Posted: April 17, 2009 in Uncategorized

Setiap orang pasti pernah merasakan betapa senangnya mendengar pujian, dan betapa menderitanya bila mendengar kritikan, meskipun kritikan itu banyak kebenarannya.

Seperti halnya Riu, Setiap orang akan merasa riang gembira bila dipuji. Kata hati ingin menari-nari bila dipuji. Sanjungan dan pujian ibarat Red wine jika telah masuk dalam tubuh. Orang yang telah meminumnya akan merasa telah berhasil memiliki bumi dan seisinya. Itulah efeknya bila sering mendengar pujian dan tergila-gila dengan pujian.

Beda rasanya jika ada salah satu teman kita atau orang lain mengkritik kita. Pasti kita akan merasa sedih dan bermuram durja. Cemberut dan bermasam muka tidak cukut itu, terkadang orang yang dikritik akan marah-marah jika mendengar dirinya dikritik.

Beberapa hari yang lalu Riu telah memberikan kritikan kepada salah seorang teman Riu. Sebenarnya tujuan Riu baik. Dengan kritikan itu Riu ingin memberitahukan kekurangan, kekeliruan dan kesalahan-kesalahannya. Sehingga setelah mendengar kritikan itu dia menjauhi segala kekurangan dan kesalahan dia yang kemudian akan mempebaiki semua kekurangan dan kesalahan dia.

Riu ingat pada satu pepatah kuno yang menyatakan, “Temanmu yang sejati adalah orang yang berkata benar kepadamu, bukan orang yang selalu membenarkan ucapanmu.”

Kata-kata itulah yang menjadi alasan Riu. Riu hanya ingin menjadi teman terbaik baginya. Kadang memberikan pujian jika benar dan memberikan kritikan bila Riu rasa sudah keterlaluan. Riu hanya ingin dia sadar dengan kesalahannya, Riu tidak ingin menjatuhkannya, apalagi mempermalukannya. Kalian tahu apa yang Riu terima ?

Dia marah besar padaku.

Mungkin kesalahan Riu juga bila memberikan kritikan di tengah orang-orang memberikan banyak pujian. Banyak teman-temanku yang tetap memberikan pujian padanya meskipun dia melakukan kesalahan. Apakah salah jika Riu memberikan masukan demi kebaikan dia, menyadarkan dia dari sanjungan yang sebenarnya tidak ada padanya ?

Bukan rahasia umum, jika kemajuan seseorang tergantung dari adanya kritikan. Sebab kritikan pada hakikatnya dapat membangkitkan cita-cita. Mendorong seseorang menjauhi segala kekurangan dan keburukan. Sebuah kritikan memaksa setiap orang untuk terus bekerja , agar dia menjadi orang yang terpuji di kemudian hari. Orang yang menerima kritikan akan mencurahkan segala kemampuannya untuk dapat menjadi orang yang maju tanpa kenal lelah dalam mewujudkan kebaikan untuk dirinya dan orang di sekitarnya. Intinya, sebuah kritikan adalah pemacu semangat untuk berubah menjadi lebih baik.

Sedangkan pujian itu seperti meniupkan tipuan ke lubang hidung seseorang sehingga hidung orang tersebut menggelembung karena kePeDean. Bahkan, sebuah pujian itu laksana memasukkan ‘setan’ kesombongan dan kecongkakan di ubun-ubun orang yang gila pujian. Sehingga orang tersebut merasa kebaikannya telah mencapai puncak tertinggi. Akibatnya, cita-citanya yang ingin menjadi mulia mengalami kemerosotan dan kelemahan. Keuletan dan keteguhannya menghadapi segala kesulitan menjadi patah. Bila dia orang yang berilmu maka ilmunya menjadi tidak berkembang, bila dia orang tersebut bodoh maka dia akan seperti sampah.

Pujian ada baiknya jika pujian itu malah membuat dia terpacu untuk lebih baik lagi. Tidak ada masalah jika pujian membuatnya semakin bersemangat dalam melaksanakan tugasnya. Yang jadi masalah adalah bila pujian itu melenakan dia dari tugas-tugasnya. Inilah yang terjadi dengan temanku itu. Dia sudah terlena dengan segala pujian yang dilontarkan kepadanya, sehingga dia lupa akan tugas-tugas yang diembankan kepadanya.

Mungkin saat ini dia berfikiran bahwa saat ini Riu melakukan balas dendam padanya. Riu bisa memakluminya, karena sebelum kejadian ini Riu telah dipermalukan dihadapkan orang yang selama ini menjadi idola Riu. Padahal sebenarnya tidak sama sekali. Riu tidak marah padanya karena dia telah berburuk sangka pada Riu yang berakibat Riu kena ‘semprot’ dari tokoh yang selama ini menjadi idola Riu.

Riu hanya mengharapkan padanya agar tidak tertipu oleh ucapan orang-orang yang menganggap bagus pada perbuatan dia, tindak-tanduk dia. Riu hanya menginginkan dia tidak tersihir oleh kata-kata manis orang-orang yang memujinya. Karena Riu tahu, sebagian besar kata-katanya adalah bohong besar, semuanya tidak benar. Mereka hanya bermaksud untuk menyenangkan hatinya. Mereka hanya bertujuan merebut hatimu.

Ini hanya jawaban Riu atas tuduhan-tuduhan yang di alamatkan pada Riu paska kritikan Riu. Semoga dia menyadari tujuan Riu. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s