 72, al-Tawbah, 9: 88, 11, 20, 44).
  3. Harta yang halal itu setiap tahun harus dibersihkan dengan zakat (Qs. Al-Tawbah, 9: 103, al-Lail, 92: 18).
  4. Penerima amanat harta tidak berhak menggunakan (untuk diri sendiri) harta itu semaunya, melainkan harus dengan timbang rasa begitu rupa sehingga tidak menyinggung rasa keadilan umum, tidak kikir dan juga tidak boros, melainkan berada di antara keduanya (Qs. Al-Furqân, 25: 67, al-Isrâ, 17: 28, al-Lail, 92: 18).
  5. Orang miskin mempunyai hak yang pasti dalam harta orang-orang kaya (Qs. Al-Ma’ârij, 70: 24, al-Dzâriyât, 51: 19).
  6. Kejahatan tertinggi terhadap kemanusiaan ialah menumpukkan kekayaan pribadi tanpa memberinya fungsi sosial (Qs. Al-Humazah, 104: 2-3, al-Hasyr, 59: 7, al-Tawbah, 9: 34).
  7. Manusia tidak akan memperoleh kebajikan sebelum mendistribusikan harta yang dicintainya (Qs. Âli ‘Imrân, 3: 92).[31]

Dalam hukum fikih, cita-cita keadilan sosial/ekonomi[32] ini dijabarkan menjadi ketentuan tentang halal dan haram dalam perolehan ekonomi (tidak boleh ada penindasan oleh manusia atas manusia, Qs. Al-Baqarah, 2: 279; dan tidak boleh ada pembenaran pada “struktur atas”, khususnya sistem pemerintahan dan perundangan, terhadap praktek-praktek penindasan, Qs. Al-Baqarah, 2: 188). Kemudian dilembagakan ketentutan kewajiban zakat, yang harus ditambah dengan anjuran kuat sekali untuk berderma. Penggunaan harta secara demikian selalu dilukiskan sebagai penggunaan “di jalan Tuhan”, karena memang mendukung cita-cita kenabian seperti terdapat dalam Kitab Suci. Karena zakat dan derma itu hanya sah bila harta kita halal, maka zakat dan derma itu boleh dikata sebagai finishing touch usaha pemerataan.[33]

  1. 2. Perintah dan Anjuran Menyangkut Distribusi Kekayaan

a.    Perintah:

Perintah Al-Qur’a>n menyangkut distribusi harta di antaranya adalah mengeluarkan zakat. Firman-Nya dalam Qs. al-Tawbah, 9: 103:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka…”

Ayat ini berkaitan erat dengan ayat sebelumnya (102). Ia berbicara tentang seorang sahabat yang bernama Abû Lubâbah dan beberapa rekannya yang tidak ikut dalam perang Tabûk, dan memilih tinggal bersama keluarga mereka, namun mereka sadar sehingga mengikat diri mereka masing-masing di tiang masjid dan enggan dilepas oleh siapa pun selain Rasul Saw.[34]

Mereka yang mengakui dosanya sewajarnya dibersihkan dari nodanya, dan karena sebab utama ketidakikutan mereka ke medan juang adalah ingin bersenang-senang dengan harta yang mereka miliki, atau disebabkan karena hartalah yang menghalangi mereka berangkat, maka ayat ini (103) memberi tuntunan tentang cara membersihkan diri, dan untuk itu Allah memerintahkan Nabi mengambil harta mereka untuk disedekahkan kepada yang berhak.[35]

Dalam tafsir al-Manâr dikatakan bahwa tiga ayat dari surat al-Tawbah (102,103 dan 104)) sedang menjelaskan faidah dan manfaat menyedekahkan harta seraya mendorong untuk melakukannya, juga sedang mendorong mereka yang tidak ikut berjuang di jalan Allah dengan harta atau jiwanya untuk segera bertobat.[36]

Dapat juga dikatakan, bahwa ayat sebelumnya berbicara tentang sekelompok orang yang imannya masih lemah, yang memcampurbaurkan amal baik dan buruk dalam kegiatannya. Mereka diharapkan dapat diampuni Allah. Salah satu cara pengampunan-Nya adalah melalui sedekah dan pembayaran zakat. Karena itu, di sini Nabi Saw. diperintah: Ambillah atas nama Allah sedekah, yakni harta berupa zakat dan sedekah yang hendaknya mereka serahkan dengan penuh kesunguhan dan ketulusan hati.

Dengan harta yang engkau ambil itu engkau membersihkan harta dan jiwa mereka, dan mensucikan jiwa lagi mengembangkan harta mereka.[37]

Walau ayat ini dalam konteks uraian tentang Abû Lubâbah dan kawan-kawan, namun ia berlaku umum. Demikian juga walau redaksi ayat ini tertuju kepada Rasul Saw. namun ia pun bersifat umum, yakni perintah itu ditujukan kepada siapa pun yang menjadi penguasa. Karena itu, ketika sekelompok orang pada masa Khalîfah Abû Bakar enggan membayar zakat dengan dalih bahwa perintah ini hanya ditujukan kepada Rasul, dan bukan kepada selain beliau, Khalîfah Abû Bakar menolak dalih tersebut, dan ketika mereka berkeras enggan membayar zakat beliau memerangi kelompok pembangkang itu.[38]

Kewajiban penunaian zakat kepada segmen masyarakat tertentu, bukanlah berupa perilaku kemurahan hati (charity) dari pihak penunai tapi merupakan keharusan yang setaraf dengan hutang yang harus dipenuhi.[39]

