REVIEW KITAB RISALATUL QUSYAIRIYAH

Posted: Februari 24, 2010 in Sejarah Pemikiran Islam
Tag:

BIOGRAFI IMAM AL-QUSYAIRIYAH AN-NAISBURY. Nama lengkap beliau adalah Abdul Karim al-Qusyairi, keturunan dari abdul Karim bin Hawazim bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad. Nama panggilan Abdul Qosim. Sedangkan gelarnya banyak sekali antara lain : An-Naisbury (salah satu kota di Khurasan), Al-Qusyairi (dalam Taajul ‘Arus disebutkan bahwa Qusyair adalah marga dari suku Qathaniyah yang menempati wilayah Hadramaut), asy Syafi’I (dihubungkan dengan nasab asy-Syafi’I yang dilandaskan oleh Muhammad bin Idris bin Syafi’I (150-204 H/767-820 M), merupakan gelar kehormatan (seperti al-Imam, al-Ustadz as-Syeikh (maha guru), al-jaami’ bainas Syari’ah wal Haqiqat (pengintegrasi antara syari’at dan hakikat). Al-Qusyairi mengatakan sendiri ia lahir di Astawa bulan Rabiul Awal tahun 376 H/986 M. Syuja’ al-Hadzaly mengatakan beliau wafat di Naisabur, pada hari Ahad tanggal 16 Rabiul Akhir 465 H/1073 M. genap berusia 87 tahun. Masa kecil beliau dalam keadaan yatim yang kemudian pendidikanya diserahkan kepada Abul Qosim al-Yamani yang mengajarkan bahasa Arab dan sastra. Karena rakyat terbebani pajak oleh penguasa beliau lalu belajar ilmu hitung di Naisyaburi untuk mempelajari ilmu pajak. Di Naisyaburi beliau bertemu Syeikh Abu Ali al-Hasan bin Ali an-Naisyaburi dengan gelar Ad-Daqaq. Setelah berinteraksi dengan ad-Daqaq, al-Qusyairi mengganti cita-citanya untuk memilih jalan tharekat. Al-Qusyairi pandai berkuda, memainkan pedang dan senjata, dan disebutkan bahwa kuda yang beliau tunggangi mengabdi selama 20 tahun. Istri beliau adalah putri gurunya (ad-Daqaq) yang bernama Fatimah, ahli di bidang sastra dan meriwayatkan beberapa hadis. Beliau pernah belajar kepada beberapa orang guru diantaranya : 1.Abu Ali al-Hasan bin Ali an-Naisyaburi yang terkenal ad-Daqaq. 2.Muhammad bin Hasain bin Muhammad al-Azdy as-Sulamy an-Naisyaburi (325-412 H/936-1021 M). Seorang sufi dan sejarahwan. 3.Muhammad bin Abu Bakr ath-Thausy (385-460 H/995-1067 M). Guru di bidang fiqh. 4.Muhammd bin Husain bin Furak al-Anshary al-Ashbahany (w. 406 H/1015 M). Seorang ulama’ Ushul, tapi al-Qushairy belajar ilmu kalam. 5.ibrahim bin Muhammad bin Mahran al-Asfarayainy (w. 418 H/1027 M). ulama ushul dan fiqih. Al-Qusyairy belajar Ushuluddin. 6.Abbul Abas bin Syuraih. Al-Qusyairy belajar di bidang fiqih. 7. Abdul Qohir bin Muhammad al-Baghdadi at-Tamimy al-Asfarayainy (w. 429 H/1037 M). kepada beliau al-Qusyairi belajar madzab syafi’i. Disiplin ilmu yang dia kuasai antara lain : 1.Ilmu Ushuluddin yang berkiblat kepada madzab Imam Abul Hasan al-Asy’ary. 2.Ilmu Fiqih yang berkiblat kepada madzab Syafi’y . 