Posts Tagged ‘Hadith Pada Masa Nabi Muhammad’

Al-Hadith dan al-Sunnah Qobla al-Tadwin
(Hadith Pada Masa Nabi Muhammad SAW.)

A. Pendahuluan

Sebuah kenyataan yang tak dapat dibantah apalagi diragukan adalah, bahwa Hadith telah ada sejak awal perkembangan Islam. Setelah al-Qur’an, Hadith merupakan sumber kedua yang menjadi rujukan ajaran Islam. Selain itu, seluruh umat Islam juga menerima faham, bahwa Hadith nabi itu sebagai pedoman utama, setelah al-Qur’an. tingkah laku manusia yang tidak ditegaskan hukumnya, tidak diterangkan cara mengamalkannya, tidak diperincikan menurut dalil yang utuh, tidak dikhususkan menurut ayat dalam al-Qur’an, maka hendaknya dicarikan penyelesaiannya dalam Hadith.

Hadith atau yang disebut juga dengan sunnah, adalah segala sesuatu yang bersumber atau didasarkan kepada Nabi SAW., baik berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya (perkataan atau perbuatan para sahabatnya) yang ditujukan sebagai syari’at bagi umat ini. Termasuk di dalamnya ‘apa saja yang hukumnya wajib dan sunnah’ sebagaimana pengertian umum menurut pandangan ahli Hadith. Juga ‘segala apa yang dianjurkan yang tidak sampai pada derajat wajib’ istilah yang digunakan oleh ahli fikih.

Pada realitas kehidupan masyarakat muslim, perkembangan Hadith Nabi secara kuantitatif cukup banyak sekali. Dengan memeriksa periode-periode yang telah dilalui, dapatlah kita mengetahui proses pertumbuhannya dan perkembangannya dari masa ke masa. Mempelajari sejarah perkembangan Hadith, baik perkembangan riwayat-riwayatnya maupun pembukuannya, amat diperlukan karena dipandang satu bagian dari pelajaran Hadith yang tak boleh dipisahkan. Lebih lanjut, apabila kita mempelajari dengan seksama suasana dan keadaan-keadaan yang telah dilalui Hadith sejak dari zaman tumbuhnya hingga dewasa ini, dapatlah kita menarik sebuah garis besar bahwa Hadith rasul sebagai dasar tasyri’ yang kedua telah melalui berbagai masa. Untuk itu, dalam makalah ini, pemakalah akan menyoroti : (1) Pengertian Hadith dan perbedaannya dengan Sunnah, (2) Hadith pada masa rasul.

B. Pengertian Hadits dan Perbedaanya dengan As-Sunnah
1. Pengertian Hadits
Secara etimologis, kata Hadith berarti: “Komunikasi, cerita, percakapan, baik dalam konteks agama atau duniawi, atau dalam konteks sejarah atau peristiwa dan kejadian aktual”. Sedangkan penggunaan kata Hadith dalam bentuk adjektiva, memiliki arti al-Jadid, yakni: yang baharu, lawan dari al-Qadim, yang lama. Dengan demikian, pemakaian kata Hadith di sini bermaksud untuk membedakannya dengan Al-Qur’an yang bersifat qadim atau lama.

Merujuk pada masa awal Islam, bahwa cerita dan pembicaraan Rasul SAW (Hadith) yang mendominasi dan memberikan solusi terhadap masalah yang timbul pada masa tersebut, oleh karenanya kata hadith mulai dikenal dan dipergunakan secara khusus untuk menjelaskan perkataan atau sabda yang bersumber dari Rasul SAW.

Kata hadith juga merupakan bentuk isim dari tahdith, yang mengandung arti: memberitahukan, mengabarkan. Berdasarkan pengertian inilah, selanjutnya setiap perkataan, perbuatan, atau penetapan (taqrir) yang disandarkan kepada Nabi SAW dinamakan dengan Hadis.

Menurut Ibn Hajar, Hadith secara terminologis, berarti: Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Definisi ini dianggap masih umum sekali, karena belum dijelaskan batasan sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW tersebut. Sedangkan definisi yang lebih terperinci, Hadith adalah Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dari perkataan, perbuatan, taqrir, atau sifat.

