.: A Love Letter :.

Posted: September 17, 2009 in Uncategorized
Tag:, , , , , , ,

Kupasang helmku setelah aku berhasil duduk di atas jok motorku. Kutekan kunci sedikit ke dalam dan me-nonaktifkan kunci stang dan memutarnya ke posisi on. Kemudian kutekan starter motorku hendak pulang, ketika mau membelokkan motorku ke arah pintu gerbang sekolah, salah satu murid dari kelas intensif memanggilku, “Tunggu, Pak Ada yang mau ngomong.” Kata dia sambil berlari-lari kecil ke arahku.

“Siapa?” tanyaku kemudian. Lalu kuputar kunci motor pada posisi off. Murid itu, Diska, mendekat ke arahku dan tersenyum, “Ada yang mau ngomong, pokoknya.”

“Iya, siapa?” tanyaku penasaran. Pikiranku menerka-nerka, siapakah yang ingin berbicara kepadaku. Dia tak menjawab, hanya tersenyum sambil menggodaku. Sepertinya dia ingin memberikan kejutan padaku. Baiklah, aku akan menunggu kejutan darinya.

“Kok nggak dimasukkan kresek sih……” Diska bergumam lirih, tapi aku mendengar dengan jelas apa yang dia katakan. Karena memang jarak kita tak berjauhan.

“Kenapa?” tanyaku. Tapi kemudian, aku mulai tahu yang Diska maksud setelah melihat salah satu murid yang lain, Dewi, datang menghampiri kami. Dia membawa bungkusan yang disembunyikan dibalik punggungnya. Dia tersenyum melihat kami. Aku semakin penasaran ketika dia datang dan menghampiri kami. Tak beberapa jauh dari kami, murid-murid lain, yang hendak pulang memerhatikan kami.

“Ada apa, Wi’?” tanyaku pada murid yang bernama Dewi itu. Entah mengapa, aku jadi salah tingkah. Atau jangan-jangan ini karena memang sudah sifatku, mudah sekali grogi kalau ada yang tidak sesuai dengan perkiraanku. Aku paksakan diri untuk tetap tersenyum menyambut dia meskipun ada rasa grogi. Dia menyerahkan bungkusan itu padaku, “Ini dari kami, murid Intensif.” Katanya dengan tersipu. Ternyata tidak aku saja, dia juga sebenarnya malu-malu memberikan bungkusan itu padaku.

“Apa ini?” tanyaku setelah aku menerima bingkisan itu. Kukocok-kocok bungkusan itu, menerka-nerka apa isinya.

“Itu dari kami, murid Intensif” jawabnya sambil melihat ke arah Diska. Seperti tahu dengan apa yang dimaksud, Diska mengangguk mengiyakan.

“Kami mohon maaf kalau nanti ada tulisan yang nggak enak hati menyinggung perasaan, Bapak.”

Aku tersenyum lagi mendengar jawabannya, “Siapa yang menulis?”

“Yang ini, Pak” jawabnya sambil menunjuk dirinya sendiri. Aku tak bisa menahan tawa melihat dia meminta maaf atas tindakannya. Padahal aku pun belum tahu apa isinya. Ah, kenapa dia melakukan itu? Aku semakin penasaran dengan isi bungkusan itu. Tapi tidak mungkinlah aku membuka langsung dihadapkan mereka, di hadapan murid-murid yang sedang beranjak pulang.

“Pokoknya mohon maaf banget nanti kalau ada tulisan yang tidak berkenan ya, Pak. Atas nama seluruh kelas Intensif, kami mengucapkan banyak terima kasih ke Bapak. Kalau ada kesalahan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Iya, pak, ya….?” tambah Dewi.

Aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku mendengar perkataannya, “Iya…..” jawabku meyakinkan mereka. “Memangnya ada apa sih, tumben banget?” tanyaku lagi.

Mereka hanya tertawa saja mendengar pertanyaanku. “Pak, mana undangannya?” tanya Dewi sambil mengedip-ngedipkan matanya, mencoba menggodaku.

