ARAB PRA-ISLAM, NABI PERIODE MAKAH DAN MADINAH

Posted: Maret 30, 2010 in Sejarah Peradabn Islam
Tag:, , , , , , ,

ARAB PRA-ISLAM,

NABI PERIODE MAKAH DAN MADINAH

  1. PENDAHULUAN

Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir yang diturunkan untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. Sebelum Muhammad SAW diangkat menjadi utusan untuk menyampaikan wahyu Allah SWT, beliau telah melalui beberapa tahapan penggemblengan baik fisik maupun mental. Setelah dianggap mumpuni, akhirnya beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul terakhir.

Setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Muhammad SAW menjalankan misi dakwah. Dimulai dari keluarga dan teman terdekat, keluarga secara umum dan masyarakat luas. Dalam menjalankan misi dakwahnya, Muhammad SAW mendapat dukungan penuh dari keluarga dan sahabat terdekatnya.

Karena kegigihannya, akhirnya Muhammad SAW berhasil mengentas masyarakat yang nyaris tenggelam dalam kejahiliahannya menjadi masyarakat yang beradab. Dalam waktu yang relatif singkat beliau berhasil menyebarkan misi Islam ke seantero jazirah Arab melalui agama Islam. akhirnya Jazirah Arab menjadi barometer perkembangan peradaban dunia.

Melalui makalah ini penulis berusaha menggambarkan keadaan Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam, proses kelahiran Muhammad SAW, peristiwa-peristiwa yang dialami sejak kecil hingga dewasa, proses penurunan wahyu, liku-liku dakwah hingga hijrah ke Madinah dan pembentukan Negara Mandinah. Akan tetapi poin-poin tersebut akan disajikan secara singkat.

  1. ARAB PRA-ISLAM
    1. Keadaan Geografis Jazirah Arab

Jazirah ditinjau dari segi bahasa berarti pulau sedangkan Arab berarti gurun atau tanah tandus yang tidak ada air dan tumbuhannya. Sehingga tanah yang di sebelah barat berbatasan dengan Laut Merah, sebelah timur berbatasan dengan teluk Arab dan Irak Selatan, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Arab dan di utara berbatasan dengan negara-negara Syam ini disebut Jazirah Arab. Begitu pula penduduk yang tinggal di daerah ini, mereka disebut Orang Arab.[1]

Jazirah Arab terbagi atas dua bagian[2], tengah dan tepi. Bagian tengah terdiri dari pegunungan yang tandus karena jarang turun hujan. Sehingga penduduknya sedikit yang hidup mengembara untuk mencari padang yang ditumbuhi rumput sebagai tempat menggembala ternaknya. Penduduk yang mendiami Jazirah Arab bagian tengah ini disebut Badui. Hewan ternak menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan mereka[3]

Jazirah Arab bagian tepi bagaikan pita kecil yang melingkari Jazirah tersebut. Di bagian tepi ini hujan relatif teratur, sehingga daerahnya lumayan subur. Oleh karena itu penduduknya tidak mengembara. Mereka mendirikan kota-kota, kerajaan-kerajaan dan sempat membina kebudayaan. Oleh sebab itu mereka disebut “Ahl al-H{ad{ar” (Penduduk Negeri).[4]

Medan Jazirah Arab sangat berat karena terdiri dari gurun pasir dan pegunungan yang tandus dan di bagian tengah terdapat orang badui yang pemberani dan memiliki solidaritas kesukuan yang kuat. Keadaan yang demikian ini merupakan benteng yang kuat dari invasi negara asing. Sehingga penduduk Jazirah Arab sejak dulu merupakan orang-orang yang bebas merdeka di semua sisi kehidupannya. Meskipun mereka berdampingan dengan dua imperium besar, Romawi dan Persi. Kemudian karena letak geografisnya yang demikian, daerah utara dan selatan Jazirah Arab merupakan tempat lalu-lalangnya bangsa asing. Sehingga daerah tersebut menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, keagamaan dan seni.[5]

  1. Komposisi Penduduk

Para ahli sejarah membagi penduduk Jazirah Arab berdasarkan silsilah menjadi tiga golongan, yaitu:

  1. 1. Al-Arab al-Ba>idah, yaitu penduduk Jazirah Arab masa lampau yang tidak mungkin bisa dijelaskan secara rinci, seperti: Kaum ‘A>d, Thamu>d, dan lain-lain.
  2. 2. Al-‘Arab al-‘A>ribah, yaitu penduduk Jazirah Arab keturunan Ya’rib bin Yashjib bin Qaht{a>n. Golongan ini dikenal dengan sebutan Qaht{a>niyah, mereka berasal dari Yaman.
  3. 3. Al-‘Arab al-Musta’rabah, yaitu penduduk Jazirah Arab keturunan Nabi Isma>’il AS. Golongan ini biasa disebut Al-‘Adna>niyah. Mereka berasal dari Irak.[6]

‘Adna>niyyu>n mendiami wilayah utara sementara itu Qaht{a>niyyu>n menguasai wilayah selatan. Akan tetapi kedua golongan ini lama-kelamaan membaur dengan adanya migrasi antara keduanya.[7]