Pengertian lebih sempit lagi diberikan oleh Imam Taqiyyuddin ibn Taimiyyah. Beliau memberi batasan bahwa Hadis adalah: Seluruh yang diriwayatkan dari Rasul SAW sesudah kenabian beliau, yang terdiri atas perkataan, perbuatan, dan ikrar beliau. Dari definisi yang diberikan oleh ibn Taimiyyah inilah dapat diketahui, bahwa sesuatu yang disandarkan kepada Rasul SAW sesudah beliau diangkat menjadi Rasul (yang terdiri atas perkataan, perbuatan, dan takrir) disebut sebagai Hadith. Sedangkan sesuatu yang disandarkan kepada beliau sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, bukanlah Hadis.

Menurut Ulama Ushul Fiqh, yang dimaksud dengan Hadith yaitu seluruh perkataan Rasul SAW. yang pantas untuk dijadikan dalil dalam penetapan hukum syara’.

Berdasarkan rumusan definisi Hadith baik dari ahli Hadith maupun ahli Ushul, terdapat persamaan yaitu : Memberikan definisi yang terbatas pada sesuatu yang disandarkan kepada Rasul SAW, tanpa menyinggung-nyinggung prilaku dan ucapan sahabat atau tabi’in. Perbedaan mereka terletak pada cakupan definisinya. Definisi dari ahli hadith mencakup segala sesuatu yang disandarkan atau bersumber dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir. Sedangkan cakupan definisi hadith ahli usul, hanya menyangkut aspek perkataan Nabi saja yang bisa dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara’.

2. Pengertian as-Sunnah
Sunnah secara etimologis berarti : Jalan yang lurus dan berkesinambungan, yang baik atau yang buruk. Suatu tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik. Hal ini sesuai dengan Hadith yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim “Barang siapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala Sunnah itu dan pahala orang lain yang mengerjakan hingga hari kiamat. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat”.

Sedangkan, Sunnah menurut istilah para ahli Hadith ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW. Dalam kapasitas beliau sebagai imam yang memberi petunjuk dan penuntun yang memberikan nasihat yang diberitakan oleh Allah SWT sebagai teladan dan figur bagi kita. Sehingga para ahli Hadith ini mengambil apa saja yang berkenaan dengan Nabi SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, postur tubuh, pembawaan, informasi, baik yang membawa konsekuensi hukum syara’ atau tidak. Demikian itu sebelum Nabi SAW., dibangkitkan menjadi Rasul, maupun sesudahnya.

Menurut Fazlur Rahman, Sunnah adalah praktek aktual yang karena telah lama ditegakkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya memperoleh status normatif dan menjadi sunnah. Sunnah adalah sebuah konsep perilaku, maka sesuatu yang secara aktual dipraktekkan masyarakat untuk waktu yang cukup lama tidak hanya dipandang sebagai praktek yang aktual tetapi juga sebagai praktek yang normatif dari masyarakat tersebut.

Ulama Ushul membahas segala sesuatu dari Rasul SAW. dalam kapasitas beliau sebagai pembentuk syariat yang menjelaskan kepada manusia undang-undang kehidupan dan meletakkan kaidah-kaidah para mujtahid setelah beliau. Sehingga para ulama ushul memberikan definisi Sunnah adalah “Segala yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW., baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrirnya yang ada sangkut pautnya dengan hukum”.

Sedangkan ulama fiqh membahas segala sesuatu dari Nabi SAW. yang perbuatan-perbuatan beliau menunjukkan ketentuan syara’. Mereka mengaji hukum syara’ berkenaan dengan perbuatan manusia, baik dari segi wajib, haram, mubah atau yang lainnya.

Perbedaan pengertian tersebut di atas, disebabkan karena ulama Hadith memandang Nabi SAW., sebagai manusia yang sempurna, yang dijadikan suri teladan bagi umat Islam, sebagaimana firman Allah surat al-Ahzab ayat 21, sebagai berikut :

        ………… 
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”.

Ulama Hadits membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW., baik yang ada hubungannya dengan ketetapan hukum syariat Islam maupun tidak. Sedangkan Ulama Ushul Fiqh, memandang Nabi Muhammad SAW., sebagai Musyarri’, artinya pembuat undang-undang di samping Allah. Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 7 yang berbunyi:

       ………. 
“Apa yang diberikan oleh Rasul, maka ambillah atau kerjakanlah. Dan apa yang dilarang oleh Rasul, jauhilah”.