Dalam memahami ayat 103 surat al-Tawbah di atas, Hassan Hanafi sampai berpendapat bahwa pemerintahan yang sah berkewajiban untuk turun tangan secara langsung mengambil harta yang berada di tangan kaum kaya yang merupakan hak kaum yang membutuhkan, jika pihak yang pertama ingkar dan tidak mau mendistribusikan kekayaannya kepada pihak yang kedua. Itu karena, kata Hanafî, harta kekayaan harus mengalir di tengah-tengah anggota masyarakat seperti mengalirnya air, di mana siapa pun yang membutuhkan dapat mengambil dan mempergunakannya. Harta kekayaan, lanjut Hanafî, harus didistribusikan, jangan ditimbun.[40]

Zakat merupakan salah satu kiat Islam dalam rangka meraih cita-cita sosialnya. Ia juga merupakan penegasan bahwa dalam harta milik pribadi terdapat hak-hak mereka yang membutuhkan yang harus disalurkan kepada mereka. Kiat ini ditempuh Islam sambil melarang beberapa praktek transaksi yang dapat mengganggu keserasian hubungan antara anggota masyarakat.[41]

Adapun signifikansi zakat yang paling menonjol, didasarkan atas nilai-nilai dan prinsip-prinsip ideal sebagai berikut:

  1. Zakat merupakan cerminan falsafah Islam tentang harta, dan bahwasanya harta dalam pandangan Islam adalah milik Allah, manusia hanya mempunyai hak pendayagunaan dan pemanfaatan (QS. Al-Nûr, 24: 33).
  2. Zakat merupakan institusi Islam tentang keharusan terwujudnya keadilan sosial, yaitu dengan cara distribusi harta dari kaum kaya kepada fakir miskin dan pihak-pihak lain yang membutuhkan. Saking pentingnya zakat dilihat dari segi ini, tidak aneh kalau ia dijadikan salah satu pilar agama yang keislaman seseorang tidak dianggap sah tanpa terpenuhi rukun ini. Ayat-ayat Al-Qur’a>n tentang zakat pun senantiasa diiringi nada penegasan, peringatan dan ancaman baik di dunia maupun akhirat. Tak kurang dari empat puluh ayat menunjukkan makna ini dengan sangat jelas.
  3. Ia juga merupakan sarana pendidikan hati bagi kaum Muslim untuk ikut menanggung beban dan derita sesamanya. Sebab dengan mengeluarkan zakat berarti seorang Muslim telah mengenyahkan kepentingan priomordial, individual dan egoisnya.[42]

b. Anjuran:

Adapun anjuran Al-Qur’a>n menyangkut distribusi kekayaan, barangkali Qs. al-Baqarah, 2: 261-262 dapat kita jadikan sampel yang mewakili ayat-ayat lain yang mempunyai kandungan makna yang serupa dengannya. Ayat termaksud adalah:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tipa butir seratus biji, Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui (261). Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (262).

Dalam tafsir al-Munîr, Wahbah Zuhailî mengutip al-Kalabî yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sayyidinâ ‘Utsmân bin ‘Affân dan ‘Abd al-Rahmân bin ‘Auf yang membelanjakan sebagian harta mereka di jalan Allah, tepatnya untuk mendanai perang Tabûk.[43]

Ayat di atas mengandung perumpamaan tentang pelipatgandaan pahala bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah dan demi rida-Nya. Ia juga menjelaskan bahwa setiap kebaikan yang diberikan akan dilipatkan pahalanya sepuluh hingga 700 kali lipat.[44]

Ayat-ayat ini terkait dengan ayat 259 yang menjelaskan tentang pertanyaan bagaimana Allah menghidupkan negeri yang telah hancur berantakan. Dalam ayat itu dikemukakan bahwa membangun dunia dan memakmurkannya mengharuskan adanya manusia yang hidup, tinggal, bergerak, giat dan berusaha. Tanpa kehadiran manusia dan kehidupannya, maka satu negeri tidak akan makmur. Hidup bukan hanya menarik nafas dan menghembuskannya. Hidup adalah gerak, rasa, tahu, kehendak dan pilihan. Manusia tidak dapat memenuhi semua kebutuhannya. Ia harus saling membantu, saling melengkapi, dan karena itu pula mereka harus beragam dan berbeda-beda agar mereka saling membutuhkan. Yang tidak mampu dalam satu bidang dibantu oleh yang lain yang mumpuni, atau berlebih di bidang itu. Yang kuat membantu yang lemah. Inilah yang dijelaskan kelompok ayat 261-262.[45] Ayat 261 berpesan kepada yang berpunya agar tidak merasa berat membantu, karena apa yang dinafkahkan akan tambah berkembang dengan berlipat ganda.[46]

Pendangan bahwa membantu yang lemah itu sebenarnya memperkuat yang kuat, kita sebut sebagai solidaritas. Bantaun yang kita berikan sebetulnya bukan anugerah, tetapi harga yang harus kita bayar untuk kerja sama yang saling menguntungkan. Pada kehidupan sosial yang makro, uluran tangan pihak yang beruntung dalam menolong yang tidak beruntung akan memperkukuh integritas sosial. Sebaliknya, acuh tak acuh atas penderitaan orang lain akan berbalik menjadi bumerang.[47]

Menurut Hassan Hanafî, infak harta yang disebut ayat bukanlah zakat, melainkan investasi produktif yang menghasilkan sumber produksi.[48] Hal ini berarti bahwa al-mâl harus diupayakan untuk tidak idle (diam), agar fungsinya untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat dapat terpenuhi. Menurut syariat, investasi harus mengutamakan hal-hal yang menyentuh kebutuhan pokok masyarakat yakni sandang, pangan, dan papan, di samping pendidikan, pelayanan kesehatan, dan hal-hal lain yang dinilai vital dalam peningkatan kesejahteraan orang banyak.[49]

Infak tersebut bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan (dengan tidak bermaksud mencari perhatian orang, tapi untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar), dan harus dilakukan murni untuk mencari rida Allah dan membela kepentingan umum (Qs. Al-Baqarah, 2: 265, 274). Tidak jarang infak yang dikeluarkan hanya untuk mencari perhatian dan pujian orang (riyâ), atau untuk menyakiti perasaan orang yang menerima (Qs. Al-Baqarah, 2: 264). Para penginfak yang akan mendapat ganjaran Tuhan adalah mereka yang berinfak di “jalan Allah”, tulus karena-Nya, dan tidak mengiringi infaknya dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima (Qs. Al-Baqarah, 2: 262).

