RUHUL MA’ANI FI TAFSIR AL QUR’AN AL ‘AZIM WAL AL SAB’ AL MASANI

Posted: Maret 31, 2010 in Studi Qur'an
Tag:, , , ,

BAB I

PENDAHULUAN

Tafsir Ruhul Ma’ani merupakan karya besar Abu al Sana Shihab al Din al Sayyid Mahmud al Alusi al Baghdadi, salah seorang intelektual muda yang dimiliki Islam pada zamannya. Kitab ini terdiri dari 15 jilid kitab ditambah 1 jilid indeks. Jadi keseluruhan ada 16 jilid.

Sebagai karya ulama belakangan, Tafsir Ruhul Ma’ani banyak mengutip pendapat ulama terdahulu (mutaqaddimin). Hal ini penting karena dengan demikian rabithah (benang merah) dengan mufassir terdahulu tetap terjaga. Selain itu Tafsir Ruhul Ma’ani juga banyak mengemukakan pendapat ulama belakangan (mutaakhkhirin). Hal ini juga penting untuk rabithah dengan zaman di mana Tafsir Ruhul Ma’ani disusun.

Makalah ini akan berusaha mengkaji karya monumental al Alusi ini. Fokus kajian makalah ini ada empat, yaitu: riwayat hidup pengarang, metode kitab tafsirnya, kecenderungan aliran (naz’ah / ittijah) dan keistimewaan serta  kelemahannya.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. RIWAYAT HIDUP PENGARANG

Nama lengkapnya adalah Abu al Sana Shihab al Din al Sayyid Mahmud al Alusi al Baghdadi. Nama al Alusi diambil dari nama suatu tempat di tepi barat Sungai Eufrat yang terletak di antarakota Abu Kamal dan kota Ramadi, Irak. Beliau lahir dari keluarga besar yang terpelajar di Baghdad pada tahun 1217 H / 1802 M.[1]

Al Alusi pernah menjabat sebagai Mufti Baghdad[2]. Ia memiliki pengetahuan yang luas baik dalam bidang ‘aqli maupun naqli. Ia juga seorang mahaguru, pemikir dan ahli berpolemik. Sejak usia muda ia sudah mulai mengarang. Namun hanya sedikit karyanya yang diwariskan kepada generasi sekarang[3], diantaranya adalah Tafsir Ruh al Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani (Semangat makna dalam Tafsir al Qur’an dan al Sab’ al Masani).[4]

Sejak lama al Alusi ingin menuangkan buah pikirannya ke dalam sebuah kitab. Namun karena merasa belum mampu dan kurangnya kesempatan, keinginan tersebut belum dapat terwujud. Hingga pada suatu Malam Jum’at di bulan Rajab tahun 1252 H.  beliau bermimpi diperintah Allah SWT untuk melipat langit dan bumi. Kemudian (masih dalam keadaan mimpi) beliau mengangkat satu tangan ke arah langit dan satu tangan ke tempat mata air, kemudian beliau terbangun. Setelah dicari, ternyata tafsir mimpi beliau adalah bahwa beliau diperintah mengarang sebuah kitab tafsir. Maka mulailah beliau mengarang pada tanggal 16 Sya’ban 1252 H, pada waktu beliau berusia 34 tahun pada zaman pemerintahan Sultan Mahmud Khan bin Sulthan Abdul Hamid Khan.[5]

Setelah kitab ini selesai disusun, beliau mendapat kesulitan dalam memberikan nama yang sesuai. Akhirnya beliau melaporkan hal ini kepada Perdana Menteri Ali Ridho Pasha. Secara sepontan beliau memberinya nama Tafsir Ruh al Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani. Setelah beliau meninggal, kitab ini disempurnakan oleh putranya, Sayyid Nu’man al Alusi.[6]

Dalam bidang fiqih beliau bermadzhab Shafi’i, namun dalam banyak hal beliau mengikuti mazhab Hanafi. Bahkan beliau juga memiliki kecenderungan berijtihad. Sedangkan dalam aqidah mengikuti aqidah sunni.[7]

