Hadith Shahih & Problematikanya

Posted: Maret 7, 2010 in Hadith
Tag:, , ,

Hadith Shahih & Problematikanya

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi dan Kriteria Hadith S}ahih
  2. Pengertian Bahasa dan Istilah Hadith Sahih

S}ahih menurut lughat bermakna yang sehat. Sebagai lawan dari saqiem atau yang sakit. Dan bermakna Haq, lawan Bathil. Dengan demikian hadith sahih menurut bahasa berarti hadith yang sah, sehat dan selamat.[1]

Secara terminologi pengertian hadith sahih adalah “Hadith yang sanadnya bersambung dengan periwayatan yang adil dan z}abit hingga bersambung pada Rasulullah saw atau pada sanad yang terakhir dari kalangan sahabat tanpa adanya shadz (janggal) dan muallal (terkena illat)[2]

  1. Kriteria Hadith S}ahih

Dari definisi tersebut diatas maka dapat diketahui bahwa suatu hadith dapat dikatakan jika memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Sanadnya bersambung

Yang dimaksud dengan sanadnya bersambung adalah setiap rawi atau setiap orang yang meriwayatkan hadith benar-benar meriwayatkan dari orang sebelumnya. Demikianlah hal ini berlaku dari sanad pertama sampai terakhir hingga bersambung kepada Rasulullah saw.[3]

  1. Periwayat bersifat adil

Yang dimaksud dengan adil adalah kuat dalam agamanya. Dalam arti telah benar-benar Islam, baligh, berakal dan selamat dari sebab-sebab fasiq dan yang menjerumuskan muruah (harga diri).[4]

Subhi al-Salih menambahkan jika satu dari sanad yang ada memiliki tingkat adil dan D{abit yang lemah, maka hadith yang diriwayatkan tidak dapat dikatakan sahih.[5]

Dr. Muhammad Ajja>j al-Kha>tib mengatakan bahwa yang dimaksud dengan adil adalah orang yang istiqamah dalam agamanya, berakhlak mulia, selamat dari perbuatan fasiq dan menjaga muruah.[6]

Untuk mengetahui kualitas keadilan periwayat adalah dengan cara :

  1. Popularitas di kalangan ahli hadith
  2. Kritik / pendapat ulama’ ahli hadith tentang kualitas periwayat
  3. Penerapan الجرح و التعديل jika ada kontradiksi penilaian oleh kritikus riwayat.
  1. Periwayat bersifat D{abit

Yang dimaksud dengan d{abit adalah kuat dalam periwayatannya, yakni rawi itu yang hafal dan menjaga apa-apa yang diriwayatkan.[7]

Kalau seorang  mempunyai ingatan yang kuat, sejak dari menerima sampai kepada menyampaikan kepada orang lain dan ingatannya sanggup dikeluarkan kapan dan di mana saja dikehendaki, disebut orang yang d{abi>thu’al-s}adri

Kemudian, kalau apa yang disampaikan itu bersdasar pada buku catatannya (textbook) maka disebut orang yang d{abi>thu’l kitab. Para Muhadditsin mensyaratkan dalam mengambil suatu hadith, hendaklah diambil dari hadith yang diriwayatkan oleh Rawi yang bersifat adil lagi z{abit. Rawi yang memiliki kedua sifat tersebut, disebut dengan thiqah.[8]

Untuk mengetahui ked{abitan periwayat dengan cara :

  1. Penilaian ulama hadith
  2. Komparasi dengan hadith lain.
  1. Terhindar dari syudzu>dz (tidak janggal)

Yang dimaksud dengan syudzu>dz dari segi bahasa adalah yang terasing, ganjil, yang menyalahi aturan, yang tidak biasa atau menyimpang, hadith yang ganjil atau menyalahi aturan.

Adapaun dalam ilmu hadith syudzu>dz adalah melemahkan thiqah seorang rawi terhadap rawi yang lebih rajih darinya. Maka wajib dalam periwayatan suatu hadith untuk mengambil yang lebih thiqah dan lebih rajih. Dan keluar dari syarat ini adalah periwayatan yang menyalahi nash atau yang menyalahi rowi yang lebih thiqah, lebih rajih atau lebih banyak hitungan rawinya.[9]

  1. Terhindari dari illat

Illat yaitu sifat tersembunyi yang mencela perangainya dalam penerimaan hadith.[10] Adapun z{ahir hadith tampak tidak ada illat. Yang dikehendaki oleh syarat ini adalah sebab-sebab cela yang tersamar atau yang tampak. Seperti meng-irshal­-kan  secara nyata dengan menyebut telah meriwayatkan dari seorang rawi dihadapan orang banyak padahal dia tidak pernah bertemu dan mendengar langsung dari rawi tersebut. juga bisa disebut illat adalah kelemahan selain apa yang tampak seperti keadaan dalam meng-irshal-kan secara samar dengan mengatakan telah meriwayatkan dari manusia di masanya dengan kalimat dari (‘an) padahal sama sekali tidak pernah mendengar dari orang (rawi) dimaksud.[11]

