.: My Resent Document :.

Posted: September 17, 2009 in Cerpen
Tag:, , , ,

Suasana kantor masih sepi ketika dia masuk kantor. Pagi ini, dia memang berangkat pagi-pagi sekali ke tempat kerja. Bukan tanpa alasan, tapi karena ada tugas yang belum sempat dia selesaikan tempo hari. Dan ini yang mengharuskannya untuk berangkat pagi-pagi guna menyelesaikan tugasnya pagi ini.

Setelah sampai di meja kerjanya, dia duduk dan menyalakan komputernya. Ketika sedang menunggu nyala komputer, Hellen, nama wanita itu melihat sebuah note tertempel di papan pembatas antara meja kerja dia dengan rekan kerja di sampingnya. Hellen meraih note itu dan membacanya, “Sudah aku selesaikan laporannya. Silakan ambil di komputerku.” Di bawah note itu tertulis nama orang yang menuliskannya, Silvi. Hellen tersenyum selesai membaca note itu. Dia merasa kagum dan berterima kasih sekali pada rekan kerjanya itu. Hellen bangkit dari kursinya dan melangkah menuju ke meja kerja temannya, Silvi.

Setelah sampai, dia menyalakan komputer rekan kerjanya itu dan menunggu. Diperhatikannya meja kerja itu. Semuanya tertata rapi. Buku-buku, tempat bolpoin, tanaman kaktus dan sebuah gelas besar, semacam akuarium kecil yang berisi ikan emas semua tertata dengan rapi. “Sangat rapi” gumamnya. Dilihatnya layar komputer yang kini telah siap digunakan. Dia mengklik dua kali pada icon my document pada layar komputer dan mulai mencari file yang dimaksud Silvi.

Belum ketemu dengan file yang dicarinya, tiba-tiba matanya menangkap sebuah file yang membuatnya tertarik untuk membacanya. Dia mengarahkan kursornya dan menghentikannya pada file yang telah membuatnya penasaran, “Ancrit! My blog.”

Nafasnya menderu. Dia mengalami sensasi yang aneh, antara takut dan penasaran. “Buka, tidak. Buka, tidak. Buka, tidak.” Dia memilih salah satu di antara dua pilihan. “Aku harus membacanya,” gumamnya dalam hati. Kemudian dia menoleh ke sekeliling ruangan, memastikan semua aman. Dia tidak mau, di tengah-tengah membaca tulisan itu dia kepergok rekan kerjanya. “Aman. Belum ada yang datang ke kantor pagi ini.”

Dengan hati berdebar-debar dia mulai mengklik file itu. Setelah beberapa saat, muncullah tulisan-tulisan yang ada dalam file tersebut. Dia menoleh sekali lagi ke sekelilingnya, memastikan lagi keadaan aman. Setelah yakin keadaan aman. Dia mulai membaca lembar demi lembar dokumen yang ternyata berisikan curahan hati temannya tadi.

Hellen terus membaca catatan-catatan itu. Dan di akhir catatan, dia melihat ada salah satu catatan yang sepertinya belum selesai ditulisnya. Hellen membaca catatan itu dengan pelan-pelan,

Sebelum nglanjutin nulis notenya, gue mau karaokean dulu nih…. kayaknya lagu ‘Status palsu’nya Vidi Aldiano cocok banget nih…. sesuai dengan note gue hari ini.

Lets sing a song, baby.

Ah, cape’ juga ya teriak-teriak karaoke sendirian. Selesai karaokean, waktunya nglanjutin nulis notenya nih…. huhuy……

Yap, beberapa hari yang lalu gue sempat nulis dalam status facebook gue, “Waktunya bersenang-senang. Kalau kemarin-kemarin banyak nongkrong sama teman, kali ini saatnya meluangkan waktu buat keluarga. Gue sempatin ngemal atau nonton bareng lah. Boleh juga kalau pengin ke luar kota. Kalau begini kan jomblo nggak berasa. Apalagi, keluarga adalah yang paling mengerti gue.-“ trus gue komentari sendiri di bawahnya. Kalo boleh jujur, sebenarnya status itu gue comot dari sebuah ramalan zodiak dari sebuah surat kabar. Kayaknya ramalan itu asyik banget githu kalo dijadikan statusku saat itu. Ya udah, akhirnya aku tulis ulang ramalan itu ke status FB gue. Jadi status yang gue tulis saat itu adalah status palsu. Nggak terjadi dalam kehidupan gue.

Nah, gara-gara status gue itu, beberapa hari setelah aku menulis status itu, gue jadi kepikiran untuk mewujudkan status gue itu. Otomatis githu loch….. setelah capek dengan para petugas PSB yang hanya numpang nama aja tapi nggak mau kerja, begitu acara selesai, gue langsung ngistirahatin otak gue yang sebenarnya nggak lelah-lelah amat. Gue hanya lelah aja nglihat tampang-tampang orang dudulz yang numpang nama aja padahal mereka tidak kerja apa-apa. Banyak bacotlah mereka.

“Sabar……” kata ketua satu gue. Dia menyuruhku tetap bersabar melihat ulah orang-orang yang dudulz itu. Meskipun gue bukan tipe orang yang sabar-sabar banget. Tapi gue coba dikit….. apa susahnya sih njalanin permintaan serekan yang memintaku untuk bersabar.