  1. Sistem Kekuasaan dan Pemerintahan

Di Jazirah Arab terdapat dua golongan penguasa; Raja yang bermahkota dan Raja yang tak bermahkota. Raja yang bermahkota ini tidak memiliki kekuasaan penuh terhadap penduduk Jazirah Arab, mereka hanya berkuasa di pinggiran Jazirah Arab. Pada hakekatnya yang berkuasa penuh secara mandiri adalah Raja yang tak bermahkota, yaitu para kepala kabilah (clan) dan kepala suku (tribe). Mereka memiliki kekuasaan penuh dan memiliki keistimewaan seperti raja.[8] Sedang di daerah H{ija>z yang berkuasa penuh adalah Isma>’il AS dan keturunannya ‘Adna>niyyu>n).[9] Sementara itu penduduk Jazirah Arab yang ada di pedalaman dan jauh dari kekuasaan para Raja tersebut memiliki kebebasan penuh.[10]

  1. Keadaan Politik dan Sosial Budaya

Tiga daerah yang berbatasan dengan daerah asing, masyarakatnya dalam keadaan sangat kacau. Para penguasa tidak memikirkan kesejahteraan raktaynya. Mereka hanya menuruti hawa nafsunya belaka. Kedaliman terjadi di mana-mana. Mereka tidak bisa mengeluh tapi tidak mampu melawan. Penduduk terbagi menjadi dua; “tuan” dan “hamba”. “tuan” -meski orang asing- selalu berlaku sewenang-wenang terhadap “hamba”. Sementara itu masyarakat yang ada di pedalaman juga tidak kalah kacau. Sering terjadi pertikaian bahkan pertumpahan darah di antara mereka.[11] Sikap ini nampaknya sudah mendarah daging. Dalam masyarakat yang suka berperang, nilai wanita sangat rendah.[12] Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak berkembang. Karena itu, bahan-bahan sejarah Arab pra Islam sangat langka.[13]

  1. Kepercayaan

Pada mulanya sebagian besar penduduk Jazirah Arab memenuhi seruan dakwah Nabi Isma>’il AS yang mengajak mereka untuk mengikuti agama Ayahnya, yaitu Ibra>him AS. Mereka menyembah Allah SWT dan mengesakannya. Namun dengan berjalannya waktu dan lamanya masa fatrah, mereka mulai mencampur adukkkan antara yang hak dan bathil. Maka masuklah ajaran kemusyrikan dan mereka mulai menyembah berhala. Akhirnya berkembanglah polytheisme.[14]

Orang yang yang pertama memperkenalkan berhala kepada bangsa Arab adalah ‘Amr bin Lu’ai bin Qam’ah. Mula-mula is pergi ke Syam. Di sana dia mengetahui bahwa penduduk Syam banyak yang menyembah berhala. Merasa tertarik dengan berhala yang disembah oleh penduduk Syam, iapun minta satu berhala. Permintaan ini dipenuhi oleh penduduk Syam. Dia diberi satu berhala yang diberi nama hubal.[15]

Selain itu banyak pula ajaran dan kepercayaan yang menyimpang dari ajaran tauhid yang yang mula-mula mereka peluk, di antaranya adalah:

  1. Keputusan ketika mereka hendak melakukan suatu kegiatan seperti bepergian, menikah atau lainnya ditentukan dengan cara undian. Apabila yang keluar “ya” maka dia akan melakukannya. Akan tetapi kalau yang keluar “tidak ” maka mereka tidak akan melakukannya.
  2. Mereka mempercayai apa yang dikatakan oleh para Peramal nasib dan Ahli Nujum
  3. T{iyarah (menganggap akan tertimpa sial). Anggapan ini bermula ketika mereka mendatangi burung atau kijang saat akan melakukan suatu pekerjaan. Ketika burung/kijang yang didatangi lari kearah kanan berarti pertanda baik. Apabila larinya ke sebelah kiri berarti pertanda buruk.[16]

Meski mereka sudah banyak melakukan penyimpangan, namun sebagian ajaran Nabi Ibra>him AS masih mereka pegang teguh, dantaranya adalah:

  1. Pada saat ihram mereka tidak masuk dari rumah melalui pintu belakang.
  2. Mereka berkata bahwa orang yang datang dari tanah halal sebaiknya tidak makan makanan yang dibawa dari tanah halal apabila mereka datang untuk melakukan ibadah haji atau ‘umrah.
  3. Mereka mengaku sebagai keturunan dari Nabi Ibrahim SAW dan yang berhak atas tanah haram.[17]

Pada saat itu orang-orang yang memeluk agama Yahudi, Nasrani, dan Majusi juga sudah ada.[18]

  1. Kondisi Sosiologis

Organisasi dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentangkomunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah (clan). Beberapa kelompok kabilah membentuk suku (tribe) dan dipimpin oleh seorang Syeh. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi kabilah atau suku.[19] Bahkan mereka rela mati demi membela kaluarga atau kabilahnya. Mereka juga rela mati demi membela sukunya. Bahkan di kalangan mereka ada pameo “uns{ur akhaka d{o>liman aw mad{lu>man”.[20] Mereka suka berperang. Oleh karena itu perang suku sering terjadi. Dalam masyarakat yang suka berperang nilai wanita sangat rendah.[21]

