:: Hari ke-17 Ramadhan 2009 : Stop berfikir negatif ::

Posted: September 17, 2009 in Uncategorized
Tag:, , , , , , , , , , , ,

Lanjutan kisah ini seakan mulai berganti arah. Mulai dari kisah percintaan antara aku dan honey, kini akan lebih berubah ke kehidupan pribadi. Tidak ada masalah, hanya ingin sedikit berbenah. Barangkali, ini memang waktu yang diberikan untuk melihat kembali hubungan di antara kami. Saatnya intropeksi.

Bagi yang belum tahu, perkenalkan, namaku Ardian Sahru Ramadhan. Mahasiswa semester awal yang sedang menjalin hubungan dengan Ardiani Putri Ramadhani, aku memanggilnya honey.

Ini adalah catatan perjalanan cinta kami.

*******

Beberapa hari ini aku mencoba melihat profil beserta status-status yang pernah aku pasang di facebookku. Tak ketinggalan membaca komentar-komentar yang ada di catatanku. Setelah membaca beberapa, aku merasa ada yang aneh dengan komentar-komentarku. Dari sekian banyak komentar. Beberapa diantaranya barangkali menjadi boomerang bagiku.

Kemudian, aku mencoba untuk melihat komentar-komentar dalam status teman-temanku. Dari sekian banyak komentar dalam status friendlistku, tetap saja, komentarku yang terlihat paling sadis dibanding yang lainnya. Terlepas apakah mereka terima atau tidak, sepertinya komentar-komentarku akan terus berlanjut seperti itu.

Melihat gelagat teman-temanku yang sekarang jarang mengomentari status atau catatanku, sepertinya satu-persatu mereka akan mulai menjauhiku. Terlalu! Apakah mereka mengira, komentar-komentar itu nyata? Sebenarnya, kalau mereka ingin tahu, itu hanya caraku untuk bercanda-canda dengan mereka. Kapan lagi aku bisa menyapa mereka kalau bukan lewat facebook?

Merasa aneh saja, jika mereka suka bercanda, suka bersuka-suka, ketika membaca komentarku, kok segalanya merasa gerah, ya…. Padahal, itu juga bagian dari gayaku untuk bersuka-suka di dunia maya.

Bercanda. Hanya bercanda. Itu saja. Tapi mereka salah mengartikan semua.

Ah, mungkin aku terlalu berfikiran negatif dengan perubahan sikap mereka. Karena aku sadar, dari data survie yang sudah dipublikasikan, kebanyakan dari kita cenderung lebih mudah melihat atau berpikir dari sisi negatif. Buktinya, aku sering menyebutkan hal-hal negatif terlebih dahulu saat menilai diri sendiri dan orang lain. Dan daftar hal – hal yang negatif juga terlihat lebih panjang daripada yang positif.

Hal ini membuktikan bahwa, berpikir negatif tampaknya menjadi bagian dari kehidupan kita sebagai manusia yang tidak sempurna.

Ada kalanya pikiran negatif membuat kita tetap waspada dan berjaga jaga, curiga. Meski kecurigaan tersebut dapat membantu waspada dan berjaga – jaga, tetapi kita perlu membatasi pikiran negatifnya.

Artinya adalah boleh saja ia waspada, tetapi berhenti mencurigai tanpa bukti yang kuat atau alasan yang jelas. Jangan biarkan pikiran negatif meracuni diri dan membuat sahabat-sahabat dan kita bertengkar bahkan sampai akhirnya tak saling menyapa.

Lantas, bagaimana agar kita tidak menyerah pada pikiran negatif ? bagaimana kita harus membatasi pikiran negatif?

Dari artikel yang pernah saya baca, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan pikiran negatif dari kepala kita, antara lain:

Pertama, batasi pikiran negatif dengan berpikir rasional. Ketika pikiran negatif muncul, kita harus melatih diri kita untuk berpikir rasional, berpikir dengan jernih, menimbang dan mencoba mencari bukti atau penjelasan. Pada kasus sahabat yang mencurigai sahabat lainnya, sebagai sahabat sebaiknya kita tidak langsung menyerang, tetapi mengevaluasi keadaan tersebut, benarkan sahabat kita marah kepada kita? Apa yang mungkin mendorong atau melatar belakangi hal tersebut?

Kedua, sadari bahwa banyak hal di dunia ini memiliki sisi positif dan negatif, ada kelebihan dan ada kekurangan. Penyadaran tentang dua sisi ini dapat membantu agar tidak berat sebelah. Tidak terlalu memuji atau mengagungkan sesuatu, dan tidak terlalu merendahkan atau meremehkan sesuatu.

Menyadari kedua sisi secara utuh juga dapat mempersiapkan kita memutuskan dengan bijak dan menerima risiko. Pada kasus sahabat yang mencurigai sahabatnya, kita dapat menyarankan untuk membatasi pikiran negatifnya dengan menyadarkan bahwa bukan hanya sahabatnya yang negatif (dalam hal ini mungkin dendam), tetapi ia juga memiliki sisi negatif yang mungkin dapat membuat sahabatnya bertambah dendam.

Ketiga, berpikirlah positif. Berpikir positif berarti menggunakan cara pandang yang positif. Apa yang dapat kita pelajari dari suatu kejadian? Hikmah apa yang bisa kita ambil dari pengalaman kita? Dengan berpikir positif, kita tidak lagi terpaku pada kekuatiran, kesedihan, kedukaan atau bahkan kehancuran yang kita alami. Tetapi kita dapat melihat hal – hal yang lebih berarti, yaitu pelajaran hidup yang dapat mengembangkan atau mengubah kehidupan kita.

Pada kasus kita tadi, jika kita dapat berpikir positif, maka kita justru dapat membenahi dirinya, sehingga membuat sahabat kita tambah sayang dan batal mendendam. Atau jika benar sabahatnya sedang marah, maka dengan berpikir positif, kita dapat lebih tegar dan bersikap bijak menghadapi mereka.

Siapapun Anda, kapan dan di manapun Anda berada, ketika pikiran negatif mulai muncul, bersiaplah membatasinya.

STOP pikiran negatif!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s