Dengan infak, akan terlihat keunggulan seseorang atas orang lain, kelebihan seorang mukmin atas mukmin lainnya. Kelebihan seseorang atas orang lain bukan terletak pada jumlah harta yang dimiliki, tapi pada kadar infak yang diberikan.[50]

Sedang infak yang bertolak belakang dengan kemaslahatan umum dan dimaksudkan untuk membendung laju agama Allah, maka hal seperti itu merupakan tindakan kekufuran (Qs. Al-Anfâl, 8: 36). Kufur dalam arti membelanjakan harta dalam rangka merusak tatanan nilai sosial serta mencederai hati nurani dan keadilan, dan dalam rangka menanamkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Ilahiyah.[51]

  1. 3. Larangan-larangan Menyangkut Pemanfaatan Harta

Secara umum, larangan-larangan menyangkut penggunaan harta mencakup empat aspek:

  1. Pemilik harta tidak diperkenankan untuk mempergunakan atau menginvestasikannya yang akan mengakibatkan kesulitan, gangguan, dan penganiayaan serta ketidakadilan pihak lain. Misalnya, investasi yang akan membawa pencemaran lingkungan atau meningkatkan peluang kriminalitas (8: 36).
  2. Dalam pemanfataan al-mâl, segala bentuk transaksi dengan pendekatan riba, monopoli, dan penipuan dikecam keras (4: 161; 30: 39; 2: 278-279; 59: 7-8).
  3. Kebijaksanaan pemilik al-mâl harus jauh dari penimbunan atau kekikiran atau pemborosan (9: 34; 25: 67). Kedua cara ini menimbulkan dampak negatif terhadap roda ekonomi. Penimbunan harta mengantar kepada stagnasi yang menghambat lajunya perkembangan ekonomi, sebaliknya pembelanjaan secara semena-mena berarti penghamburan sumber kekayaan yang dapat dinikmati oleh masyarakat.
  4. Larangan penggunaan al-mâl untuk mempengaruhi penguasa guna mencapai keuntungan material (2: 188). Larangan ini mencakup sogok menyogok, kolusi antara pemegang harta dan penguasa yang merugikan masyarakat banyak.[52]

Dari kelima butir di atas, penulis akan mengambil tiga di antaranya yaitu surah al-Baqarah, 2: 278-279, al-Tawbah, 9: 34-35, dan al-Hasyr, 59: 7-8 sebagai sampel. Berikut secara ringkas akan kami kutip penafsiran beberapa mufasir tentang masing-masing ayat tersebut:

Qs. Al-Baqarah:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan riba jika kamu orang-orang yang beriman (278). Maka jika kamu tidak mengerjakan (perintah itu) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (279).”

Diriwayatkan bahwa ayat ini (278) turun berkenaan dengan Banî ‘Amru bin ‘Umair dari Tsaqîf. Mereka mempunyai piutang yang menjadi tanggungan Banî al-Mughîrah dari Banî Makhzûm. Dikatakan juga bahwa ia turun berkenaan dengan ‘Abbâs. Ada pula yang bilang ia berkenaan dengan ‘Utsmân. Kata Al-Sadî, ia turun berkenaan dengan ‘Abbâs dan Khâlid bin al-Walîd. Keduanya, pada zaman jahiliah, merupakan mitra yang biasa bertansaksi dengan riba. Terlepas dari itu, yang jelas ketika mereka hendak melakukan transaksi ribawi, ayat ini turun.[53]

Ayat ini memerintahkan orang-orang yang beriman untuk meninggalkan sisa riba (yang belum dipungut) yang masih berada dalam transaksi yang telah mereka buat sebelum ayat ini turun. Penyebutan kata iman (âmanû) dan perintah bertakwa kepada Allah (ittaqû Allâha) di awal ayat dimaksudkan untuk mendorong mereka agar mau menerima perintah meninggalkan sisa riba itu.[54] Perintah untuk meninggalkan sisa riba dengan sendirinya merupakan larangan untuk mengadakan traksaksi ribawi baru.[55]

“Jika kalian tidak mengerjakan perintah itu (ayat 279),” sasaran khitâb dari penggalan ini adalah kaum mukminin. Tapi ada juga yang mengatakan, ia seruan untuk kaum kafir yang menghalalkan riba.[56]

“Maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu,” artinya, menurut al-Marâghî, ketahuilah bahwa kalian diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya. Perang yang dilakukan Allah adalah kemarahan dan pembalasan-Nya atas orang yang memakan riba.[57]

“Dan jika kamu bertaubat maka bagimu pokok harta…” Sebagian mufasir ada yang mengatakan bahwa jika mereka tidak bertaubat, maka mereka menjadi kafir, karena menolak hukum Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan-Nya. Dari ayat ini kita memahami bahwa jika mereka tidak bertaubat, maka mereka tidak berhak memperoleh ra’s al-mâl (pokok harta).

“Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” Penggalan ini merupakan pemberitahuan (ikhbâr) dari Allah bahwa jika mereka hanya mengambil pokok harta, maka mereka telah berlaku adil.[58]

Ayat lain yang kami angkat dalam konteks larangan menyangkut harta ini adalah surat al-Tabwah, 9: 34:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan peras dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak..,”

Bisa jadi penggalan ini merujuk kepada banyak dari para pendeta Yahudi dan rahib Nasrani (yang disebutkan sifat-sifatnya dalam penggalan sebelumnya dari ayat ini) untuk menunjukkan bahwa mereka melakukan dua hal yang tercela, yaitu mengambil suap dan menyimpan (menimbun) harta serta tidak menginfakannya di jalan kebaikan. Termasuk di dalamnya, kaum muslimin yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan sifat tercela yang dimiliki oleh para pendeta dan rahib itu. Bisa juga yang dimaksud oleh ayat adalah para penimbun harta dari kalangan kaum muslimin. Penyertaan penyebutan mereka dengan para pengambil suap dari kalangan Ahli Kitab merupakan bentuk ancaman yang keras (taghlîzhan).[59]

Ayat terakhir yang kami masukkan dalam kategori larangan Al-Qur’a>n menyangkut harta benda adalah surah al-Hasyr, 59: 7-8:

“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk negeri-negeri maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya kamu mengerjakannya maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya (7). Juga bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halamannya dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (8).”

Semua harta benda dan harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran adalah untuk Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Pendistribusian ini dilakukan agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja, sedang orang-orang miskin tidak mendapat apa-apa. Kata Ibnu Katsîr, sebagaimana dikutip Sa’îd Hawâ, pembagian ini ditempuh agar harta kekayaan itu tidak hanya menjadi milik beberapa gelintir orang kaya yang dapat mereka pergunakan sesuka mereka tanpa ada sedikit pun bagian yang diberikan kepada kaum fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan lainnya.[60] Ini menunjukkan bahwa tujuan yang hendak dicapai oleh aturan Islam mengenai harta adalah tidak adanya terkonsentrasi harta kekayaan di tangan orang-orang kaya saja. Oleh sebab itu Allah mengharamkan riba, monopoli (al-ihtikâr), penimbunan (iktinâz) dan menetepakan aturan waris. Demikian Sa’îd Hawâ.[61]

Solusi yang ditawarkan Islam lewat ayat-ayat di atas—dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya—dimaksudkan, di antaranya, untuk membebaskan masyarakat dari rasa lapar dan ketakutan akan kekurangan sumber pangan, dengan cara distribusi kekayaan yang adil antarmasyarakat, sehingga tercipta keadilan sosial.[62]

Akhirnya, dapatlah dikatakan bahwa ayat-ayat yang nilainya berisi perintah, anjuran dan larangan menyangkut harta, sejatinya mengajarkan kita tentang makna kepedulian dan kesejahteraan sosial. Kepedulian sosial yang ditunjukan oleh kalangan yang berkuasa dan kaya setidaknya dapat menjadikan—seperti kata Jalaluddin Rakhmat dalam Catatan Kang Jalal-nya—orang-orang miskin melihat orang-orang kaya sebagai manusia juga. Kecemburuan sosial karena deprivasi kekayaan sedikitnya dapat meminimalkan mobil mengkilat tidak lagi dan tidak hanya mengingatkan mereka pada jalan-jalan yang menggusur ‘tanah air’ mereka. Rumah besar tidak lagi dan tidak hanya menjadi raksasa rakus yang meluluh-lantahkan kampung mereka. Perut-perut  besar tidak lagi dan tidak hanya berisi keringat, air mata, dan darah mereka.

Kesenjangan sosial tidak serta merta diakhiri, tetapi keresahan karena kesenjangan itu sedikitnya terobati. Bila zakat, infak shadaqah dikeluarkan, orang-orang yang terpuruk itu mungkin akan melupakan derita mereka sejenak. Tampaknya Tuhan memang membagikan nasib berlainan, supaya saling menolong. Orang kaya memerlukan orang miskin sebagai pembantunya, dan orang miskin menghajatkan orang kaya sebagai pembelanya. Dengan begitu, keresahan dan kerusuhan dapat diredam. Orang-orang yang radikal bisa kecewa, karena revolusi terhambat.[63]

BAB III

PENUTUP

Al-mâl dalam pandangan Islam tidak sebatas sebagai harta milik yang dapat dimiliki oleh siapa pun, tanpa ada hak dan kewajiban berkaitan dengannya. Melihat jumlah penyebutan kata ini dalam Al-Qur’a>n (86 kali), dapat kiranya dikatakan bahwa al-mâl dalam pandangan Al-Qur’a>n menduduki posisi yang cukup signifikan. Signifikansi itu bukan hanya diukur dari kenyataan bahwa untuk dapat bertahan hidup manusia memerlukan al-mâl, tetapi, yang lebih penting, diukur dari banyak hal menyangkut harta kekayaan. Hal-hal itu antara lain, perintah dan anjuran serta larangan menyangkut kekayaan.

Hal lain yang penting dicatat adalah bahwa harta dalam pandangan Al-Qur’a>n (Islam) adalah milik Allah. Pandangan ini dengan sendirinya menuntut sikap-sikap tertentu dari orang yang “dititipi” Allah kekayaan-Nya. Di antara tuntutan itu adalah kesadaran bahwa hidup ini tidak sendiri, hidup ini layaknya sebuah jaringan yang satu sama lain saling terkait; saling membutuhkan, dan karenanya harus saling berbagi dan bahu-membahu, bantu-membantu. Bila kesadaran ini tertanam, maka salah satu pesan moral Al-Qur’a>n ketika ia membicarakan harta, yaitu terciptanya sebuah tatanan masyarakat yang berkeadilan sosial-ekonomi, tak akan terlalu sulit untuk diwujudkan.

Pembahasan di atas telah membawa kita kepada beberapa kesimpulan di bawah ini:

  1. Tidak ada yang salah dalam harta kekayaan.
  2. Allah menciptakan harta kekayaan untuk dicari, dimiliki dan kemudian dipergunakan dan diperoleh oleh manusia.
  3. Kekayaan adalah alat pendukung hidup manusia , oleh sebab itulah setiap manusia memiliki bagian dan hak untuk memilikinya.
  4. Kepemilikan dalam pembelajaran Al-Qur’a>n secara mendalam terbagi menjadi dua yaitu ;

a. Kepemilikan mutlak dan absolute (bagi Allah).

b. Kepemilikan terbatas (bagi manusia) .