  1. METODE KITAB TAFSIRNYA
    1. Sumber Penafsiran

Ditilik dari sumbernya, Tafsir Ruh al Ma’ani selain menggunakan dalil nash al Qur’an, al Hadis, aqwal al ‘ulama juga ra’yu. Ra’yu inilah yang paling besar porsinya. Sehingga tidak heran apabila Dr. Jam’ah memasukkannya ke dalam golongan Tafsir bil Ra’yi.[8] Akan tetapi menurut hemat penulis, Tafsir Ruh al Ma’ani bisa juga dikelompokkan ke dalam golongan tafsir bil iqtirani, yakni tafsir yang memadukan antara sumber penafsiran yang ma’tsur juga menggunakan ra’yu.[9]

  1. Cara Penjelasan

Dala memberikan penjelasan, al Alusi banyak mengutip pendapat paraahli yang berkompeten. Seringkali ia juga memiliki pendapat sendiri yang berbeda dengan pendapat yang dikutip. Bahkan ia kadang-kadang juga mengomentari dan terkadang juga menganggap kurang tepat diantara pendapat-pendapat yang disebutkannya. Menilik cara menjelaskan, Tafsir Ruh al Ma’ani digolongkan ke dalam kelompok Tafsir Muqarin/Komparatif.[10]

  1. Keluasan Penjelasan

Penjelasan yang diberikan oleh al Alusi terbilang detil, bahkan sangat detil. Sehingga tepatlah jika Tafsir Ruh al Ma’ani dimasukkan ke dalam golongan Tafsir Ithnabi (Tafsili)/Detail.[11] Penjelasan di awal surat biasanya diawali dari nama surat, asbabun nuzul, munasabah dengan surat sebelumnya, makna kata, i’rab, pendapat para ulama, dalil yang ma’tsur (namun jarang), makna di balik lafaz (makna isyari) dan jika pembahasannya panjang terkadang juga diberi kesimpulan.

  1. Sasaran dan Tertib Ayat yang ditafsirkan

Tafsir Ruh al Ma’ani memberikan penjelasan terhadap al Qur’an secara berurutan sesuai dengan tertib mushaf. Dimulai dari Surat al Fatihah diakhiri dengan Surat al Nas. Sehingga tafsir ini masuk daam golongan Tafsir Tahlili.[12]

  1. KECENDERUNGAN ALIRAN (NAZ’AH / ITTIJAH)

Naz’ah/Ittijah adalah sekumpulan dari dasar pijakan, pemikiran yang jelas yang tercakup dalam suatu teori dan yang mengarah pada satu tujuan.[13] Dalam penjelasannya al Alusi memiliki kecenderungan banyak menjelaskan makna samar yang diisyaratkan oleh lafad. Kecenderungan penafsiran seperti ini dinamakan Tafsir (aliran) Isyari/Sufi.

Menurut aliran ini ayat memiliki dua makna, makna dhahir dan makna bathin yang berupa isyarat samar. Isyarat tersebut hanya dapat ditangkap oleh nabi SAW atau para wali atau Arbab al Suluk (orang-orang yang menapaki jalan untuk mendekati Allah SWT)[14]. Tafsir semacam ini apabila didasari istinbath yang bagus, sesuai dengan kaedah bahasa Arab dan memiliki dalil penguat yang menunjukkan kebenarannya tanpa ada yang menentang maka dapat diterima. Apabila tidak demikian maka danggap pembodohan [15]

Menurut Ibn al Qayyim[16], Tafsir Isyari/Sufi dapat diterima dengan empat syarat, yaitu:

  1. tidak berlawanan dengan makna ayat
  2. makna yang diajukan itu sendiri benar
  3. di dalam lafad terdapat isyarat makna tersebut
  4. antara makna isyari dan makna ayat ada pertalian dan talazum (saling menetapkan)

