:: Hari Ke-11 Ramadhan 2009 : Sehat Kembali ::

Posted: September 17, 2009 in Uncategorized
Tag:, , , , , , , , , , , , ,

Badan masih terasa panas dingin ketika aku paksakan untuk bangun pagi ini. Kalau bukan karena sunahnya dan keadaan fisik yang masih lemah, sudah aku tinggalkan saja aktivitas sahurku. Tapi karena dari kemarin sudah berniat untuk tetap berpuasa, akhirnya pagi itu aku niatkan juga untuk sahur dan berpuasa.

Untungnya semalam sudah dibawakan obat oleh kakak. Meskipun aku belum yakin, sakit apakah aku, tapi begitu dibawakan Sanaflu, aku langsung meminumnya saja. Berdoa saja semoga obat itu memang cocok dengan penyakitku. Ternyata manjur. Alhamdulillah……

Dasar aneh. Dari dulu hingga sekarang, aku masih tetap tidak bisa mengetahui, sebenarnya aku ini menderita apa, sakit apa. Aku masih saja tidak bisa mendeskripsikan sakitku seperti apa. “Namanya sakit ya sakit” balasku ketika ditanya rasa sakitku. Kalau disuruh periksa ke dokter, aku juga periksa, tapi setelah sampai di rumah, ketika ditanya orang tua, jawabnya selalu sama, “Nggak tahu, lupa nggak tanya.” Kebiasaan.

Alhamdulillah, aku dilahirkan dalam keluarga yang anggota keluarganya saling menyayangi. Orangnya baik-baik banget padaku. Begitu aku ngomong sakit ke keluarga, kakakku langsung memberikan obat padaku, dibelikan bubur kacang ijo kesukaanku. Ibukku, yang tahu banget dengan snack favoritku langsung memborong snack yang mengandung cokelat favoritku. Puncaknya, seusai sholat tawarih, tiba-tiba bapakku datang ke kamarku menawarkan jasanya, “Mau dipijiti?”

“Mau banget,” jawabku dalam hati. Tak perlu jawaban kalau bapak sudah menawarkan jasa. Karena bila beliau sudah menawarkan jasa seperti itu, berarti beliau memang sudah niat untuk mijitin tubuhku. Tidak sembarang orang beliau nawarin jasanya, hanya kepada ibuku dan aku saja beliau itu mau mijitin. Sama kakakku? Nggak mungkin. Bukan rahasia umum lagi, kakak sama bapakku dari pertama kedatangan beliau di keluarga kami, kakak sudah tidak suka. Sampai sekarang pun tetap tak suka. Bapakku demikian juga, beliau juga tidak suka dengan sikap kakakku yang selalu meremehkan beliau. Karena itulah, kakak dan bapakku jarang sekali saling bicara. Kalau tidak ada kepentingan yang sangat penting mungkin mereka tidak akan pernah menyapa. Biasanya aku yang sering memancing mereka untuk saling menegur.

Beda dengan kakakku, beda pula dengan diriku. Beliau lebih terbuka kepadaku. Lebih sering cerita, lebih sering sharing. Padahal aku jarang cerita kalau ada masalah, hanya mendengarkan cerita beliau saja, beliau sudah baik banget denganku. Buktinya, kalau aku sakit, tanpa meminta, beliau sudah menawarkan jasa. Kalau begini terus, walaupun sakit, tapi tak akan terasa. Mudah-mudahan nanti kalau punya mertua, mertuaku juga akan seperti ini. Amin ya robbal alamin……

Sembari mijitin tubuhku, biasanya, bapakku akan memberikan tips-tips jitu bagaimana menyembuhkan penyakit dengan mijitin tubuh sendiri. Bagian-bagian mana saja yang harus dipijit. Terkadang, kalau aku sendiri tidak sempat untuk mijitin tubuhku, beliau menyarankan kepadaku untuk meminta bantuan kepada teman-temanku.

Nah, inilah yang menjadi masalah. Aku tipe orang yang merasa tidak enakkan kalau harus menyuruh orang untuk membantuku. Prinsipku, kalau segala hal itu masih bisa aku lakukan sendiri, aku akan melakukan sendiri. Aku paling anti meminta bantuan pada orang lain. Benar-benar sulit bagiku untuk mengatakan, “eh, bantuin dong….” pada orang lain walaupun orang itu adalah teman akrabku. Dan inilah yang membuatku merasa terasing dalam komunitasku.

Biasanya, dalam komunitasku, ada saja orang-orang yang setiap harinya, tak ada waktu selain mempersulit temannya. Capek sedikit, minta pijitin temannya. Tidak punya rokok, minta temannya. Nggak punya baju, pinjam baju temannya. Pokoknya setiap hari nggak waktu selain nyusahin temannya. Ya kalau temannya itu orangnya gampangan dan ringan tangan, setiap permintaannya selalu diiyakan, coba kalau dia minta pada orang yang sibuk dengan urusannya sendiri, kemudian tanpa ba-bi-bu, tiba-tiba saja dia nodong minta bantuan. Ya kalau temannya itu orang yang berani menolak dengan permintaan dia, bagaimana kalau orang yang dimintai pertolongan itu adalah orang yang tak berani menolak, entah itu karena dia sudah dianggap sahabat sendiri, rekan kerja atau apapun itu, mau menolak, dia merasa bersalah. Tidak menolak, dia juga punya urusan sendiri yang membutuhkan untuk segera diselesaikan. Serba salah, kan?

