:: Hari Ke-12 Ramadhan 2009 : Mengalihkan Duniaku ::

Posted: September 17, 2009 in Uncategorized
Tag:, , , , , , , , , , , ,

Perkenalkan, namaku Ardian Sahru Ramadhan. Seorang mahasiswa yang sedang jatuh cinta kepada Ardiani Putri Ramadhani. Selama Ramadhan ini, saya akan menuliskan pengalaman demi pengalaman bersama honeyku.

Satu hal yang ingin aku buktikan kepada honeyku, aku benar-benar mencintainya dengan segenap jiwa raga. Catatan ini aku persembahkan untuk dia, hanya untuk dia. Apakah ini terlalu berlebihan? Aku harap tidak. Karena semua ini terinspirasi dari salah satu lagunya Afgan, lagu favoritku.

”Wajahmu mengalihkan duniaku.”

********

Biar telat asal selamat.

Alon-alon asal kelakon.

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Pernah mendengar kata-kata itu? Tidak usah dijawab pun saya sudah tahu. Saya yakin, semua pasti pernah mendengar kata-kata itu. Akrab malah, karena setiap hari memang menjalankan prinsip itu. Benar?

Terlambat masuk kelas, ditanya gurunya, pasti jawabnya, “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, Pak.”

Terlambat mengerjakan pekerjaan rumah, terlambat mengumpulkan tugas, alasannya, “Alon-alon asal kelakon, Bu.”

Terlambat masuk kantor, padahal tugas sudah menumpuk, dalihnya, “Biar telat asal selamat.”

Dan masih banyak alasan-alasan lainnya yang sering kita lontarkan demi menyelamatkan kita dari hukuman. Sadar atau tidak, kita sering sekali melakukan kebiasaan-kebiasaan itu. Dalam melakukan aktivitas apapun, sering kali kita mengandalkan kata-kata tersebut untuk apologi kita. Alasan yang terus dan terus diucapkan dan dijalankan.

Lantas, sebagai manusia yang seharusnya berprinsip “Hari ini harus lebih bagus dari hari kemarin,” di mana buktinya? Kalau kita masih saja melakukan aktivitas yang sama, alasan yang sama, bukankah kita termasuk golongan orang yang merugi? Kalau sudah tahu kita termasuk orang merugi, apakah tidak ada keinginan untuk melakukan perubahan?

Yup, perubahan. Kita butuh perubahan. Sekecil apapun perubahan itu, akan sangat berarti sekali daripada tidak sama sekali. Perubahan yang sedikit akan lebih bermakna daripada melakukan hal yang sama setiap hari. Akan berarti lagi kalau perubahan itu kita laksanakan untuk menghapus apologi kita yang selalu sama bila melakukan kesalahan. Bukankah manusia dituntut untuk selalu berubah? Kalau sudah tahu itu, mengapa tidak kita mulai sekarang melakukan perubahan itu?

Beberapa tahun terakhir, berkali-kali saya harus kecewa karena mempunyai teman yang selalu berprinsip Alon-alon sing penting kelakon.” Sikap saya yang tidak bisa menerima segala sesuatu yang dikerjakan dengan ’alon-alon” telah menempatkan saya pada level orang paling dibenci sekaligus dijauhi oleh teman-teman saya.

Mereka menganggap, saya terlalu sombong. Saya terlalu arogan. Saya terlalu judes, pemarah dan lain sebagainya. Yang intinya, mereka tidak suka bila saya menghendaki mereka melakukan segala sesuatu, menjalankan sesuatu dengan ”kesusu”. Mereka selalu tidak terima jika saya marah-marah kepada mereka. Mereka tidak terima jika saya selalu menyalahkan mereka. Mereka tidak terima dengan perlakuan saya yang selalu menyindir kerja mereka.

Saya sering mendengar, di belakang saya, mereka mencibir saya. Saya mendengar, mereka sangat membenci saya. Kata mereka, “Seperti orang yang tidak pernah melakukan kesalahan saja.”

Hallooooo…….?!! Justru karena saya sudah pernah melakukan kesalahan itu, saya tidak mau kesalahan saya terulang pada mereka. Karena saya pernah bersalah, maka saya tidak mau melakukan kesalahan lagi. Bukankah manusia yang baik itu katanya yang bisa belajar dari kesalahan? bila mereka melakukan kesalahan lalu saya marah-marah, apakah saya salah?

Saya hanya tidak ingin mereka melakukan kesalahan yang sama. Saya hanya tidak ingin mereka menyesal karena melakukan kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya hanya ingin mereka belajar dari kesalahan dan kekeliruan saya. Itu saja.

Tapi sayang, karena mereka sudah membenci saya, memusuhi saya, hingga akhirnya alasan-alasan yang sudah saya berikan tidak berarti lagi bagi mereka. Lalu, apa gunanya lagi saya bersama mereka?

Saya tidak sombong. Saya tidak arogan. Saya hanya ingin mereka belajar dari kesalahan.

Beberapa hari yang lalu, saya menerima pesan dari salah satu dari mereka di kotak pesan saya, “Andrian, kok tidak pernah kelihatan lagi?”

Sebuah pesan singkat yang amat jelas. Jadi saya tidak perlu lagi menjelaskan apa maksudnya.

Yup. Bila selama ini mereka membenci saya, memusuhi saya, mengapa sekarang mereka mengharap kehadiran saya? Bukankah mereka begitu membenci saya? Bukankah mereka tidak mengharap kehadiran saya? Lalu, begitu saya berlalu dari mereka, mengapa mereka mencari saya?

Hewan saja lebih beradab dibanding manusia. Begitu kalimat pendek yang pernah saya jumpai di salah satu bacaan yang saya baca. Begitulah aku memandang mereka sekarang. Atau lagunya Acha yang terbaru, Karena sekali cinta ini tersakiti, maka semua kan berubah jadi benci. Ini juga jawabanku untuk pertanyaan mereka.

Selama beberapa bulan ini, saya mencoba bertahan, berharap mereka melakukan perubahan seperti yang saya inginkan. Tapi sayangnya, harapan tinggal harapan. Cita-cita hanya melayang di angkasa, tak ada perubahan. Lantas, apakah saya bersalah jika mencari perubahan itu di tempat lain? Apakah saya harus bertahan bersama mereka, yang selalu mengagung-agungkan masa lalunya? Apakah saya harus bertahan bersama mereka yang selalu stagnan dalam kegiatannya?

Tidak. Saya tidak mau. Saya butuh perubahan. Saya tidak mau tinggal bersama mereka yang tidak mau berkembang.

Saya tidak mau.

Sebuah pesan singkat yang mengagetkan dan mengharuskanku untuk menepi dari jalur motorku.

“honey, servisnya 400,yg sparepartx g asli. Ya asli 600,tp aq lm deal. Misal km tanyain dulu di tmptmu, gmn?”

Ah, honeyku. Kau mengingatkanku pada barang itu. Pesan singkatmu mengalihkan duniaku. Kau menghancurkan imajinasiku. Tapi aku berterima kasih padamu, karena pesan singkatmu, aku jadi punya waktu untuk mengistirahatkan badanku dari jauhnya perjalanan panjang yang harus aku tempuh. Kau telah menyadarkanku dari pikiran-pikiran anehku.

Honey, I love you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s