Contoh Tafsir Isyari adalah penafsiran Ibn Abbas pada ayat “aza jaa nasr Allah sa al fath”. Menurut beliau apabila kaum muslimini sudah bisa menaklukkan Makkah berarti pertanda ajal rasulullah SAW sudah dekat.[17] Al  Alusi mengemukakan riwayat Izz bi Abd al Salam bahwa Khalifah Ali RA memutuskan untuk memerangi Mu’awiyah RA berdasar makna isyari dari ayat (حمعسق), tapi sayang tidak ada penjelasan lebih detail tentang hal ini.[18]

  1. KEISTIMEWAAN DAN KELEMAHANNYA
    1. Keistimewaan
      1. penjelasan yang diberikan sangat luas dengan memperhatikan qiraah (cara baca), munasabah (hubungan antar surat/ayat), asbab al nuzul (sebab turunnya al Qur’an), i’rab (ketatabahasaan)
      2. banyak merujuk pendapat para ahli tafsir terdahulu dan sya’ir-syair Arab.
      3. banyak menjelaskan makna samar yang diisyaratkan oleh ayat yang sulit dijangkau oleh manusia biasa, sehingga memperkaya khazanah keilmuan, menambah ketakjuban dan keyakinan terhadap al Qur’an.
      4. Kelemahan
        1. keluasan pembahasan terkadang juga menjemukan, terutama bagi pembaca pemula
        2. munasabah dan asbab al nuzul jarang dijelaskan
        3. sangat jarang mengemukakan dalil nash baik al Qur’an maupun al Hadith.

BAB III

PENUTUP

Simpulan

  1. Tafsir Ruhul Ma’ani dengan kelebihan dan kelemahannya merupakan karya tafsir yang perlu dibaca. Karena di sana banyak hal yang tidak terdapat dalam Kitab Tafsir lain.
  2. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensip, pembaca Tafsir Ruhul Ma’ani sebaiknya melengkapi diri dengan kitab Asbab al Nuzul.

DAFTAR PUSTAKA

Al Alusi, Abu al Sana Shihab al Din al Sayyid Mahmud. Ruh al Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani, Juz 1. Beirut: Dar al Kutub al ‘Ilmiyah, 1994

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam, Jilid I. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997

Qadir, Jam’ah Ali Abd.  Zad al Raghibin fi Manahij al Mufassirin. Kairo:Jami’ah al Azhar, Kuliah Ushul al Din, 1986

Nasir, Ridlwan. Diktat Mata Kuliah Studi al Qur’an. Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2004


[1] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid I (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), 130

[2] Jam’ah Ali Abd Qadir, Zad al Raghibin fi Manahij al Mufassirin (Kairo:Jami’ah al Azhar, Kuliah Ushul al Din, 1986), 127

[3] Tidak ada keterangan secara konkrit mengenai jumlah kitab karya al Alusi dan mengapa karya-karyanya tidak sampai ke kita.

[4] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid I, 130

[5] Al Alusi, Abu al Sana Shihab al Din al Sayyid Mahmud, Ruh al Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani, Juz 1 (Beirut: Dar al Kutub al ‘Ilmiyah, 1994), hal 4-5

[6] Al Alusi, Ruh al Ma’ani, 5

[7] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid I, 130

[8] Jam’ah, Zad al Raghibin, 76

[9] Ridlwan Nasir, Diktat Mata Kuliah Studi al Qur’an (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2004), 2

[10] Ridlwan Nasir, Diktat, 24

[11] Ridlwan Nasir, Diktat, 3

[12] Ridlwan Nasir, Diktat, 4

[13] Ridlwan Nasir, Diktat, 2

[14] Al Alusi, Ruh al Ma’ani, 103

[15] Jam’ah, Zad al Raghibin, 122

[16] dalam Jam’ah, Zad al Raghibin, 123

[17] Jam’ah, Zad al Raghibin, 122

[18] Al Alusi, Ruh al Ma’ani, 105

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s