“Undangan apaaa….?” tanyaku balik. Makin penasaran saja. Bagaimana tidak penasaran coba, baru ditinggal beberapa hari saja sudah puluhan gosip masuk ke telingaku. Mulai dari aku yang jadi tersangka menyembunyikan Hp anak-anak ketika pemeriksaanlah, memakai laptop barang sitaan lah, ada hubungan khusus dengan Bu Arifah lah, makin dekat dengan Bu Arifah lah, tunangan lah dan masih banyak lagi gosip-gosip lain yang masih belum aku dengar. Dari sekian gosip yang beredar menerpa diriku, sebenarnya aku tak begitu memperpedulikannya. Hanya satu yang sampai sekarang membuatku masih panas bila bertemu dengan orang-orang penebar gosip itu. Aku menyelamatkan hp anak-anak ketika pemeriksaan. Fuih!! Yang benar saja!

“Anak-anak yang lain bilang begitu, pak.” Jawab Diska mengalihkan perhatianku pada gosip-gosip yang kini mulai merasuki pikiranku. Gosip-gosip yang membuatku dan dia, my honey, merasa panas mendengarnya.

“Ah, gosip saja dipercaya” sanggahku menepis semua. Mereka tertawa mendengar jawabanku. Aku menebak, mereka masih belum percaya dengan jawaban yang aku berikan. “Sudah, kan? Kalau nggak ada lagi, aku mau balik sekarang.” Tambahku kemudian memasukkan bingkisan itu ke dalam tasku.

Mereka masih saja tertawa, aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka. Kuputar kunci motorku ke on lagi. Kutekan starter motorku dan berlalu meninggalkan mereka. “Maaf kalau mengganggu, Pak…..” kata dewi ketika motorku mulai melaju.

Benar-benar hari Sabtu yang melelahkan. Sampai di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamarku. Menyalakan komputer dan memutar lagu melalui program Winamp. Ketika hendak meneruskan menulis cerita pesanan temanku, tiba-tiba saja aku teringat dengan bingkisan yang diberikan padaku tadi. Segera kuambil tasku, kubuka dan kukeluarkan isinya. Sebuah bingkisan persegi empat terbungkuskan kertas kado berwarna kuning dengan gambar hiasan seperti kulit kacang. Ku sobek kertas bungkusnya dan kukeluarkan isinya.

Sebuah kotak persegi kini terlihat dengan jelas setelah kubuka bungkusnya. Kubuka kotak itu. sebuah foto berpigura hitam kini terlihat dengan jelas di dalam kotak, yang kini telah aku buka. Foto itu berisikan anggota kelas Intensif. Atho’, Dewi, Diska, Fia, Farida, Udin, Lutfi, Sari dan Rizqi. Sembilan anak dengan ekspresi malu-malu terlihat di dalam foto tersebut. Aku tersenyum melihat ekspresi mereka. Begitu polos.

Kemudian kucari kertas yang dimaksud Dewi. Kuambil foto berpigura itu dan meletakkannya di samping monitor komputerku. Di balik foto, kutemukan selembar kertas yang dimaksud oleh dewi. Kuraih dan kubaca tulisannya.

Tiba-tiba dadaku terasa sesak, seperti ada pukulan yang menghantamnya. Tak dapat aku lukiskan bagaimana perasaanku setelah membacanya. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana, haruskah aku bangga, bersedih, , ataukah bahagia. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu saat aku selesai membacanya.

Kualihkan pada foto yang diberikan oleh mereka, kuambil dan kupandang wajah-wajah mereka dengan lekat. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Air mataku menetes berlahan jatuh di atas foto itu.

“Terima kasih tuhan, atas kesempatan yang diberikan kepadaku untuk bisa bersama dengan mereka. Meski akhir-akhir ini aku tak bisa lagi mendampingi mereka, aku berharap mereka bisa mengerti dan bisa menemukan orang lain yang bisa menggantiku ketika diriku tak bisa lagi bersamanya.”

Lagunya Brian mcfaden “Sorry love Daddy” menggema dari Winamp komputerku. Aku tersenyum getir. Aku benar-benar merindukan saat-saat bersama mereka. Rindu. Sangat rindu.

“Sorry Love Daddy”

It seems like only yesterday
I held you in my arms and said
You will never need to fear the dark
But unforeseen misery has come
Between your Mommy and me
And we can love you more, now we are apart

Daddy, he’s got to go away
Coz there’s just no other way
To live this through
Someday, you’ll learn to understand
This wasn’t what I planned, for me and you
Sorry, love Daddy

Everyday is filled with pain
But never feel that you’re to blame
Sometimes life breaks, in mysterious ways
I can’t make it up to you
Believe me I am trying to
No matter what you’ll always be my babies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s