  1. Kondisi Ekonomi

Mata Pencaharian utama penduduk Jazirah Arab adalah perdagangan. Namun perdagangan hanya dapat dilakukan pada masa aman yaitu pada “al-Ashhur al-h{urum”. Selain itu ada pula yang berusaha di bidang konveksi, penyamakan kulit, dan lain lain.. Bahkan di pedesaan di daerah pedesaan ada yang berusaha di bidang pertanian dan peternakan. Wanita-wanita Arab pandai menenun kain. Namun sayang hasih usaha tersebut kebanyakan digunakan untuk berperang Kemiskinan dan kelaparan pun terjadi di mana­-mana.[22]

  1. Moralitas

Meski secara umum al-Akhla>q al-Mad{mu>mah banyak dilaksanakan, namun ada juga al-Akhla>q al-Mah{mu>dah yang masih dipertahankan oleh mereka, diantaranya adalah:

1. Murah hati, terutama kepada tamu

2. Menepati janji

3. Keteguhan jiwa.[23]

  1. NABI PERIODE MAKAH
    1. Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Kejadian-Kejadian Penting pada Masa Kanak-Kanak

Demikian itulah suasana tempat di mana Nabi SAW dilahirkan. Beliau dilahirkan di Makkah pada hari Senin tanggal 22 April 571 M. dari rahim seorang wanita yang terhormat, Aminah bint Wahb. Ayahnya adalah Abdullah bin ‘Abd al-Muththalib. Pada waktu Muhammad SAW dilahirkan ada irha>s{a>t yang terjadi, di antaranya adalah pancaran cahaya dari tempat lahirnya Muhammad SAW hingga menerangi istana-istana di Syam[24] dan padamnya api yang disembah oleh Kaum Majusi dan sebelumnya tak pernah padam.[25] Bayi yang lahir ini oleh Kakeknya diberi nama dengan nama yang belum pernah ada yang memakainya, Muhammad. Kakeknya menginginkan agar bayi ini kelak dipuji oleh manusia seluruh dunia.[26]

Setelah beberapa hari dalam asuhan keluarganya, Muhammad SAW diserahkan kepada seorang pengasuh yang bernama Halimah bint Abi Z{uaib dari kabilah Bani> Sa’d untuk diasuh di desa. Hal ini memang menjadi kebiasaan orang Arab perkotaan dengan tujuan agar si anak terbebas dari kebiasaan-kebiasaan jelek di kota, pertumbuhan fisik optimal dan belajar bahasa Arab yang masih murni karena belum tercampur dengan bahasa-bahasa lain sebagaimana di kota Makah.[27]

Setelah kira-kira 2 tahun dalam asuhan Halimah, Muhammad SAW dikembalikan ke pangkuan ibunya. Akan tetapi mengingat berkah yang didapat semenjak Muhammad SAW berada dalam asuhannya, Halimah menginginkan agar Muhammad SAW diperkenankan dibawa kembali ke desa. Akan tetapi pada saat usia Muhammad SAW lebih kurang 5 tahun terjadi peristiwa yang menjadikan Halimah khawatir akan keselamatan Muhammad SAW, yakni peristiwa pembedahan dada dan pembersihan hati Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril.[28]

Karena Halimah khawatir akan keselamatan Muhammad SAW, maka dengan berat hati, Muhammad SAW diserahkan kembali ke ibundanya. Muhammad SAW berada dalam asuhan ibunya hingga usia 6tahun. Dalam usia yang begitu dini, Muhammad SAW ditinggal ibunya pulang ke rah{matullah. Sepeninggal ibundanya, Muhammad SAW diasuh oleh Kakeknya, Abdul Mut{{{t{alib hingga sang kakek meninggal saat Muhammad SAW berusia 8 tahun 2 bulan. Setelah kakeknya meninggal, Muhammad SAW diasuh oleh pamannya, Abu> T{a>lib.[29]

Pada usia 12 tahun Muhammad SAW dibawa oleh Abu> T{a>lib berdagang ke negeri Syam. Pada waktu sampai di daerah Bushra, Abu> T{a>lib bersama rombongan dijamu oleh seorang pendeta yang dikenal dengan julukan Buhaira, yang nama aslinya adalah Jirjis. Beliau mengetahui bahwa dalam diri Muhammad SAW terdapat tanda-tanda kenabian. Oleh karena itu beliau menyarankan kepada Abu> T{a>lib untuk membawa pulang kembali Muhammad SAW ke Makah karena khawatir Muhammad SAW disakiti oleh orang Yahudi.[30]

  1. Kejadian-Kejadian Penting Masa Remaja Hingga Bi’thah

Saat usianya menginjak 15 tahun[31] terjadi perang antara kabilah Quraish dan Kina>nah melawan kabilah Qais ‘Ailan. Perang ini disebut perang Fujja>r karena terjadi pada al-Ashhur al-H{urum di mana pada bulan-bulan itu tidak boleh diadakan peperangan. Pada peperangan ini Muhammad SAW membantu menyiapkan peralatan perang -anak panah- untuk paman-pamannya. Akhirnya perangan ini dimenangkan oleh pihak Quraish. Setelah berakhirnya perang, beberapa kabilah di kalangan Quraisy seperti Bani> Ha>shim, Bani> Mut{t{alib, Asad bin Abdil ‘Uzza mengadakan perjanjian yang menyepakati sebuah klausul, yakni: “apabila di Makah ada orang yang teraniaya baik dari keluarga mereka atau bukan maka mereka akan membelanya hingga tuntas”.[32] Dalam peristiwa ini Muhammad SAW secara tidak langsung belajar strategi perang dan diplomasi.[33]