3.Ilmu Tasawuf. Beliau memang benar-benar ahli di bidang tasawuf dengan menelurkan sebuah buku (Risalatul Qusyairiyah). Disamping itu juga ahli di bidang teologi, hafidz, ahli hadis, ahli bahasa dan sastra, pengarang dan penyair, ahli kaligrafi dan juga penunggang kuda yang ahli. Banyak sekali karya-karya beliau diantaranya : Ahkamus Syar’I, Adabus Shufiyah, Al-Arba’un fil Hadis, Istifadlatul Murodat, Bulgahatul Maqashid fit-Tashawwuf, At-Tahbir fit-Tadzkir, Tartibus Suluk fi Thariqilaahi Ta’ala, At-Tauhidun Nabawy, At-Taisir fi Ilmit Tafsir, Al-Jawahir, Hayatul Arwah, Wad Dalil ila Thariqil Islah, Diwan Syi’ir, Adz-Dzikir Wadz-Dzaakir, Ar-Risalatul Qusyairiyah fi Ilmit-Tashawwuf, Siratul Masyayikh, Syarhul Asmaa’il Husna, Shakayatu Ahlis Sunnah maa Naalahum minal Mihnah, ‘Uyunul Ajwibah fi Ushulil As’Ilah, Al-Ushul fil Ushuln, Lathaiful Isyarat, Al-Luma’ fil I’tiqad, Majalis Abi Ali al-Hasan ad-Daqaq, Al-Mi’raj, Al-Munajat, Masthurul Khitab fi Shuhudil Albaab, Naaskhul Hadis wa Mansuukhuh, Nahwal Qulub ash-Shagir, Nahwal Qulub al-Kabir, Nakatu Ulin-Nuha. Biografi Kitab Risalatul Qusyairiah Latar belakang Ar-Risalah adalah topic atau kajian, sebagai jawaban atsa persoalan atau solusi bagi problema yang mendesak membutuhkan jawaban. Ar-Risalah, kadang-kadang dalam edisi kecil seperti risalah al-Qadhy, Al-Fadhil yang ditujukan kepada Hasan Al-Basri. Atau beredisi besar seperti risalah Al-Ghufron, karya al-Ma’ary. Risalah ini ini disajikan oleh Al-Qusyairy r.a. kepada mereka yang memushi dunia tasawuf, dengan cara pandang taqlid buta, tanpa melacak hakekat dan prinsip-prinsip hakekat. Mereka memusuhi tarekat ini dengan cara mencari celah-celah kesalahan yang ditampilkan sebagai pengaku tasawuf atau dari sisi kata-kata yang tinggi, yang tidak disandarkan pada nash, akal atau bukti. Situasi demkian merupakan keadaan setiap madzab, pemikiran dan tarekat. Diantara para pengikutnya ada yang memiliki pemahaman baik dan luas, diantara mereka ada yang secara fisik jembel lalu perbuatanyapun buruk. Sedangkan risalah ini merupakan suatu kemurnian yang benar yang besumber dari qolbu yang di penuhi oleh kecintaan kepada Alloh swt. dan Rasululloh saw serta cinta kepada kebenaran yang menjadi tarekat islamnya. Suatu risalah yang ditujukan kepada orang-orang yang memahami secara salah terhadap tasawuf, semata karena kebodohanya terhadap hakekat tasawuf itu sendiri. Padahal tasawuf merupakan sisi praktik, ruh, rasa dan perilaku dalam islam. Sejarah penyusunan : Risyalalatul Qusyairiyah disusun tahun 434 H/1046 M, bertepatan pada saat ke-62 usia Syekh Al-Qusyairi. Kitab Risalatul Qusyairyah terbagi menjadi sembilan manuskrip yang ditemukan di perpustakaan Nasional al-Asad, Damaskus. BAB I PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI 1.Ma’rifatullah Abu Thayib al-Maraghy berkata : “akal mempunyai bukti, hikmah memiliki isyarat, dan ma’rifat mempunyai syahadad. Akal menunujukan, hikmah mengisyaratkan, dan ma’rifat menyaksikan; bahwasanya kejernihan ibadah tidak akan tercapai kecuali kejernihan tauhid;. Al-Junayd menjawab tauhid : Menunggalkan Yang Maha Tunggal dengan mewujudkan Wahdaniyah-Nya lewat keparipurnaan Ahadiyah-Nya. Bahwa Dia-lah Yang Esa Yang tiada beranak dan tidak diperanakan. Dengan kontra yang antagoni, keraguan dan keserupaan; tanpa upaya penyerupaan; dan bertanya bagaimana, tanpa proyeksi dan pemisalan; tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 2.Sifat-sifat Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj menegaskan; Al-Qidam hanyalah bagi-Nya. Segala yang fisikal adalah