  1. Dalam Al-Qur’a>n manusia diperintahkan untuk mencari kekayaan yang halal baik dari segi cara, tujuan maupun sarana untuk mencapai tujuan tersebut.
  2. Dalam hal distribusi kekayaan tersebut manusia di anjurkan untuk selalu memanfaatkannya kejalan yang benar. Misalnya selalu menginfakkan hartanya dijalan Allah, menjauhi dari manipulasi atau praktek riba dan juga menghindari dari sifat kikir (tamak) dan pemborosan.
  3. Timbulnya barakah dari suatu pekerjaan, bisnis atau kekayaan kita menandakan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan tersebut dirhidoi oleh Allah swt.

DAFTAR PUSTAKA

al-Bâqî, Muhammad Fuâd. ‘Abd Al-Mu’jam al-Mufahras lî Alfâzh al-Qur`ân. Beirut : Muassasah Jamâl lî al-Nasyr, tt.

_________, Muhammad fua>d ‘abd. almu’jam al-mufahras li alfaz al-Qur’a>n al-karim. Beirut : Da>r al-Fikr, 1998.

al-Darwîsy, Muhy al-Dîn. I’râb al-Qur`ân al-Karîm wa Bayânuh cet. IV. Beirut : Dâr Ibn Katsîr,1994.

Darwazah, Muhammad ‘Izzah. al-Tafsir al-Hadith, juz 12. Bairut : Da>r Ihya>’ al-Kutub al-‘Arabiyah, 1962.

Elias, Elias A. Elias & Ed. E. Elias’ Modern Dictionary (Arabic-English). Beirut : Dâr al-Jayl, 1979.

Hamsi>, Muhammad Hasan. Tafsir wa Baya>n Mufrada>t al-Qur’a>n, faha>ris al-Qur’a>n al-kari>m. Bairut : Muassasah li al-Ima>n, 1999.

Hanafî, Hassan. Al-Dîn wa al-Tsawrah fî Mishr (1952-1981), vol. VII (Al-Yamîn al-Yasâr fî al-Fikr al-Dînî). Kairo : Maktabah Madbûlî, tt.

_____________, Dirâsât Falsafiyah. Kairo : Maktabah Anglo al-Mishriyah, 1987.

Huwaidî, Fahmî. Al-Tadayyun al-Manqûsh, cet. I. Kairo: Dâr al-Syurûq, 1994.

Hawâ, Sa’îd. al-Asâs fî al-Tafsîr, cet. II vol. IV. Kairo : Dâr al-Salâm, 1989.

Ma’lûf, Louis. Al-Munjid fî al-Lughah wa al-A’lâm cet. XXXIV. Beirut : Dâr al-Masyriq, 1994.

al-Marâghî, Ahmad Mushtafâ. Tafsîr al-Marâghî. Kairo : Dâr al-Fikr, tt.

Madjid, Nurcholish. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, cet. XI. Bandung  : Mizan, 1998.

Prasetyo, Eko. Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal, Dari Wacana Menuju Gerakan cet. I. Yogyakarta : Insist Press & Pustaka Pelajar, 2002.

Quthb, Sayyid. Fî Zhilâl al-Qur`ân, cet. V, vol. X. Beirut : Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabî, tt.

____________, Al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyah fî al-Islâm, cet. VII. Kairo : Dâr al-Syurûq, 1980.

al-Qadlâwî, Yûsuf. Al-Hall al-Islâmî Farîdlah wa Dlarûrah, cet. IV. Kairo Maktabah Wahbah, 1987.

Ridlâ, Muhammad Rasyîd. Tafsîr al-Qurân al-Hakîm (Tafsîr al-Manâr), cet. II, vol. XI. Beirut : Dâr al-Ma’rifah li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr, tt.

Rakhmat, Jalaluddin. Islam Alternatif, cet. II. Bandung : Mizan, 1991.

_________________, Islam Aktual, cet. X . Bandung Mizan.

_________________, Catatan Kang Jalal. Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 1997.

Rafsanjani, Hujjatul Islam Ali Akbar Hashemi. Keadilan Sosial (Social Justice & Problem of Racial Discrimination). Bandung :Yayasan Nuansa Cendekia, 2001.

Shihab, Quraish. Tafsîr al-Mishbâh, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’a>n, cet. I, vol. V. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

_____________, Wawasan Al-Qur’a>n, Tafsir Maudlui atas Pelbagai Persoalan Umat, cet. VIII. Bandung : Mizan, 1998.

____________, Membumikan Al-Qur’a>n, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, cet. XII. Bandung : Mizan, 1996.

_____________, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, cet. IV. Bandung : Mizan, 1998.

Thanthawî, Muhammad Sayyid. Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah cet. III, vol. II. Kairo : Al-Mu’jam al-Wasîth,  tt.

______________, Mu’jam I’râb Alfâzh al-Qur`ân al-Karîm. Kairo : Al-Azhar Islamic Academy (Majma’ al-Buhûts al-Islâmiyah Al-Azhar), 1994.

al-Thabathabâ`î, Al-Sayyid Muhammad Husein. Al-Mîzân fî Tafsîr al-Qurân cet. II, vol. XV. Beirut : Muassasah al-A’lamî li al-Mathbû’ât, 1973.

Wehr, Hans. A Dictionary of Modern Written Arabic (Arabic-English) cet. V. Beirut : Libraire du Liban, 1980.

Yusuf, Muhammad. Perspektif al-Qur’a>n tentang al-Qasas. Yogyakarta: STIS, 1999.

Yûsuf, Muhammad bin (Abû Hayyân al-Andalusî al-Gharnâthî). Al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, vol. II. Beirut : Dâr al-Fikr, 1992.

