.: Sebuah Pertanda :.

Posted: Agustus 13, 2009 in Uncategorized
Tag:, , , ,


H -5

“Bu’, beberapa hari ini, mengapa ya, mimpiku selalu sama? Seorang wanita memanggil dan memberi baju putih kepadaku.” Ucap pria itu pada ibunya yang sedang menonton acara TV favoritnya, Inayah. Sang ibu sepertinya tak terusik dengan pertanyaan pemuda itu. Dia hanya menoleh sekilas dan melanjutkan aktivitasnya, menonton sinetron favoritnya.

Merasa tidak ditanggapi, dia pun bangkit dari kursinya dan masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan ibunya yang lebih memilih Inayah dibanding dengan dirinya.

Di dalam kamar, dia termenung cukup lama. Bingung antara dua pilihan, tidur atau tetap terjaga. Tidur, maka dia akan bermimpi dengan mimpi yang sama. Terjaga, tapi ibunya akan terus mengacuhkannya.

Dimatikannya lampu satu-satunya yang menerangi kamarnya. Menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Kemudian dia berdoa, semoga tidak bermimpi yang sama dengan malam-malam sebelumnya.

H -4

Pemuda itu berdiri mematung di depan pintu kamarnya. Sedari tadi dia melihat ibunya yang sedang asyik dengan infotaimentnya. Dengan ragu-ragu, dia melangkah mendekati ibunya. Duduk di samping ibunya kemudian berkata, “Aku mimpi lagi, Bu’. Mimpi yang sama.”

Jeda iklan, sang ibu menoleh dan mengelus rambutnya. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Pemuda itu masih menunggu. Semenit, dua menit, tiga menit. Percuma, ibunya kembali pada aktivitasnya. Melihat infotaimen yang sedang mewancarai melly goeslow yang sebentar lagi akan mengadakan konser tunggalnya.


H -3

“Bapak, adek mimpi lagi.” Sapa bocah itu pada bapaknya yang sedang bersiap berangkat kerja.

Lagi-lagi dia tak mendapatkan perhatian dari bapaknya. Setelah ibunya mengacuhkannya, kini ternyata bapaknya juga bersikap sama. Akhirnya dia pun diam dan kembali dalam aktivitas paginya, mengurus burungnya.

H -2

“Bu’ minta uang.” Rengek bocah itu pada ibunya yang tengah asyik membaca tabloid mingguannya.

“Buat apa?”

“Beli makan burung.” Jawab bocah itu polos.

“Kemarin, kan sudah……….” jawab sang ibu tanpa mengalihkannya dari tabloidnya.

“Sudah abis,” Jawabnya.

“Cepat sekali. Ngasih makannya seberapa?”

Bocah itu diam sejenak. Memilih-milih kata yang tepat tapi tak jadi dia katakan. Dia paham betul, ibunya tak menerima alasan apapun. “Boleh ya, bu’” rengeknya lagi

“Bu’” tambah bocah itu sambil memelas.

“iya, iya……tapi, beli sendiri, ya…. besok pagi saja, sekarang sudah sore.”

“Iya, tapi nanti ibu yang ngrawat burungku ya kalo adek pergi.”

Sang ibu tertegun. Dia mulai berpikir, ada yang aneh dengan anaknya ini. Tapi dia cepat-cepat membuat perasaan itu.“Mau pergi ke mana? Beli pakan burung saja seperti mau pergi jauh saja.”

“Tapi janji ya….” pinta bocah itu lagi pada ibunya untuk berjanji. Setelah mendapat anggukan dari sang ibu, dia pergi

Hari H

Mentari tak bergairah pagi ini. Sinarnya yang biasanya cerah, kini tertutup awan. Angin yang biasanya segar, pagi ini pun berhembus enggan, seakan tahu akan kejadian yang tak terprediksi.

Di teras rumah, pemuda itu masih disibukkan dengan aktivitas yang sama dengan setiap harinya, memberi makan burungnya yang telah dibelinya dari pasar burung dekat pengadilan kota Nganjuk 6 bulan yang lalu. Sejak itu, aktivitas tiap paginya disibukkan dengan mengurus burung. Memberi makan, memandikan dan terkadang menjemurnya di halaman.

“Cepet, bu. Sudah ditunggu 2 oran itu, lho…….” pinta bocah itu pada ibunya.

“siapa yang nunggu?” tanya sang ibu.

“itu, dua orang di depan rumah.”

“yang mana?”

“yang berpakaian putih-putih, itu lho….” sang ibu mencoba mengecek di teras. Tapi dia tak mendapati dua orang yang dimaksud anaknya. Dia kembali masuk ke dalam rumah, memberikan uang dua puluh ribuan pada anaknya.

“bu, nanti burungku dirawat, ya…..” pesan bocah itu lagi setelah mendapatkan uangnya.

“iya. Udah, hati-hati di jalan.”

“iya.” Jawab bocah itu kemudian berangkat dengan sepeda mungilnya.

Beberapa jam setelah kepergian bocah itu, sebuah mobil polisi datang menghampiri rumahnya. Dan sungguh tak dapat dikira, polisi itu mengabarkan bahwa anaknya kini sedang di rumah sakit karena menjadi korban tabrakan kereta.

Kedua orang tua itu langsung jatuh pingsan. Mereka kaget mendengar berita itu. Dia tak menyangka, perkataan ngelantur anaknya beberapa ini merupakan sebuah pertanda. Tanda bahwa dia akan meninggalkan mereka selamanya.

Nb : untuk sahabatku yang kemarin ditabrak kereta di Nganjuk

Komentar
  1. sedjatee mengatakan:

    hmmm… sangat mencekam… terkadang alam memberi isyarat kepada manusia…. salam sukses….

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  2. bzhwuykbzil mengatakan:

    hihaCo dzslhjqrsqev, [url=http://uwerniphtgce.com/]uwerniphtgce[/url], [link=http://mxstjywdktnz.com/]mxstjywdktnz[/link], http://ngxwlnchqxug.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s