penampilanya, yang tampak bendawi menetapkan-Nya, yang piranti mengintgrasikan-Nya, kekuatan-Nya berada di genggaman-Nya. Hal-hal yang tersusun waktu, waktulah yang memisahkanya, dan yang ditegakan oleh selain-Nya maka bencanalah yang menyentuhnya. Hal-hal yang terbuat oleh khayal, maka proyeksi menaikan tahapan kepada-Nya. Siapa yang berbicara soal tempat maka akan berjumpa dengan kata dimana. Sungguh Maha Suci Alloh swt, Dia tidak dilindungi oleh suatu diatas, Dia tidak pula dikecilkan oleh yang di bawah. Dia tidak menerima batas dan tidak dicampuri keseluruhan. Dia tidak ditemui oleh yang ada, juga tidak dihilangkan oleh tiada. Sifat-Nya tidak memiliki sifat, pekerjaan-Nya, tidak memliki cacat. Ada-Nya tak terjangkau. Suci dari ihwal mahluk-Nya. Bahkan mahkluk tidak mencampurinya dan dalam pekerjaan-Nya tak ada yang memasukinya. Dia menjelaskan kepada mahkluk melalui Qidam-Nya, sebagaimana mahkluk itu mengenal penjelasan-Nya melalui kejadian baru (Huduts)nya. 3.Iman Iman adalah penetapan kalbu terhadap apa yang dijelaskan oleh Al-Haq mengenai hal-hal yang gaib. 4.Rezeki Rezeki adalah seorang yan mencurahkan segala tenaganya terhadap tujuan yang diraihnya berarti ia tertolong, dan siapa yang menduga tanpa jerih payah akan mendapatkan yang diraihnya, berarti hanya angan-angan belaka. 5.Kufur Dunia seisinya dan akhirat : dari Allah, kepada Allah, bersama Allah dan bagi Allah. Dari Allah sebagai pemulaan dan awal permulaan dan awal pemunculan, dan kepada Allah tempat kembali dan pangkalnya, bersama Allah baqa’ dan fana’nya, dan bagi Allah kerajaan dan ciptaan. 6.Allah Yang Haq. Allah adalah tunggal dzat-Nya, tidak disamai oleh segala ciptaan, dan tidak diserupai oleh mahkluk. Allah bukan materi, benda, jasad dan bukan sifat baru, tidak tergambar oleh hayal, tak terjangkau oleh akal, tidak berpenjuru dan bertempat. Tiada waktu dan zaman yang berlaku bagi-Nya. Tidak ada penambahan dan pengurangan bagi sifat-sifat-Nya. BAB II TERMINOLOGI TASAWUF 1.Waktu Waktu adalah sesuatu ketika anda berada didalamnya. Ketika anda berada di dunia maka waktu anda adalah dunia. Bila diakhirat, maka waktu anda adalah akhirat. Ketika anda senang, senang itulah waktu anda. Kalau anda susah, susah itulah waktu anda. Sedang waktu bagi seorang sufi adalah menyibukan diri terhadap prioritas utama yang harus dikerjakan ketika itu. “Waktu adalah pedang” halus sentuhanya namun tajam sayatanya. Barang siapa yang tertib waktu akan selamat, dan barang siapa yang menentangnya akan tertebas dan jatuh dalam kehancuran. 2.Maqam Maqam adalah tahapan adab seorang hamba dalam wushul kepada-Nya dengan macam upaya, di wujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Masing-masing berada dalam tahapanya sendiri ketika alam kondisi tersebut, serta tingkah lak riyadhah menuju kepada-Nya. 3.Haal Adalah (kondisi ruhani), menurut orang adalah intuitif dalam hati; tanpa ada unsur kesengajaan, usaha menarik, dan lainya, dari rasa senang atau sedih, leluasa atau tergenggam, rindu, rasa akut atau suka cita. Jadi al-Haal adalah suatu karunia. Sedang maqom adalah melalui upaya. Al-Haal bagaikan kilatan, kalau menetap, itu sekedar omongan nafsu. 