Ulama Fiqh, memandang sunnah ialah “Perbuatan yang dilakukan dalam agama, tetapi tingkatannya tidak sampai wajib atau fardlu.” Atau dengan kata lain sunnah adalah suatu amalan yang diberi pahala apabila dikerjakan, dan tidak dituntut apabila ditinggalkan. Menurut Dr.Taufiq dalam kitabnya Dinullah fi Kutubi Ambiyah menerangkan, bahwa Sunnah ialah suatu jalan yang dilakukan atau dipraktekkan oleh Nabi secara kontinyu dan diikuti oleh para sahabatnya; sedangkan Hadits ialah ucapan-ucapan Nabi yang diriwayatkan oleh seseorang, dua atau tiga orang perawi, dan tidak ada yang mengetahui ucapan-ucapan tersebut selain mereka sendiri.

Dari definisi Hadith dan Sunnah di atas, secara umum kedua istilah tersebut adalah sama, yaitu bahwa keduanya adalah sama-sama disandarkan kepada dan bersumber dari Rasul SAW. Perbedaan terjadi pada tinjauan masing-masing dari segi fungsi keduanya. Ulama Hadis menekankan pada fungsi Rasul SAW sebagai teladan dalam kehidupan ini, sementara Ulama Ushul Fiqh memandang Rasul SAW sebagai Syari’, yaitu sumber dari hukum Islam.

Istilah Sunnah di kalangan Ulama Hadis dan Ulama Ushul Fiqh kadang-kadang dipergunakan juga terhadap perbuatan para Sahabat, baik perbuatan tersebut dalam rangka mengamalkan isi atau kandungan Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW ataupun bukan.

Atau dengan kata lain, Hadits terbatas pada perkataan, perbuatan, taqrir yang bersumber dari Nabi SAW, sedangkan Sunnah segala yang bersumber dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, atau perjalan hidupnya, baik sebelum diangkat menjadi Rasul maupun sesudahnya.

C. Hadith Pada Masa Nabi SAW.
Untuk mendakwahkan Islam, menyampaikan hukum dan ajarannya, Nabi menghabiskan waktu dua puluh tiga tahun. Dalam jangka waktu selama itu sekaligus merupakan pengajaran praktis dan dasar bagi pembangunan peradaban Islam yang luhur, yang merubah sejarah dan mengembangkannya dengan senjata peradapan di segala aspek kehidupan.

Menyampaikan risalah dan amanah merupakan tugas penting yang diberikan Allah kepada Rasul pilihannya. Karena hanya Rasul pilihan dan yang punya keteguhan hatilah yang mampu memikul tugas yang sangat berat dan penuh risiko ini. Dan dipilihnya Muhammad SAW. untuk dididik dan mengajarkan kepada beliau dengan perhatian-Nya yang bersifat ketuhanan, agar beliau mampu memangku tugas risalah dan menyampaikannya pada umat beliau. Karena itulah, karena dibekali dengan bekal yang agung, baik aspek keilmuan maupun aspek etika, maka Rasul memiliki sifat yang luhur dan terpuji.

Adapun dari aspek keilmuan, Rasulullah dikaruniai kelapangan dada dan diajarkan sesuatu yang belum beliau ketahui. Karena itulah, Nabi memiliki keilmuan yang belum pernah dicapai selain dirinya. Beliau menjadi rujukan, penuntun dan pembimbing tepercaya menuju jalan yang lurus. Beliau menjadi teladan bagi para sahabat yang menyaksikan dan mendengar beliau yang kemudian mewariskannya kepada kita dengan penuh keikhlasan dan ketelitian.

Seluruh perbuatan Nabi, demikian juga ucapan dan tutur kata Nabi menjadi tumpuan perhatian para sahabat. Segala gerak-gerik Nabi menjadi contoh dan pedoman hidup mereka. Para sahabat sangat memperhatikan perilaku Nabi dan sangat memerlukan untuk mengetahui segala apa yang disabdakan Nabi. Mereka tentu meyakini, bahwa mereka diperintahkan mengikuti dan menaati apa-apa yang diperintahkan Nabi.