Di antara pengalaman di bidang vokasional yang pernah didapatkan oleh Muhammad SAW adalah menggembala kambing milik ibu asuhnya -Halimah- pada masa kanak-kanak dan menggembala kambing milik keluarganya di Makah. Melalui kegiatan penggembalaan beliau menemukan kesempatan untuk berpikir dan merenung. Pemikiran dan perenungan membuatnya jauh dari pemikiran duniawi, sehingga ia terhindar dari noda yang merusak martabatnya.[34] Selain itu pada saat berusia 15 tahun,  Muhammad SAW dibawa berdagang oleh pamannya ke negeri Syam. Namun belum sampai tujuan sudah diperintah oleh pamannya kembali ke Makah atas saran seorang pendeta seperti dijelaskan di depan.[35]

Tampaknya Muhammad SAW tertarik pada dunia perdagangan. Hal ini terbukti pada saat berumur 25 tahun, beliau berangkat ke Syam dengan membawa barang dagangan milik Khadi>jah RA. Khadi>jah RA adalah wanita pedagang yang kaya-raya lagi terhormat. Muhammad SAW terkenal akan kejujuran dan kredibilitas serta kemuliaan akhlaknya. Hal inilah yang menarik dan menjadi dasar  Khadi>jah RA meminta kesediaan Muhammad SAW untuk membawa barang dagangannya. Permohonan ini diterima oleh Muhammad SAW dengan senang hati.[36]

Setelah meyakini sifat-sifat terpuji dan keistimewaan yang ada pada diri Muhammad SAW, Khadi>jah RA ingin agar Muhammad SAW menjadi suaminya. Padahal banyak diantara pemimpin yang melamarnya,  tapi Khadija>h RA menolak. Ketertarikan kepada Muhammad SAW ini beliau ceritakan kepada sahabatnya yang bernama Nafisah bint Munyah. Dialah yang mengajukan lamaran kepada Muhammad SAW untuk Khadi>jah RA. Setelah mendapat persetujuan kedua keluarga, akhirnya pernikahan pun dilaksanakan. Pada saat itu Muhammad SAW berusia 25 tahun sedang Khadijah RA berusia 40 tahun. Dialah wanita pertama dinikahi oleh Rasulullah SAW.[37] Beliau tidak menikah dengan wanita lain hingga Khadi>jah RA wafat pada saat beliau berusia 50 tahun.[38]

Pada saat beliau berusia 35 tahun, kabilh Quraish merenovasi Ka’bah. Setelah pembangunan selesai terjadi perselisihan di antara mereka mengenai siapa yang akan diberi kehormatan untuk meletakkan kembali hajar aswad di tempat semula. Setelah bermusyawarah akhirnya semua sepakat untuk mengangkat seseorang yang akan diminta bantuan untuk menyelesaikan perselisihan tersebut, yaitu orang pertama yang masuk masjid dari pintu S{afa.[39] Ternyata atas izin Allah SWT orang pertama yang masuk masjid dari pintu S{afa adalah Muhammad SAW. Pada saat mereka tahu bahwa yang dimaksud adalah Muhammad SAW mereka berseru Ha>z{a al-Ami>n. Muhammad SAW melepas selendang kemudian menggelarnya. Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah, kemudian semua kepala suku diminta mengangkat. Setelah mendekati tempatnya, hajar aswad diambil oleh Muhammad SAW dan beliau meletakkannya kembali ke tempat semula. Semua puas dengan keputusan tersebut.[40]

Tiga tahun sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad SAW dipersiapkan sedemikian rupa oleh Allah SWT. Muhammad SAW mulai senang berh{alwat dan bertah{annuth di gua Hira’ yang terletak di Jabal Nur sekitar 2 mil dari Makah. Di situ beliau memikirkan keadaan kaumnya yang tenggelam dalam kemusyrikan dan kemungkaran.[41]

  1. Menerima Wahyu dan Berdakwah Secara Sembunyi-Sembunyi

Setelah tiga tahun bertah{annuth, akhimya Alllah SWT memulai proses penurunan wahyu. Proses ini dimulai dengan al-Ru’ya> al-S{a>diqah yang menyerupai terangnya waktu Shubuh. Hal ini terjadi selama 6 bulan. Setelah itu turunlah wahyu pertama, yakni Surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Wahyu pertama ini turun pada hari Senin tanggal 21 Ramadlan (malam) bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 610 M. pada saat usia beliau 40 tahun 6 bulan 12 hari (bedasarkan kalender hijriyah) atau 39 tahun 3 bulan 22 hari (berdasarkan penanggalan masehi).[42]

Kemudian turun wahyu kedua, yakni Surat Al-Muddaththir ayat 1-7 yang menegaskan perintah untuk berdakwah menyampaikan risalah. Langkah pertama yang ditempuh oleh Rasulullah SAW adalah berdakwah kepada orang-orang terdekatnya yakni, keluarga dan teman dekat. Orang yang masuk Islam pada hari pertama dalwah adalah Khadijah RA, Zaid  (bekas budaknya), Ali bin Abi> T{ha>lib dan Abu> Bakr. Setelah itu Abu> Bakr mengajak teman-temannya untuk masuk Islam. Di antara yang masuk Islam di tangan Abu> Bakr adalah Uthma>n bin ‘Affa>n, Al-Zubair bin al- ‘Awwa>m, Abd al-Rahma>n bin ‘Auf, Sa’d bin Abi> Waqqa>s{, T{alh{ah bin Ubaidilla>h.[43]

