:: Hari Ke-21 Ramadhan 2009 : So Close ::

Posted: September 17, 2009 in Cerpen
Tag:, , , , , , , , , ,

Dalam beberapa hari ini hubungan kami sudah mulai tak ada variasi. Berjalan biasa seakan tak berwarna. Aku takut, kalau hubungan ini seperti ini terus, hubungan ini akan sampai pada stasiun pemberhentiannya. Nah, karena tidak ingin mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, aku mencoba variasi baru dengan mulai mengiriminya sms-sms yang bernada rindu.

Sms…….
Sms……..
Ada syapa disitu?
Dsini ada orang ya rindu padamu.
Jika rindu padaku…. sms balik dong…

Aku membaca sms itu berulang-ulang sebelum jempolku menekan tombol “send” kepada honeyku. menimang-nimang, sudah mewakili hatiku belum smsku itu. Setelah beberapa saat dan yakin dengan sms itu, akhirnya aku kirim sms itu ke nomornya. Harapanku, dia segera membalas pesanku.

“Semenit….. dua menit……. tiga menit…… empat menit…… lima menit……” Aku tersenyum sendiri ketika harus menghitung menit demi menit putaran jarum jam dalam kamarku. Kalau tahu honeyku tak segera membalas pesanku, barangkali aku tak akan terburu-buru mengiriminya pesan rindu.

Sambil ngtg kancing bju
Kangen,g,kangen,g,kangen,g,kangen,g,
Aduh enggak tuh…gmn?

Setelah beberapa menit berlalu, aku menunggu, dia membalas pesanku seperti itu. Kecewa? Tidak juga, hanya sedikit bertanya-tanya, benarkah dia tak merindukan aku? Akhirnya kucoba membesarkan hatiku, barangkali dia hanya ingin menggodaku. Siapa tahu, kan?

Salam MANIS beserta MADU.
Salam SAYANG beserta I LOVE U
Salam RINDU beserta I MISS U.
Salam INGATAN kuingin tahu,…. HOW ARE U?

Aku membalasnya lagi dengan pesan lainnya. Pesan yang ini lebih menjurus pada perasaanku padanya. Dan harapanku pun sama besarnya dengan pesan yang pertama, berharap dia segera membalas pesanku, agar aku segera tahu, apa responsnya setelah membaca pesanku.

Lagi-lagi aku harus menghitung detak jarum jam kamarku. Dimulai dari hitungan lima menit, ”Lima menit…… sepuluh menit…… lima belas menit…… dua puluh menit…… “ dan akhirnya, aku pun tertidur menunggu pesan balik darinya. Sungguh, menunggu memang aktivitas paling menyiksa. Melelahkan, malahan. Menghitung detak jarum jam. Menghitung berapa cicak yang ada di dinding kamar. Membolak-balik bantal agar terasa nyaman. Mengecek sinyal ponsel berkali-kali, apakah ada gangguan dengan jaringannya. Menghitung berapa banyak gigitan nyamuk betina di badan. Merem-melek, merem-melek hingga aku tertidur sungguhan karena kelamaan. Begitu sadar, terbangun saat matahari mulai tinggi, pesannya sudah berada di kotak pesanku menunggu jawaban dariku.

Ehem……lg dpt bonusan ta?q’ ngromantis trus…..
Ngromantis pa gombal ya?he”
I’m fine u?

*********

Tok…tok….tok….

Ada yang mengetuk pintu ruang komputer di dekat dapur. Aku yang berada di dalam, sedang mengerjakan tugas mendesign kalender dan brosur untuk tahun ajaran baru sedikit terganggu. Dengan bermalas-malasan aku pun membuka pintunya.

“Hah….. kok di sini?” sapanya mengagetkanku. Aku tak kalah terkejutnya, tak menyangka kita akan bertemu di ruangan itu. Bukan di ruangan. Hanya aku yang di ruangan, sedangkan dia berada di luar, di lorong yang menuju ke kamar.

“Tumben datang malam-malam?” tanyanya lagi. Aku yang masih belum percaya karena bisa bertemu dia lagi hanya tersenyum saja mendengar pertanyaannya. Jantungku masih berdebar-debar tak karuan.

“Sedang gapaian?” /dia bertanya lagi.

“Kalender,” jawabku singkat. Dia mengangguk pelan tanda paham.

“Ada kunci ruang lab?” tanyanya menanyakan kunci ruang lab komputer. Aku meraih kunci yang tergantung di salah satu tembok sisi selatan dan menyerahkan padanya. “Bukan yang ini. Yang ada gantungan kartu asnya.” Dia menyerahkan kembali kunci yang salah itu padaku. Aku mengganti dengan kunci yang dimaksud dan menyerahkan padanya.

Setelah menyerahkan kunci, kita terlibat sedikit perbincangan yang sedikit rahasia. Aku mengecek keluar ruangan untuk memastikan, apakah ada orang lain yang mengetahui pertemuan kita. Karena pada saat itu, orang yang di dalam ruangan, yang sedang tidur mulai membuka mata dan mencoba mencuri-dengar pembicaraan kita. Aku memberinya isyarat, bahwa ada orang yang sedang mendengar pembicaraan kita pada waktu itu. Akhirnya dia kembali meninggalkan aku di ruangan itu.

Beberapa saat setelah dia berlalu, aku mengecek status facebookku. Ku akui, beberapa bulan ini aku memang kecanduan untuk memperbarui status facebookku. Ketika akan menulis status terbaru, aku melihat, dia telah memperbarui status terbarunya.

“HE is so close…. don’t u feel it ??????

Dari status terbarunya, aku pun sedikit bertanya-tanya, aku kah itu, yang di maksud dalam status terbarunya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s