4.Qabdh dan Basth Kedua istilah ini adalah kondisi seorang hamba yang menapaki tingkah laku al-Khauf dan ar-Raja’. Al-Qabdh sama dengan al-Khauf dan al-Basth sama dengan al-Raja’. Al-Khauf : munculnya ketakutan terhadap apa yang dibenci datang atau yang dicintai sirna dimasa yang akan datang. Ar-Raja’ : harapan akan sesuatu yang diharapkan oleh orang akan terjadi dimasa akan datang. Al-Qabdh dan al-Basth : waktunya seketika/kekinian. 5.Haibah dan Uns Haibah : Rasa takut disertai rasa hormat luar biasa Uns : Suka cita jiwa. Kedua istilah ini lebih tinggi dari al-Qabdh dan al-Khauf. Sehingga orang yang sudah mencapai tingkat minimal al-Uns jika ditebas pedang wajahnya sama sekali tidak merasakannya. 6.Tawajud, Wujd dan Wujud Tawajud adalah upaya memohon ektase ruhani melalui salah satu ragam ikhtiar. Wujd : adalah ektase ruhani yang bersesuaian hati yang datangnya tanpa disengaja/tidak di upayakan. Wujud : adalah tahap setelah menapaki tahap wujd dimana Al-Haq dapat dicapai setelah memadamkan unsur kemanusiawinya. Husain an-Nursy berkata : ketika kutemui Tuhanku, sirnalah hatiku, dan ketika kutemui hatiku, aku kehilangan Tuhanku. 7.Jam’ dan Farq Al-Farq adalah suatu kondisi yang dihubungkan kepada diri sendiri. Al-Jam’ adalah berkaitan dengan menyirnakan diri sendiri. Artinya bahwa segala upaya ibadah ubudiyah dan tingkah laku yang manusiawi itu adalah al-Farq sedang yang datangnya dari Allah swt seperti makna, kelembutan atau ihsan ini yang disebut al-Jam’. Orang yang tidakt al-Farq berarti tidak punya rasa penghambaan (ubuddiyah), atau yang tidak berposisi al-Jam’ tidak akan pernah ma’rifat. 8.Fana’ dan Baqa’ Fana’ adalah gugurnya sifat-sifat tercela. Baqa’ adalah munculnya sifat-sifat terpuji. 9.Ghaibah dan Hudhur Ghaibah adalah kegaiban kalbu dari segala apa yang diketahui, rasa menjadi gaib karena factor yang datang padanya akibat mengingat pahala dan sisksa. Hudhur artinya seseorang yang datang/hadir bersama al-Haq. Ketika ia ghaib dari makhluk ia hadir bersama al-Haq. 10.Shahw dan Sukr. Shahw adalah kesadaran hamba kepada rasa setelah mengalami kegaiban (ghaibah). Sukr adalah mabuk ruhani akibat sesuatu yang datang dengan sangat kuat karena ghaibahnya tambah kuat. Allah swt. membuka hamba melalui sifat keindahanya (al-Jaml) dan hamba makin mabuk kepayang (sukr), ruhnya gembira kalbunya terpesona. 11.Mahw dan Isbat Mahw adalah hilangnya sifat-sifat kebiasaaan (hina). Itsbat adalah menegakan hukum-hukum ibadah (mulia). Artinya bagi yang tidak memiliki Mahw dan Isbat sama dengan menelantarkan diri dan terabaikan. 12.Sitr dan Tajalli Sitr adalah ketertutupan (hijab) untuk orang yang awam. Tajjali adalah keabadian manifestasi. Sitr merupakan sisksaan bagi orang awam tetapi bagi orang yang khusus dalam ruhani (khawas) merupakan rahmat. Sebab tanpa ketertutupan (sitr) niscaya apa yang tersingkap dalam diri mereka akan musnah disisi Al-Haq. 13.Muhadharah, Mukasyafah dan Musyahadah Muhadharah adalah kehadiran kalbu, Mukasyafah adalah kehadiran kalbu dengan sifat nyatanya. Musyahadah berarti hadirnya al-Haq tanpa dibayangkan. Al-Junaid ra berkata Musyahadah adalah