  1. Perbedaan kriteria hadith s}ahih dalam kitab S}ahih al-Bukhari, S}ahih Muslim dan kitab-kitab hadith yang lain.

Imam Bukhari dan Imam Muslim menjamin bahwa semua hadith-hadith musnad yang ditulis dalam kitab mereka adalah sahih, kendati ada juga sebagian kritikus yang datang belakangan menyatakan bahwa masih terdapat juga hadith yang ada  di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim tidak sahih. Namun jumlahnya amat sedikit.[12]

a. Kriteria al-Bukhari

Imam Bukhari tidak menyebutkan secara ekplisit syarat yang beliau terapkan dalam men-tahrij hadith-hadith dalam kitabnya. Akan tetapi dari metode yang beliau tempuh, dapat diketahui bahwa Imam Bukhari tidak merasa cukup syarat bila perawi cukup sezaman dari gurunya, tetapi mengharuskan adanya liqa (pertemuan) antara keduanya meski hanya sekali.[13] Dapat disimpulkan bahwa ada dua syarat bagi al-Bukhari pertama hidup sezaman dan adanya liqa (pertemuan perawi dengan gurunya).

Metode inipun beliau terapkan dalam menerima hadith. Imam Bukhari tidak begitu saja menerima periwayatan sebuah hadith sebelum yakin bertemu langsung dengan orangnya dan orang tersebut diyakini bertemu langsung gurunya atau rawi diatasnya. Bahkan jika sudah yakin menemukan hadith yang sahih menurut kaidah-kaidah ilmu hadith, beliau melakukan shalat dua rakaat untuk memohon petunjuk kepada Allah akan kebenaran hadith tersebut.[14]

b. Kriteria Muslim

Adapun Imam Muslim berbeda dengan Imam Bukhari. Imam Muslim menghukumi sanad “mu’an’an” sebagai muttasil dan hal ini beliau sebutkan secara tegas dalam muqaddimah sahihnya. Beliau berpendapat, bahwa kesejamanan cukup bisa menjadikan suatu riwayat diterima secara ‘an’anah, meski tidak ada riwayat yang valid tentang bertemunya perawi dengan gurunya. Imam Muslim menilai bahwa perawi yang thiqqah tidak akan meriwayatkan kecuali dari orang yang ia dengar dari orang itu. Dan ia tidak akan meriwayatkan dari orang-orang itu, kecuali hadith-hadith yang didengarnya.[15]

  1. Macam-macam dan kategori hadith s}ahih

1. S}ahih li z<<<{atih dan contohnya

Hadith s}ahih li z{atih adalah hadith yang memenuhi syarat-syarat utama seperti sambungnya sanad, periwayatan yang adil dan z}abit dengan kedlabitan yang sempurna dari awal hingga akhir hadith, terhindar dari kejanggalan (syudzu>dz) dan illat (penyakit).[16]

Singkatnya hadith s}ahih li dzatihi adalah hadith yang memenuhi syarat-syarat hadith sahih secara maksimal.[17]

Contoh hadith s}ahih li z}>atih, hadith Bukhari yang bersanadkan Isma’il, Malik, Tsaur bin Zaid, Abi al-Ghais dan Abu Hurairah r.a. :

قال للنّبى صلى الله علـــيه و ســلم : السّـاعى على الارملة و المسـكين كالمجاهـد فى سبيـل الله او كالّذى يـصوم النــهار و يـقوم الّلـــيل

Artinya: “Orang yang memelihara janda dan orang miskin itu, bagaikan pejuang fi sabilillah dan bagaikan orang yang berpuasa di siang hari dan bertahajjud di malam hari.”

2. S}ahih li Ghayrih

Hadith  sahih yang tidak memenuhi syarat-syaratnya secara maksimal. Misalnya perawinya yang adil tidak sempurna ke d}abitannya (kapasitas intelektualnya rendah). Jenis ini ada dibawah hadith s}ahih li zatihi. Bila jenis ini dikukuhkan oleh jalur lain yang semisal, maka ia menjadi hadith sahih li ghairihi. [18] Dengan kata lain ada faktor lain yang menguatkan.

Contoh Hadith s}ahih li ghairih adalah sebagai berikut :

حدثنا عمروبن علي قال : حدثنا ابو قتيبة قال حدثنا عبد الرحمن ابن عبد الله ابن دينار عن ابيه قال : سمعت ابن عمر يتمثل بشعر ابي طا لب (البخاري)

Artinya : (Bukhari berkata) : telahmenceritakan kepada kami, ‘Amr bin ‘Ali, ia berkata : telah menceritakan kepada kami, Abu Qutaibah, ia berkata : telah menceritakan kepada kami, ‘Abdurahman bin ‘Abdillah bin Dinar dari bapaknya, ia berkata : “Aku pernah mendengar Ibnu Umar meniru sy’ir Abi Thalib….”