Yah…. gue orangnya memang gampang marah. Apalagi kalo keinginan gue nggak terpenuhi. Gue pengennya semua serba cepat. Cepat, cepat dan cepat. Pokoknya harus cepat. Dalam pikiran gue, kalo semua selesai sebelum batas yang ditetapkan, setelah itukan bisa ngoreksi, apa-apa yang menjadi kekurangannya. Mana yang perlu diperbaiki mana yang harus ditambah lagi. Mungkin karena inilah gue gampang frustrasi dengan teman-teman gue yang punya prinsip, “Alon-alon sing penting kelakon” *gubrak! Bukan tipe gue banget githu loch!

Ya, ya, ya….. gue nyadar kok, tiap orang punya prinsip sendiri-sendiri. Tapi, mbok yao tahu dirilah. Setidaknya, sempat terbesit pikiran dalam benak mereka, “ini tugas gue, atasan gue kerjanya suka cepat, jadi gue akan berusaha untuk menyamai ritme kerja atasan gue.” Paling tidak, kalo teman-teman gue tahu dan ngerti cara kerja gue gimana, mbok ya diimbangi dikitlah. Prinsipnya alon-alon sing penting kelakon mbok ya diilangi dikit. Tapi enggak, mereka tetep aja dengan prinsip mereka alon-alon sing penting kelakon. *plis deh!

Gue kok sampe ke sini sih? Nggak nyadar nih… he…he…he….

Kembali ke status palsu gue.

Beberapa waktu lalu gue main-main ke SBY. Ada urusan mendesak yang kudu gue selesein di sana. Seperti biasa, gue nggak bakal cerita mengapa gue ke sana. Tapi yang jelas tugas yang penting banget. Beberapa teman gue pasti ada yang marah-marah dengan kepergian gue ini, gue tahu itu. Tapi gue nggak peduli, toh mereka juga nggak peduli dengan tugas dia saat jadi bawahan gue. Emang gue pikirin! *tssah! Egonya kambuh lagi! Ha..ha..ha…

Pas di Surabaya, gue sempetin deh jalan-jalan di mall rame-rame ma teman. Makan bareng, nonton bareng. Kebetulan Harry Potter dah tayang nih di Cinema 21, nonton deh rame-rame. Asyik……

Sebelum itu, gue sempatinlah mampir ke toko buku. Nyari-nyari buku baru sekalian ngecek, apakah buku Good Lawyer yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan di Internet laku apa nggak. Nah, sambil nyari-nyari buku itu, sekalian ngecek stoknya. Setelah melihat di komputer yang disediakan oleh toko buku itu, akhirnya gue menemukan berapa stok yang tersisa. “Masih ada 6 buku,” gue cari-carilah…… tapi kok, setelah gue cari hampir 1 jam, buku Good Lawyer itu nggak gue temuin. Padahal stoknya ada, tempatnya juga dah ketemu, tapi di rak yang seharusnya dipajang buku GL itu kok nggak ada. Gue ubek-ubek lagi…………

Bersamaan dengan selesainya Hellen membaca tulisan yang belum selesai itu, pintu kantor tersibak. Seseorang telah membuka pintu utama dan dari kursi Hellen kini terlihat, orang yang masuk itu adalah Silvi, rekan kerjanya. Dia panik. Dia tergesa-gesa menutup file itu dan tanpa sengaja dia menyenggol gelas tempat bolpoin yang terletak di samping kursor. Gelas itu jatuh ke lantai dan pecah.

Pyaar!!!

“Maaf….maaf….” kata Hellen meminta maaf. Dia mengambil pecahan-pecahan gelas yang jatuh dan mengumpulkannya menjadi satu, kemudian membuangnya pada tempat sampah di samping meja. Dilihatnya, Silvi yang kini sudah berdiri di belakangnya. Dia nampak tersenyum melihat Hellen yang kikuk seperti itu.

“Kenapa, Hel? Seperti abis melihat hantu saja.” Tanyanya. Hellen melihat ke arah layar monitor. Catatan itu sudah hilang dari layar monitor. “Ah…..” dia bernafas lega. Dia berhasil menutup file itu. Silvi tidak tahu kalau dia berhasil membaca catatannya.

“Ah, nggak apa-apa. Hanya baru selesai ngopy data, barusan.” Kata dia sambil menunjukkan flasdisk pada Silvi. Tingkahnya terasa banget kalau dibuat-buat.
“Maaf, aku telah memecahkan gelasmu.” Katanya kemudian meminta maaf lagi. Silvi mengangguk dan tersenyum seperti biasa.

“Eh, saya balik dulu ya, saya koreksi dulu laporannya.” Kata Hellen dan tergesa-gesa meninggalkannya. Setelah beberapa meter dia melangkah, dia mengambil nafas dalam-dalam ke mudian melepaskan, “Hah…. aman. Gue selamat.” Ujarnya sambil mengelus-ngelus dadanya.

Sedangkan Silvi, dia kini jadi bertanya-tanya, mengapa Hellen bersikap aneh hari ini. Mengapa dia menjadi kikuk sekali ketika melihat kedatangannya. ‘Ah, mungkin hanya pikiranku saja,’ gumamnya dalam hati. Dia mulai memegang kursornya dan mengklik “Start” kemudian mengklik “My Resent Ducument”. Dia terkejut. File pribadinya yang kemarin telah di hapus dari my resent document tiba-tiba saja muncul lagi dalam daftar. Seketika itu juga raut mukanya berubah menjadi merah menyala. Dia bangkit dari tempat duduknya. Nafasnya menderu, turun naik menahan emosi. Sedangkan tangannya mengepal sambil menuju ruangan Hellen.

Marah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s