:: Terbungkam ::

Posted: Agustus 10, 2009 in Uncategorized
Tag:, ,

“Aku pake ya….” ucapnya, kemudian meraih piring nasi yang baru aku pakai, aku mengangguk mengiyakan.

Beberapa langkah dia berjalan meninggalkanku, “tipe orang yang boros” ucapnya kemudian. Aku menoleh dari layar kaca yang ada di hadapanku ke arah dirinya yang sedang menunjuk sisa-sisa nasi dari bekas piringku.

“Maksudnya?” tanyaku penasaran.

“Seperti ini…!” tunjuknya pada sisa-sisa nasi itu lagi, “Orang yang makan dengan menyisakan nasi-nasi di piringnya ini artinya dia seorang yang terbiasa hidup boros.” Tambahnya.

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Ini adalah kedua kalinya dia berkata-kata seperti itu padaku. Menunjuk sisa nasi yang ada di piringku kemudian mengatakan bahwa aku seorang yang bertipe pemboros. “Emang dia peramal apa!” kataku dalam hati. Mencemooh sikap soknya.

“Oiya, mana card readernya?” tanyaku mengalihkan topik.

Dia menoleh padaku. “Kan sudah aku titipkan pada Natsir dan Ary.” Jawabnya sambil mengambil nasi dari tempat penghangat nasi.

“Belum. Mereka belum memberikannya padaku.”
Jawabku. Memang kenyataan, mereka berdua belum menyerahkan kepadaku.

“Kamu tuh terlalu pendiem kok, Rif. Kamu tuh terlalu tertutup. Tidak pernah bertanya pada orang lain kalau ada masalah. Card reader itu sudah aku titipin mereka setelah kamu minta kemarin. Makane, ngomong dong! Jangan diam saja. Tanya! Tanya……..!” jawabnya dengan nada menyindir.

“Jangan hanya berbicara pada orang yang baru kamu kenal saja, tapi pada orang terdekatmu kamu malah tidak pernah menyapa. Sekali-kali berceritalah pada teman-temanmu. Jangan diam saja.” Tambahnya lagi.

“Aku sudah biasa. Aku sudah terbiasa dengan itu. Terbiasa membicarakan masalah pribadi pada orang yang tidak aku kenal. Aku tidak percaya pada teman. Mereka tidak benar-benar bisa menyimpan rahasia meski sebelumnya aku sudah meminta “jangan bilang siapa-siapa ya” sampai berkali-kali. Mereka sering menceritakan ini dan selalu berkata “jangan bilang siapa-siapa ya” setiap selesai bercerita pada temannya. Semua itu akan berlanjut hingga aku tidak menyadari, rahasiaku sudah menjadi bahan gosip di antara kalian.” Jawabku.

“Apakah salah, setelah melihat kebiasaan mereka, jika aku tidak pernah bercerita lagi pada mereka. Mereka sendiri yang telah membuatku tidak percaya lagi pada mereka.”

Dia terdiam, tak berani menyanggah. “Satu suara telah terbungkam.” Kataku dalam hati. Hatiku tertawa lepas atas kekalahannya. Menertawakan ke-sok tahuannya pada kebiasaan-kebiasaanku yang tak sesuai dengannya. Semoga dia dapat mengerti, pasti ada alasan mengapa orang itu menjadi menjauh dari komunitasnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s