:: Hari Terakhir : Unhappy ending ::

Posted: September 23, 2009 in Uncategorized
Tag:, , , , ,

Matahari telah membenamkan sinarnya di balik rerimbunan bukit. Suasana remang. Dinginnya malam dari lereng menjadikannya malam itu dingin menusuk poro-pori. Di antara bahagia, terselip sebuah harapan di sana. Kumandang takbir menyelimuti rongga-rongga jiwa hingga menjadikannya keteduhan yang tak terucap.

“Ardian, bagaimana kabarnya keluargamu?” Tanya ayah Ardiani ketika dia sudah berada di rumahnya. Dia kaget mendengar dia sudah tahu namanya, apakah Ardiani sudah memberitahukan maksud kedatangannya?

“Alhamdulillah baik, pak.” Jawab Ardian sopan.

“Benarkah kamu mencintai putriku?” tanya bapak itu langsung pada inti.

Deg…!!

“Dari mana bapak tahu, bahwa aku mencintai putri bapak?”

“Aku tak perlu mengatakannya atau menjelaskan dari mana. Yang jelas, benarkan?”

Ardian tersipu. Wajahnya bersemu merah karena malu. Ayah Ardiani sudah tahu hubungan mereka.

“Aku tidak melarangmu atau menghalangi hubungan asmaramu dengan dia. Aku tahu, karena putriku mencintaimu juga.” Ardian tersenyum mendengar penjelasannya. Dia bisa bernafas lega karena telah mendapat restu dari ayahnya. “ Jadi, apa maksud kedatanganmu ke sini?”

Tubuh Ardian gemetar mendengar pertanyaan lanjutannya. Dia bingung harus memulai dari mana, semua kata sudah dipersiapkan, tapi tak satu pun bisa keluar. Dia tergagap. Butiran-butiran kristal air mulai membasahi wajahnya. Dia ragu menyampaikan maksud kedatangannya.

Dehem ringan terdengar dari Ayah Ardiani yang memahami situasi ini. Dia mengambil minuman kopi yang sudah dibuatkan oleh putrinya. Dia memberi kesempatan Ardian untuk mengatur perkataannya.

“E…. maksud kedatangan saya malam ini……..” kata-katanya terhenti. Dia menarik nafas untuk meredakan detak jantungnya yang sedang berderu. “E…… saya ingin mengatakan kepada bapak, saya ingin me……..”

Tin…tin……….

Jeritan klakson membangunkan tidur Ardian. Bersamaan dengan itu, tubuhnya terhempas ke depan efek dari pengereman mendadak. Untungnya dia memakai sabuk pengaman, sehingga tubuhnya aman dari benturan yang tidak diinginkan.

“Mobil kurang ajar!” umpat orang di sampingnya. Dia memencet clakson berkali-kali pada mobil di depannya.

“Kenapa, mas?” tanya Ardian pada sopir yang ternyata kakaknya.

“Mobil depan tuh, ngerem mendadak. Tak memberi tanda.”

‘Sabar, mas…. namanya juga malam takbiran. Jalan banyak dipenuhi orang yang mudik dan takbiran.”

“Tapi setidaknya, kan bisa memberikan tanda. Biar yang di belakangnya aman.”

Mobil melaju berlahan dan berhenti tepat di samping lampu merah. Ardian mencoba mengingat mimpinya. Ingin tertawa, tapi tak bisa. Tawanya seperti tertahan. Seperti ada seseorang yang mengekangnya.

Lampu berganti hijau. Mobil pun melaju kembali. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, sebuah mobil Daihatsu meluncur kencang. Ardian melihat dengan jelas bagaimana mobil itu menghantam mobil sebelah kanannya. Mobilnya tersodok ke kiri terhantam benturan tadi. Kemudian dari arah depan, bus angkutan kota yang sedang berakselerasi untuk menambah kecepatan tak dapat menghentikan laju mobilnya. Menghantam mobil depan dan meringsek tubuhnya yang berada dalam mobil. Tubuh Ardian mengejang.

Samar-samar terdengar suara petugas patroli yang, menginformasikan adanya tabrakan beruntun di jalan raya. Jeritan dan takbiran terdengar di sekitar tempat perkara.

Ardian berusaha untuk bangkit, berusaha keras untuk membuka matanya tapi tubuhnya terasa lemah untuk bergerak, mual dan gemetar. Jeritan-jeritan itu kini telah berhenti. Nafasnya sesak, hawa dingin mulai menyelimuti tubuhnya. Tiba-tiba cahaya terang menyilaukan matanya. Berlahan-lahan matanya menjadi berkunang-kunang. Pandangannya kabur dan sedetik kemudian, kabut tebal menyelubungi tubuhnya. Semuanya menjadi gelap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s