Sanad riwayat ini bersambung dari pertama hingga akhir dan rawi-rawinya orang-orang kepercayaan dengan sempurna, hanya ‘Abdurrahman bin Abdillah bin Dinar saja yang derajatnya ada kurang sedikit dari yang lain-lain, tetapi tidak lemah.

Maka martabat sanad yang begini rupanya, dinamakan Hasan li Dzatihi.

Riwayat tersebut ada juga yang diceritakan oleh Imam Ibnu Majah dalam kitab Hadithnya. Susunan sanadnya begini :

  1. Ibnu Majah
  2. Ahmad bin al-Azhar
  3. Abun-Nadlr
  4. Abu ‘Aqil
  5. ‘Umar bin Hamzah
  6. Salim
  7. Bapaknya (yaitu Ibnu Umar)

Riwayat Ibnu Majah ini sanadnya bersambung. Rawi-rawi no.1, 3, 4, 6 dan 7, adalah orang terpercaya. Sedang rawi no. 2 dan 5 martabatnya kurang sedikit dari lima rawi pertama, tetapi tidak lemah.

Ringkasnya, Hasan Li Dzatihi riwayat Ibnu Majah sama derajatnya dengan Hasan li Dzatihi riwayat Bukhari. Dua sanad tersebut menunjukkan, bahwa Hasan li Dzatihi dari riwayat Bukhari dikuatkan dengan Hasan li Dzatihi riwayat Ibnu Majah.[19]

Contoh lain hadith s}ahih li ghairih adalah hadith dari Muhammad ibn Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لول ان اشق على امتى لامرتهم با لسواك عند كل صلاة

“Seandainya tidak memberatkan umamtku pasti aku (Muhammad) perintahkan mereka bersiwak setiap mau mengerjakan shalat”

Muhammad ibn Amr ibn al-Qamah menurut Ibn al-Shalah dianggap rawi yang jujur dan terpercaya tetapi hafalannya kurang baik. Oleh karena itu, hadith tersebut berderajat hasan tetapi hadith tersebut mempunyai mutabi’ yang diriwayatkan oleh yang lain, maka naiklah derajatnya dari hasan li zatih menjadi sahih li ghairih.[20]

  1. Macam-macam Hadith Sahih li Ghayrih.
    1. Hadith Hasan li dzatihi, dikuatkan dengan jalan lain yang sama derajatnya.
    2. Hadith Hasan li dzatihi, dibantu dengan beberapa sanad walaupun sanadnya berderajat rendah.
    3. Hadith Hasan li dzatihi atau hadith lemah yang isinya setuju dengan salah satu ayat qur’an, atau yang cocok dengan salah satu dari pokok-pokok agama.
    4. Hadith yang tidak begitu kuat, tetapi diterima baik oleh ulama-ulama.[21]

C. Hubungan antara kesahihan sanad dan kesahihan matan

Sanad menurut bahasa berarti ”sandaran”, yang kita bersandar padanya. Menurut istilah ahli hadith adalah jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadith.[22]

Definisi lain menyebutkan bahwa kata sanad atau al-sanad berasal dari kata sanada-yasnadu yang berarti mu’tamad (sandaran atau tempat bersandar, tempat berpegang, yang dipercaya, atau yang sah).[23] Jadi menurut bahasa ada kesamaan arti dengan kata al-tariq. Yaitu jalan atau sandaran.[24] Dikatakan demikian, karena hadith itu bersandar kepadanya dan dan dipegangi kebenarannya.

Secara terminology, definisi sanad adalah:

سلسلة الرجال الموصلة للمتن

Silsilah orang-orang yang menghubungkan kepada matan hadith. [25]

Maksud dari silsilah orang-orang diatas adalah rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi tersebut. Sejak yang disebut pertama sampai kepada Nabi SAW, yang perkataan, perbuatan dan ketetapannya merupakan materi atau matan hadith. Dari pengertian diatas, maka sebutan sanad hanya pada serangkaian orang-orang yang meriwayatkan secara keseluruhan, bukan secara perorangan.  Sedang sebutan secara perorangan untuk yang menyampaikan hadith disebut rawi (orang yang meriwayatkan).

