Ketegangan Menjelang Pernikahan

Posted: April 3, 2009 in Uncategorized

“Pernikahan Kami tinggal dua minggu lagi.” Katanya padaku malam itu di sebuah cafe di kota Nganjuk. “Entah mengapa, mendadak, ada sesuatu hal yang dikatakan Si Dia membuat saya emosi. Kami bertengkar dengannya.” Tiba-tiba saja saya melihat ada keragu-raguan dengan pernikahnnya. “Aku tak tahu, perlukah rencana perkawinan ini kami lanjutkan?”ujarnya. “Aku tidak yakin, apakah dia orang yang aku cari selama ini?” tambahnya.

“Naf……….” sapaku padanya. “Kamu tidak apa-apakan ?” tanyaku padanya. Dia tak menjawab. “e………boleh aku bicara?” izinku padanya. Untuk memastikan, apakah dia mau mendengar perkataanku atau tidak. Ternyata dia mau, maka hal yang harus aku lakukan adalah memilih kata yang tepat agar dia tidak tersinggung dengan perkataanku.

‘Naf, Sebelum melakukan keputusan emosional yang membuat menyesal belakangan, sedikit tips untuk Manaf, sebaiknya Manaf tarik napas dalam-dalam lebih dulu.” Dia mengikuti ajakanku. Setelah memberikan beberapa waktu untuknya untuk menarik nafas, aku lanjutkan perkataanku. “Yang perlu Manaf ketahui, pertengkaran yang terjadi saat seperti ini ternyata dialami oleh hampir semua pasangan. Tidak hanya kamu saja naf yang mengalami ini. Kamu boleh percaya atau tidak, hampir semua pria ditempatku bekerja, menjelang detik-detik pernikahannya, mereka juga mengalami hal ini. Pasti kamu tanya, ‘kamu tahu darimana?’” dia melihatku kemudian kembali dengan pandangan kosong. “aku mendengar sendiri dari mereka.” Dia menoleh padaku lagi. “aneh ya ? meskipun aku belum pernah mengalami bagaimana rasanya pernikahan, tapi sepertinya mereka selalu minta pendapatku tentang ini. Aku sih merasa senang saja, diantara sekian banyak orang yang tidak percaya kepada orang lain, ternyata aku masih ada yang membutuhkannya. Aku masih dipercaya sebagai teman bicaranya.” Kataku dengan senyuman.

Kemudian ku ingat-ingat lagi memoriku. Kuingat-ingat lagi nasehatku yang biasa aku berikan pada temanku yang mempunyai masalah menjelang pernikahan mereka. “Ada beberapa alasan mengapa kita justru bertengkar saat sedang menyiapkan pernikahan. Salah satunya adalah yang berkaitan langsung dengan pernikahan itu sendiri.” Kataku padanya. “Seperti teman-temanku yang cerita padaku, seorang calon pengantin biasanya merasa tegang menghadapi dunia baru yang akan dijalaninya. Kamu sedang meragukan keputusan-keputusan yang telah dibuat, apakah hal tersebut membuatmu tenang dan nyaman, apakah pilihan yang Kamu tetapkan hanya menyenangkan bagi si Dia namun tidak bagimu, dan lain sebagainya.” Dia mendengarkanku dengan seksama. “Kamu juga merasakannya kan, Naf?” tanyaku. Dia mengiyakan. Aku tersenyum. Ternyata kasusnya selalu sama. Ketegangan menjelang pernikahanlah yang membuat pria-pria yang datang padaku. Mereka meragukan keputusan mereka.

“Penyebab lain adalah berkaitan dengan repotnya persiapan pernikahan.” Kataku padanya. Ku melihat ke arahnya. Sekedar mencari tahu, apkah dia mau mendengar ucapanku lagi. “Manaf, kamu dan si dia saat ini sama-sama sedang stres karena pernikahan sudah semakin dekat. Ini bisa terjadi bila tampaknya banyak hal yang belum berjalan sesuai dengan yang dia dan kamu harapkan. Atau, Dia merasa kamu tidak seantusias Dia dalam melakukan persiapan sehingga Dia merasa bekerja sendiri. Padahal, ini menyangkut satu prinsip penting tentang kesuksesan pernikahan. Disadari atau tidak, Pria seperti kita pada umumnya tidak mampu menangani sesuatu yang detail, seperti memilih desain dan teks undangan, atau menghitung budget sampai ke detail-detail-nya, bener tidak?” dia tersenyum mendengar pertanyaanku. Ini pertanda, bahwa dia mengakuinya. “Inilah yang yang membuat mereka stress. Mereka berharap banyak tentang pernikahan mereka.”

“Ada hal-hal yang perlu direnungkan dan dilakukan bila pertengkaran menjelang pernikahan seperti ini” ucapku memberi solusi. “Pertama, jangan sekali-sekali berpikir untuk membatalkan pernikahan. Ingat itu. Tapi bila Si Dia kedapatan masih berhubungan dengan pria lain, misalnya. Jika Anda mengalami pertengkaran yang mengerikan sebelum menikah, segera ingatkan diri Anda mengenai alasan-alasan indah mengapa Anda mau menikahi Si Dia.”

“Kedua, jika Kamu merasa perlu menjauh dari Si Dia untuk sesaat, lakukan saja. Jangan merasa bersalah karena Kamu butuh sejam-dua jam, atau sehari, tidak menemuinya. Lakukan kegiatan yang Kamu senangi, jalan-jalan, shopping, nongkrong bersama teman di kafe, nonton bioskop, sekadar untuk melepaskan ketegangan. Setelah merasa lebih santai, diskusikan masalah kamu dengan Si Dia. Biasanya ini berhasil. Kalau perlu, kamu ajaklah aku……..” kataku kemudian disambut dengan senyumannya.

“Ketiga, jangan terburu-buru melontarkan pernyataan yang akan membuat Si Dia berubah pikiran. Tak peduli betapa kesal dirimu padanya. Jika pertengkaran membuat usaha keras keluargamu menyiapkan pernikahan ini berakhir, kamu pasti menyesalinya nanti. Jangan segan meminta maaf jika pikiranmu sudah lebih jernih. Pastikan sudah tidak ada ganjalan di hatimu saat memasuki akad nikah nantinya.”

“Hingga penyelenggaraan resepsi, mungkin ada beberapa hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Tak perlu memikirkan hal-hal seperti ini. Yang sudah lewat, tidak perlu dibahas lagi. Kamu toh tidak bisa membuat semua orang senang, bener nggak?” tanyaku mengakhiri percakapan.

Komentar
  1. gessi mengatakan:

    ehmm….
    ini true story bukan??..😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s