Wujud al_Haq yang disertai kesirnaanmu. Orang yang Muhadharah terikat dengan ayat-ayat-Nya, orang yang Mukasyafah terhampar sifat-sifat-Nya sedang orang yang Musyahadah ditemukan Dzat-Nya. 14.Lawaih, Lawami’ dan Thawali’ Istilah ini adalah untuk mereka yang sedang mulai menaiki tahap kalbu. Lawaih adalah seperti dalam kilatan cahaya, tidak akan tampak sehingga cahayanya tertutup. Lawami’ setingkat lebih atas dari Lawaih, hilangnya cahaya tidak secepat itu tetapi masih disinari cahaya beberapa waktu. Thawali’ adalah lebih lama dan abadi waktunya, thawali’ cahayanya mampu menghapus kegelapan dan menyirnakan keraguan. 15.Buwadah dan Hujum Buwadah adalah sesuatu yang seketika datang mengejutkan kalbu anda dari dimensi gaib terkadang kesukacitaan/kedukacitaan. Hujum adalah sesuatu yang datang pada hati dengan kekuatan waktu tanpa rekayasa dari diri 16.Talwin dan Tamkin Talwin adalah sifat orang-orang yang memiliki tingkah laku tahapan/tahapan hamba yang berjalan sepanjang jalan menuju Allah. Tamkin sifat ahli hakikat/ketenangan. 17.Qurb dan Bu’d Al-Qurb adalah kedekatan hamba dalam taatnya, disiplin waktu dalam ibadah-ibadahnya. Al-Bu’d adalah pengotoran diri dan menghampakan diri terhadap taat kepada Allah swt. 18.Syari’at dan Hakikat Syari’at adalah disiplin ubudiyah. Hakikat adalah musyahadah ketuhanan (menyaksikan dengan kalbu). Syari’at berarti menyembah-Nya, hakekat berarti menyaksika-Nya. 19.Nafas Adalah hembusan kalbu melalui kelembutan –kelembutan kegaiban. Syekh Ali ad-Daqaq ra. berkata : bagi pecinta nafas adalah keharusan, jika tidak ada nafas pastilah ia akan musnah. 20.Al-Khawatir Adalah bisiskan-bisikan jiwa, bisikan yang menghujam dalam rasa ; terkadang dari malaikat, setan, nafsu bahkan bisikan langsung dari Allah swt. yang Maha Benar. Bisikan dari malaikat kebenaranya sesuai dengan ilmu pengetahuan (ilham), bila bisikan dari setan mengundang kemaksiatan (was-was) dan bisikan nafsu mengundang pada syahwat atau takabur (hawajis). Sedang bisikan dari Allah swt disebut bisikan Kebenaran (khatir Haq). 21.Ilmul Yaqin, ‘Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin Yaqin adalah ilmu yang tidak merasuki seseorang yang menyebabkan keraguan. Ilmul Yaqin diperuntukan bagi mereka yang rasional. ‘Ainul Yaqin diperuntukan bagi mereka para ilmuan. Haqqul Yaqqin bagi orang-orang yang ma’rifat. 22.Warid Adalah bisikan terpuji dari dalam hati. Ia kadang-kadang berasal dari Allah swt atau dari inuisi pengetahuan. Ia lebih umum dibanding Khawatir, khawatir berisi perintah atau searti dengannya. Sedang al-Warid lebih sebagai bisikan kegembiraan, kesedihan dan keleluasaan ilahi. 23.Syaahid Adalah yang hadir. Jadi setiap yang hadir dalam hati anda berarti menjadi bukti anda. Rasa cinta mendorong seseorang untuk selalu mengingat kepada sang kekasih dan mengutamakan kekasihnya di banding dirinya. 24.Nafsu Adalah sesuatu yang tercela dalam sifat-sifat hamba, akhlak dan perbuatanya. Seperti takabur, amarah, dendam, dengki, buruk akhlak, sedikit syukur dan lainya yang tergolong akhlak tercela. 25.Ruh. Adalah kehidupan. Pendapat yang lain ruh adalah kenyataan yang ada dalam hati, yang bernuansa lembut. 