Juga dikatakan bahwa sanad adalah susunan atau rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi hadith, sejak yang disebut pertama sampai kepada Rasulullah saw.  Jadi ke-sahih-an sanad adalah rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi hadith yang memenuhi syarat-syarat ke-sahih-an, seperti keadilan dan ke-d{abitannya. Sanad pada dasarnya berperan ganda yaitu : pertama, untuk pengamanan atau pemeliharaan matan hadith. Kedua, untuk penelitian kualitas hadith satu per satu secara rinci.[26]

Sedangkan matan memiliki beberapa definisi yang pada dasarnya maknanya sama, yaitu materi atau lafadz hadith. Pada satu definisi yang sederhana disebutkan bahwa matan ialah ujung sanad (gayah al-sanad) dari sini memberi pengertian bahwa matan ialah apa yang tertulis setelah penulisan silsilah sanad.[27]

Adapun hubungan antara keduanya sangat erat satu sama lain dan tidak bisa dipisah-pisahkan, karena dilihat dari kedua fungsi sanad tersebut diatas. Maka ke-sahih-an sanad sangat menentukan ke-sahih-an matan hadith. Matan hadith tidak bisa dikatakan sahih apabila sanad-nya cacat atau tidak memenuhi syarat-syarat ke-sahih-an sanad-nya terputus (tidak bersambung) ataupun rija>l al-sanad-nya ke-d{abitannya kurang memenuhi syarat.

Ada empat kategori tentang hubungan kesahihan sanad dengan kesahihan matan :

  1. Sanad sahih dan matan sahih
  2. Sanad sahih dan matan tidak sahih
  3. Sanad tidak sahih dan matan sahih
  4. Sanad tidak sahih dan matan tidak sahih

Adapun untuk mengetahui kesahihan sanad terdapat empat cara :

  1. Bersambungnya sanad
  2. Kualitas pribadi dengan kapasitas intelektual periwayat. Cara kedua ini bisa dilakukan dengan cara :
  • Melalui komentar periwayat hadith yang lain
  • Melalui penelitian terhadap hadith-hadith yang diriwayatkannya dan mmebandingkannya dengan hadith lain dari periwayat yang lebih thiqoh.
  • Dengan melihat atau meneliti metode periwayatah yang digunakan.
  • Melihat ketersambungan hubungan guru dan murid dengan mencermati tahun kelahiran dan kewafatan periwayat.
  1. Ada tidaknya tawabi’ dan sawahid.
  2. Penelitian terhadap اداة التحمل واداء الحديث

Metode periwayatan hadith ada delapan macam :

  1. Metode tertinggi dalam periwayatan hadith menurut jumhur ulama adalah al-Sima’I min Lafzi al-Shaikh (mendengarkan langsung dari guru). Adapun lafaz-lafaz penerimaannya adalah : haddatahana, akhbarana, anbaana, sami’tu fulanan, qala lana fulanun, dhakara lana fulanun, dsb.
  2. Metode kedua adalah al-Qira’ah ala al-Shaikh (murid membaca baik dari buku atyau dari hafalannya dan guru mendengarkan).
  3. 3. Metode al-Ijazah (mendapatkan izin periwayatan baik dengan ucapan / lisan maupun tulisan)
  4. Al-Munawalah yaitu seorang guru memberikan hadith atau beberapa hadith atau kitab untuk diriwayatkan. Metode ini melalui dua cara :
    1. Disertai dengan ijazah : ini riwayatku dari fulan maka riwayatkanlah dariku. Hukum periwayatan dengan cara ini adalah sahih (boleh).
    2. Tidak disertai dengan ijazah (guru memberikan kitabnya kepada muridnya tanpa berkata apa-apa) hukum periwayatan dengan cara adalah tidak sah.
    3. 5. Metode al-Mukatabah yaitu : guru menulis sendiri atau menyuruh orang lain sebagian hadithnya guna diberikan kepada muridnya baik yang hadir maupun tidak dengan jalan dikirimi surat melalui orang yang dipercaya untuk menyampaikannya. Metode ini melalui dua cara :
      1. Disertai dengan ijazah : ini adalah hasil dari periwayatanku, maka riwayatkanlah. Keududkan al-Mukatabah ini adalah sama denan al-Munawalah yaitu boleh.
      2. Tidak disettai dengan ijazah. Al-Mukatabah dalam bentuk seperti ini masih diperselisihkan oleh para ulama. Ayub, Mansur, al-Lais menganggap sah periwayatan dengan cara ini, sedang al-Mawardi mengangap tidak sah.[28]
      3. 6. Metode al-I’lam, yaitu, guru mengabarkan kepada muridnya bahwa kitab atau hadith yang diriwayatkannya dia terima dari seorang (guru) tanpa memberi ijin kepada muridnya untuk diriwayatkan. Ibnu Shalah dan sebagian ulama ushul menetapkan tidak sah periwayatan dengan cara ini. Sedang kebanyakan ulama ahli ushul, ahli fiqih dan ahli hadith membolehkannya.
      4. 7. Metode al-Wasiyah, yaitu wasiat seorang guru ketika wafat atau bepergian untuk seseorang untuk menulis kitab yang diriwayatkannya.
      5. 8. Metode al-Wijadah, yaitu seorang murid tahu bahwa hadith tersebut diriwayatkan oleh gurunya tetapi dia tidak mendengar atau mendapat ijazah.[29]