Zuhailî, Wabah. Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj cet. II, vol. XVIII. Beirut : Dâr al-Fikr, 1998.

al-Zamakhsyarî, Abû al-Qâsim Jâr Allâh Mahmûd bin ‘Umar bin Muhammad. Al-Kasysyâf ‘an Haqâ`iq Ghawâmidl al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta`wîl cet. I, vol. III. Beirut : Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1995.

Balianzab, Pandangan Islam Terhadap Harta Dan Ekonomi”, dalam http://balianzahab.wordpress.com/makalah-hukum/hukum-islam/pandangan-islam-terhadap-harta-dan-ekonomi/ (2 Januari 20010)

Nabilah Akrom, “Kedudukan Harta Dalam Islam”, dalam http://nabela.blogdetik.com/islamic-economic/kedudukan-harta-dalam-islam/ (2 Januari 2010)


[1] Muhammad Yusuf, Perspektif al-Qur’a>n tentang al-Qasas (Yogyakarta: STIS, 1999), 1.

[2] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’a>n, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, cet. XII (Bandung : Mizan, 1996), 83.

[3] Ibid.

[4] Ibid., 87.

[5] Balianzab, Pandangan Islam Terhadap Harta Dan Ekonomi”, dalam http://balianzahab.wordpress.com/makalah-hukum/hukum-islam/pandangan-islam-terhadap-harta-dan-ekonomi/ (2 Januari 20010).

[6] Louis Ma’lûf, Al-Munjid fî al-Lughah wa al-A’lâm cet. XXXIV (Beirut : Dâr al-Masyriq, 1994), 780.

[7] Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah cet. III, vol. II, (Kairo : Al-Mu’ja>m al-Wasîth,  tt), 927.

[8] Property (tanah milik; milik), esatate (perkebunan; tanah; tanah milik), goods (harta benda; barang-barang), wares (barang-barang), commodities (barang-barang perdagangan; bahan-bahan keperluan), money (uang). Lihat, Elias A. Elias & Ed. E. Elias, Elias’ Modern Dictionary (Arabic-English) (Beirut : Dâr al-Jayl, 1979), 678. Lihat juga, Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic (Arabic-English) cet. V (Beirut : Libraire du Liban, 1980), 931-932.

[9] Bandingkan dengan kata al-Nabî (nabi) serta bentuk-bentuk derivasinya yang disebut sebanyak 80 kali dan kata al-Wahy (wahyu) serta segala bentuk derivasinya sebanyak 78 kali. Ini “seakan” menunjukan bahwa tema tentang al-Mâl (harta) menduduki posisi penting dalam Al-Qur’a>n (Islam), sehingga jumlah penyebutannya dalam Al-Qur’a>n sedikit melebihi jumlah penyebutan kata al-Nabî (lebih enam kali) dan al-Wahy (lebih delapan kali). Lihat, Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah fî Mishr (1952-1981), vol. VII (Al-Yamîn al-Yasâr fî al-Fikr al-Dînî), (Kairo : Maktabah Madbûlî, tt), 123. Untuk mengetahui tempat-tempat (surat dan nomor ayat) ke-86 kata al-mâl dan segala bentuk turunannya dalam Al-Qur’a>n dapat kita lihat dalam Muhammad Fuâd ‘Abd al-Bâqî, Al-Mu’jam al-Mufahras lî Alfâzh al-Qur`ân, (Beirut : Muassasah Jamâl lî al-Nasyr, tt), 682-683.

[10] Kata Hassan Hanafî, dua bentuk seperti ini menunjukkan bahwa harta, pertama sebagai wujud tersendiri yang terlepas dari kegiatan manusia; ia tidak dinisbahkan kepada seseorang atau kelompok. Kedua, berada dalam kegiatan manusia dalam bentuk usaha, investasi dan lain-lain. Al-Qur’a>n lebih sering menyebutnya dalam bentuk yang di-idlafat-kan dari pada yang tidak (54:32). Ini menunjukkan bahwa al-mâl yang berada dalam kegiatan manusia dalam bentuk usaha, investasi dan pendayagunaan lainnya merupakan tema utama (mihwar) dari pandangan Al-Qur’a>n tentang harta. Lihat, Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah________, 123.

[11] Ibid,  123-125.

[12] Untuk mengetahui kedudukan i’râb kata perkata dalam Al-Qur’a>n, kita dapat merujuk Muhammad Sayyid Thanthawî, Mu’jam I’râb Alfâzh al-Qur`ân al-Karîm (Kairo : Al-Azhar Islamic Academy (Majma’ al-Buhûts al-Islâmiyah Al-Azhar), 1994). Lihat juga, Muhy al-Dîn al-Darwîsy, I’râb al-Qur`ân al-Karîm wa Bayânuh cet. IV (Beirut : Dâr Ibn Katsîr,1994.)

[13] Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah______, 125

[14] Ibid, 129-131.

[15] Nabilah Akrom, “Kedudukan Harta Dalam Islam”, dalam http://nabela.blogdetik.com/islamic-economic/kedudukan-harta-dalam-islam/ (2 Januari 2010)

[16] Muhammad fua>d ‘abd. Ba>qi>, Al-Mu’jam al-Mufahras li> Alfaz al-Qur’a>n al-kari>m (Beirut : Da>r al-Fikr, 1998), 37.

[17] Muhammad Hasan Hamsi>, Tafsir wa Baya>n Mufrada>t al-Qur’a>n, faha>ris al-Qur’a>n al-kari>m (Bairut : Muassasah li al-Ima>n, 1999), 282.

[18] Urutan tersebut didasarkan pada kitab karangan Muhammad ‘Izzah Darwazah, Al-Tafsir al-Hadith, juz 12 (Bairut : Da>r Ihya>’ al-Kutub al-‘Arabiyah, 1962), 378-379.

[19] Maksudnya: Tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.

[20] Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

[21] Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.

[22] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama Telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

[23] Maksudnya: Yang tidak berperang karena uzur.