1. Metode Pengajaran Nabi Kepada Sahabat.
Metode yang ditempuh oleh Rasul dalam mengajarkan Hadith tidak lepas dari metode yang ditempuh oleh al-Qur’an. Sebagai penyampai al-Qur’an, beliau menjelaskan hukum-hukumnya dan menegaskan ayat-ayatnya. Dalam menyampaikan al-Qur’an beliau merinci ajaran-ajarannya dan mempraktekkan hukum-hukumnya. Selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, beliau menjadi seorang pengajar, qodhi, mufti dan panglima sepanjang hayat beliau. Seluruh persoalan yang dialami oleh individu yang tidak terdapat dalam al-Qur’an merupakan sunnah dari beliau.

Metode pengajaran yang dipakai oleh Rasul di antaranya :
1. Pengajaran bertahap
Untuk menghapus sebuah tradisi yang sudah berjalan lama, al-Qur’an memerlukan waktu yang cukup lama. Setahap demi setahap al-Qur’an memperbaiki akidah, tradisi yang berbahaya dan secara setahap pula al-Qur’an membangun pondasi aqidah yang benar, ibadah, hukum serta mengajarkan keberanian agar selalu bersabar dan teguh hati.
Dalam masa ini, Nabi menjelaskan al-Qur’an, memberikan fatwa, melerai pihak-pihak yang bersengketa, menegakkan hukuman dan mempraktekkan ajaran-ajaran al-Qur’an.

2. Pusat-pusat pengajaran
Pada masa Rasul, ketika dakwah masih dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, Dar al-Arqam bin Abdi Manaf “Dar al-Islam” di Makkah adalah pusat dakwah Islam. Tempat ini dijadikan untuk membaca, mempelajari dasar-dasar Islam dan menghafal al-Qur’an. Tempat ini sekaligus menjadi pusat kegiatan kaum muslimin untuk belajar dan menerima al-Qur’an dan Hadith dari Rasul. Dengan demikian, penghafalan Hadith pada masa itu selalu berdampingan dengan proses penghafalan al-Qur’an.

Selain Dar al-Islam, ketika sudah berdiri masjid, maka pusat belajar, memberikan fatwa dan menyelesaikan persoalan berpindah ke masjid, di samping mempunyai fungsi utama yaitu sebagai tempat ibadah.

3. Kebaikan pendidikan dan pengajaran
Sebagai Rasul yang terpilih, Rasul SAW merupakan figur pendidik, penyelamat dan pengajar sekaligus pembimbing. Kepada kaumnya, beliau bergaul secara baik. Rasul adalah figur yang rendah hati, guru yang bijaksana sekaligus penyayang.

Di dalam perkataannya, beliau selalu menggunakan perkataan yang tegas dan sangat terperinci, sehingga orang yang bertanya atau yang mendengarnya tidak lagi mengalami kebingungan. Bahkan, Rasul juga sering memberikan jawaban yang lebih luas dari hal yang ditanyakan.

4. Memberi variasi
Di dalam menyampaikan mau’idhahnya, Rasul sering memberikan variasi dan waktu senggang untuk para sahabat agar mereka tidak merasa bosan. Karena pengajaran dan pengarahan yang berturut-turut tentunya akan membuat cepat lelah dan bosan. Karena itulah, metode pengajaran nabi merupakan metode terbaik untuk mengukuhkan berbagai informasi atau pengetahuan kepada para sahabatnya. Menurut riwayat al-Bukhari, Ibnu Mas’ud pernah bercerita bahwa untuk tidak melahirkan rasa jenuh di kalangan sahabat, Rasul SAW menyampaikan hadithnya dengan berbagai cara, sehingga membuat para sahabat selalu ingin mengikuti pengajiannya.

5. Memberikan contoh praktis
Rasul mengajarkan al-Qur’an kepada sahabat ayat demi ayat beserta penjelasannya. Sehingga, bagi yang mendapatkan pelajaran dapat memahaminya, mempelajari kandungannya dan mempraktekkannya. Setelah mengerti dan paham, maka pengajaran akan dilanjutkan kepada pelajaran yang lainnya.

Hal ini diakui dalam dunia pendidikan, bahwa suatu ilmu yang disertai dengan bentuk penerapan, maka pengajaran itu akan lebih efektif dan lebih kuat melekat dalam hati dan tertancap dalam jiwa.