26.Sirr Adalah tempat musyhadah. Sesuatu yang bisa membuat anda mulia. Sedang rahasia sirr adalah sesuatu yang tidak bisa terungkap selain Allah yang Haq. BAB III TAHAPAN-TAHAPAN (MAQOMAT) PARA PENEMPUH JALAN SUFI 1.Taubat Taubat merupakan tahapan tingkat pertama diantara tahapan-tahapan yang dicapai oleh penempuh jalan Allah (salik). Taubat dalam bahasa Arab adalah kembali artinya kembali dari sesuatu yang dicela oleh syara’ menuju sesuatu yang dipuji oleh-Nya. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri” (QS. Al-Baqarah : 222). Abu Husain an-Nury mengtakan “tobat adalah engkau berpaling dari segala sesuatu selain Allah swt”. 2.Mujahadah Intinya adalah memerangi sifat-sifat yang menghalangi kepada kebaikan : keberlarutan dalam memuja hawa nafsu dan penolakan pada tindak kepatuhan. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut : 69) 3.Khalwat Dan Uzlah Menyendiri dari pengaruh duniawi (khalwat) adalah lambang orang yang suci. Abu Bakar al-Waraq didatangi orang lalu berkata “saya telah menemukan yang terbaik dari dunia dan akhirat dalam khalwat dan kemiskinan, dan saya menemukan yang terjelek dari dunia dan akhirat dalam pergaulan manusia dan kemewahan”. Uzlah adalah mengasingkan diri, artinya mengasingkan kondisi ruhaninya karena telah mencapai keakraban sukacita ruhaninya. Abu Muhammad al-Jurairy berkata “uzlah anda masuk dalam kumpulan orang-orang banyak sambil menjaga batin supaya tidak diharu biru oleh mereka. Anda menjauhkan diri dari dosa-dosa dan batin anda erhubungan dengan yang Haq”. 4.Wara’ “Sebagian dari kebaikan tindakan keislaman seseorang adalah bahwa ia menjauhi segala sesuatu yang tidak berarti”. (Hr. Anas bin Malik, Tirmidzi dan Ibnu Majah). Syekh Ibnu ad-Daqqaq berkata “wara’ adalah meninggalkan segala yang syubhat”. Ibrahim bin Adham menjelaskan wara’ adalah meninggalkan segala yang meragukan, tidak berarti dan apapun yang berlebihan. 5.Zuhud. Firman Allah “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu” (Qs. Al-Hadid : 23). Seorang hamba jangan terlalu gembira di dunia atas apa yang dimilikinya, dan jangan terlalu sedih atas sesuatu yang tidak dimilikinya. Sufyan ats-Tsaury berkata “Zuhud adalah membatasi keinginan untuk memperoleh dunia, bukan makan makanan yang kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar”. 6.Khauf “Mereka menyeru kepada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut (khauf) dan harap”.(Qs. As-Sajdah : 16). Khauf adalah masalah yang berkaitan dengan kejadian yang akan datang, sebab seseorang hanya merasa takut jika apa yang dibenci tiba dan yang dicinta sirna. Al-Junayd berkata “takut adalah datangnya deraan derita dalam setiap hembusan nafas”. 7.Raja’ Raja’ adalah keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkanya terjadi di masa yang akan datang. Abu Abdullah bin Khafif berkata “harapan adalah senangnya hati karena melihat kemurahan Yang Tercinta yang kepada-Nya harapan dipautkan”. Firman Allah “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijajnjikan) Allah itu pasti datang”. (Qs. Al-Ankabut : 5).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s