[24] Maksudnya: Yang tidak berperang tanpa alasan. sebagian ahli tafsir mengartikan qaa’idiin di sini sama dengan arti qaa’idiin Maksudnya: yang tidak berperang Karena uzur..

[25] Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta pada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi perjanjian itu dengan harta yang halal.

[26] Untuk mempercepat lunasnya perjanjian itu hendaklah budak- budak itu ditolong dengan harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.

[27] Maksudnya: Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu, selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.

[28] Lihat Al-Sayyid Muhammad Husein al-Thabathabâ`î, Al-Mîzân fî Tafsîr al-Qurân cet. II, vol. XV (Beirut : Muassasah al-A’lamî li al-Mathbû’ât, 1973), 113.

[29] Lihat Wahbah Zuhailî, Al-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah wa al-Manhaj cet. II 1998, vol. XVIII (Beirut : Dâr al-Fikr), 228.

[30] Lihat Abû al-Qâsim Jâr Allâh Mahmûd bin ‘Umar bin Muhammad al-Zamakhsyarî, Al-Kasysyâf ‘an Haqâ`iq Ghawâmidl al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta`wîl cet. I, vol. III (Beirut : Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1995), 232.

[31] Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, cet. XI  (Bandung  : Mizan, 1998), 110-111.

[32] Wacana tentang Keadilan Sosial, Kesenjangan Sosial, Kapitalisme, Sosialisme dan persoalan lain yang terkait dengan wacana itu, secara panjang lebar dapat kita kaji Hassan Hanafî, Al-Dîn wal al-Tsawrah fî Mishr (1952-1981), vol. VII (Al-Yamîn wa al-Yasâr fî al-Fikr al-Dînî), (Kairo : Maktabah Madbûlî, tt), 203-236. Lihat juga “Mâdzâ Ya’nî al-Yasâr al-Islâmî” dalam buku yang sama, vol. VIII (Al-Yasâr al-Islâmî wa al-Wahdah al-Wathaniyah), 51-58. Simak juga Eko Prasetyo, Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal, Dari Wacana Menuju Gerakan cet. I (Yogyakarta : Insist Press & Pustaka Pelajar, 2002)

[33] Nurkholos Madjid, __________________, 104.

[34] Quraish Shihab, Tafsîr al-Mishbâh, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’a>n, cet. I, vol. V (Jakarta : Lentera Hati, 2002), 663.

[35] Lihat Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al-Qur`ân, cet. V, vol. X  (Beirut : Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabî, tt), 300.

[36] Muhammad Rasyîd Ridlâ, Tafsîr al-Qurân al-Hakîm (Tafsîr al-Manâr), cet. II, vol. XI (Beirut : Dâr al-Ma’rifah li al-Thibâ’ah wa al-Nasyr, tt.), 23-24.

[37] Ibid.

[38] Ibid, 666.  Lihat juga, Muhammad Husein al-Thabâthabâ`î, Al-Mîzan_____, 377. Wahbah Zuhailî, Al-Tafsîr al-Munîr_______, 29.

[39] Alwi Shihab, Islam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, cet. IV (Bandung : Mizan, 1998),  266.

[40] Hassan Hanafî, al-Dîn wa al-Tsawrah_______, 135.

[41] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’a>n________, 243. Islam juga memandang bahwa kemunduran umat Islam bukan hanya terletak pada kejahilan tentang syariat Islam, tetapi juga pada ketimpangan struktur ekonomi dan sosial. Ini dilukiskan oleh Al-Qur’a>n ketika menjelaskan kemiskinan sebagai disebabkan oleh tidak adanya usaha bersama untuk membantu kelompok lemah, adanya kelompok yang memakan kekayaan alam dengan rakus dan mencintai kekayaan dengan kecintaan yang berlebihan (al-Fajr, 89:18-22). Karena itu, Islam menghendaki agar kekayaan tidak berputar pada kalangan orang kaya. Simak Qs. Al-Hasyr, 59:7. Lihat, Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif, cet. II (Bandung : Mizan, 1991), 41-42.

[42] Fahmî Huwaidî, Al-Tadayyun al-Manqûsh, cet. I (Kairo: Dâr al-Syurûq, 1994), 32-35. Menurut Quraish Shihab, ada tiga landasan filosofis bagi kewajiban zakat:

  1. Istikhlâf (Penugasan sebagai Khalifah di Bumi).

Allah adalah pemilik seluruh alam raya dan segala isinya, termasuk pemilik harta benda. Seseorang yang beruntung memperolehnya pada hakikatnya hanya menerima titipan sebagai amanat untuk disalurkan dan dibelanjakan sesuai kehendak pemiliknya (Allah).

  1. Solidaritas Sosial.

Manusia adalah makhluk sosial. Kebersamaan antara beberapa individu dalam satu wilayah membentuk masyarakat yang walaupun berbeda sifatnya dengan individu-individu tersebut, namun ia tidak dapat dipisahkan darinya. Manusia tidak dapat hidup tanpa masyarakatnya.

  1. Persaudaraan.

Manusia berasal dari satu keturunan, antara seorang dengan lainnya terdapat pertalian darah, dekat atau jauh. Kita semua bersaudara. Pertalian darah tersebut akan menjadi lebih kokoh dengan adanya persamaan-persamaan lain yaitu agama, kebangsaan, lokasi domisili dan sebagainya.

Kebersamaan dan persaudaraan inilah yang mengantarkan kepada kesadaran menyisihkan sebagian harta kekayaan khususnya kepada mereka yang butuh, baik dalam bentuk zakat, maupun shadaqah dan infak. Lihat, Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran______, 323-330. Lihat juga, Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’a>n, Tafsir Maudlui atas Pelbagai Persoalan Umat, cet. VIII (Bandung : Mizan, 1998), 456.

[43] Wahbah Zuhailî, al-Tafsîr al-Munîr_________, 42

[44] Ibid., 43.