6. Memperhatikan situasi dan kondisi
Rasul SAW. dalam berbicara kepada orang lain selalu sesuai dengan kadar intelektual orang yang diajak berbicara. Alasannya, karena pembicaraan yang tidak bisa dipresepsi oleh akal pikiran bahkan pendengar, terkadang akan menimbulkan fitnah. Sehingga apa yang dikehendaki menjadi tidak sesuai.

Di samping pembicaraannya ditujukan kepada akal, pembicaraan beliau ditujukan kepada rasa dan nurani. Perkataannya mampu menggerakkan perasaan dan bahkan menggetarkannya, kadang kala membangunkan, tak jarang pula menina-bobokkan. Bila menangani suatu kasus, kehati-hatiannya dan kebijaksanaannya dalam mengangani suatu masalah laksana obat.

7. Memudahkan tidak memberatkan
Dalam menyampaikan Islam, Rasul menggunakan jalan tegas di samping menggunakan jalan yang termudah dan terlonggar. Beliau menggunakan metode yang paling mudah dan paling cepat diterima dalam mengajarkan hukum. Dalam metode penyampaiannya, beliau mengamalkan azimah (ketentuan utama) juga rukhshoh.

8. Pengajaran bagi wanita
Selain mengajarkan beberapa hal kepada kaum laki-laki, beliau juga memperhatikan kaum perempuan. Ada beberapa hari beliau memberikan waktu untuk bertanya dan belajar tentang Islam. Beliau memberikan waktu-waktu khusus untuk memberikan fatwa dan pengajaran tentang Islam. Dengan cara inilah wanita muslimah dapat mengenal syariat Islam.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa metode yang ditempuh oleh Rasul adalah pilihan Rasul untuk mengajar, mendidik dan menerapkan hukum-hukum syari’at di kalangan sahabat. Beliau melaksanakan tablig dan memberikan pengajaran bagi kau muslimin dengan jiwa yang bersih, pribadinya yang luhur dan lapang dada. Sehingga hukum-hukum, ajaran dan etika-etika yang diajarkan mampu diserap oleh para sahabat dan mengakar dalam jiwa mereka.

2. Metode sahabat memperoleh sunah dari Rasul.
Berbagai macam cara yang digunakan oleh sahabat untuk belajar sunah Rasul. Ketika para sahabat melihat mu’jizat dan mendapat hidayah dari Allah, maka hati para sahabat dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan Rasulnya. Mereka mati-matian melindungi penuntun dan pengajarnya, yaitu Rasul. Dan berikut ini adalah cara para sahabat memperoleh sunah Rasul ketika Rasul masih hidup bersama para sahabat :

1. Majelis-majelis Rasul.
Seluruh majelis yang dijadikan oleh Rasul dapat dipastikan bahwa majelis itu adalah majelis ilmu. Karena dari tiap-tiap majelis itu banyak sekali pelajaran yang diperoleh sahabat dari rasul.

Para sahabat juga sangat antusias mengikuti majelis-majelis beliau, di samping para sahabat melakukan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kadang ada yang berhalangan, maka mereka bergantian dengan sahabat lainnya agar bisa belajar dalam majelis Rasul.

Setelah mempelajari apa yang diajarkan oleh Rasul, banyak para sahabat mempelajari ulang apa yang mereka pelajari dari Rasul. Mereka akan mempelajari ulang sehingga ada beberapa dari para sahabat itu hafal apa yang dipelajarinya. Dan ada juga sebagian dari sahabat itu yang sengaja menghafal Hadith dan mengulang-ulanginya.

2. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri Rasul.
Dalam kesehariannya, rasul sering berinteraksi dengan para sahabat. Dalam interaksi ini, bila beliau menjumpai suatu kejadian yang tidak sesuai dengan hukum, maka beliau akan meluruskan dengan hukum yang sesuai. Dalam hal ini, hukum yang ada terjadi karena mendapat penjelasan dari Nabi kemudian disebarkan di kalangan kaum muslimin.

Terkadang, yang mendengarkan jumlahnya banyak, sehingga memungkinkan hukum tersebut menyebar dengan cepat. Tetapi kadang-kadang, yang mendengarnya dengan jumlah sedikit, sehingga rasul perlu mengirim utusan kebeberapa masyarakat untuk menyampaikan suatu hukum tertentu.

3. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kaum muslimin.
Dalam kasus ini, kebanyakan Rasul menjawab pada setiap kasus yang ditanyakan kepada beliau kemudian memberikan fatwa dan penjelasannya pada masalah yang ditanyakannya.

Para sahabat banyak menanyakan tentang muamalah, ibadah, akidah dan persoalan-persoalan mereka lainnya kepada Nabi. Dan Nabi pun menjawab pertanyaan mereka. Jawaban-jawaban, fatwa-fatwa dan persoalan-persoalan ini menjadi materi yang besar dalam beragam bab kitab-kitab Hadith.

4. Berbagai peristiwa dan kejadian yang disaksikan oleh sahabat, bagaimana Rasul melaksanakannya.
Tentang hal ini, banyak sekali bukti yang dapat ditemui. Misalnya, tentang sholat, puasa, haji, saat bepergian, saat di rumah dan hal-hal lain yang beliau kerjakan. Mereka (para sahabat yang melihat) kemudian memindahkan kepada tabi’in yang kemudian juga menyampaikan kepada generasi sesudah mereka. Kesemuanya itu membentuk sejumlah materi sunnah, khususnya berkenaan dengan bimbingan beliau mengenai ibadah dan mu’amalah serta jejak beliau.

3. Penyebaran hadith pada masa Rasul SAW
Sunnah dan al-Qur’an tersebar sejak awal islam, ketika jumlah pemeluknya masih sedikit dan ketika mereka masih di “Dar al-Islam”. Kemudian Islam menyebar di jazirah Arabia. Dalam semua tahap dakwah, Rasul SAW. menyampaikan Islam kepada masyarakat, memberikan fatwa, memberikan putusan, memberikan ceramah, memberikan bisikan baik di saat damai atau di saat perang, di saat sulit ataupun mudah, dan mengajari mereka sehingga mereka bisa menghafal berbagai hukum dan menerapkannya.

Ada beberapa faktor yang mendukung tersebarnya sunnah di berbagai penjuru pada masa Rasul, antara lain :

1. Kegigihan Rasul dan kesungguhan beliau dalam menyampaikan dakwah dan menyebarkan Islam. Berbagai cara beliau gunakan untuk menyebarkan dakwah. Kesulitan dan penyiksaan beliau terima ketika menyebarkan Islam. Tapi beliau tidak mengenal lelah sehingga Islam mencapai kejayaan dan mendapatkan kedaulatan yang kokoh. Dalam setiap tahap perkembangan itu, sunnah memiliki tempat tersendiri di hati kaum muslimin.

2. Karakter Islam dan norma-norma barunya yang menjadikan orang-orang bertanya tentang hukum-hukumnya, dan Rasul menjawab atas segala pertanyaan dan tidak ada keraguan atas jawabannya. Ada sebagian yang mendengar kemudian menanyakan Islam, dan kemudian masuk Islam. Sekembalinya mereka di kaum mereka, mereka menyampaikan apa yang didengar dan menyebarkannya.

3. Kegigihan dan kemauan keras para sahabat dalam menuntut, menghafal dan menyampaikan ilmu.

4. Para umm al-Mukminin. Mereka juga mempunyai peranan besar dalam menyampaikan agama dan menyebarkan sunnah di antara wanita-wanita muslimah lainnya. Ada sebagian muslimah yang malu bertanya kepada Rasul, sehingga mereka lebih menanyakan kepada istri nabi untuk melegakan hati. Karena istri-istri beliau itu selalu bertemu dengan rasul untuk mempelajari berbagai hukum dan meriwayatkan segala sesuatu yang tidak mungkin diriwayatkan oleh orang lain. Setelah Rasul wafat, merekalah yang menjadi rujukan dalam sebagian besar persoalan keagamaan.

5. Wanita-wanita sahabat. Kaum wanita memiliki peran yang besar dalam pemeliharaan dan penyampaian as-Sunnah. Mereka memiliki peran dalam membawa berbagai hukum yang berkaitan dengan wanita dan kehidupan suami-istri, yang memang ada kesulitan bagi laki-laki untuk menanyakan kepada rasul.

6. Para utusan Rasul. Mereka juga mempunyai andil yang sangat besar terhadap penyebaran sunnah. Dari kota Madinah kemudian mereka menyebar untuk mendakwahkan islam dan mengajarkan kepada mereka tentang islam seperti yang telah diajarkan oleh rasul kepada mereka.