Untuk mengetahui kesahihan matan menurut Salah al-Din al-Adabi mencakup hal-hal berikut :

  1. Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an

Contoh :

من مات وعليه صيام صام عنه وليه

Artinya : Barangsiapa meninggal dengan meninggalkan puasa, hendaklah walinya berpuasa atas namanya yang meninggal itu. (HR. Bukhari)[30]

Hadith ini bertentangan dengan ayat Al-Qur’an

žwr& â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír 3“t÷zé& ÇÌÑÈ

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,[31]

br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya,[32]

  1. Tidak bertentangan dengan hadith yang lebih kuat
  2. Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera dan sejarah. Diantraranya hadith yang menerangkan bahwa Nabi Ibrahim pernah berdusta tiga kali.[33]
  3. Susunan persyaratannya menujukkan ciri-ciri sabda kenabian.[34]
  1. Sanad paling sahih dan Silsilah al-Dhahab

Ulama berusaha keras mengkomparasikan antar perawi-perawi yang maqbul dan mengetahui sanad-sanad yang memuat derajat diterima secara maksimal karena perawi-perawinya terdiri dari orang-orang terkenal dengan keilmuan, kedhabitan dan keadilannya dengan yang lainnya. Mereka menilai bahwa sebagian sanad sahih merupakan tingkat tertinggi dibanding sanad-sanad lainnya, karena memenuhi syarat-syarat qabul secara maksimal dan kesempurnaan para perawinya dalam hal kriteria-kriterianya. Mereka menyebutnya as}ahhul asa>nid. Ada perbedaan di kalangan ulama’ mengenai hal itu. Sebagian mengatakan, as}ahhul asa>nid adalah :

  1. Riwayat Ibnu Syihab az-Zuhriy dari Salim ibn Abdillah ibn Umar dari Ibnu Umar.
  2. Sebagian lagi mengatakan, as}ahhul asa>nid adalah riwayat Sulaiman al-A’masy dari Ibrahim an-Nakha’iy dari al-Qamah ibn Qais dari Abdullah ibn Mas’ud.
  3. Imam Bukhari dan yang lain mengatakan, as}ahhul asa>nid adalah riwayat Imam Malik ibn Anas dari Nafi’ Maula ibn Umar. Dan karena Imam Syafi’iy merupakan orang paling utama yang meriwayatkan dari Imam Malik, dan Imam Ahmad merupakan orang paling utama  yang meriwayatkan dari Imam Syafi’iy, maka sebagian ulama mutaakhirin cenderung menilai bahwa as}ahhul asa>nid adalah riwayat Imam Ahmad dari Imam Syafi’iy dari Imam Malik dari Nafi’ dari Ibn Umar ra. Inilah yang disebut dengan Silsilah Al-Dhahab (rantai emas).[35]

Hadith sahih yang paling tinggi derajatnya, ialah hadith yang bersanad as}ahhul asa>nid, kemudian berturut-turut :

  1. Hadith Muttafaq-alaih atau mutafaq-‘ala s}ihatihi, yaitu hadith sahih yang telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim.
  2. hadith yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari sendri. Sedang Muslim tidak.
  3. hadith yang hanya diriwayatkan oleh Muslim saja, sedang bukhari tidak. Para muhaddithin menamai dengan infarada bihi Muslim.
  4. Hadith sahih yang diriwayatkan menurut syarat-syarat Bukhari dan Muslim yang disebut s}ahihun ‘ala sharta’i al-Bukhari wa Muslim. Sedang kedua Imam tersebut tidak mentakhrijnya.
  5. Hadith sahih yang menurut syarat Bukhari sedang beliau tidak mentakhrijnya. Hadith ini disebut s}ahihun ‘ala shart  al-Bukhari.
  6. hadith sahih menurut syarat Muslim, sedang Muslim tidak mentakhrijnya. Hadith demikian dikenal dengan sebutan s}ahihun ‘ala shart  Muslim.
  7. Hadith sahih yang tidak menurut salah satu syarat dari kedua Imam Bukhari dan atau Muslim.[36]
  1. Kehujjahan hadith sahih

Para ulama’ sependapat, bahwa hadith Ahad yang Sahih dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan syariat Islam. Namun mereka berbeda pendapat, apabila hadith kategori ini dijadikan Hujjah untuk menetapkan soal-soal Aqidah.[37]

Perbedaan ini berpangkal pada perbedaan penilaian mereka tentang apakah hadith semacam ini memberi faedah qath’i atau zanni. Dalam pada itu sekelompok ulama’, diantaranya Imam Ahmad, al-Harith ibn al-Muhasibi, al-Husain ibn al-Karabisi dan Abu Sulaiman, berpendapat bahwa hadith ahad sahih adalah qath’i.[38] Sehingga sebagaimana hadith mutawatir ia dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan masalah-masalah aqidah.