Dakwah secara rahasia ini berlangsung secara intensif sehingga banyak pria maupun wanita yang masuk Islam. Akhirnya kabar tentang adanya agama baru ini pun samar-samar didengar oleh Kuffa>r Quraish. Akan tetapi mereka mengangapnya sebagai hal yang biasa. Karena sebelum Muhammad SAW menyampaikan risa>lah, ada beberapa orang yang berbicara mengenai masalah ketuhanan, di antaranya Umayyah bin Abi> al-S{alt. Mereka menganggap Muhammad SAW juga seperti mereka.[44]

  1. Dakwah Secara Terbuka

Setelah dakwah secara sembunyi berlangsung selama 3 tahun dan sudah terbentuk persaudaraan dan solidaritas kaum muslim, turunlah wahyu y~g berisi perintah untuk berdakwah secara terang-terangan, yakni ayat “wa anz{ir ‘ashi>rataka al-aqrabi>n (al syu’ara: 214).[45]

Langkah pertama yang diambil oleh Muhammad SAW adalah mengundang keluarga dekatnya. Orang yang datang pada undangan pertama ini sebanyak 54 orang. Pada undangan pertama ini Muhammad SAW belum sempat menyampaikan Risa>lah Isla>miyah. Baru pada undangan kedua Muhammad SAW menyampaikan risalah Risa>lah Isla>miyah. Abu> Lahb pun marah besar dan meminta yang hadir untuk membelenggunya. Akan tetapi Abu> T{a>lib dengan gigih membela Muhammad SAW.[46]

Dengan diturunkannya wahyu yang memrintahkan kepada Nabi SAW untuk berdakwah lebih keras dan tegas, yakni “fas{da’ bima> tu’mar wa a’rid{ ‘an al-ja>hili>n” (Al-Hi{jr: 94) ditambah keyakinan beliau akan perlindungan yang diberikan oleh Abu> T{a>lib mendorongnya untuk melebarkan sayap dakwahnya ke kabilah-kabilah dengan menyeru mereka dari Bukit Sh{fa>. Semakin hari semakin banyak orang yang tertarik pada ajaran Islam. Hal ini mendorong Kuffa>r Quraish untuk meminta da Abu> T{a>lib agar Muhammad SAW menghentikan dakwahnya. Namun Abu> T{a>lib menolak permintaan tersebut.[47]

Kuffar Quraisy merancang berbagai cara untuk menghentikan Muhammad  SAW dari aktifitas dakwahnya, di antaranya:

  1. Mengejek, menghina, mentertawakan dan mendustakan
  2. Mengobarkan api permusuhan
  3. Menjauhkan pengikut Muhammad SAW dari al Qur’an dengan mengatakan bahwa isi al Quran adalah kebohongan-kebohongan.
  4. Mengajukan perdamaian dengan cara mereka mau mengamalkan ajaran Muhammad SAW asal Muhammad SAW juga mau melakukan ajaran mereka.[48]

Dengan semakin kerasnya tekanan Kuffa>r Quraish, Muhammad SAW melarang kaum Muslimin menampakkan keislamannya dan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan beliau secara rahasia di rumah al Arqa>m yang terkenal dengan sebutan Da>r al-Arqa>m. Hal ini dilakukan untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Kuffa>r Quraish.[49]

Kuffa>r Quraish semakin keras menekan kaum muslimin. Tekanan tersebut semakin hari semakin keras, sehingga sebagian kaum muslimin menjadi lemah. Akhirnya turunlah Surat al-Kahf ayat 16 dan al-Zumar ayat 10. Maka Muhammad SAW pun memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke Habasyah. Pada bulan Rajab tahun 5 kenabian, berangkatlah gelombang pertama. Pada gelombang pertama  ini sahabat yang hijrah sebanyak 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita di bawah pimpinan Uthma>n bin ‘Affa>n. Meskipun Kuffa>r Quraish mengejar sampai Habasyah, namun kaum muslimin tetap aman dalam periindungan Al- Naja>syi, Raja Habasyah.[50]

Untuk menghentikan gerakan dakwah Muhammad SAW Kuffa>r Quraish sekali lagi mendatang Abu> T{a>lib. Mereka memohon agar Abu> T{a>lib membujuk Muhammad SAW agar tidak meneruskan dakwahnya. Akan tetapi Abu> T{a>lib tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut dan dia terus melindungi Muhammad SAW. Bahkan ketika mereka hendak menukar Muhammad SAW dengan ‘Amma>rah bin Wali>d bin Mug{i>roh. Abu> T{a>lib tetap bergeming. Karena dengan bujukan secara halus ini tidak berhasil, akhirnya Abu> Jahl berusaha membunuh Muhammad SAW, akan tetapi tidak berhasil juga.[51]

Pada saat gencar-gencarnya kuffar Quraisy menentang dakwah Muhammad SAW dengan kekerasan, Hamzah bin Abdul Mut{t{alib dan Umar bin Khat{t{a>b masuk Islam. Hamzah masuk Islam karena mengetahui Abu> Jahl menyakiti Muhammad SAW, tapi beliau diam tidak membalas. Sedang sebab masuk Islamnya Umar adalah karma menyadari keindahan al Quran.[52]