[45] Quraish Shihab, Tafsîr al-Mishbâh__________, 529-530.

[46] Ibid., 530. Dalam Tafsir al-Mizân, al-Thabâthabâ`î mempunyai catatan khusus yang cukup menarik berkenaan dengan signifikansi infak dalam Islam. Catatan itu ia beri judul “Kalâm fî al-Infâq” (lihat, al-Thabâthabâ`î, al-Mîzân______________, 383-384).

[47] Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual, cet. X (Bandung Mizan), 234.

[48] Hassan Hanafî, al-Dîn wa al-Tsawrah______, 139.

[49] Alwi Shihab, Islam Inklusif_________________________, 268.

[50] Hassan Hanafî, Al-Dîn wa al-Tsawrah____________, 139.

[51] Ibid., Islam mengatur jalannya produksi agar dilakukan secara adil dan wajar. Al-Mâl (kekayaan) berupa kapital dan tanah, dan al-‘amal (karya) berupa tenaga, baik fisik maupun mental, diatur secara cermat oleh Islam. Untuk itu syariat mengatur kepemilikan (sementara) al-mâl serta cara memperoleh dan menginvestasikannya. Di samping itu Islam menjunjung tinggi al-‘amal (usaha/karya), sampai-sampai ia ditempatkan sebagai bagian dari iman. Proses pemilikan harta tidak dijadikan sebagai tujuan akhir, tapi justru sebagai sarana untuk berbakti kepada Allah. Oleh karena itu kesuksesan seseorang dalam proses pemilikan harta ini diukur dari kontribusinya untuk meningkatkan standar kehidupan masyarakat serta usahanya untuk memperkecil tingkat ketimpangan dan ketidakadilan antarmanusia. Lihat, Alwi Shihab, Islam Inklusif____________________, 262-264.

[52] Ibid., 268. Dapat kita tarik benang merah dari poin-poin di atas bahwa Islam sangat konsern dengan masalah-masalah yang tekait, baik langsung maupun tidak, dengan keadilan sosial dan persamaan, seperti pemberantasan ketidakberesan dalam distribusi ekonomi dan menghilangkan gap-gap yang teramat mencolok antara kelompok kaya dan kaum miskin. Umat Islam sekarang ini, kata Hassan Hanafi, diliputi berbagai kontradiksi internal; kekayaan alamnya melimpah, namun kemiskinan merebak di mana-mana, perut kosong melantunkan nyanyian keroncongan terdengar di berbagai penjuru, mulut-mulut lapar menganga di setiap pelosok, pada saat istana-istana megah berdiri dengan angkuhnya dan tak pernah peduli dengan mereka yang tak punya tempat berlindung, dengan mereka yang harus banting tulang mencari sesuap sekedar untuk bisa bertahan hidup. Lihat, Hassan Hanafî, Dirâsât Falsafiyah, (Kairo : Maktabah Anglo al-Mishriyah, 1987).

[53] Muhammad bin Yûsuf (Abû Hayyân al-Andalusî al-Gharnâthî), Al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, vol. II (Beirut : Dâr al-Fikr, 1992), 711-712.

[54] Ibid., 712. Tentang sebab-sebab mengapa riba diharamkan, lihat Ahmad Mushtafâ al-Marâghî, Tafsîr al-Marâghî, (Kairo : Dâr al-Fikr, tt), 56-63.

[55] Abû Hayyân al-Andalusî, Al-Bahr al-Muhîth________, 713.

[56] Ibid,. 714.

[57] Ahmad Mushtafâ al-Marâghî, Tafsîr al-Marâghî________________________, 67.

[58] Abû Hayyân, Al-Bahr al-Muhîth___________, 716.

[59] Sa’îd Hawâ, al-Asâs fî al-Tafsîr, cet. II vol. IV (Kairo : Dâr al-Salâm, 1989), 2277. Sa’îd Hawâ mengutip Ibn Katsîr yang mengatakan bahwa Abû Dzar berpendapat, haram hukumnya menyimpan harta yang melebihi kebutuhan nafkah keluarga. Abû Dzar, kata Ibn Katsir, berfatwa demikian, memerintahkan manusia untuk melaksanakan fatwanya, dan mengecam mereka yang menyimpang dari perintahnya. Tindakan Abû Dzar ini dicegah oleh Mu’âwiyah, tapi Abû Dzar tidak mau berhenti. Karena kuatir hal itu akan memberatkan manusia, maka Mu’âwiyah mengadukannya kepada Amîr al-Mu’minîn ‘Utsmân bin ‘Affân. ‘Utsmân lalu menyuruh Abû Dzar datang ke Madinah. Abû Dzar selanjutnya ditempatkan (dibuang?) di Rabadzah (suatu tempat sekitar tiga mil dari kota Madinah). Di sana ia meninggal pada masa khilâfah ‘Utsmân. Lihat, Sa’îd Hawâ, Al-Asâs ______________, 2281.

[60] Ibid,. 5822.

[61] Ibid,.

[62] Lebih lanjut tentang masalah keadilan sosial dalam Islam dapat kita lihat dalam Sayyid Quthb, Al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyah fî al-Islâm, cet. VII (Kairo : Dâr al-Syurûq, 1980). Yûsuf al-Qadlâwî, Al-Hall al-Islâmî Farîdlah wa Dlarûrah, cet. IV (Kairo Maktabah Wahbah, 1987), 53-59, dan lihat juga, Hujjatul Islam Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, Keadilan Sosial (Social Justice & Problem of Racial Discrimination), Bandung :Yayasan Nuansa Cendekia, 2001.

[63] Lihat Jalaluddin Rakhmat, Catatan Kang Jalal (Bandung : PT Remaja Rosda Karya, 1997), 220-221. Lihat juga, Jalaluddin Rahmat, Islam Aktual____________,  225-257.