Sebagian ulama ahli hadith, sebagaimana dikatakan an-Nawawi, memandang bahwa hadith-hadith Sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim memberikan faedah qath’i. menurut sebagian ulama lainnya, antara lain Ibn Hazm, tidak membedakan apakah diriwayatkan oleh kedua ulama tersebut atau bukan, tidak ada alasan yang membedakan hal itu, sepanjang memenuhi syarat kesahihannya, maka ia memberi faedah qath’i dan dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan masalah-masalah aqidah.[39]

Hasbi Ash-Shiddieqy memetakan pendapat yang berselisih tentang kehujjahan hadith sahih yang ahad :

  1. Hadith Sahih yang ahad memfaedahkan yakin, walaupu bukan yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim. Demikianlah pendapat Ibnu Thahir al-Maqdisi.
  2. Hadith Sahih yang ahad memfaedahkan yakin, jika hadith itu disahihkan oleh Bukhari dan Muslim, atau salah seorang darinya. Demikianlah pendapat Ibnu Shalah.
  3. Hadith sahih yang disahihkan oleh Bukhari-Muslim dan Hadith sahih yang masyhur dan yang musalsal dengan para imam itu semuanya meyakinkan. Demikianlah pendapat Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

Kecuali al-Nawawi dalam al-Taqrib menetapkan bahwa hadith-hadith sahih yang ahad tidak memfaedahkan yakin, dia hanya memfaedahkan dzan.[40]

  1. Kitab-kitab yang memuat hadith sahih
  2. Kitab yang memuat hadith sahih saja
    1. Al-Jami’ al-Sahih (Sahih Bukhari)

Sahih Bukhari dianggap sebagai karya pertama yang memuat hadith sahih saja. Imam Bukhari menghimpun 9082 buah hadith di dalamnya—dengan pengulangan yang ada di dalamnya—yang beliau pilih dari enam ratus ribu hadith. Dengan segenap upaya dan dalam waktu yang lama, kurang lebih enam belas tahun, beliau menyusun karya itu sampai muncul seperti yang bisa kita lihat sekarang. Beliau tidak meletakkan satu hadith pun kecuali salat dua rakaat terlebih dahulu. Dalam hal ini beliau mengatakan, “Aku jadikan ia sebagai hujjah antara diriku dengan Allah SWT.”[41]

  1. Sahih Muslim

Imam Muslim menyusun kitabnya itu dari tiga ratus ribu hadith yang didengarnya langsung. Untuk menyeleksinya, beliau menghabiskan waktu sekitar lima belas tahun. Dalm hal ini, Imam Muslim mengatakan, “Aku tidak akan meletakkan suatu hadithpun dalam kitabku ini kecuali dengan hujjah, dan aku tidak akan menggugurkan suatu hadith pun dari kitabku kecuali dengan hujjah pula. Ditempat lain beliau mengatakan, “Tidaklah semua hadith sahih yang ada padaku aku letakkan dalam kitabku ini. Aku hanya meletakkan yang disepakati kesahihannya oleh para ulama.”

Selain hadith-hadith yang terulang, jumlah hadith yang ada pada sahih Muslim ada 3030 hadith, dan bila dihitung berdasarkan sanad-sanad yang beragam, mencapai sekitar sepuluh ribu hadith.[42]

  1. Kitab yang memuat hadith sahih, hasan dan da’if
    1. Abu Dawud as-Sijistani (202 – 75 H)

Abu Dawud menyusun kitab sunannya menurut bab-bab fiqih. Sehingga dalam kitab itu beliau tidak menyebutkan kisah-kisah, mauidhah-mauidhah dan khabar-khabar, tentang kezuhudan, keutamaan amal dan lain-lain. Jumlah isinya secara terulang sebanyak 5274 buah hadith.[43]

  1. Imam Tirmidziy (209 – 279 H)

Nama lengkap beliau adalah al-Imam al-Hafidz Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Surah at-Tirmidziy. Menurut Muhammad Ajjaj al-Khatib Jami’ Tirmidziy merupakan contoh yang baik bagi praktek ilmiah yang dilakukan oelh ulama hadith dalam rangka mengetahui yang sahih, hasan dan dla’if, menyingkap ‘illat-‘illat hadith, melakukan penggalian hokum, mengetahui perawi-perawi yang tsiqat dari yang matruk. Imam Tirmidziy tidak hanya mentakhrij hadith sahih. Sehingga kitabnya ini merupakan percontohan yang belum disusun sebelumnya.[44]