Dengan adanya kekerasan-kekerasan yang dilakukan Kuffa>r Quraish kepada Muhammad SAW, Abu> T{a>lib mulai sedikit gentar. Inilah yang mendorongnya menemui kaum kerabatnya dari Bani> Ha>syim, Bani> al-Mut{t{alib dan Ludai ‘Abdi Mana>f untuk membantu melindungi Muhammad SAW. Mereka, baik yang kafir maupun muslim sepakat untuk melindungi Muhammad SAW.[53]

Dengan bersatunya tiga keluarga ini Kuffa>r Quraish mengeluarkan jurus baru, yaitu memboikot mereka. Mereka dikucilkan, tidak ada yang boleh berhubungan dan menjual makanan kepada mereka. Pengumuman tentang itu ditempel di Ka’bah. Pemboikotan ini akan diakhiri jika mereka mau menyerahkan Muhammad SAW kepada mereka untuk dibunuh. Hal ini menyebabkan mereka terkucil dan tidak dapat membeli makanan kecuali pada al-Ashhur al-H{urum, selain itu tidak bisa. Keadaan ini  berlangsung selama tiga tahun, yakni hingga bulan Muharram tahun 10 kenabian.[54]

Sekali lagi mereka mendatangi Abu> T{a>lib agar mau membujuk Muhammad SAW untuk menghentikan dakwahnya. Ini adalah kali terakhir mereka menemui Abu> T{a>lib. Abu> T{a>lib tetap bergeming hingga beliau wafat pada bulan Rajab tahun 10 kenabian. Dua bulan kemudian Khadi>jah RA juga wafat. Muhammad SAW merasakan kesedihan yang bertumpuk. Selain wafatnya dua orang pendukung dan pelindung utamanya, Muhammad SAW juga mengalami siksaan yang lebih dahsyat dari Kuffa>r Quraish. Tahun ini disebut  ‘A>m al-Khuzn. Pada bulan Syawal tahun ini Muhammad SAW menikah dengan Saudah bint Zam’ ah.[55]

  1. Dakwah ke Luar Makah

Pada bulan Syawal tahun 10 kenabian, Muhammad SAW melebarkan sayap dakwahnya ke T{a>if yang berjarak sekitar 60 mil dari Mekah. Beliau berjalan bersama bekas budaknya, Zaid bin Ha>rithah. Dakwah ke T{a>if ini tampaknya belum berhasil, bahkan beliau dilempari batu hingga berdarah.[56]

Sekembalinya dari T{a>if, pada bulan D{ul Qa’dah tahun 10 kenabian, Muhammad SAW memulai kembali menyerukan Islam baik kepada individu maupun kelompok-kelompok kabilah. Ada yang menerima dengan baik, ada pula yang menolak.[57]

Pada musim haji tahun 11 kenabian, Muhammad SAW berpapasan dengan 6 pemuda dari Yatsrib. Mereka membicarakan apa yang mereka dengar dari pimpinan mereka bahwa pada zaman ini akan diutus seorang nabi. Setelah dijelaskan oleh Muhammad SAW tentang Islam mereka beriman. Merekapun membawa Risa>lah Isla>miyah ke daerah mereka, Yathrib.

Setelah bertubi-tubinya kejadian yang menyedihkan dan harapan berkembangnya Islam di Yathrib, terjadi peristiwa Isra> dan Mi’raj yang pada puncaknya diberlakukannya kewajiban shalat 5 waktu. Mengenai tahun terjadinya, ulama berbeda pendapat; tahun kenabian, 5 tahun setelah kenabian, 27 Rajab tahun 10 kenabian, Ramadlan tahun 12 kenabian, Muharram tahun 13 kenabian dan Rabiul Awal tahun 13 kenabian.[58]

Lima dari enam orang yang pernah bertemu Muhammad SAW pada musim Haji tahun 11 kenabian, pada musim haji tahun 12 kenabian datang menemui Muhammad SAW bersama tujuh orang, jadi jumlah mereka 12 orang. Mereka bertemu dan berbaiat kepada Muhammad SAW di Aqabah Mina, sehingga baiat ini dinamakan Baiat Aqabah pertama.[59] Kemudian dilanjutkan Baiat Aqabah yang kedua pada musim haji tahun 13 kenabian. Baiat ini diikuti oleh 70 orang lebih.[60]

  1. Hijrah ke Yathrib (Madinah)

Setelah ajaran Islam tersebar luas di Yathrib, penduduk Yathrib merindukan kedatangan Muhammad SAW untuk memimpin mereka. Karena diantara suku­-suku yang ada di sana sering terjadi pertikaian. Akhirnya pada malam tanggal 27 Shafar tahun 14 kenabian berepatan tanggal 12/13 September 622 M, Muhammad SAW berangkat hijrah menuju Yathrib ditemani oleh sahabatnya, Abu> Bakr al-S{iddi>q RA.[61] Semenjak Nabi SAW datang dan menetap di Yathrib, kota tersebut terkenal dengan sebutan al-Madi>nah.[62]

IV.  NABI PERIODE MADINAH: PENGUATAN  MASYARAKAT

  1. Pembentukan Negara Madinah dan Meletakkan Dasar-Dasar Masyarakat Islam

Dari uraian di atas jelaslah bahwa motif utama penduduk Madinah mengundang Nabi SAW adalah motif politik. Mereka mendambakan terwujudnya persatuan berbagai komponen masyarakatnya yang sering bertikai dalam kepemimpinan Muhammad SAW.  Dengan demikian otomatis Nabi SAW diangkat menjadi pemimpin mereka secara resmi.  Maka keduduka Muhammad SAW selain sebagai pemimpin agama juga sebagai pemimpin negara. Islam pun selain menjadi kekuatan keagamaan juga menjadi kekuatan politik.

