MANIFEST AND LATENT FUNCTIONS

Posted: Februari 23, 2010 in Filsafat
Tag:,

MANIFEST AND LATENT FUNCTIONS

(Robert K. Merton)

  1. A. Kata-Kata Dalam Analisis Fungsi

Awalnya pendekatan fungsi  dalam sosiologi memunculkan kebingungan. “Satu istilah digunkan untuk menyebutkan perbedaan beberapa konsep, begitu juga satu konsep disebutkan dengan bermacam-macam istilah”. Kejelasan analisis dan komunikasi menjadi korban kesembronoan penggunaan kata-kata. Suatu saat analisis jadi rusak  sebab perubahan yang tidak disadari di dalam konsep yang telah jadi dan komunikasi tidak berjalan baik pada saat isi dikaburkan dalam banyak istilah. Yang pada akhirnya kerancuan konsep “fungsi” rusak dan komunikasi tidak jalan oleh ketumpang tindihan kata dalam fungsi analisis.

Istilah tunggal, banyak konsep.

Kata “fungsi” telah didahului oleh beberapa disiplin dan ceramah popular yang tidak bermutu yang hasilnya menjadi tidak jelas dalam sosiologi. Ada lima arti yang diberikan dari satu kata ini. Pertama, kata popular. Menurut fungsinya merujuk kepada perkumpulan masyarakat umum, pesta, kegiatan upacara. Dalam hubungan ini, orang mengasumsikan, dalam berita utama koran menyatakan “Mayor Tobin tidak mendukung fungsi social” lalu dalam berita itu diteruskan “Mayor Tobin mengumumkan hari ini bahwa dia tidak tertarik dalam berbagai fungsi social, ia tidak memberi kuasa kepada orang untuk menjual tiket atau menjual iklan untuk berbagai urusan”. Umumnya penggunaan ini masuk kedalam literature akademis yang jarang berkontribusi besar terhadap kerancuan terminology.

Kedua, istilah fungsi sama dengan istilah jabatan. Max Weber mendefinisikan jabatan sebagai pengkhususuan, perincian dan penggabungan fungsi-fungsi seseorang yang terangkat dan berpeluang untuk mendapat pendapatan dan keuntungan. Di dalam protestan Ethic, mengatakan bahwa semua sendi kehidupan bersifat birokratis (jabatan) yang berdasarkan kepentingan-kepentingan material dan ideal, yang dikonsepsikan oleh para aktornya[1].  Ilmuan ekonomi sering menggunakan istilah “analisis fungsi dalam kelompok” ketika membagi jabatan dalam kelompok tersebut. Sargant Florence menyebutnya sebagai “analisis jabatan” yang diadopsi dalam beberapa penyelidikan.

Ketiga, ditemukan dalam ceramah popular dan pengetahuan politik. Fungsi sering digunakan untuk merujuk kegiatan yang diberikan kepada pemegang jabatan dalam status social, pejabat kantoran dan posisi politik. Meskipun fungsi ini serasa tumpang tindih maknanya dalam istilah sosiologi dan antropologi, ia lebih baik dihapus sejak mengalihkan perhatianya dari fakta bahwa fungsi-fungsi dibuat tidak hanya oleh pejabat tapi oleh luasnya aktivitas yang terstandart, proses-proses social, bentuk-bentuk budaya dan sistem kepercayaan yang ditemukan dalam masyarakat.

Sejak diperkenalkan oleh Leibniz kata fungsi lebih cocok di dalam matematika, yang mana sebuah variable berhubungan dengan satu atau lebih variable yang bebas. Konsep ini secara lebih luas diungkap dalam “fungsi interdependensi” dan “hubungan fungsional”, yang sering diadopsi oleh ilmuan social. Ketika ahli demografi menyatakan “ rata-rata kelahiran adalah sebuah fungsi atas status ekonomi” ini nampak sekali menggunakan kiasan matematika yang didalamnya ada “interdependensi”, “hubungan timbal balik”, dan “berbagai ketergantungan yang menguntungkan”.

Pengertian tambahan ke lima, yang menjadi pusat analisis fungsi sebagaimana diperaktekan dalam sosiologi dan antropologi. Istilah ini sering secara ekplisit diadopsi dari pengetahuan biologi, yang mana istilah fungsi merujuk pada “proses kehidupan yang mempertimbangkan hal-hal dimana mereka berkontribusi pada pemeliharaan makluk hidup”. Dengan perubahan-perubahan yang tepat pada studi social manusia, lebih dekat pada konsep fungsi yang diadopsi oleh fungsionalis antropologi, murni atau watak. Radcliff Brown sering secara ekplisit meniru konsep fungsi social ke dalam model analogi yang ditemukan dalam pengetahuan biologi. Durkheim menyatakan “fungsi  proses fisiologi adalah sebuah hubungan antara fungsi dan kebutuhan-kebutuhan makluk hidup”. Dalam wilayah kehidupan social dimana manusia dihubungkan oleh jaringan hubungan-hubungan social kedalam kesatuan sosial, “fungsi berulang-ulangnya kegiatan seperti hukuman criminal, upacara kematian adalah bagian yang berperan dalam kehidupan social sebagai kesatuan dan berkontribusi terhadap terpeliharanya struktur terus menerus. Gagasan Malinowski berbeda formulasinya dari Radcliffe Brown, dia ikut denganya dalam membuat inti study analisis fungsi “bagian yang berperan dalam masyarakat”. “Teori ini, penjelasan Malinowski, bermaksud menjelaskan fakta-fakta antropologi di semua lapisan kemajuan fungsi mereka, pada bagian yang mereka mainkan dalam system budaya yang integral, dengan cara mereka masuk dalam system….”.


[1] Peter Beilharz, Teori-Teori Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, hal. 368

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s