  1. Imam an-Nasa’iy (215 – 303 H)

Nama lengkap al-Imam al-Hafidz Syeikhul Islam Abu Abdirrahman Ahmad ibn Syu’aib ibn Ali al-Khurasaniy an-Nasaiy. Dalam kitab Nasa’iy terdapat 5761 hadith. Kitab Sunan Nasa’iy merupakan kitab yang paling sedikit mengandung hadith dla’if, setelah Sahih Bukhari dan Muslim, dan paling sedikit mengandung rawi yang terkena jarh. Ia setingkat atau minimal hampir setingkat dengan Sunan Abu Dawud, karena ketelitian dan konsekuensi an-Nasa’iy dalam menerapkan metode yang beliau patokkan dalam kitab beliau. Hanya saja, Abu Dawud memiliki perhatian yang lebih dalam hal penambahan matan dan lafadz-lafadz hadith yang diperhatikan oleh para ahli hadith yang juga pakar fiqih.[45]

  1. Imam Ibn Majah al-Quziniy (209 – 273 H)

Beliau menyusun kitab Sunannya menurut sistematika fiqih. Seperti halnya Imam hadith yang lain. Kitab ini memuat yang sahih, hasan dan dla’if serta yang sangat lemah.

Kitab ini pernah menjadi perdebatan apakah masuk al-Kutub al-Sittah karena ada kitab Muwaththa’ yang lebih banyak sahihnya. Karena Sunan Ibn Majah lebih banyak mengandung tambahan atas lima kitab hadith yang lain, maka kitab ini didahulukan dari Muwaththa’nya Imam Malik. Dalam kitab ini terdapat 4341 hadith.[46]

BAB III

PENUTUP

Hadith Shahih merupakan sumber hukum setelah al-Qur’an yang memiliki derajat paling tinggi dibandingkan dengan hadith lainnya. Hadith Shahih yang di-tahrij-kan oleh Bukhari yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari memiliki derajat ke-shahih-an yang lebih tinggi daripada hadith-hadith shahih yang terdapat dalam kitab-kitab hadith lainnya, ini karena Imam Bukhari mensyaratkan bertemunya secara langsung perawi dengan gurunya (liqa’), yang dalam hal ini tidak menjadi syarat bagi Imam Muslim, baginya perawi cukup hidup sezaman dengan gurunya.

Namun seluruh hadith riwayat dua imam ini menempati derajat tertinggi hadith sahih. Meski juga harus diakui derajat kesahihan ini tidak terlepas kapabilitas Imam Bukhari dan Imam Muslim sebagai ulama ahli hadith.

Hadith Shahih li dzatih memiliki derajat ke-shahih-an lebih tinggi daripada shahih li ghairi. Ke-shahih-an Sanad sangat menentukan ke-shahih-an matan hadith, karena suatu matan tanpa disertai sanad-nya dalam periwayatannya tidak bisa disebut hadith.

Kitab-kitab hadith yang memuat hadith shahih saja ada dua, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, sedangkan kitab-kitab yang lain tidak hanya memuat hadith shahih saja tapi juga memasukkan hadith Hasan dan Dha’if.

Demikianlah Allah menunjukkan lewat para ulama ; penjagaan Allah kepada Rasulullah. Hingga sesudah wafatpun, beliau ; yakni segala riwayat yang bersumber dari beliau terjaga kemurniannya. Al-Amin Rasul Saw tidak hanya hingga beliau susah wafat pun hal itu Allah tampakkan lewat penjagaan umat atas hadith-hadith beliau.

Hal ini sekaligus membuktikan kema’shuman rasululah Saw. Jika Allah menjamin kemurnian al-Qur’an, maka Ulum al-Hadith ini sebagai bukti penjagaan Allah lewat para ulama atas nabi dan kekasihnya Muhammad Saw.

Wallahu a’lam


Bibliografi

A. Qadir Hasan, Ilmu Mushthalah hadith, Bandung : Diponegoro, 2002

A.W. Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab Indonesia Terlengkap, Yogyakarta: Unit PBIK PP al-Munawwir,1984

Bukhari, Sahih al-Bukhari Al, Sahih al-Bukhari, Dar Ihyau al-Turathu al-‘Arabiy, tt.

Hasyim, Dr. Ahmad Umar, Qawa’id ushul al-hadith, Beirut : Dar al-Kitab al-‘Araby, 1984

Khatib, Dr. Muhammad ‘Ajaj Al-, Ushul al-Hadith, terj., Jakarta : Gaya Media Pratama, cet. 4, 2007.

M. Hasbi Ash-Shiddiqiey, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadith, Jakarta : Bulan Bintang, 1993

Mahmud al-Tahhan, Taisyir Musthalah al-Hadith, Beirut : Dar al-Fikr, tt

Mahmud al-Tahhan, Usul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, Riyad : Maktabah al-Rusyd, 1983.