Untuk memperkokoh masyarakat dan Negara yang baru terbentuk ini Muhammad SAW segera menata dan meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Karena jika tidak ditata sejak awal maka perjalanan Negara baru ini akan tersendat-sendat bahkan bubar di tengah jalan. Ada empat hal yang menjadi prioritas utama, yaitu: sarana ibadah, mempererat persaudaraan sesama muslim dan dengan non-muslim serta meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat baik di bidang polotik, ekonomi, sosial-budaya maupun pertahanan keamanan.

  1. Pembangunan Masjid

Telah menjadi kebiasaan suku-suku Arab menyediakan suatu tempat untuk bertemu dan berkumpul. Tempat tersebut digunakan untuk berbagai aktifitas seperti upacara perkawinan, jual-beli dan lain-lain. Maka sebagai gantinya Muhammad SAW mendirikan masjid yang disebut Bait Alla>h.[63]

Masjid pada masa Nabi selain digunakan untuk aktifitas ibadah juga digunakan untuk musyawarah merundingkan masalah-masalah yang sedang dihadapi. Selain itu masjid juga digunakan sebagai pusat pemerintahan.[64] Pendeknya, pada masa Nabi, masjid merupakan pusat segala kegiatan sosial, politik maupun keagamaan umat Islam.

  1. Mempersaudarakan antara Anshar dan Muhajirin

Untuk mempercepat terjadinya integrasi antara golongan Muha>jiri>n dan Ans{a>r, Muhammad SAW mengadakan program mu’a>kha>h (mempersaudarakan). Masing-masing keluarga dari golongan Muha>jiri>n dipersaudarakan dengan satu keluarga dari golongan Ans{ar. Sebagai contoh, Abu> Bakr di persaudarakan dengan Kha>rajah bin Zuhair, Ja’far bin Abi> T{a>lib dipersaudarakan dengan Mu’a>z{ bin Jabal dan lain-lain.[65]

Dengan adanya kebijakan ini integrasi antara Muha>jiri>n dan Ans{a>r cepat terwujud sehingga Negara baru ini menjadi kuat. Selain itu pada gilirannya ikatan persaudaraan yang terwujud berdasarkan agama ini akan mengikis ikatan as{abiyah berdasarkan suku atau golongan yang sudah mendarah daging di kalangan bangsa Arab. Ikatan persaudaraan berdasarkan agama lebih kuat dan universal.

  1. Hubungan persahabatan dengan pihak lain yang tidak beragama Islam

Di Madinah, di samping orang Arab Islam juga terdapat dua golongan lain, yaitu Yahudi (Bani> Nad{ir dan Bani> Quraid{ah) dan orang Arab yang belum menganut Islam. Agar stabilitas terjamin, Muhammad SAW mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka yang dituangkan dalam sebuah piagam atau biasa disebut Piagam Madinah. Pokok-pokok piagam tersebut adalah:

  1. Adalah hak kelompok, menghukum orang yang membuat kerusakan dan memberi keamanan bagi orang yang patuh
  2. Kebebasan beragama terjamin untuk semua
  3. Adalah kewajiban penduduk Madinah (muslim atau non-muslim) untuk bahu-membahu menangkis semua serangan
  4. Rasulullah adalah Pemimpin Umum bagi penduduk Madinah. Kepada beliau segala perkara dan perselisihan yang besar untuk diselesaikan.[66]
  5. Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial

Dalam Piagam Madinah disebutkan dengan jelas disebutkan bahwa Rasulullah adalah Kepala Pemerintahan karena hal-hal yang berkaitan dengan tata-tertib umum, otoritas mutlak diberikan kepada beliau. Jadi pembinaan seluruh aspek kehidupan baik politik, ekonomi, social-budaya, maupun pertahanan keamanan menjadi tanggungjawab penuh beliau. Oleh sebab itu ayat-ayat yang turun di Madinah (setelah Nabi hijrah) kebanyakan berkaitan dengan hukum.

  1. Peperangan-Peperangan yang terjadi

Dalam sejarah Negara Madinah memang banyak terjadi peperangan. Akan tetapi peperangan yang terjadi tidak terlepas dari dua alasan, yaitu:

  1. Untuk mempertahankan diri dan melindungi hak milik
  2. Menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankannya dari orang-orang yang menghalangi.[67]

Jadi salah besar apabila ada yang menjadikan peperangan-peperangan yang terjadi sebagai argumen bahwa Islam disebarkan dengan pedang dan Islam adalah agama yang identik dengan kekerasan.

Dengan kekuatan angkatan perang yang dimiliki, Islam sangat disegani oleh lawan. Apalagi dalam peperangan-peperangan tersebut umat Islam memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang. Dari peperangan-peperangan tersebut umat Islam mendapat keuntungan baik moril maupun meteriil. Sehingga dapat digunakan biaya da’wah Isla>miyah. Islam pun berkembang dengan pesat. Bahkan menjelang Nabi SAW wafat, pada waktu melaksanakan haji wada>’ diperkirakan ada sekitar 100.000 orang yang mengikuti. Suatu jumlah yang amat besar saat itu.