7. Penaklukan Makkah (Fath Makkah) merupakan informasi historis yang mengagumkan yang ditulis berbagai sumber. Dicatat pula ceramah rasul yang disebarkan ke penjuru dunia, di samping penyebaran yang dilakukan oleh pemeluk-pemeluk islam baru terhadap apa yang mereka dengar, baik berupa pengarahan maupun bimbingan, kepada keluarga dan masyarakat mereka di Makkah maupun di tempat lain.

8. Haji Wada’. Ketika pada bulan Dzul Hijjah tahun 10 H Rasul melakukan Haji Wada’, di hadapan sejumlah besar jama’ah beliau menyampaikan ceramah yang lengkap, padat dan berisi tentang berbagai hukum. Antara lain tentang keharuman darah dan harta kaum muslimin, perintah memenuhi amanat. Hukum riba dan menjelaskan beberapa hak laki-laki dan wanita, anjuran untuk berbuat baik dan sebagainya.

Ceramah yang lengkap dan padat itu jelas merupakan faktor terpenting bagi penyebaran sunnah di kalangan kabilah-kabilah.

9. Para delegasi sesudah fath al-a’dhim dan Haji wada’. Setelah fath Makkah, berdatanganlah beberapa delegasi dari segenap penjuru untuk berbaiat kepada rasul dan bergabung di bawah naungan islam.

Faktor-faktor inilah yang mendukung penyebaran dan penyampaian sunnah di kalangan kaum muslimin di berbagai penjuru negara Islam saat ini. Sedangkan para sahabat yang paling banyak menerima pelajaran dari Rasul adalah :

1. Yang pertama-tama masuk Islam (as-Sabiquna al-Awwalun), Empat kholifah dan Abdullah ibn Mas’ud.
2. Yang berada di samping beliau dan paling banyak menghafalnya, Abu Hurairoh. Dan yang paling banyak mencatatnya, Abdullah ibn Amer ibn ‘Ash.
3. Yang lama hidupnya sesudah rasul atau yang dapat menerima Hadith sesama sahabat, Anas ibn Malik dan Abdullah ibn Abbas.
4. Yang paling erat hubungannya dengan Nabi, yakni Aisyah dan Ummu Salamah.

4. Penulisan Hadith pada masa Rasul
Semua penulis sejarah Rasul, ulama Hadith dan ummat Islam sependapat bahwa al-Qur’an mendapat perhatian lebih banyak di masa Rasul dan masa sahabat. Rasul memerintahkan para sahabat untuk menulis al-Qur’an, sedangkah Hadith, tentang penulisannya Nabi tidak memerintahkannya seperti beliau memerintahkannya untuk menulis Hadith.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa sedikitnya penulisan Hadith pada masa Rasul, di antaranya :
1. Mentadwinkan ucapan, amalan, dan muamalah rasul dinilai sangat sukar. Selain memerlukan beberapa sahabat yang selalu bersama beliau, diperlukan juga sahabat yang bisa menulis. Karena pada masa itu jarang sekali sahabat yang bisa menulis, sedangkan al-Qur’an dinilai sebagai sumber asasi dari syar’i, oleh sebab itu, beberapa penulis tersebut hanya diperintahkan untuk menulis al-Qur’an setiap Rasul mendapat wahyu.

2. Orang Arab kuat dalam hafalan. Sehingga mereka lebih memilih menghafal dibanding menuliskan. Di samping karena sedikit sekali orang arab yang bisa menulis dan membaca.

3. Karena dikhawatirkan akan bercampur dengan al-Qur’an. Karena sebab itulah, Nabi melarang mereka menulis Hadith, khawatir bila sabda-sabdanya bercampur dengan firman Allah.
لا تكتبواعني غير القران, ومن كتب عني غير القران فليمحه (رواه مسلم)
“Jangan Anda tulis apa yang Anda dengar daripadaku, selain al-Qur’an. Barang siapa yang telah menulis sesuatu yang selain dari al-Qur’an, hendaklah dihapus.”