Saya punya teman seperti ini. Hampir setiap hari kerjanya selalu membuat susah rekan-rekannya. Sampai-sampai, di lingkungan kami pun dia mendapat julukan Tiga N gara-gara terlalu seringnya dia membuat susah temannya. Sebenarnya tidak salah jika kita (aku dan teman-temanku) menjuluki dia dengan julukan itu. Hampir setiap harinya, dia tidak akan luput dari Tiga N itu. N pertama adalah nyilih atau meminjam. Tidak punya baju, pinjam. Tidak punya kopyah, pinjem. Tidak punya motor, pinjem. Siapa yang tidak bosan bila setiap hari mendengar kata pinjem dari orang yang sama? Aku saja, yang jarang dipinjami, merasa jengah, apalagi orang yang setiap hari harus dipinjami seperti itu. Ck…ck…ck….

N kedua adalah Nebeng. Mungkin karena tidak mau bersusah payah, akhirnya dia keasyikan dengan sifat N-nya yang kedua ini, nebeng. Malas buat kopi sendiri, nglihat temannya sudah minum kopi, nebeng minum kopi temannya. Alasan yang pasti, “Satu seruputan wae…” sama saja, satu seruputan kalau setiap hari juga bosan melihatnya. Trus ada lagi, ketika sudah tidak punya rokok, melihat temannya menyulut rokok, tiba-tiba ikutan nebeng temannya. Alasannya, “Sak sedotan wae…” Huh! Aku kok jadi emosi ya jadinya……

N ketiga adalah njalok atau minta. Ini sebenarnya hampir sama dengan apa yang sudah aku sebutkan sebelumnya. Cuma bedanya, yang ini kesannya lebih elegan. Ada kata-kata meminta di depannya. Tapi…… kata-kata memintanya itulah yang rada memberi kesan negatif. Kesannya kok seperti, maaf, pengemis ya…… Sekali lagi maaf, bukan maksud hati menghina pekerjaan orang pengemis. Aku hanya merasa tidak tega saja melihat temanku berperilaku seperti itu.

Kenapa ya, kalau bapakku selalu menganjurkanku untuk meminta bantuan orang lain, aku selalu berpikiran tentang kebiasaan temanku itu. Mudah-mudahan aku tidak termasuk orang yang selalu menyusahkan orang lain. Tapi, apakah teman-temanku juga berpikiran sama denganku?

********

Hi, perkenalkan, namaku Ardian Sahru Ramadhan. Laki-laki berstatus mahasiswa yang sedang berpacaran dengan salah satu guru bernama Ardiani Putri Ramadhani.

Pagi ini, adikku yang sudah berumah tangga, yang tinggal bersama suaminya menelponku. Setelah tahu aku sakit, anaknya, Niswaranisa Pudja Rarasathi, yang baru bisa bicara juga mencoba menghiburku.

Duh, senangnya. Keponakan yang satu ini memang ngangenin sekaligus menggemaskan. Meskipun umurnya belum genap dua tahun, tapi sekarang sudah lancar berhitung. Hitungan satu hingga sepuluh berhasil dia hafalkan. Bahkan, terkadang juga mulai berhitung dengan bahasa inggris walaupun belum sempurna.

Selain itu, satu hal yang membuatku (ibukku juga) selalu kangen dengan keponakanku itu. Dia, Raras, aku memanggilnya, kalau ingin memanggil namaku, selalu memanggilku “poh” dengan mengulang lima kali sebelum namaku.

“Poh….poh….poh…poh…poh yan”

Pagi ini pun dia memanggilku seperti itu melalui teleponnya. Kalau saja dia berada dekat denganku, sudah kucubit pipinya yang menggemaskan itu. Mudah-mudahan lebaran ini dia kembali ke kotaku. Kami sekeluarga sudah sangat merindunya.

*******

“Met buka honey….. udah baekan blm?”

Tubuh yang semula panas, begitu membaca pesannya tiba-tiba terasa adeeeem……

Sepertinya tidak ada obat yang lebih manjur selain kata-kata dari dia. Ah, honey. Kenapa tidak dari kemarin saja kirim pesannya, jadinya aku tidak perlu merasa sakit dahulu untuk menerima pesan seperti itu.

Mungkin juga karena salahku, tidak mau merepotkan orang lain dengan keluh kesahku, jadinya ketika sakit pun aku tidak menghubunginya. Untungnya ada facebook, ketika dia membaca catatanku pada hari kesepuluh, akhirnya dia tahu. Kekasihnya sedang sakit saat ini.

Thanks honey, pesanmu buatku sehat kembali. Selain karena dari keluarga dan Tuhanku juga, tentunya……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s