  1. PENUTUP/ SIMPULAN

Dari uraian singkat di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad SAW dipersiapkan secara fisik maupun mental oleh Allah SWT melalui berbagai ujian dan kesulitan hidup yang dialami semenjak kecil hingga dewasa.
  2. Perjuangan Muhammad SAW untuk melaksanakan tugas dakwah melalui perjalanan panjang dan berliku serta mengalami rintangan dan hambatan yang luar biasa.
  3. Kesabaran, ketabahan, kegigihan dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi segala tantangan akhirnya membawa Muhammad SAW mencapai puncak kesuksesan dalam dakwahnya.
  4. Hijrahnya Muhammad SAW ke Madinah, membawa Islam ke arah gerakan politik tanpa meninggalkan agama sehingga Islam mejadi semakin kuat.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Buthi, Muhammad Sa’i>d Ramad{a>n. Fiqh al-Si>rah al-Nabawiyah Ma’ Muja>z li Ta>ri>kh al-Khulafa> al-Ra>shidah. Kairo: Da>r al-Sala>m, 1990

Khali>l, Ima>d al-Di>n. Dira>sah Fi al-Si>rah. Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1991

Mah{mu>d, Abd al-H{ali>m. Al-Rasul SAW wa Sunnatuh al-Shari>fah. Kairo: Mat{a>bi’ al-Ami>n, 1974.

Al-Muba>rakfu>ri>, S{afi> al-Rah{ma>n. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah. Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.

Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam I. Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003

Hasan, Hasan Ibrahim. Sejarah dan Kebudayaan Islam I. Jakarta: Kalam Mulia, 2001


[1] A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam I (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003), 28. Lihat pula S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 15

[2] Ada pula ahli Geografi yang membagi Jazirah Arab secara Geografis ke dalam lima wilayah. Lihat Hasan Ibrahim Hasan. Sejarah dan Kebudayaan Islam I (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), 6-7

[3] A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam I (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003), 30

[4] Ibid.,  30

[5] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 15-16 lihat juga A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam I (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003), 31

[6] Ibid., 16

[7] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.), 10

[8] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 23. Kerajaan yang pernah menguasai Jazirah Arab, di antaranya adalah: Kerajaan Ma’in, Quthban, Saba’ dan Himyar (Yaman) Kerajaan Hirah dan Ghassan (bagian utara Jazirah), selengkapnya lihat di A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam I (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003), 33-39

[9] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 27

[10] Ibid., hlm. 32

[11] Ibid., hlm. 33

[12] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.), 11

[13] ibid

[14] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 35

[15] Muhammad Sa’i>d Ramad{a>n al-Buthi. Fiqh al-Si>rah al-Nabawiyah Ma’ Muja>z li Ta>ri>kh al-Khulafa> al-Ra>shidah. (Kairo: Da>r al-Sala>m, 1990), 37-38

[16] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 35

[17] Ibid., 35

[18] Ibid., 39

[19] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.), 17

[20] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 39

[21] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.), 11

[22] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 46

[23] Ibid., 46-47

[24] Abd al-H{ali>m Mah{mu>d. Al-Rasul SAW wa Sunnatuh al-Shari>fah (Kairo: Mat{a>bi’ al-Ami>n, 1974), 52

[25] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 54

[26] Abd al-H{ali>m Mah{mu>d. Al-Rasul SAW wa Sunnatuh al-Shari>fah (Kairo: Mat{a>bi’ al-Ami>n, 1974), 54

[27] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 55

[28] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 56-58

[29] Ibid., 56-58

[30] Ibid., 56-59

[31] ‘Ima>d al-Di>n Khali>l dalam bukunya Dira>sah Fi al-Si>rah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1991)berpendapat bahwa pasa waktu terjadi perang ini usia beliau 20 tahun

[32] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 59

[33] Ima>d al-Di>n Khali>l. Dira>sah Fi al-Si>rah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1991), 41

[34] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.), 17

[35] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 60

[36] Ibid., 60

[37] Ibid., 61

[38] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.), 18

[39] Ibid., 18

[40] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 61-61

[41] Ibid., 65

[42] Ibid., 66

[43] Ibid., 71-72

[44] Ibid., 77

[45] Ibid., 78 lihat juga A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam I (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003), 76

[46] S{afi> al-Rah{ma>n al-Muba>rakfu>ri>. Al-Rah{i>q al-Makhtu>m; Bah{th fi al-Si>rah al-Nabawiyah (Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1999), 78-79

[47] Ibid., 81

[48] Ibid., 83-84

[49] Ibid., 91

[50] Ibid.,  92-93

[51] Ibid., 93-97

[52] Ibid., 100-103

[53] Ibid., 107-108

[54] Ibid., 109-110

[55] Ibid., 115-117

[56] Ibid., 125-126

[57] Ibid., 130-131

[58] Ibid., 138

[59] Ibid., 143

[60] Ibid., 147, lihat pula A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam I (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003), 92

[61] Ibid., 148

[62] A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam I (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003), 100

[63] A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam I (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003), 103, lihat pula  Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.), 26

[64] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.), 26

[65] A. Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam I (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003), 103-104

[66] Ibid., 104

[67] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.), 27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s