Mas’udi, Hafidh Hasan Al-, Minhatu al-mughith fi ‘ilmi mustalahu al-hadith, terj. Surabaya : Salim Nabhan, 1419 H.

Munzier Suparta, Ilmu Hadith, Jakarta :Rajawali Press, 1993

Rahman, Fatchur, Ikhtisar Musthalahul Hadith, Bandung : Al-Ma’arif

Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadith, Jakarta : Gaya Media Pratama, 2001.

Salih, Dr. Shubhi Al-, Ulum al-Hadith wa musthalahahu, Beirut : Dar al-Ilm li al-Muslimin, 1085 H / 1988 M.

Shiddiqiey, M. Hasbi Ash-, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadith, Jakarta : Bulan Bintang, 1993

Zuhri, Dr. Muh, Hadis Nabi, Yogya :Tiara Wacana, 1997.


[1] M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis, (Jakarta, Bulan Bintang, 1958) 109.

[2] Shubhi Al-Salih, Ulum al-Hadith wa musthalahahu, (Beirut, Dar al-Ilm li al-Muslimin, 1085 / 1988), 145.

[3] Ahmad Umar Hasyim, Qawa’id ushul al-hadith, (Beirut, Dar al-Kitab al-‘Araby, 1984), 39.

[4] Ibid, 40

[5] Shubhi Al-Salih, Ulum al-Hadith, 146.

[6] Muhammad Ajja>j al-Kha>tib, Ushul al-hadith, (Beirut,Dar el-Fikr, 1989), 305.

[7] Ahmad Umar Hasyim, Qawa’id, 40.

[8] Rahman, Fatchur, Ikhtisar Musthalahul Hadith, ) Bandung Al-Ma’arif, 2001), 121-122.

[9] Ahmad Umar Hasyim, Qawa’id, 42.

[10] Ibid. 42

[11] Ibid, 42.

[12] Dr. Muh. Zuhri, Hadith Nabi, (Yogya,Tiara Wacana 1997( 89.

[13] Muhammad Ajja>j al-Kha>tib, Ushul al-Hadith, terj. A. Musyafiq, (Jakarta,Gaya Media Pratama, 2003), 282.

[14] Al-Bukha>ri, Sahih al-Bukha>ri, (Dar Ihya>u al-Tura>thu al-‘Arabiy, tt), juz 1, 8

[15] Ajja>j al-Kha>tib, Ushul, 284

[16] Dr. Ahmad Umar Hasyim, Qawa>’id ushul al-hadith, 47.

[17] Ajja>j al-Kha>tib, Ushul, 277.

[18] Ibid, 277. lihat juga Dr. Ahmad Umar Hasyim, Qawa’id ushul al-hadith, 48, Shubhi Al-Salih, Ulu>m al-Hadith wa musthala>hahu, 146

[19] A. Qadir Hasan, Ilmu Mushthalah hadith, (Bandung, Diponegoro, 2002), 31-33

[20] Hasyim, Qawaid, 49

[21] A. Qadir Hasan, Ilmu…..31

[22] M. Hasbi Ash-Shiddiqiey, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadith, (Jakarta, Bulan Bintang), 1993

[23] Mahmud al-Tahhan,Usul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, )Riyad: Maktabah al-Rusyd,1983), 16

[24] A.W.Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab Indonesia Terlengkap, (Yogyakarta: Unit PBIK PP al-Munawwir,1984),1551

[25] Mahmud al-Tahhan,Usul al-Takhrij, 16

[26] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadith, (Jakarta, Gaya Media Pratama, 2001), 98.

[27] Ibid, 94.

[28] Munzier Suparta, Ilmu Hadith, (Jakarta, Rajawali Press, 1993), 198-204

[29] Mahmud al-Tahhan, Taisyir Musthalah al-Hadith, (Beirut, Dar al-Fikr, tt), 132-137

[30] M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-poko…, 117.

[31] QS. 53 : 38

[32] QS. 53 : 39

[33] Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok, 117

[34] Bustamin dan M. Isa H.A. Salam, Metodologi Kritik Hadis, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004) 64.

[35] Ajja>j al-Kha>tib, Ushul, 278.

[36] Ibid, 286.

[37] Ranuwijaya, Ilmu, 166

[38] Subhi as-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Hadith, )Jakarta, Pustaka Firdaus, 1995), 272.

[39] Lihat, Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, jilid I, (Kairo,al-Ashimah, tt), 119-137.

[40] Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok,135.

[41] Ajja>j al-Kha>tib, Ushul, 281

[42] Ibid, 282

[43] Ibid, 286

[44] Ibid, 289

[45] Ibid, 290

[46] Ibid, 291

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s