Jadi jelas, bahwa pelarangan penulisan hadith pada zaman Rasul adalah dikhawatirkan akan mencampuradukkan antara Hadith dan al-Qur’an. Sedangkan ketika diperbolehkannya jika penulisannya hanya untuk kepentingan diri sendiri, bukan untuk umum.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa pada zaman Nabi, Hadith diterima dengan mengandalkan hafalan para sahabat Nabi, dan hanya sebagian hadith yang ditulis oleh para sahabat. Sehingga dalam masa Nabi, penulisan Hadith bersifat dan untuk kepentingan pribadi. Hadith Nabi yang berkembang pada masa Nabi, lebih banyak beredar secara hafalan dari pada secara tulisan. Penyebabnya adalah Nabi sendiri pernah melarang para sahabat untuk menulis hadith-nya, karena ada kekhawatiran bercampur dengan al-Qur’an. Dengan kenyataan ini, sangat logis sekali bahwa tidak seluruh hadith Nabi dapat terdokumentasi secara keseluruhan.

Selain daripada itu, sunah pada Rasul juga dihafal oleh para sahabat, berdampingan dengan hafalan mereka terhadap al-Qur’an. Meski ada perbedaan, ada yang “al-muktsir” (terlalu banyak), ada juga yang “al-muqil” (terlalu sedikit) dalam menghafalnya. Meski begitu, mereka telah bergumul dengan sunnah dan menghafalnya dengan cara yang sangat baik dan menyampaikannya kepada generasi sesudah mereka.

Mereka menghafal dari beliau sabda-sabda dan perbuatan-perbuatan beliau, (bahkan saat tidur dan jaga, gerak dan diam, perintah dan larangan, cara bicara, makan dan minum, cara bergaul dengan keluarga, janji-janji dan akad-akad, lirikan, pernafasan dan segala sifat beliau. Hal ini selain hukum-hukum syariat yang mereka hafal dari beliau dan selain ibadah, halal dan haram yang mereka tanyakan kepada beliau atau yang mereka laporkan kepada beliau. Para ahli Hadith meriwayatkan kesemuanya dengan sangat teliti dan dapat dipertanggungjawabkan.

Daftar Pustaka

‘Abbas Mutawalli Hamadah, al-Sunnah al-Nabawiyyah wa Makanatuha fi al-Tasyri’. Kairo: Dar al-Qawmiyyah, t.t.
Drs. Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadits. Bandung: PT. Alma’arif, 1985.
Dr. Muhamad ‘Ajjaj al-Khathib, Usul al-Hadith. Terjemah H.M Qodirun Nur Ahad Musyafiq. Jakarta : Gaya Media Pratama, 1998.
Hujair AH. Sanaky, “Hadits Pada Masa Nabi : Kajian Hadits dan Perbedaannya dengan as-Sunnah,al-Khabar, Atsar.” Dalam sanaky.com/hadits-pada-masa-nabi-kajian-hadits-dan-perbedaannya-dengan- as-sunnahal-khabar-atsar/
Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman ibn Abu Bakar al- Suyuthi, Tadrib al-Rawifi fi Syarh Taqrib al-Nawawi. Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H/1993 M.
Muhammad Mustafa Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature. Indianapolis, Indiana: American Trust Publications, 1413 H/ 1992.
Mahmud al-Thahan, Taisir Mushthalah al-Hadits. Beirut : Dar Al-Qur’an Al-Karim, 1979.
M. Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits; ‘Ulumuh wa Mustalahuh. Beirut: Dar al-Fikr, 1989.
—————–, Ushul al-Hadith –Pokok-Pokok Ilmu Hadith Penerjemah :Drs. H.M.. Qodirun dan Ahmad Musyafiq, Jakarta :Gaya Media Pratama, Cet. 2, 2001
M. Jamal al-Qasimi, Qawa’id al-Tahdits min Funun Mustholah al-Hadith. Kairo: al-Babi al-Halabi, 1961.
Media bilhikmah, Antara Sunnah, Hadits, Khabar Dan Atsar, dalam http://mediabilhikmah.multiply.com/journal/item/20
Pengajian Malam Liburan, Sejarah dan Perkembangan Ulumul Hadis, dalam http://pengajian-malamliburan.blogspot.com/2009/02/sejarah-dan-perkembangan-ulumul-hadis.html
Subhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Musthalahulu. Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1973.
Tengku Muhammad hasbi Ash shiddieqisejarah, Sejarah dan Pengantar ilmu Hadits. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2001.